Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Bahasa oh Bahasa (Bahasa Peacekeepers????)

6 December 2009, 08:42 , by Ro'is Nahrudin

 

Banyak teori tetang bahasa; teori yang akademik, teori yang aplikatif, teori yang Unexploded (seperti UXO) semuanya mengaku menjadi linguists dalam memberikan teorinya. Saya berpikir kenapa banyak teori tentang bahasa; saya temukan jawabannya karena setiap makhluk hidup tenyata punya bahasa. Bagi orang Islam dalam Al-Quran disebutkan dalam banyak surah bahwa setiap makhluk hidup saling berkomunikasi satu sama lain yang bahkan bukan sejenis mereka. Sebagai contoh semut yang berkomunikasi dengan burung, Nabi Sulaeman berkomunikasi dengan semut, pohon yang berdoa kepada Alloh, dsb. Dari beberapa gambaran tersebut saya akhirnya memutuskan untuk mencari teori tentang bahasa peacekeepers.

Tiba saatnya pencarian saya itu diuji dilaboratorium “Real Theatre” ketika bergabung dengan Kontingen Garuda Indobatt XXIII-D di Lebanon Selatan sebagai LO Indobatt di Sector East HQ di POSN 7-2. Hari Minggu sore, 29 November 2009 adalah hari pertama saya masuk Corimec, (sebutan UN untuk tempat tinggal kami yang berukuran 2.5 X 5 Meter yang buat saya tidak lebih dari sebuah kontainer barang yang bersekat), saya bertemu dengan seseorang yang tiba-tiba saja mengetuk pintu dan masuk ke rumah kontainer Corimec saya.

Saya langsung berucap; “Hai, Assalamualaikum, how are you?”
Tamu yang tidak saya undang itu menjawab; “wa’alaikumussalam, @#%&^**(&^ muslim?”.

Saya bilang; “na’am, ana muslim from Indonesii”.

Bapak yang ternyata orang Lebanon itu menyahut: ”Hamdalah-hamdalah, #%^*)(**^&%$#%^^&dll (dalam bahasa arab)”.

Saya jawab; “???????????…sukron-sukron…ana no speak Arabic only little (sambil saya tunjukkan gesture kelingking saya tunjuk di ujung jari saya)……..(saya tiba-tiba ingat Mayor Munir Interpreter Arab yang sempat pesen gimana cara tanya nama)……Masmuka?”

Bapak itu menjawab: “Muhammad Izbits..Muhammad..mm..”

Saya girang langsung menimpali: “Ah,…Ismi Ro’is from Indobatt (saya tunjukkan tulisan Indobatt di baju PDL saya)”.

Muhammad bilang: “Oh, ana #%^&*()%$#*….arba’a..……@#%^&*()%$#@*… (sambil menunjukkan gesture menyopir) ….Indobatt” (kira-kira saya pahami bapak itu pernah pergi ke Indobatt di POSN 7-1 empat kali).

Saya balas: “Wow …arba’a to Indobatt?…. nice…nice good”.

Selanjutnya saya tanyakan; “What is your job? (dia bingung, saya pun bingung menggunakan bahasa isyarat apa ini job???? Saya lupa ada yang kena rupanya)

Akhirnya bapak Muhammad itu bilang:” #%^&*()%$#*….drive….commander”.

Saya girang menjawab: “Ha, you are the driver of the Commander”…..akhirnya “percakapan” kami pun berlanjut dengan dengan bahasa yang nggak keruan secara linguistik, tapi saya tahu dia baru punya satu anak namanya Ali, umurnya 6 Tahun, sekarang masih sekolah, Ali bisa berbahasa Inggris dengan baik, dia dikursuskan ke sebuah sekolah bahasa dengan biaya US$3000 per tahun, Muhammad ingin anaknya masuk sebagai tentara di Lebanon Armed Forces (LAF) menjadi Kolonel di masa mendatang….dsb…. Bagaimana bisa????

Rois with friends

Kami berdua menerapkan rasa saling percaya bahwa kami adalah kawan, kami ingin tahu satu sama lain, kami ingin diterima ditempat masing-masing, kami ingin saling menghormati, kami ingin saling menjaga, kami ingin kedamaian… keinginan yang baik itulah modal mengapa kami dapat “berbicara banyak” setelah itu. Rasa percaya diri yang baik, niat baik, sikap baik, gesture yang proporsional, dan senyum ramah adalah bahasa universal yang seharusnya dimiliki oleh semua peacekeepers dari manapun dia.

Salam bahasa peacekeepers…

Ro'is Nahrudin Major Inf. Ro’is Nahrudin has been serving in the Indonesian Army (TNI AD) for over 13 years. Undertaking office at the Indonesian Defence Language Education and Training Center in Pondok Labu Jakarta Selatan. Holding a Graduate Degree in English Literature...

Detail Profile »

7  Comments

by kus at 6 December 2009, 08:08

wah kursus bhs inggris dng biaya sebesar US$3000 ? wah mahal sekali :(

by Luigi Pralangga at 6 December 2009, 08:54

Ini Pa Muhammad yang ditengah dengan senyum sambil merem itu ya? – Kebayang aja denegrin dia ngomong sambil berpikir keras: “In orang barusan ngomong apa ya?”

Sabar-sabarlah juragan.. nggak semua peacekeepers itu fasih dan jelas percakapan bahasa inggrisnya.. masih meding disana deh ketimbang yang kita hadapi di Liberia, ini dia contohnya —-> http://www.pralangga.blogspot.com/2006/04/kenai-tok-to-mista-titimu-what.html

by Michiko at 6 December 2009, 10:44

Ya iyalah..Bang Rois….khan informasinya demikian “SALAH-PAHAM”….salah-salah tapi kita paham-paham….he..he…

by Andry Yudha Kusumah at 6 December 2009, 14:32

Salam kenal Pak, Saya yudha. Mahasiswa S2 di Jepang. Salahsatu fokus studi saya adaalah Peacebuilding. Namun jarang sekali kita membicarakan kiprah Rekan2 indonesia di Kancah perdamaian.. sering kali membicarakan kiprah G8..karena memang refensi akademiknya sangat minim sekali.. bila saja terdapat laporan perkembangan yang dapat diakses secara bebas via internet, mungkin kita akan lebih berkesempatan mengeksposenya di kampus saya.

Membaca artikel disini, memberikan sudut pandang lain bahwa medan peacebuilding tetap ada sisi manusiawi, humor, dan tentunya keindonesiannya…

Selamat berkarya, semoga saya dapat memiliki pengalaman seperti Bapak dan ibu sekalian..

Viva Indonesia!

by Joko Setiawan at 14 December 2009, 17:41

Wah Ana no speak Arabic too Mas..
Boso Inggris wae ora iso, opo maneh Boso Arab he he he….

Asyik ceritanya…ditunggu kisah2 lainnya ya :)

Salam semangat selalu dari Bocahbancar

by sampras at 14 December 2009, 19:58

Bang Ro’is…

Itulah keunikan tugas di Lebanon… Menguasai Bhs Inggris belum memberi jaminan bhw permasalahan komunikasi menjadi tuntas. Begitu juga halnya dgn bahasa Arab karena ternyata semua negara yg berada di sana membawa ciri khas bahasa negaranya masing2.

So menurut saya, utk penugasan ke Lebanon ini justru perlu dibekali atau di-tes ttg kemampuan “PSIKOLOGI BAHASA” oleh PUSBAHASA, tempat Bang Ro’is bekerja, termasuk bagaimana memahami gesture dsb sebagai “kunci” utk berkomunikasi. Jangan semata2 ALCPT atau ADFELPS yg tnyta krg berperan dlm medan penugasan di Lebanon.

Fyi, Lebanon cukup lama berada di bawah kekuasaan Prancis/ Belgia shg kaum cendikia dewasa lbh byk yg menguasai bahasa PRANCIS, hanya sebagian kecil anak2/ remaja yg menguasai bahasa Inggris. Sementara di sisi lain, mayoritas pasukan PBB di sana berasal dari ITALI, SPANYOL, PRANCIS, INDIA, AFRIKA (Ghana) yg notabene pd saat berbicara dgn mereka, jd aneh kedengarannya di telinga.

Kayanya di Lebanon ga ada tuh yg namanya American English apalagi British English. Yang ada, MISUNDERSTANDING ENGLISH…alias MIS-MIS sedikit ga apa2-lah, yg penting UNDERSTANDING! hahaha…

Salam Perdamaian!

Sukses utk TNI dan Indonesia

by dhoni at 14 December 2009, 21:07

wew… pengalaman menarik memang, paK.

Ijin, satu saat ngelink buat postingan sejenis.

Salam kenal dan saling mendoakan mudah2an diberi kelancaran n keselamatan ‘perjalanan’ & tugas amanah kita semua membawa manfaat – pembelajaran bagi lingkungan.

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

796 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Bryan Lee University student, Bryan Lee, was born on September 7th 1986 in Sydney, Australia and currently resides in Melbourne. He is currently undertaking his final honours year of Bachelor of Industrial Design at Monash University. For his yearlong final assignment he...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 5 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 12 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 15 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 15 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 16 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago