Correspondent Luigi PRALANGGA
Total 7 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 230 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
<< Patroli ke Wamaza: Dari sang Administrateur hingga penjual pisang itu
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dominic Nkhata, 29 and his wife Patricia, 27 are a young Zambian couple with a two-year-old daughter. Dominic works as a factory hand while Patricia is a housewife. The couple are also responsible for four orphans, the children of Dominic’s deceased sisters.
The family live in two rooms in one of Lusaka’s poorer neighborhoods, a shanty town called Garden Compound, about five kilometers outside Lusaka city, and are typical of the millions of Africans who live on less than a dollar a day.
Dominic earns 525,000 kwacha a month as his gross pay.
After tax and other deductions, he’s left with only 300,000 kwacha – roughly $40 – to take home with him.
Juggling this meagre income then becomes Patricia’s headache – Dominic just hands the money to her: “When I get that money I just get confused.
“I tell her, just make your budget, whatever you plan is alright with me,” he says.
Begitulah ulasan singkat yang saya dengar di BBC World News di 103.00 FM – saat pagi hari mengendarai kendaraan menuju kantor, ditengah kemacetan kota Monrovia yang mulai terasa benar-benar menjengkelkan macetnya.
Sepertinya perihal gaji yang nggak nyampe sebulan ini adalah perihal umum yang banyak terjadi di hampir semua negara, termasuk di kampung si kampret ini. Sudah banyak contoh dari kita yang berjuang, terutama para ibu-ibu yang diberi mandat oleh sang suami untuk mengelola pemasukan: “Cukup tidak cukup ya harus cukup!“
Namun demikian, kesulitan ekonomi bargi banyak negara di Afrika yang kerap berada didalam cengkeraman kemiskinan dimana banyak dari mereka hidup dengan kurang atau setara satu dollar per hari adalah bukan potret umum.
Untuk negara yang baru keluar dari kecamuk konflik bersenjata macam di Liberia, potret kemiskinan itu adalah pemandangan setiap hari, meski kedua mata ini sering dikucek-kucek apakah benar mirisnya kondisi hidup penduduk setempat, ternyata memang begitulah adanya. Dari pandangan dan kesaksian serta obrolan itu, masih sedikit yang beruntung bisa menciptakan dan meningkatkan taraf hidupnya. Beberapa dari segelintir orang dapat kembali memperoleh pekerjaan yang layak, ada yang kembali berdagang kecil-kecilan.
Namun demikian, konflik bersenjata yang telah berlangsung lebih dari 14 tahun itu banyak menghasilkan generasi muda yang kurang terdidik, jauh dari karakter tenaga kerja dan generasi yang terampil ditambah lagi mentalitas pengungsi yang masih mengandalkan bantuan atau uluran tangan pihak luar untuk merubah keadaan hidup mereka. Ciri khas itulah yang masih kental dirasakan dan diamati oleh kalangan kita-kita disini.
Saat proses perdamaian bergulir dengan masuk digelarnya misi pemulihan perdamaian PBB di Liberia sejak akhir 2003 dibawah naungan UNMIL, pulihnya kegiatan ekonomi bergerak maju seiring dengan membaiknya situasi keamanan dan stabilitas politik. Pasar dan sentra-sentra kegiatan ekonomi pun mulai banyak dibanjiri sejumlah pedagang dan pembeli, dimana pada pasar-pasar tertentu di Mornovia, mereka tumpah-ruah ke jalan membuat kemacetan yang luar biasa.
Salah satu yang menjadi sasaran bidik-jepret kamera si kampret ini adalah Kuli Angkut Barang, dimana berbekal gerobak beroda satu dan tuas tangkai pengendali, sang kuli angkut ini dinilai cukup piawai dalam berlalu-seliweran menyebrang jalan dan keluar-masuk pasar. Dari hasil bincang-bincang dengan beberapa dari mereka, diakui bahwa dengan menjadi kuli angkut pasar, bisa menghasilkan 200 hingga 400 Liberity seharinya. Bila dikonversikan uang segitu adalah setara 3,5 – 7 Dollar AS seharinya.
Hidup dengan sedollar sehari, sudah pasti adalah potret kehidupan yang biasa di Liberia, apalagi bagi mereka yang hidup di pedalaman kampung di pelosok sana, dimana peredaran uang sangat terbatas dan jumlahnya jauh lebih kecil. Terlepas dari kesulitan hidup yang tak luput dari kemiskinan, banyak dari mereka yang berhasil bertahan melalui hari dari satu ke selanjutnya. Maha Pemurah dan Maha Adil Gusti Alloh itu.
Pendidikan, adalah salah satu kunci penegakan perdamaian, dimana tanpa pendidikan, penguasa bisa menjadi dzalim, tertutup maha-hatinya kemudian merajalela menindas sang rakyat – dan biasanya kalau itu terjadi, rakyatnya pun kebanyakan kurang berpendidikan, mudah di bodohi dan tidak tahu bagaimana untuk bertindak melawan.
Harus diakui bahwa anak bangsa kita masih jauh lebih baik kualitas sumberdaya-nya bila dibanding mereka di Liberia dan Afrika dari keseluruhan, namun demikian, penting buat kita untuk terus memberdayakan diri, agar kita mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lainya dan berhasil menjawab tantangan global kedepan.
Guys, tell me – what have you done to prepare a better future for yourself and this country of yours? Care to share?
hmm, miris banget ya pak kehidupan disana…
setiap negara memang memiliki sisi kelam.
Btw about your question..
(in indonesia aja ya pak, hehehe)
bagi saya sendiri, yg terpenting adalah berkarya, sesuai dengan apa yg saya minati… sambil mencari komunitas dalam berkarya, hingga (amiin) suatu saat nanti bisa kasih kontribusi bagus untuk bangsa…
makanya nih pak, sedang mencari2 komunitas yg bisa menunjang saya dan se visi-misi :)
How bout you Sir.., sehat-sehat saja kan pak disana? :)
salam dari Malang, Indonesia _
Kang, udah baca “The bottom billion” belum? Sangat menarik. Termasuk “is aid part of the problem or part of the solution?” Saya belum selesai baca sih, tapi kayaknya Liberia termasuk ya? Thanks for sharing.
Aku termasuk yang percaya pendidikan itu obat untuk banyak hal kang, gak cuma kemiskinan. Obat untuk kesombongan, korupsi, ketidakpercayaan diri, dll..dll.
Kepercayaan ini yang membawa aku kembali ke kampus, kuliah lagi. . Disini aku belajar tentang management n defence, belajar untuk memahami komunitas lain : NGO, military, jurnalis, dll..belajar memahami apa yang negara ini punya, tidak punya, lemahnya, kuatnya dll..dll, belajar gimana urgent-nya kesadaran ‘the power of do something’ untuk tiap orang di negara ini kalau pingin negaranya dipandang penuh respect sama negara tetangganya lagi..dll..dll
well, bisa dibilang ini salah satu persiapan untuk my better future, sekaligus hopefully for my country better future.
wah ..saya nggak tau apa indonesia lebih baik dari liberia atau nggak
assalamualaikum
menarik sekali ya………….garis besarnya sih kita bicara soal keadaan sosial budaya , juga keadaan ekonomi masyarakat….liberia….
memang negara yang baru saja rampung dari konflik sih…!!!!!
mudah mudahan kedepan bisa mulai lebih baik, ditata kembali lebih baik lagi…
…Mungkin kalo untuk saya , lebih tertarik bicaain indonesia, yang kalo teruuuusssss seperti ini ngga salah kalo akhirnya kita jadi bangsa miskin malah,…
…kalo saya melihat adalah moralitas bangsa kita ini lo yang menurun tajam, itu juga banyak terjadi pada mereka yang di tingkat atas,padahal dari merekalah kemudian dampak akan dirasakan pada masyarakat yang ada di bawah……..
………kalo di agama saya saya kenal istilah, MUJHID MUZID….kerjo mempeng tirakat banter, kerja keras ,dan hidup sederhana, …jadi hidup itu sakmadyo…..sekarang yang saya lihat di indonesia ini, kita ini sebetulnya tengah di jajah, budaya asing masukkk teruussss, mempengaruhi otak generasi muda yang katanya…“masih mencari jati diri..sehingga budaya asing yang masuk tersebut tidak di pilah dan dipilih dengan tepat .Alhasil mereka jadi generasi penerus yang cuek,konsumtif, karena klo ngga ikut kemajuan jaman ngga gaya..dan masiiiihhhh banyak lagi yang lainnnnnn.“Sementara pndididkan mereka ini kurang, saya tdk sebut mereka ini tidak mengenyam pendidikan, tapi….metode pendididkan yang kurang pas yang diterapkan di indonesia.sekolah sekolah lebih mementingkan dapat nilai baik, tanpa memperhitungkan kualitas yang dihasilkan.
sehingga mohon maaf banyak kita lihat sarjana sarjana baru lahir, tapi kualitasnya rendah,kemudian moralitas bangsa kita yang menurun, kita tau indoonesia ini salah satu negara terkorup…..karena yang dipikirkan hanya diri mereka sendiri.
….SEKARANG KALO MENURUT SAYA….MUDAH MUDAHAN ADA PERUBHAN KEARAH KEBAIKAN UNTUK INDONESIA…………………
karena memang masalahnya sudah sedemikian komplex, perlu waktu untuk di “dipereteli’ satu persatu………………………………….
….dan paling penting mungkin.kalo pandangan saya,ngga usah nunggu pemerintah kasih instruksi,kita yang mampu,bisa,longgar,coba di mulai dari lingkungan terkecil yang kita miliki untuk memberdayakan generus(generasi penerus)misalnya dilingkungan kelaurga, mendidik anak anak kita untuk terampil,jadi ngga hanya pintar dalam pendidikan formal, tapi membentuk dia dari kecil itu kreatif, terampil…dengan cara apa saja, misalnya….anak kita biasakan untuk memperbaiki sendiri apabila mainana nya itu rusak, membuat mainan sendiri dari batang pohon..sepele memeng tapi itu sangat berguna untuk melatih kreatifitas anak,begitu juga dengan anak muda indonesia sekarang ….setuju sekali apabila sekarang pemerintah menerapkan atau menghidup hidupkan kembali sekolah kejuruan……………………
dan satu lagi kalo kita kepelosok pelosok daerah di indonesia,alangkah masih banyak sekali masyarakat indonesia yang tingkat pendidikan nya rendah…..so apabila memang kita ada waktu luang….adalah sangat bermnfaat sedikit ilmu yang kita punya untuk kita bagi………..dan itu bernilai pahala yang besar, karena ilmu yang kita punya tdk kita simpan rapat tapi kita bagi pada yang lain.
mudah mudahan kedepan indonesia bisa lebih baik
selagi kita bisa berbuat sesuatu , meskipun itu sedikit asal sakpol kemampuan kita akan membawa satu perubahan untuk indonesia dan terpentingm kualitas generasi penerus kita.
thanks..
salam paling manis untuk semua peacekeepers disana’
semoga sehat selalu..
wassalm.
……………
Masih lama euy di Monrovia?
salam
nice pics, suka motret ya kang?
wajah international dengan kemasan yang membumi sekali.
sukses buat akang dan seluruh crew di UN.
« Patroli ke Wamaza: Dari sang Administrateur hingga penjual pisang itu Selamat datang UNAMID »