Correspondent A. SETIAWAN
Total 0 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 402 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
<< Habis gelap terbitlah terang
Pelajaran Yang Berharga Dalam Suatu Perpisahan >>
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Angola adalah negara yang baru saja beranjak meniti perdamaian sejak berhentinya pertikaian antar kaum di tahun 2002. Ibaratnya, Angola baru menghirup udara kebebasan sejak lima tahun yang lalu. Aroma kebebasan dan keinginan untuk berkembang pun tercium di seluruh negeri.
Katakanlah kepada Armeindo, seorang bekas askar Angola yang sekarang
bekerja menjadi security guard tentang peperangan. Maka dia akan mengeluh dan meminta dengan sangat untuk mengalihkan pembicaraan. Karena peperangan hanya memberikan duka dan kesedihan yang sangat mendalam. Dia pun sudah tidak mampu bercerita bagaimana dia mengangkat senjata untuk membunuh kawan senegerinya.
Yang Armeindo inginkan hanyalah perdamaian, meski pun dia hanya menjadi security guard dengan penghasilan yang tidak seberapa. Bahkan untuk membayar uang sekolah anak-anaknya sebesar Kz 1000 atau sekitar USD 15 pun sangat sulit. Meski pun dengan uang segitu hanya cukup untuk membeli satu pizza kecil dan segelas batidos (jus campur) di restoran tepi pantai Ilha. Memang masih ironis, tetapi rakyat Angola masih percaya bahwa perdamaian akan membawa kesejahteraan.
Tidak ada lagi rakyat Angola yang ingin kembali masuk ke kancah peperangan. Biarlah sejarah berlalu, dan rakyat Angola mencoba menutup lembaran kelam itu. Saksikan saja pembangunan gedung-gedung yang tak kenal henti di seluruh penjuru Luanda. Begitu juga perdagangan semakin hari semakin maju. Dan sudah banyak orang-orang yang menjadi lebih berharta dari perniagaannya.
Katakanlah pada Vicente tentang kesempatan bisnis. Dia akan cepat
menawarkan beberapa oportuniti. Seperti mengimpor mobil bekas dari Jerman dengan harga murah. Atau membuka pabrik es kecil-kecilan, yang dia katakan akan laris, karena orang Angola suka sekali minum es batu. Begitu juga dengan padaria (toko roti) yang buka sejak pukul enam pagi dan para pelanggan sudah mengantri. Setiap saat membeli roti, harus menunggu sekitar 20-30 pelanggan lain yang mengantri dengan tertib dan rapi.
Atau juga usaha taxi (mirip seperti angkutan kota di kota=kota Indonesia).
Taxi berbentuk minibus bisa dibeli seharga USD16,000. Setoran per hari dari
sopir adalah USD150/hari untuk lima hari kerja yaitu Senin sampai Jum’at.
Keuntungan hari Sabtu diberikan pada sopir. Hari Minggu libur.
Dihitung-hitung, jalan setahun saja sudah balik modal.
Begitulah pengharapan rakyat Luanda yang begitu bersemangat untuk mengisi perdamaian yang baru dikecapi lima tahun ini. Dan rasanya mereka tak akan rela melepaskan anugerah perdamaian ini, selamanya.
« Habis gelap terbitlah terang Pelajaran Yang Berharga Dalam Suatu Perpisahan »