Sebagai Liaison Officer, saya sering berhubungan dengan publik untuk menyelesaikan dan mendiskusikan permasalahan-permasalahan yang ada terutama permasalahan logistik. Setiap ada pengiriman barang / resupply dari Indonesia atau pun negara lain, saya bersama perwira lainnya sering ditunjuk oleh Komandan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut sehingga saya cukup banyak mendapatkan pengalaman untuk bertemu dengan pengusaha maupun pekerja Lebanon.
Tanpa ada perasaan untuk mendiskreditkan atau pun bersikap rasis, saya pun berkesimpulan bahwa orang-orang Lebanon adalah orang yang sangat jujur dalam memberikan pendapat walaupun saking terlalu jujurnya, kadang-kadang sering menyakiti hati. Selain itu mereka adalah orang-orang yang sangat sulit untuk diberitahu dengan cara yang lembut. Mungkin akibat perang yang berkelanjutan membuat mereka terbiasa dengan pola hidup yang kerasSalah satu contoh dapat saya berikan dalam tulisan ini. Kita, sebagai bangsa Indonesia terkenal dengan budaya ramah tamah dan sopan santun. Sehingga apa pun yang diberikan oleh seorang tuan rumah, kita pun akan berusaha untuk mencicipinya (walaupun mungkin tidak pas dengan lidah kita). Kopi Lebanon merupakan kopi terpahit di dunia yang pernah saya rasakan. Suatu waktu, saya pernah disuguhi kopi oleh rekan kerja Logistik. Dengan penampilan gelas yang kecil, saya pun menyeruput kopi tersebut dengan anggapan bahwa kopi ini sama dengan kopi Indonesia.
Tapi ternyata, kopi tersebut sangatlah pahit. Dan ajaibnya lagi, semakin banyak gula yang saya tambahkan ke dalam kopi tersebut tidak pernah menghilangkan rasa pahitnya. Namun, sebagai orang Timur yang selalu menghargai kehidupan orang lain, saya pun berusaha untuk tetap menikmatinya walaupun pahit. Tidak pernah terbersit dari wajah maupun mulut saya untuk menyatakan secara langsung kepada tuan rumah bahwa kopi tersebut sangatlah pahit. Karena saya yakin mereka pasti akan tersinggung.
Bandingkan dengan keterbukaan orang-orang Lebanon pada saat kita melaksanakan konvoi barang bersama dari Beirut ke lokasi pos kami yang berjarak tempuh sekitar 3 jam. Kami menggunakan 1 kendaraan UN sedangkan mereka menggunakan truk-truk pengangkut komersial untuk Ranpur VAB sejumlah 10 buah. Dalam SOP kami, kecepatan kendaraan yang harus kami pacu dalam kota adalah 60 – 80 Km/Jam dan tidak lebih. Sehingga dalam memimpin konvoi, kami pun mengatur kecepatan kami untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
Namun, pada saat tempat peristirahatan pertama, salah seorang pengemudi truk Lebanon itu berujar dengan bahasa Inggris yang cukup jelas menyatakan ”Where did your driver learn to drive? You drove very slow, no wonder why Indonesia does not have the F1 driver.” Sebagai yang tertua dalam kelompok tersebut, saya pun menjelaskan kepada mereka bahwa hal ini saya lakukan untuk menjamin keselamatan konvoi.

Perjalanan pun dilanjutkan dan sekali lagi kami pun direpotkan oleh ulah pengemudi-pengemudi truk pengangkut tersebut yang berusaha untuk saling mendahului satu sama lain sehingga mereka bisa tiba paling awal. Memang kami sadari sejak awal, bahwa orang-orang Lebanon sangatlah tidak tertib dalam berlalu lintas. Pemandangan di jalan-jalan kota membuktikan hal tersebut. Saya berusaha untuk menahan amarah karena yang saya takutkan adalah kecelakaan yang dapat terjadi di jalan. Ditambahkan dengan perasaan takut karena mereka membawa kendaraan tempur yang cukup mahal yang baru datang dari Perancis.
Kesabaran saya pun mulai memuncak karena melihat konvoi yang sudah sangat tidak teratur. Saya perintahkan pengemudi saya untuk parkir di kanan jalan dan memberhentikan seluruh konvoi. Saya panggil seluruh supir Lebanon tadi. Dengan nada yang cukup keras saya katakan bahwa mereka membawa barang-barang militer Indonesia. Saya meminta pengertian mereka untuk mematuhi aturan konvoi sesuai SOP yang ada. Dengan pernyataan yang agak keras dan sedikit menuntut, konvoi pun akhirnya dapat berjalan dengan lancar.
Sesampainya kami di tempat tujuan, saya mengucapkan terima kasih kepada mereka dan supir-supir tersebut pun tersenyum dan bahkan ada yang memeluk saya untuk mengatakan agar lebih bersabar dalam menghadapi mereka. Saya pun meminta maaf atas pernyataan maupun gaya keras yang saya demonstrasikan kepada mereka. Alhamdulillah, pengiriman-pengiriman logistik selanjutnya pun dilaksanakan dengan baik dan lancar. Sedikit banyak mereka sudah mengetahui dan mempelajari untuk menghargai aturan yang ada walaupun kadang-kadang harus dilakukan dengan pernyataan keras.

Pengalaman adalah guru terbaik. Setelah pengalaman tersebut, saya sadar bahwa kita harus selalu menyesuaikan gaya hidup kita di tempat dimana kita berada. Apabila gaya di atas saya aplikasikan di Indonesia atau pun negara lain mungkin tidak akan memberikan hasil yang sama dengan yang terjadi di Lebanon. Seperti ucapan Confucius, seorang guru besar China pada jaman 500 SM bahwa, “By three methods we may learn wisdom: First, by reflection, which is noblest; Second, by imitation, which is easiest; and third by experience, which is the bitterest.”
Jangan pernah putus asa dengan pengalaman buruk karena semua itu akan membuat kita akan menjadi jauh lebih baik. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Pengalaman buruk tersebut membuat saya semakin yakin bahwa kita harus selalu menyesuaikan diri dengan tempat dimana kita berada.
Dear Ossy,
Karakter orang di Lebanon, sepertinya setali tiga uang dengan karakter mereka di Iraq, saya ingat sekali saat saya bertugas dibawah naungan UNMOVIC tahun 2003 lalu, ada kesamaan – karena konflik yang berkepanjangan dan masa peperangan Iran- Iraq lalu membuat mereka rigid dan kurang luwes bila dibandingkan dengan karakter kita {Orang Indonesia] – Namun demikian satu kesan mendalam dan meluas yang dianut oleh mereka [Orang di Iraq] terhadap impresi bangsa kita – yaitu kita terkenal sebagai saudara sesama yang ramah dan bangsa yang besar..
Semoga citra itu terus melekat dan senantiasa diharumkan oleh prestasi kita di forum multi-lateral ini. Senang bisa membaca sharing – ceritanya.. keep up the great work there in UNIFIL.