Berawal dari pengalaman 14 tahun hilir mudik di dunia maskapai penerbangan dan sepak-terjang bidang aviasi, maka timbulah sebuah tekad bulat bak bola kaki untuk perubahan yaitu meniti karir di salah satu misi UN di luar negeri. Pengalaman serupa saat bergabung dengan UNHAS (United Nations Humanitarian Air Service) di Aceh pasca tsunami telah banyak memberikan inspirasi. Selain kesempatan ‘exposure’ bertugas di berbagai belahan dunia lain, baik itu dibawah naungan UN-DPKO maupun UN-Humanitarian Relief Mission, mencoba untuk berkarier dan kemudian setelah kenyang pengalaman, hasil pensiun dari organisasi besar seperti UN tentunya memberikan penghasilan yang lumayan untuk hari tua kelak..
Saat bertugas pada Tsunami Relief Operation di ACEH dan NIAS dibawah payung UNHAS/WFP-HAS yang merupakan sebuah jasa layanan transportasi udara bersama(Common Air Service) bagi para Humanitarian Workers – dimana peran yang saya jalankan adalah mengakomodasikan dukungan atas lintas udara bantuan kemanusian ke daerah – daerah. Pada saat itu kondisi masih tidak mungkin dilewati jalan darat. Itulah pengalaman perdana diri ini bekerja dalam UN System Organization.
Sebelumnya, saat masih bekerja di satu maskapai penerbangan domestik, menjabat sebagai Operations QC (Quality Control), tidak terlintas pada pikiran ini bahwa suatu saat bisa membantu rakyat Aceh yang sedang tertimpa musibah yang maha dahsyat itu.
Saat berakhirnya kontrak kerja pada UNHAS, akhirnya kemudian sayapun kembali bergabung untuk bekerja di maskapai penerbangan lagi, sembari mencoba menimba ilmu lebih jauh. Ritme kerja dan semangat humanitarianisme yang tertanam di jiwa ini membuat upaya untuk kembali dan mencari informasi yang lebih baik untuk melamar lowongan pada UN System Organization, kemudian mendaratlah saya di halaman website UNV
United Nations Volunteer, dari namanya sekilas memang menyuguhkan arti haraiah bekerja sebagai ‘relawan’, namun setlah membacanya informasi penting yang tertuang disana, saya menilai bahwa ini (UNV – Red) bukanlah sebuah kesempatan untuk menjadi sembarang relawan, melainkan adalah menjadi Relawan PBB, men!
Sejak itu, mulailah berbagai macam dukungan dari rekan-rekan staff senior, maksudnya rekan-rekan staff Indonesia yang sudah bergabung pada PBB lebih dulu dari saya, para Indonesian Peacekeepers, sampai kepada mereka – mantan supervisor menganjurkan serupa dan mendukung niat tersebut. satu hal yang saya ingat dengan pasti adalah nasehat mereka: “Langkah awal adlaah mulailah melamar dengan menyusun “Personal History Profile” secara online di situs web tersebut. Namun, sebelumnya bebereapa perbaikan dari sisi penyajian informasi pengalaman kerja dalam PHP juga mesti dibuat sedemikian rupa agar ringkas, padat dan mengedepankan karakteristik kapabilitas profesi agar dapat meninggalkan impresi positif bagi para recruiting managers yang akan membaca si PHP tadi.
Rasa terima kasih juga tidak lupa saya haturkan kepada teman dan sahabat telah bersemangat membimbing dan mendukung saya dalam proses melamar, membekali akan pengetahuan institusi yang berguna banget saat tes wawancara hingga akhirnya sampai mendarat di dunia “bau kelek” (Meminjam kata-kata yang selalu di ucapkan oleh Kang Luigi) dan itu benar adanya dirasakan saat saya mulai tiba di Darfur, Sudan.
Saya masih ingat sekali, yaitu pada 29 April 2009, datanglah sebuah surat electronic (baca: Email) muncul diantara puluhan email yang baru masuk berderet dalam kotak masuk/inbox yang berisikan sebuah informasi lowongan berjudul Movement Control (MOVCON) Assistant, pada Misi Hybrid PBB/AU di Darfur. Email itu datang dari Recruitment Office dari Markas Besar UNV di Bonn, Germany.
Rasa-girang-pangkat-tiga bercampur sedikit harap-harap-cemas ini selalu muncul apakah yakin akan berhasil untuk bisa bergabung berdinas bersama dengan para Peacekeepers dan Humanitarian Workers senior itu, dimana mereka yang sudah tidak terbilang seringnya wara-wiri bertugas dan bepergian keluar-masuk penugasan misi perdamaian PBB itu.
Proses “Shortlisting” ini meminta saya untuk melengkapi semua persyaratan administratif awal yang juga sambil membuka kembali ‘kitab-kitab lama’ akan perihal substantif ilmu “Air Operations” sekaligus mencari data melalui internet browsing kesana-sini, agar supaya tes wawancara nanti bisa maksimal.
Alhamdulilah, nampaknya Gusti Alloh kemudian memberikan saya kesempatan berkarir lebih jauh. Maka pada tanggal 17 May 2009 laly, sebuah email masuk diterima yang berasal dari Administrative MovCon Officer, dimana judul email tersebut berbunyi: _Interview for the position MOVCON Assistant (UNV) in UN Mission in Darfur (UNAMID)”, kelar membaca email itu, saya langsung jadi deg-degan, lho!. Pada email itu disebutkan bahwa tes wawancara akan dijadwalkan pada tanggal 21 May 2009 jam 14.30 waktu Sudan.
Mencari tahu di internet, seperti apakah gambaran kehidupan di Darfur, Sudan itu – hasil pencarian menyuguhkan beberapa gambar seperti dibawah, yang diambil dari situs web Markas PBB di New York:
Rasanya kok serem bener ya?.
Hari “H” pun tiba, sehabis tes wawancara tadi rasanya lama sekali!. Hampir 40 menit tanya-jawab tentang ini-itu, semuanya, deh!. Di akhir sesi wawancara, dikatakan bahwa hasil akhir keputusan akan diberikan dalam dua minggu, maka sejak itu susah sekali tidur nyenak!.
Gundah gulana, dan berbagai keraguanpun mulai bermunculan. Menunggu khabar penting selama 2 minggu rasanya seperti berbulan-bulan. Teringat terus sampai malah jadi kesel dan cape sendiri dibuatnya. Perasaan macam begini persis sama dengan saat masa pacaran dulu, yaitu saat waktu menunggu jawaban apakah diterima atau ditolak untuk menjadi kekasihnya (Alhamdulillah diterima – hingga saat telah ini setia menemani perjalanan ini: Terima kasih, mama!) —-> Aarghh!, jadinya ampe ngelantur..hehehe.
Masih dalam masa penantian apakah saya lolos tes wawancara atau sebaliknya, menjalani rutinitas normal meski beban kerja pada dunia industri jasa penerbangan menuntut jam kerja yang panjang dan melelahkan, belumlagi berada di bagian operasional ternyata juga turut berbagi beban target perusahaan yang dicapai.. ditambah lagi sering memikirkan hasil tes wawancara itu. Pusingnya, komplit deh!.
Sederet kata-kata dalam bahasa Inggris berbunyi: “your candidature is under serious consideration for the above UNV assignment..”, yang datang dari sebuah email dari UNAMID – Movement Control, Sudan. Email itu adalah email yang mengabarkan “selection feedback” yang dalam isinya juga meminta saya untuk memeriksa/memperbaharui biodata, harus diserahkan dalam waktu 3 hari, bersama laporan tes kesehatan (Medical Check-up Report) dan beberapa dokument seperti sertifikasi kecakapan. Namun yang membuat dahi ini kemudian berkerut mirip kulit jeruk purut lantaran pada ujung email itu ada embel-embel pesan yang menyarankan agar saya untuk tidak keluar.mengundurkan diri dahulu dari pekerjaan sekarang sampai semuanya final. (Jadi ini tuh belum final ya?).
Setelah semua proses berjalan, akhirnya saya mendapatkan khabar ‘lampu hijau” dari kantor Markas Besar UNV di Bonn, Germany dimana isi emailnya mengatakan untuk segera bergabung berada di daerah penugasan misi di Darfur, Sudan dalam tempo 1 minggu mulai saat visa-sementara Sudan ditangan.
Pada tanggal 30 Juni 2009, dengan diskusi alot antara saya dengan pihak personalia kantor, hasilnya saya harus meminta waktu lebih panjang lagi untuk berangkat ke misi, yaitu 20 Juli 2009. hati ini sih ingin sudah bisa pergi besok, berpindah ke penugasan baru, namun apadaya bahwa pengunduran diri dalam aturan perusahan harus diajukan 1 bulan sebelumnya. Beruntunglah saya, masih mempunyai tabungan waktu cuti yang tersisa yaitu 20 hari, sehinga tercapailah kesepakatan dan memungkinkan saya terbang berangkat ke Sudan, tanggal 20 Juli 2009 dengan menggunakan Qatar Airways.
“Darfur I am Coming” …
Dengan niat mencari keridhaan yang kata para ulama bahwa: “Ketika kaki keluar melangkah buat mencari rizki dan keridhaan Allah maka sesungguhnya dijauhkanlah api neraka darinya”. Insya Allah ini yang menjadi tonggak awal perjalanan ini. saya ingat sekali waktu itu, saat mau berangkat ke Sudan – galau dan rasa ketakutan juga membayangi diawalnya, akan bagaimana kondisi dan juntrungan diri ini di negeri entah-berantah (Darfur) nantinya.
Foto dibawah adalah saat awal menjalani penugasan di Darfur, lepas training “Basic Security in the Field” yang notabene wajib bagi setiap staff yang baru datang.
Doa restu orang tua, saudaraku, teman-teman, para Peacekepeers dan Volunteers yang sudah berada di lapangan – adalah bekal perjalananku kali ini. Semoga perjalanan karir yang baru ini bisa membawa banyak keberkahan dan terus akan menanti keberkahan dari sang Maha Pencipta untuk karier selanjutnya diluar UNV, kalian pasti tahulah…ayo tebak…..?
Terima kasih buat semuanya, Kang Luigi, “Poobear”- Puguh Pamungkas, Maria dan boss ku Pak Jafrie Arief yang sangat Bijaksana . God Bless you All. Insyallah artikel ini bersambung dengan episode yang berbeda.






“Welcome aboard” Man Agus semoga 5 bulan yang sudah dirasakan akan menjadi perjalanan hari yang indah buat kedepannya dalam menjalankan tugas, yang penting nyari Keridhaan Allah ya Man Agus….“bringing peace to the world” hehehehhehehe
Selamat Bertugas & Berjuang Mas…..hidup diantara Hitam & Putih adalah sama dengan KITA berdiri di Tanah Air,semuanya mahluk Tuhan.Sukses selalu dalam pengabdian,salam dari Kinshasa
Mas, apakah sulit banget ya buat bergabung menjadi relawan PBB? Saya pengen banget menjadi seorang relawan PBB, tapi bingung mesti mulai dari mana?
SALUT MAS..GIMANA CARA YA BIAR SAYA BISA BERGABUNG MAS..SAYA SIAP BEKARJA SEBAGAI APA AJA MAS DAN TANPA DI UPAH KARNA INI PURE DARI HATI..MAS TOLONG DI INFORMASIKAN BAGAIMANA MENDAFTAR UNTUK BEKERJA DI UN
Braderrr… always bringing peace to the world…
BRAVO THE BLUES.c u next mission
CHEERS
QBO
Mas,sy di flores sy pernah bekrja pada PBB dalam misinya di Timor Timur UNTAET slama 3 tahun,banyak tman2 saya yg udah jadi UNV,sy mau nanya gimana caranya biar bisa jadi UNV,apa bisa karena sy hanya tamatan SMA?