Correspondent Luigi PRALANGGA
Total 11 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 370 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
<< Personal safety awareness: Staff's own responsibility, too
HUT RI dan Medal Parade di KONGA XXIII-A >>
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Musim hujan sudah tiba, semenjak awal bulan May 2007 ini, Monrovia sudah ramai diguyur hujan yang paling tidak dalam satu hari bisa 3-4 kali sesi-hujan itu mengguyur, dan banyak kampret-kampret yang sudah mulai terlihat pilek, demam dan batuk-batuk akibat transisi musim ini. Liberia, berada dai jalus khatulistiwa, persis dengan Indonesia, begitu juga alam
dan iklimnya yang hanya mengenal dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan gludug.

Kalau saya mencoba membandingkan, musim hujan selama di tanah air dan di Liberia, saya boleh bilang kalau hujan di Liberia terasa lebih deras dan lebih sering, kadang banyak payung-payung teman-teman sekantor yang rusak karena terpaan hujan plus angin itu, kemudian masuk angin dan pilek-lah mereka itu dibuatnya.

Harus diakui bahwa, si kampret ini juga sering mengalami masuk-angin, pegel-linu- wah segala macemlah urusan sakit-badan akibat cuaca, salah satunya, selain memang udah lama sekali tidak dipijet :D, apalagi lepas sebuah perjalanan dinas ke pedalaman Liberia dengan berkendara atau dengan terbang naik helikopter sekalipun.

Waktu itu, saat si misi peacekeeping ini masih dalam tahap initial deployment stage, banyak dari kawan-kawan yang harus hadir dalam rapat, baik itu bertemu dengan kontraktor lokal untuk sebuah project pembangunan sarana di pedalaman Liberia, maka digilirlah masing-masing dari kita untuk pergi bertugas, dan berkendaralah satu tim dimana si kampret ini ikut didalamnya ke Voinjama, kota yang 7 jam lamanya ditempuh lewat darat, dia berada diujung utara Liberia, berbatasan dengan Republik Guinea.

Setengah perjalanan dari Mornovia, memang nyaman. dimana jalan-jalan masih terbilang bagus, namun lepas dari Tubmanburg terus hingga sampai ke Voinjama dan ditambah hujan yang rasanya nggakpernah berenti, wah mulai deh… si jalan tanah kering itu mulai bergelombang dan kita – para penumpang didalam kendaraan persis rasanya mual terkocok ajrut-ajrutan melalui jalan renjul persis permukaan bulan itu, ditambah lagi banyak kesempatan harus keluar untuk dorong mobil karena selip masuk lumpur.
Sumpeee! – panggang ini.. pinggang ini serasa mau copoot! dan sudah pasti sepatu jeblok dengan lumpur.

Dengan dukungan teknologi informasi, para staff selalu memeriksa kondisi jalur logistik dengan berkoordinasi dengan UN-JLOC (United Nations – Joint Logistics and Operation Center) akan situasi jalan/medan dan keamanan di berbagai daerah di Liberia sebelum sebuah konvoy atau perjalanan dengan menggunakan kendaraan UN dilakukan. Apakah situasi cukup aman hingga membutuhkan pengawalan bersenjata dari pihak kontingen peacekeepers terdekan dan lain sebagainya.
Selama diperjalanan memang kita sempat melakukan kontak radio, standard perangkat radio sudah terpasang pada semua kendaraan UNMIL, yaitu radio VHF dan UHF yang mampu berkomunikasi dengan/kepada sentra2 komando militer yang berada dan menjaga Area of Responsibility-nya masing-masing.
Seru sih memang – persis seperti ajang rally lintas sumatera dimana saat iring-iringan kendaraankita melaju, banyak anak-anak di kampung itu berlarian ke sisi jalan dan bertepuk-tangan serta melambaikan salamnya pada sang konvoy kendaraan ini.
Bepergian ke pedalaman memang menyenangkan, hanya saja ancaman malaria sudah pasti, kalau sampai digigit nyamuk hutan yang gedenya segede tawon! Serem khan!, percumalah si Autan itu.. dia akan luluh dan luntur karena cucuran keringat ini. Selain kendaraan UNMIL, disana banyak kendaraan truk-truk pengangkut kayu dan taksi-taksi charteran yang disewa para penduduk untuk bepergian kesana-kemari, karena tidak ada pelayanan transportasi umum, jadi sedan-sedan butut yang dimuat padat dimana orang,
kambing dan barang dijejelin sampai penuh dan menari-narilah kendaraan butut itu diatas lintasan berlumpur.. singkatnya —> It’s no fun ride!
Satu hal yang kentara jelas bahwa, untuk daerah-daerah yang “Super jeblok!”, disana banyak nangkring pemuda-pemuda yang sudah stand-by menunggu di pinggiran jalan kubangan itu sebagai “kontraktor ahli” dalam hal P3K —-> Pertolongan Pertama Pada Kendaraan-Nyungsep yang kadang lepas memberikan jasa dorong-tarik-nya, berujung argumen ramai tentang bereapa upah yang sesuai yang seharusnya diberikan si pemilik kendaraan nyungsep.
Si argumen itupun acapkali terdengar sengit ditelinga saya – yang kata mereka itu [volume percakapan] adalah diskusi bersahabat ala Liberia.
Untungnya kita memang pergi dengan kendaraan yang baik kondisinya dan lengkap peralatan-nya, serta pengemudi off-road yang handal, jadi banyak kesempatan merasa nyaman meski diluar jendela itu, si lumpur dan tanah becek sudah mengubur dalam si ban Nissan Patrol itu. Edun-lah pokoknya!. Acara lintas alam jeblok-jeblokan ini ternyata adalah sarana rekreasi juga, melihat langsung seperti apa kehidupan di kampung pedalaman Liberia dimana banyak anak-anak kecil harus membantu orangtuanya membawa tumpukan kayu bakar diangkut diatas kepala mereka dan berjalan berkilo-kilometer dibawah terik matahari untuk mengambil air, dan mencuci baju mereka, dan juga untuk bepergian sekolah.
Lepas urusan kerjaan, kita memang menginap semalam di Voinjama, dan kendaraan harus di servis disana karena penuh dengan tanah dibagian mesin dan rangka chassisnya, kebetulan saat jadwal kembali, penerbangan helikopter resupply perbekalan kontingen peacekeepers – Batalion Pakistan baru saja rampung, maka terbanglah kita kembali ke Mornovia melalui udara.
Bekerja di lapangan penugasan misi pemulihan perdamaian seperti di Liberia ini, harus diakui adalah sebuah penambahan kapabilitas dan pembuka wawasan, apalagi buat kampret-nyasar macam saya ini.. yang notabene masih harus banyak belajar lagi akan geografis benua ini dan sosio-kultur-nya. Sejauh ini, seudah merupakan pengalaman yang menyenangkan.
Mas Luigi, bener mas… sama kaya reli di Kalimantan… tapi kayaknya lebih berat ya… Dengan photo2x ini, saya bisa membayangi keadaan di sana…
ckckckck….gak bisa ngomong liat tuh poto
Seperti track rally offroad :D
Kalo di daerah bersalju lebat biasanya ban mobil di selimuti jaring-jaring yang terbuat dari besi, jadinya lebih tangguh di medan yang lunak. Tapi kalau dipakai di jalan berlumpur mungkin bisa
Nggak kebayang deh suse nye, pasti lebih ajrut-ajrutan rasanya dibanding naik kapal cepat fiber ketika sedang musim ombak besar di sini.
Tapi bisa untuk cerita yang menarik buat anak cucu mas Luigi kelak kok…. wakaka! Hatur nuhun mas…
memang dengan kondisi musim hujan terutama daerah diluar monrovia sangat memprihatinkan. Sehingga kita – kita sekarang yang patrolipun harus banyak perhitungan kalau kejeblok daerah begitu. karena no accused kalo terjadi apa-apa dengan kendaraan. Salam Chop-chop Kang.
Akhirnya bisa komentar di sini. Kang,, yg jelas dari setiap kejadian bisa kita jadikan pengalaman. Dan pengalaman setiap orang berbeda tentunya. Selamat bertugas :)
lumayan buat liburan, kang!
gak usah pake ke taman hiburan, udah ngerasain sensasi deg2an-mual-pengen muntah layaknya naik wahana itu :D
saya salut sama kang luigi dan pasukan UN, di medan apapun harus tetap tegar. lihat itu, lumpur sampai seperti mau menelan mobil2, tapi tugas is tugas. harus dinikmati walau dalam keadaan apapun. god bless you kang luigi, semoga waktu cepat bergulir sampai hari H dimana bisa bersenang2 dengan keluarga dirumah. nuhun udah dikunjungi, walaupun jarang2 tapi flattered juga sih kampret macam saya bisa didatangi oleh pahlawan dari UN. ehm..ehm…take care.
woouwww luarrr biasa……didoain sama si mamah agar dikaruniai kesehatan, kebugaran, kebahagiaan dan full energi untuk senantiasa memberi manfaat kepada sebanyak banyak umat, amin
btw…nyamuknya segede tawon????whoaaaa..
hohohoho.. seru sekaliiyyhh.. .
kudoakan semoga dirimu dan kampret2 lainnya selamat dan bisa balik ke Indonesia, sehat wal afiat. Amien! .
Keep up the great work there! .
lain edun deui atuh eta mah…..jgn dulu ngaku offroader kalo belom lulus di medan tempur kyk ginih…..
top markotop!!
(karunya pisan si kasep bau kelek teh dugi ka di cekek kitu akses ka blogspot teh??)
« Personal safety awareness: Staff's own responsibility, too HUT RI dan Medal Parade di KONGA XXIII-A »