Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Airops di UNAMID, Darfur - Sudan: Hari-hari penuh tantangan

11 August 2009, 18:54 , by Destianto Nugroho Utomo

 

Mendapat kepercayaan untuk menjadi Staff Officer di Air Operations (Airops) UNAMID, merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi saya. Tugas tersebut saya awali September tahun lalu, bersama 2 rekan lainnya (yang bertugas sebagai Military Observer) dalam misi UNAMID. UNAMID sendiri adalah misi PBB yang relatif baru (berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB tahun 2007) dan belum ada personel TNI yang pernah ditugaskan di sini sebelumnya. Menjelang pemberangkatan ke Darfur , Sudan, saya berusaha mencari informasi dari rekan-rekan maupun para senior yang pernah mendapat penugasan dalam berbagai misi PBB.

Selain itu saya browsing di internet untuk mendapat gambaran yang lebih lengkap tentang situasi dan kondisi di Darfur. Kebetulan juga saya pernah mengikuti Pembekalan Milobs yang diselenggarakan oleh PMPP (Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian) TNI, beberapa bulan sebelumnya. Berbagai informasi dan bekal pengetahuan yang saya dapatkan, merupakan modal yang sangat berharga bagi saya untuk berangkat ke daerah operasi.

Tiba di ibukota Sudan, Khartoum, kesan pertama, sebagaimana kesan-kesan rekan setanah air yang lain adalah bahwa Sudan panas dan berdebu. Beberapa hari perlu beradaptasi dengan cuaca setempat, sambil mulai melaksanakan proses adminstrasi di Khartoum. Hingga akhirnya kami bertiga yang ditugaskan di UNAMID, berangkat ke El Fasher, ibukota wilayah Darfur (Sudan Barat) dengan menggunakan pesawat PBB jenis MD-83 yang memakan waktu 1 jam 15 menit penerbangan dari Khartoum.

Dua minggu pertama di Darfur, kota El Fasher yang merupakan Headquarter dari misi UNAMID, kami mengikuti Induction Training. Setelah selesai training tersebut, barulah kami mendapatkan surat penugasan secara resmi atau Deployment Letter yang menyatakan di mana kami ditempatkan. Sesuai surat penugasan saya dari New York, maka saya ditugaskan sebagai Staff Officer di Airops UNAMID HQ di El Fasher. Sementara 2 rekan yang lain, masing-masing sebagai Military Observer di Sector West dan Sector South. Maka kami bertiga berpisah, sesuai dengan penugasan masing-masing.

Airops Fellows

Menginjakkan kaki di Aviation Section atau Air Operations UNAMID, saya bertemu dengan staf dari berbagai Negara baik civilian maupun military , yang kebanyakan memiliki latar belakang Aviation. Saya menjalani masa orientasi selama satu minggu, untuk mendapat gambaran tentang bidang tugas saya di Airops UNAMID. Saya ditempatkan di Planner Section, yang bertugas membuat perencanaan jadwal penerbangan harian sekaligus menjadi Duty officer di Airops UNAMID secara bergiliran. Selintas saya lihat bahwa tugas yang saya hadapi tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah saya lakukan sebagai Duty Pilot Ruang Operasi di TNI Angkatan Udara. Hanya saja di Airops UNAMID ini pesawat yang digunakan adalah pesawat-pesawat yang dikontrak PBB dari perusahaan penerbangan swasta yang berasal dari negara Rusia, Ukrania, Kanada, Bulgaria dan Spanyol. Selain itu sebagian besar asetnya adalah berupa pesawat Rotary Wing atau helikopter, sedangkan fixed Wing jumlahnya lebih sedikit.

Airops UNAMID memegang peranan penting dalam misi operasi PBB di Darfur, mengingat kondisi medan daerah Darfur yang sebagian besar wilayahnya berupa tanah tandus berpasir dan masih sedikit jalan yang telah diaspal. Kondisi medan tersebut cukup sulit untuk dijangkau melalui tranportasi darat. Selain itu kondisi keamanan yang tidak menentu juga menjadi pertimbangan, sehingga jalur udaralah yang menjadi andalan utama untuk menghubungkan satu daerah ke daerah lainnya. Hal ini membuat Airops UNAMID cukup sibuk, dalam setiap harinya rata-rata ada 20 hingga 30 penerbangan.

MI-8 MTV

Sebagai Staff Officer di Planner Section, maka secara bergiliran saya membuat jadwal penerbangan harian, berupa penerbangan yang telah terjadwal setiap harinya, maupun penerbangan yang berdasarkan permintaan atau Special Request. Setelah melalui prosedur tertentu dan mendapat persetujuan oleh Chief terkait, maka unit-unit di UNAMID dapat mengajukan permintaan dukungan pesawat dalam format Air Mission Request untuk dicantumkan dalam rencana penerbangan.

Pada awalnya, jadwal penerbangan tersebut akan berupa rencana tahap awal atau draft yang akan dikirimkan ke unit-unit terkait melalui intranet pada 2 hari sebelum hari H, untuk mendapatkan input dan tanggapan. Pada H minus 1, maka akan dibuat jadwal penerbangan yang sudah final, lengkap dengan komposisi penumpang, barang dan berbagai detail lainnya, yang kembali dikirimkan melalui intranet. Jadwal final inilah yang akan digunakan sebagai dasar pembuatan Air Task Order atau surat perintah terbang kepada crew pesawat.

Duty Officer <span class=& Colleagues" />

Berinteraksi dengan orang dari berbagai negara, dengan latar belakang dan tingkat kemampuan yang berbeda-beda menjadi tantangan tersendiri. Kendala bahasa, meskipun sama-sama berbicara dalam bahasa Inggris, namun dengan logat dan dialek masing-masing, juga merupakan tantangan lain yang membuat kita harus lebih jeli membedakan cara berbicara orang per orang, satu negara dengan negara lainnya. Salah satu tugas Planner Section, adalah berkoordinasi dengan unit terkait dalam merencanakan jadwal penerbangan, antara lain dengan unit Movement Control (Movcon) yang berurusan dengan detail penumpang dan barang, ataupun dengan berbagai unit lain, khususnya yang mengajukan permintaan Special Flight atau Air Mission Request. Selain itu, Planner juga selalu berkoordinasi dengan para Site Manager, dari perusahaan penerbangan yang dikontrak UN, tentang kesiapan pesawat dan crew yang akan diterbangkan maupun apabila ada perubahan-perubahan rencana yang sifatnya mendadak. Koordinasi adalah kata yang mudah diucapkan, namun dalam prakteknya sering sulit dilaksanakan.

The Planners

Pembuatan jadwal penerbangan harian yang dikenal dengan istilah DFS (Daily Flight Schedule) memiliki tenggat waktu. Setiap harinya pada pukul 2 siang, jadwal tersebut harus sudah selesai dan dikirimkan melalui intranet kepada seluruh staf maupun unit yang terkait dengan operasi penerbangan. Sedangkan untuk menuntaskan jadwal penerbangan tersebut, harus tercantum detail jumlah penumpang, barang, persetujuan yang diperlukan dari pihak terkait (Security dsb).

Salah satu permasalahan yang sering timbul adalah kadang input yang diperlukan untuk melengkapi jadwal penerbangan tersebut terlambat, ataupun seringkali masih banyak perubahan-perubahan dan hal-hal yang perlu dikonfirmasikan, sehingga mengakibatkan pengiriman jadwal tersebut molor. Kalau sudah begini, siap-siap mendapat complain dari unit terkait karena keterlambatan peluncuran jadwal yang dimaksud. Kadang hingga sore menjelang petang pun masih ada perubahan-perubahan, misalnya kondisi pesawat yang tiba-tiba mengalami kerusakan teknis, atau kondisi cuaca yang mengakibatkan penerbangan ditunda atau dibatalkan kedatangannya, dan berbagai permasalahan lainnya. Memang sesuai dengan dinamikanya, maka Aviation harus fleksibel, namun demikian prinsip Keselamatan Penerbangan (Aviation Safety) tetap menjadi acuan yang tidak bisa ditawar.

Planner Section

Dalam membuat jadwal penerbangan, manajemen waktu merupakan hal yang harus diperhatikan. Hal ini terkait dengan keterbatasan jam operasional bandar udara di Darfur yang rata-rata mulai beroperasi pukul 8 pagi hingga pukul 19.00 sore hari (sunrise to sunset), pembatasan jam terbang maksimal pesawat setiap harinya (flying hours) , maupun pembatasan jam kerja harian setiap crew (working hours). Sebelum matahari terbenam, semua penerbangan harus dipastikan sudah mendarat. Batasan waktu dan aspek-aspek tersebut harus benar-benar diperhitungkan dalam merencanakan jadwal penerbangan. Namun kadang akan timbul permasalahan apabila terlalu banyak misi penerbangan yang harus dilaksanakan, sementara asset/pesawat, crew dan waktu yang tersedia terbatas .

Untuk itu perlu pengaturan penggunaan asset pesawat dan crew dalam jadwal waktu yang lebih efektif dan efisien. Permasalan lain yang timbul adalah kadang pada menit-menit terakhir pada saat jadwal penerbangan akan diluncurkan terjadi kerusakan teknis pada salah satu pesawat, maka perlu mencari pesawat lain sebagai pengganti yang dapat melaksanakan tugas/misi penerbangan tersebut. Ibarat bermain puzzle, maka diperlukan kejelian untuk mencari peluang kemungkinan dalam menyelesaikan permasalahan serta ketelitian dalam mengatur waktu penerbangan.

Setelah meluncurkan jadwal final penerbangan harian tersebut, maka pada sore harinya, dilaksanakan briefing penerbangan, yang diikuti oleh Site Manager dari operator pesawat yang dikontrak PBB. Dalam briefing tersebut disampaikan berbagai informasi tentang operasi penerbangan, antara lain kondisi keamanan di wilayah Darfur terkait adanya No Fly Area, atau daerah yang harus dihindari pada saat terbang, mengingatkan tentang prosedur keamanan dan keselamatan terbang (Safety Concerns), NOTAM (Notice to Airman), kesiapan pesawat dan informasi-informasi lainnya, serta rencana kegiatan penerbangan esok harinya.

Duty Officer bertugas untuk memantau dan mengawasi pelaksanaan penerbangan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat. Duty Officerlah yang mengkoordinasikan apabila pada hari H timbul berbagai permasalahan. Duty Officer akan menginformasikan kepada Chief Airops, sebagai pelaksana kegiatan penerbangan. Alat komunikasi berupa radio dan telepon menjadi senjata Duty Officer, untuk memantau, mengkoordinasikan, memberikan instruksi kepada pihak terkait dalam pelaksanaan operasi penerbangan. Namun demikian kadang-kadang jaringan komunikasi khususnya melalui telepon selular tidak selalu berjalan dengan mulus, sering mengalami gangguan pada waktu-waktu tertentu. Demikian juga dengan jaringan komputer kadang bermasalah sehingga dapat menghambat proses komunikasi dan koordinasi. Hal ini membuat Duty Officer cukup sibuk , karena terkadang berbagai permasalahan tersebut dapat timbul dalam waktu yang hampir bersamaan. Selain itu, Duty Officer harus siap siaga apabila setiap saat ada permintaan pesawat untuk ambulans udara yang dikenal dengan istilah Medical Evacuation (Medevac) ataupun Casualties Evacuation (Casevac).

Kondisi keamanan Darfur yang terbilang masih cukup rawan, kadang masih terjadi tindak kejahatan ataupun kontak senjata yang memakan korban. Apabila kejadian tersebut ada di daerah pelosok/team sites maka pesawat helicopter yang khusus disiapkan untuk Medevac/Casevac harus siap diberangkatkan setiap saat oleh Duty Officer. Dapat dikatakan penerbangan ini bersifat darurat apalagi bila berkaitan dengan kondisi pasien yang sakit parah dan perlu segera mendapatkan perawatan lebih intensif. Diperlukan kecepatan, ketepatan dan kesigapan pihak terkait dalam menangani penerbagan Medevac maupun Casevac ini, karena menyangkut nyawa manusia yang harus segera diselamatkan.

Duty Officer <span class=& FlightFollowers" />

Tantangan lainnya adalah koordinasi dengan pihak Pemerintah Sudan sendiri dalam operasi penerbangan, yang kadang-kadang memerlukan waktu yang cukup lama dan proses yang agak berbelit-belit. Pemerintah Sudan selalu memberikan peringatan, bahwa setiap rencana penerbangan harus dikoordinasikan dan diberitahukan sebelumnya. Sehingga apabila ada pergerakan di luar rencana atau perubahan dari yang sudah direncanakan, hal tersebut tidak akan diijinkan oleh Pemerintah Sudan. Militer dan Pemerintah Sudan juga kerap mengingatkan pesawat-pesawat PBB untuk tidak terbang melintas di atas fasilitas pemerintah ataupun militer mereka. Sebagai negara tuan rumah tentu mereka berhak mengeluarkan aturan tersebut, hal ini menuntut Airops UNAMID untuk berkoordinasi lebih ketat, berkomunikasi lebih baik dan efektif dengan pihak otoritas penerbangan dari Pemerintah Sudan khususnya.

Berbagai tantangan dan permasalahan yang harus saya hadapi dalam penugasan sebagai Staff Officer Airops UNAMID ini membuat saya banyak belajar khususnya dalam merencanakan, memantau dan melaksanakan operasi penerbangan serta berkoordinasi dengan pihak-pihak lain. Beragamnya kewarganegaraan para personel yang terlibat misi UNAMID dengan karakter dan keunikan masing-masing membuat hari hari di Airops UNAMID menjadi lebih berwarna, meskipun kadang-kadang ada hal-hal tertentu yang memerlukan kesabaran dan harus lebih berlapang dada , misalnya dalam menghadapi perbedaan karakter dan budaya masing-masing orang yang jauh berbeda. Namun demikian, semua pengalaman dan penambahan wawasan yang saya dapatkan di sini merupakan hal yang sangat berharga, seraya berharap semoga semuanya akan baik-baik saja, seperti kata orang Sudan.. “Kullu Tamam”..

Destianto Nugroho Utomo Major Destianto Nugroho Utomo was born in East Java, Indonesia. After finished formal education at Taruna Nusantara High School Magelang in 1993, he joined the Indonesian Air Force Academy and graduated in 1996. Then in 1998, he graduated from the...

Detail Profile »

5  Comments

by PUGUH at 11 August 2009, 19:14

Mas Minta Extra Flight Dong dengan extra Destination ya Ke Cairo ato ke Indonesia mas Buat Mudik Ne boleh ga saya yang akan jualin tiketnya ntar gimana mas

by Jiewa at 12 August 2009, 15:36

Liat foto bersama dgn angkatan militer dr negara lain, unik ternyata corak lorengnya beda2 yah :P

Selamat bertugas dan tetap semangat :)

by anno' at 12 August 2009, 17:27

nach..blog ginian yg gw tunggu2…cerita2 dari dunia luar versi indonesia..ok dach…teruskan..gw ngelink dulu…

by dewi at 15 August 2009, 20:35

dari A sampai Z dijalankan secara disiplin dan tertib. wah memang butuh kerja keras ya pak.

by Dede Farhan Aulawi at 18 August 2009, 09:30

Selamat bertugas semoga sehat dan sukses selalu. Amin

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

799 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Nadia FEBINA Nadia FEBINA Nadia Febina has been working as an engineer for 7 years in oil & gas projects & production for a major oil company. She now lives in Angola since February 2007. Prior to that, also as an engineer, she had...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 6 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 13 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 16 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 16 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 17 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago