About This Post

Correspondent Luigi PRALANGGA

Total 11 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 279 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 5.0/10(1 vote cast)

Articles

Beatrice Gailah : Menemukan cinta ditengah prahara

Memang situasi yang berkembang tidak berpihak kepada mereka, hingga keduanya terpisah dimana Beatrice dan keluarganya mengungsi ke perbatasan Ivory Coast, sedangkan Ambrose beserta orang tua dan anggota keluarga-nya mengungsi ke Accra, Ghana.

Pecahnya perang dan konflik bersenjata yang telah menimpa Liberia, membawanya selama 14 tahun lebih, negeri permata di barat afrika, menjadi bumi yang penuh derita dan nestapa bagi rakyatnya. Tidak sedikit nyawa yang harus menjadi korban, termasuk itu wanita dan anak-anak, dan tidak terhitung jumlah jiwa yang terpaksa harus melarikan diri, mengungsi ke tanah seberang, negeri tetangga diperbatasan dan terlunta-lunta dalam pengasingan berkawan akrab dengan sengsara di kamp penampungan pengungsi.

Paling tidak, itulah yang dialami oleh Beatrice Gailah, bersama 4 orang saudaranya, terpaksa harus melarikan diri, berjalan-kaki siang-malam lebih dari seminggu keluar dari Mornovia, menuju Harper, yaitu county di penghujung timur Liberia, kemudian menyeberang perbatasan masuk ke Ivory Coast.

Lebih dari segudang penderitaan, lelah-letih, penat dalam perjalanan, berbekal makanan apa adanya yang ditemukan selama diperjalanan, entah itu ladang yang ditinggalkan sang empunya, atau tetumbuhan liar di hutan lainya yang bisa dimakan. Kepedihan itu tidak berhenti disana, perlakuan tidak menyenangkan para tentara Ivorian, penjaga perbatasan sudah pasti membekaskan pengalaman buruk bagi para pengungsi yang melintas batas. Itulah singkat dari cerita latar-belakangnya semasa mengungsi.

Tidak lama sebelum pecahnya konflik bersenjata di Liberia, Beatrice adalah salah satu dari segelintir sosok bidadari disekolahnya yang kerap menjadi pusat perhatian serta pujian dari kawan – kawan, diluar dari paras dan penampilannya, Beatrice adalah seorang dengan pribadi yang menyenangkan. Itulah yang mendasari berlimpahnya perhatian, terutama dari para siswa pria.

Satu dari sekian pribadi yang turut terkesima, adalah Ambrose (Waduh, saya lupa lengkap namanya). Ia adalah kapten kesebelasan dari tim sepakbola sekolah SMA dimana Beatrice duduk dan belajar. Dari session curi-curi pandang, hingga akhirnya mereka pun berkenalan dan menjadikan keduanya dekat bagai sepasang merpati yang terbang kian kemari, gemar mengepakkan sebelah sayapnya menebar pesona kepada sang lawan jenis. Itulah gambaran pertemuan awal mereka semasa SMA.

Memang situasi yang berkembang tidak berpihak kepada mereka, hingga keduanya terpisah dimana Beatrice dan keluarganya mengungsi ke perbatasan Ivory Coast, sedangkan Ambrose beserta orang tua dan anggota keluarga-nya mengungsi ke Accra, Ghana.

Tahun berganti, situasi berangsur pulih, khususnya pada saat United Nations (PBB) menggelar misi pemulihan perdamaian di Liberia pada bulan Oktober 2003 dibawah mandat United Nations Mission in Liberia (UNMIL).

Seperti banyak peribahasa yang menyatakan ungkapan serupa, bahwa jodoh itu tidak akan lari kemana. Tidaklah ia di kejar, ia pun akan mendatangi. Memang sudah takdir bagi mereka untuk bersatu.

Tidak lama berselang, mereka bertemu kembali di Monrovia dalam sebuah reuni SMA. Ambrose bekerja sebagai penyiar radio pada salah satu stasiun pemancar radio FM cukup ternama di Monrovia.

Beatrice juga sudah bergabung dengan UNMIL dan bekerja satu kantor dengan si kampret ini.

Gayung bersambut, sejak pertemuan reuni itu, gelora asmara yang dulu pernah terjalin, lama terpendam oleh prahara kini merambat naik ke permukaan,. Bersemi kembali menyinari kedua hati. Pada tanggal 20 January 2007, mereka sepakat untuk mengikat janji untuk sehidup semati. Ambrose dan Beatrice menikah, pemberkatan kedua mempelai dilakukan di Kizito Parish, Paynesville. Selain kalangan famili, karib-kerabat lengkap juga para rekan sejawat dari kantor dan staff mission lainya pun turut menghadiri.

Sejak 3 bulan sebelum hari besar mereka, Beatrice mendaulat si Kampret ini agar menjadi Mat Kodak (Baca: Juru Foto) untuk siang hari itu. Meski panas dan peluh itu deras mengucur, serta rusuh kesana-kemari, menyelinap ditengah sesi acara, si Kampret ini cukup puas karena hasil jepretan itu membuat puas hati-nya, dan diakui menghasilkan pengambilan gambar yang lebih kreatif mendukung 2 grup juru foto yang telah disewa oleh pihak mempelai pria. Beatrice, this was my wedding gift to you, from us – Procurement Staff of UNMIL.

Perpaduan antara ritual gereja katolik dan adat khas pemberkatan ala Liberia, membuat kita, para staff asing yang hadir disana bisa memahami salah satu bentuk upacara dan budaya Liberia. Beberapa jepretan lainya bisa ditengok di halaman Photo Gallery, sub-album : African Wedding.

Kepada Beatrice dan Ambrose, meski sudah lumayan berlalu, tidaklah salah apabila saya kembali mengucapkan selamat menempuh hidup baru semoga bahagia selalu.

Menemukan cinta ditengah prahara memang sudah takdir mereka berdua.

by Ofori Ayisi Joseph at 17 November 2007, 00:25

Dear Luigi,

It’s my sincere gratitude to notify you that am in Lebanon berely two weeks. I am a soldier(peacekeeper) serving with UNIFIL.. Am a Ghanaian who met you quiet recently at ARMY MESS in Accra, Ghana.

I promised to communicate with you as soon as I come to Lebanon. Are you still in Liberia? or you have gone back to New York? How is life? I believe there’s peace now in Liberia. We’re also well here performing our duties as usual.For now we haven’t experienced any difficulty. I pray that there will be peace and understanding. I would like to end here with much greetings to you till I hear from you.

by Yeni Setiawan at 19 November 2007, 11:43

Wah, seperti cerita dalam dongeng..
Sangat menarik!

by Vyta Catur at 19 November 2007, 14:41

Mas Luigi,

Maaf baru sempat mbalesin email-email Mas Luigi.
Sebelumnya Minal Aidin Wal Faiidzin ya.Hebat deh masih terus eksis aja di Pralangga.org.

o ya…Kemarin hari jumat saya baru ketemu Mas Wisnu Dewantoko, Insya Allah Tahun ini berangkat ke tanah suci.
Punya no hpnya ndak?ya sapa tau taun ini mas luigi juga sempat jalan-jalan ke tanah suci.

Untuk Beatrice n Ambroce Selamat Menempuh Hidup baru… Smoga Langgeng sampe kakek nenek… Untuk mat kodaknya… kok cuma fotonya Beatrice aja yang ada… Ambrosenya mana??? he he he he…(Fotonya focus banget deh… he he he…The Sweet Black he he he )

Foto-fotonya mengingatkan saya pada Papua.Di Papua kalo pribuminya nikah ya kayak gitu… Ok deh selamat melanjutkan pekerjaan….

by Fiona at 19 November 2007, 14:48

Beautiful bride…. nice shots..
She deserved for this great wedding (at least yg keliatan wedding-nya keren krn bride-mistress-nya juga banyak dan cantik2 banget cantik dgn gaun2 ala barat)… apalagi kalo baca cerita bahwa dulu dia udah pernah ngungsi dll.. can’t imagine that in my real life.. Thanks God…

Keep safe..

Cheers,
fiona

by Bramantya at 19 November 2007, 14:52

Wah mas orang Indonesia juga yah, tak kirain org spanyol atau italia, habis ada Luiginya.. Patah hati rupanya. Jodoh kita ndak ada yg tau, tp kita harus selalu yakin dan percaya bahwa Tuhan akan mempertemukan siapa jodoh kita nantinya. Begitu pula kehidupan kita, ndak ada yg tau besok atau bahkan 1 mnit kemudian akan terjadi apa pd kehidupan kita. Sy selalu ingat saran nenek saya yg saya pegang selalu pd kehidupan saya. Percayalah, dibalik kesedihan dan kesialan yg kita hadapi, akan ada kegembiraan dan keberuntungan yg akan kta dapatkan. Begitu pula sebaliknya. Akan datang bergantian, jd jalanilah dgn apa adanya dan terimalah dengan gembira walaupun itu sangat menyakitkan. Sy pernah mengalami penghianatan, orang yg kita perlakukan dgn baik tyt menusuk dr blakang, kehancuran usaha dan segala hal-hal yg menyakitkan. Tp sy coba anggap itu sbg ujian dan Allah SWT akan memberikan balasan kalo kita tetap percaya dan taqwa kepadaNya. Alhamdullah sekarang keadaan berangsur baik, dgn tetap ikhtiar dan taqwa, InsyaAllah sy sanggup menjalaninya.
Sy rasa bgt juga dengan Beatrice ini. Dengan cara dan kepercayaannya dia, dia berhasil melewati masa-masa sulitnya dan berkhir bahagia, dan semoga akan terus bahagia.

Hari ini harus lebih baik dari kemarin.

Salam;
Bramantya AP

by Fabiola Lawalata at 19 November 2007, 14:54

kayaknya pernah denger siaran lu di hard rock deh 3 mingguan yg lalu…. :)

Fabiola Josephine Lawalata _
Doing the Best U can Do and Being the Best U can Be

by Sari Isdiyani at 19 November 2007, 16:41

Dear Sir…

Lam kompak n sukses selalu untuk Abang n team nas di Liberia. Banyak temen yang sempatin mampir ke blog pralangga.N komentar mereka pun hampir senada… Gokil Abiiiissss…Hehehe..Kalo si Tukul sering bilang “ Tombo Ngantuk “ untuk blog pralangga, kita bilang “ Tombo Stress”…Hehehe.Abis banyak banget tulisan yang bikin kita ngakak n geleng – geleng plus garuk kepala..Macem Flamio Hadaaaa ah ah uh uh …. Huhahaha gak ketulungan tuh ketawanya , mpe terbirit birit lari ke ruang sebelah ( toilet:^o~ ).

Abang emang bisa aja bikin tulisan yang menarik.Dan sangat adiktif.Bener lho..sekarang aja rasanya klo gak nengok pralangga rasanya ada yang kurang. Obat stress dah diminum tapi klo gak nengok pralangga bagai vitamin yang diminum separo dosis…Hehehe…( Selain itu banyak info juga seh dari tulisan yang lain ) Tentang lowongan kerja di UN juga ri sebarin ke temen-temen laen.

Ri aja pengen banget kirim apply tapi apa daya sekarang bener – bener tergantung ma “komandan” di rumah…Gak bisa terbang tinggi lagi.

by Ranti Prasasti at 20 November 2007, 14:29

So romantic ya mas :)

Btw pha kabar mas Luigi? Aku ranti masih inget gak? Dulu mas Luigi sering kirim post card bagus2 ke alamat kantor aku yang di Indovision, tapi skg aku udah pindah kantor :)

Btw emang betul sih, jodoh tak akan lari kemana, pasti akan dateng lagi :) btw di Liberia mas Luigi komunikasi pake English ato ada bahasa Liberia juga di sana?

Cheers,
Ranti

by Kopitozie at 21 November 2007, 06:07

Salam kenal aza dulu yaa …

by peyek at 21 November 2007, 20:14

Beatrice nama yang indah,
sepertinya suasana disana antara staff asing dan penduduk sana dekat banget ya kang! kayak punya gawe sodara sendiri

by debbie at 27 November 2007, 07:50

kunjungan perdana ke Warung Sebelah :D
sangat menarik liputan african weddingnya, serius! foto2nya colorful bener. Edun yah, para afrikan itu pede sekali, kulit hitam tp gak menghalangi mereka utk berdandan dgn warna cerah meriah norak :))
Tp asyik banget!