Hidup di bui bagaikan burung
Bangun pagi makan nasi jagung
Tidur di ubin pikiran bingung
Apa daya badan ku terkurung
Terompet pagi kita harus bangun
Makan di antri nasinya jagung
Tidur di ubin pikiran bingung
Apa daya badan ku terkurung
(Chorus)
Oh kawan, dengar lagu ini
Hidup di bui menyiksa diri
Jangan sampai kau mengalami
Badan hidup terasa mati
Apalagi penjara jaman perang
Masuk gemuk pulang tinggal tulang
Karena kerja secara paksa
Tua muda turun ke sawah
Jeng jreng……. Jeng jeng jreeeennnnnggggg (Just intermezo)
Kutipan syair lagu diatas jelas sangat familiar bagi telinga kita bukan??? Tembang yang diliris oleh kelompok band DLLoyd yang ngetop pada era tahun 80-an. Lebih gurih dan nikmat bila dengarin versi dangdutnya, apalagi bagi rekan-rekan yang lagi Homesick di daerah Misi, sambil goyang-goyang pinggul, mata menjelik keatas, pas banget!!! Inti liriknya mengisahkan tentang pahit getirnya hidup dalam bui atau penjara atau istilah kemanusiaannya “LAPAS” alias Lembaga Pemasyarakatan. Pokoke diwanti-wanti oleh Pakde LLoyd (#??$!#?), jangan sampai anda-anda mengalaminya yooo!!!.
Pagi ini dengan semangat “45”, kembali saya bersiap-siap untuk melaksanakan tugas rutin sebagai seorang MILOB. Kebetulan hari ini saya mendapat giliran bertindak sebagai Patrol Leader sehingga butuh persiapan yang lebih dari rekan lainnya. Sasaran kegiatan kali ini adalah mengadakan kunjungan ke sebuah Penjara yang dikenal dengan nama “CENTRALE PRISON DE MBANDAKA” untuk mengumpulkan informasi tentang penerapan aspek hukum dan humanitarian ditempat itu. Selain itu pula, ada muatan dari MONUC Section lainnya untuk mencari data periodik tertentu dari penjara tersebut. Data ini akan mereka gunakan sebagai indikator bagi penilaian aspek kehidupan masyarakat lainnya yang berkaitan dengan tugas mereka.
Penjara ini terletak di bagian tenggara kota Mbandaka, hanya berjarak 7 Km dari pusat kota dan ditempuh dalam waktu 20 menit dengan kendaraan roda empat. Terletak di Suburb Area kota Mbandaka dengan bagian belakang yang langsung bersentuhan dengan daerah semak belukar tak bertuan.
Bangunan tua yang menurut estimasi saya menempati lahan seluas kurang lebih 2 Hektar (200×100 meter) merupakan peninggalan pemerintahan kolonial Belgia yang dibangun sekitar tahun 1950-an. Awalnya penjara ini digunakan untuk kepentingan militer, tetapi semenjak negara Kongo memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1960, penjara ini dilanjutkan fungsinya oleh pemerintah setempat sebagai Penjara Sipil.
Ada rasa was-was juga pada saat saya sudah berdiri tepat di depan bangunan ini. Terbayang wajah-wajah bromocorah Kongo yang ada dibalik tembok penjara ini… ih serem!. Mudah-mudahan tampang mereka tidak seperti “Ogok-Ogok” pada perayaan NYEPI di Bali ya! Bersama seorang rekan dari negara Amerika Latin dan seorang Interpreter lokal, saya memaksa si kaki melangkah melewati gerbang menuju ruang utama penjagaan. Tercium seketika aroma mistis dari bangunan tua yang digunakan sebagai tempat tinggal orang-orang seram. Kayak acara Uka-uka aja nih, tapi tak apalah itung-itung manfaatkan sebagai sarana OLAH BATIN… uji nyali. Aura bangunan yang sudah tua renta benar-benar dengan lantangnya menuntut untuk tidak digunakan lagi sebagai tempat bersarangnya mahluk yang dinamakan manusia. Tapi apa boleh “BAUT” (sengaja.com) “EZATE OTRE PAPA” (baca : tidak ada yang lain Bapak).
Setelah sedikit bersilat lidah dengan 2 orang anggota Police Nationalis de Congole yang sedang naik jaga, akhirnya rombongan kami diarahkan ke kantor utama yang berada tepat di sebelah kiri ruang penjagaan. Ternyata bangunan luas segini dengan level ancaman yang rada tinggi hanya dikawal 2 Polisi saja, hmmm surprise!. Kami disambut oleh 5 orang Sipir penjara, salah satu diantaranya yang menjabat sebagai Director de Prison (Kepala Penjara gitu maksudnya). Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan kedatangan, mulailah MILOB dengan jurus andalannya dalam dunia per-interview-an, tanya ini dan itu untuk mencapai target informasi yang dibutuhkan. Kalau sasaran jawaban yang diinginkan berusaha disembunyikan, ya sekali-kali pakai ilmu puja puji, pijat-pijat dikit disertai sogok-menyogok untuk menyaringkan pita suara dan melancarkan tengorokan sang Sumber. Beres dah, lancar…. Semua informasi dapat, termasuk beraneka ragam keluhan, tuntutan, mohon dan pinta sebagai penyaluran harapan mereka atas kedatangan MONDELE (sebutan untuk orang kulit putih) yang dari kacamata mereka tampak seperti “DOLLAR Berjalan”.
Astaganaga!, keadaan ini benar-benar nyata di depan mata saya, bukan sekedar dongeng pengantar tidur dari negeri antah berantah. Dari kondisi bangunan saja, tempat ini sudah tidak layak disebutkan sebagai “LEMBAGA PEMASYARAKATAN”. OK kita sebut saja “BUI”. Tempat ini sama sekali minim dari fasilitas dasar kehidupan. Bangsal-bangsal tahanan berukuran kurang lebih 8×6 meter tanpa perabotan dalam kondisi gelap, pengap dan kotor. Para tahanan tidur beralaskan tikar atau karton. Ada juga yang terpaksa tidur diatas lantai yang sudah hancur termakan usia.
Tidak ada klasifikasi atau penggolongan untuk penempatan para tahanan. Pokoknya terserah mau tidur dimana aja. Tahanan Dewasa anak-anak campur jadi satu. Sementara untuk Tahanan Politik, Polisi dan Militer mendapat perlakuan yang rada sedikit berat yaitu tetap dikurung di dalam sel utama tanpa bisa menikmati udara segar di halaman tengah. Apa-apa ya….. didalam sel itu!. Untung saat ini saya tidak menyaksikan ada tahanan perempuan, kalau ada! saya tidak bisa bayangkan lagi bagaimana perlakuan terhadapnya. Coba anda amati foto “TEMBOK DATA” para tahanan dibawah ini (ingat bukan Papan Data ya!!!) dan silahkan cari sendiri jumlah para tahanannya. Bagi tahanan yang akan melarikan diri, diwajibkan terlebih dahulu untuk singgah di tembok data ini untuk mengurangi satu pada angka jumlah tahanan dan mengisi kolom keterangan dengan “1 nuwun ngacir”. Pinjam kapur tulisnya sama Penjaga lagi :-)…(just kidding mode on).
Akibat kondisi atap yang sudah usur dan tidak pernah mendapat jatah rehab, apabila sang hujan datang, semuanya bisa berair kecuali bak mandinya (karena juga bocor…:-). Sementara sarana listrik dan air bersih ibarat pepatah jauh panggang dari api. Air untuk kebutuhan sehari-hari hanya didapatkan dari sebuah sumur tua. Jadi tak usah ditanyakan lagi, sudah pasti air yang mereka minum juga berasal dari sumur tersebut tanpa melalui proses masak memasak. Saya tidak tega melukiskan parahnya sarana MCK yang ada karena khawatir bisa menganggu selera makan pembaca selama 1 bulan berturut-turut. Tapi gambaran kasarnya ya….. tidak jauh dari usaha gali lubang tutup lubang. Dari foto dibawah ini, apakah anda dapat mengidentifikasi yang mana sumurnya?.
Sementara masalah yang paling hakiki, “MAKAN”, ya ampun…..!, Instansi ini ternyata tidak mendapat perhatian dari pemerintah dan hanya sekali-kali saja mendapatkan supply bahan makanan yang cuma bisa dikomsumsi paling lama satu minggu. Jangankan supply untuk tahanan, gaji untuk para sipir aja sudah lewat 2 bulan belum dibayar. Para tahanan harus survive masing-masing sesuai petunjuk para sipir. Mereka bercocok tanam ala kadarnya di pekarangan kosong dalam penjara antara lain singkong, umbi-umbian dan sayur-sayuran. Tapi lebih banyak gagalnya daripada mendapatkan hasil seperti yang terjadi pada saat kunjungan saya ini. Apa yang kemudian mereka makan untuk survive??. Ada beberapa pohon yang tumbuh di dalam penjara punya buah yang bisa dimakan. Kayaknya buah ini belum pernah saya lihat di Indonesia. Bentuknya seperti buah lodeh tapi dalamnya berwarna putih dan bergetah (coba perhatikan apa yang berada ditangan para tahanan pada foto dibawah ini). Kalau pohonnya lagi ada buahnya ya syukur, kalo tidak ada berarti puasa tanpa buka lagi deh!. Tragis memang mendengar kenyataan bahwa kadang sampai dua tiga hari para terpidana ini tidak makan apa-apa.
Ada juga role yang berlaku di Hotel Prodeo ini yakni sanak saudara mereka lah yang harus menyediakan makanan setiap harinya. Tetapi apa yang bisa diharap dari keluarga mereka di alam bebas sana. Untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri saja sudah susahnya minta ampun, apalagi ditambah menyediakan pangan buat sang terpidana. Sehingga pertolongan dari dunia luar sana ibarat “Pungguk merindukan Bulan”. Tetapi sekali-kali juga si Bulan datang menjenguk si Pungguk sambil membawakan segenggam harapan untuk bisa makan FUFU (makanan lokal andalan yang terbuat dari singkong). Itupun kalo tidak disita duluan untuk santapan para Penjaga. Untuk tahanan titipan dari daerah yang jauh dan tidak punya sanak saudara di MBANDAKA, jangankan makan FUFU!,… bermimpi untuk makan aja dilarang. Seperti halnya dengan fasilitas kesehatan. Tahanan dilarang sakit, demikian semboyan yang berlaku. Kalau sakit ya tanggung sediri, siapa suruh sakit.
Realita ini sangatlah bertolak belakang dengan lamunan keadaan di “NEGERI PARA BEDEBAH”. Konon kabarnya di negeri tersebut, Penjara yang ada menyediakan berbagai macam kelas sesuai dengan pesanan sang terpidana. Ada kamar ekonomi, standar, ekslusive, VIP atau VVIP. Mau fasilitas spa, pedicur, salon tinggal pesan. Telepon, TV, AC, Air hangat, Bath Up… lengkap!. Dijamin aman dan sejahtera sampai masa hukuman selesai……“yang penting bisa bayar Bung”. Malah kadang sang terpidana bisa melanjutkan bisnis haramnya dari balik jeruji besi tersebut. Hebat… hebat… !!?? Hhmmm Dimana ya negeri impian para Narapidana itu??.
Melewati ruang penjagaan lagi saat hendak bertolak pulang, kembali tercium aroma mistis seperti saat kedatangan tadi. Dengan rasa penasaran saya berusaha mengendus dan mencari sumber aroma tersebut bak seorang detektif kawakan. Kayaknya semakin lama aroma ini semakin familier???!!!. Eh ternyata oh ternyata….. aroma mistis itu berasal dari badan sang security yang belum mandi dan sikat gigi sejak seminggu yang lalu. Ohhh pantesan, saya kirain bau Genderuwo. Pantesan 2 orang bapak Security ini gak mau banget foto bareng, takut baunya bisa terekam kamera juga kali?#@.
Akhirnya selesai sudah tugas hari ini setelah kaki terakhir melangkahi garis batas antara dunia lain dan dunia bebas. Suatu pengalaman yang benar-benar berharga yang telah memutarbalikkan alam bawah sadar saya dalam waktu singkat dengan suksesnya. Rasa was-was dan khawatir pada awalnya bisa berubah menjadi rasa haru dan iba yang teramat sangat kepada mereka. Kegiatan Olah Batin yang membuat saya kembali bersyukur telah lahir, dibesarkan dan menjadi warga negara Indonesia. Terima kasih Ibu Pertiwi, ternyata engkau lebih baik daripada ibunya si Kongo ini. Sambil mendendangkan lagu “HIDUP DI BUI “ kunikmati perjalanan kembali ke kota MBANDAKA. Andaikata lagu ini saya alih statuskan kedalam bahasa LINGALA (Bahasa lokal utama di KONGO), dapat dipastikan semua NARAPIDANA tadi akan langsung berebut menunjukkan tangan setinggi-tingginya untuk minta pindah ke Surga LAPAS di Indonesia. Untung…. masih bisa tidur di ubin, masih bisa makan nasi jagung, masih bisa bingung, masih bisa punya sawah, masih bisa tiup terompet, masih bisa tinggal tulang, masih bisa dan masih bisa lagi.
DRC, March 2010








Ceritanya sungguh seru pisan, mas..situasi penjara di Liberia juga setali tiga uang, hanya saja disini lebih penuh sesak kondisinya.
Beda bangetlah dengan penjara kelas kambing di tanah air, kalau mau dibandingkan – disini sangat tidak manusiawi banget dan memang serba sengsara.
Saya pernah berkunjung ke pedalaman Liberia pada sebuah project rehab. fisik penjara2 diseluruh Liberia yang dikelola oleh UNMIL, wah itu mah kacau pisanlah.. jadi kesian melihat para tahanan yang ada didalamnya – pengen dilepasin aja melihat mereka.. dihukum di penjara busuk sambil menunggu proses peradilan yang mana sistem peradilannya sendiri sedang direformasi dan di training dlu para jaksa dan perangkat judicialnya – entah kapan mereka akan diadili, yang ada lebih lama mendekamnya ketimbang putusan hukuman yang akan mereka jalanin. Gawat, lah! ;D
Kang, ada gak lembaga yang secara khusus bekerja untuk mengurusi kasus seperti ini?
Semestinya memang haru ada, dan ICRC (Komite Palang Merah INternasional) adalah salah satunya yang berkepentingan merujuk penegakan HAM atas hak-hak pada Napi yang terbengkalai proses penyelesaian legalitas/judicial mereka.. ini perlu dukungan termasuk pemerintah setempat dan juag Seksi Human Rights dari MONUC untuk bisa membantu proses revitalisasi hukum dan elemen kehakiman di negara tersebut.
Saya bingung mau mendukung atau menyesalkan….##???***!!!,
….tapi kenyataannya sekarang semua Saudara2 kita ini sudah menghirup udara bebas, nyebar kemana2, tidak lagi melanjutkan penderitaan mereka dalam BUi ini setelah sekelompok Gerilyawan Pemberontak yang pada tanggal 4 April lalu menyerang kota MBANDAKA-Kongo, juga ikut menyerang Bui ini dan membebaskan semua Narapidana. “Membebaskan mereka dari penderitaan…????”.
(Lihat foto Np) “Wajah-wajah penuh misteri” dimanakah engkau berada sekarang, selamat menghirup udara bebas ya! Semoga engkau sadar dan tak akan berbuat kesalahan lagi.