Suatu saat teman saya mengetahui kalau saya akan di tugaskan di Haiti, dengan entengnya berkata:”Wah…enak lo, No…dapet tempat yang asik bisa liburan terus dong ‘kan Tahiti tempat yang ok punya..”. Perkiraan bahwa Tahiti dan Haiti adalah daerah yang sama memang kadang-kadang membingungkan. Dalam kenyataannya, kedua tempat ini jauhhhh berbeda.. (Dari pengucapan mungkin hampir sama..), boleh di bilang…. jangan dibandingkan deh!… istilahnya kerennya…ekspektasinya jangan ketinggian…ntar jatuh…berabe deh…heheheheh.
Masih ingat dengan film berjudul Pirates of the Caribbean ? …nah… negara Haiti ini adalah sebuah negara di kepulauan Karibia yang meliputi bagian barat pulau Hispaniola dan beberapa pulau kecil lainnya di Laut Karibia. Di banding dengan negara – negara tetangganya, Haiti adalah negara termiskin di belahan barat (selain berbatasan dengan Republik Dominica, Haiti juga berbatasan dengan Amerika dan beberapa negara Latin lainnya). Penduduknya tercatat lebih dari sembilan juta jiwa, berdesak-desakan dalam area kira-kira 27, 750 km2 (coba bandingkan dengan pulau jawa yang mempunyai luas sekitar 138,793,6 km2).
Delapan puluh persen dari penduduk di Haiti, hidup di bawah garis kemiskinan, lebih dari dua-pertiga dari populasi tidak memiliki pekerjaan formal, dan hanya lebih dari 52 persen bisa membaca. Infrastruktur yang minim di tambah dengan sanitasi yang tak layak semakin memperburuk situasi, angka penyakit infeksi pun termasuk tinggi termasuk HIV/AIDS.
Meskipun Haiti pernah sangat kaya sebagai produsen gula yang terbesar dan di kenal dengan nama “Pearl of Caribbean” karena sumber daya alamnya dan pantai di Haiti yang terkenal eksotiknya…, setelah 205 tahun merdeka Haiti tetap terpuruk dengan kemiskinan. Perancis yang menjajah Haiti membawa hampir setengah juta budak yang pada saat itu berasal dari Afrika, yang akhirnya menggulingkan mereka dalam pemberontakan pada 1804. Lebih dari dua ratus tahun kemudian, Haiti masih menunggu keadaan politik yang stabil dan pemerintahan yang demokratis.
Haiti yang terletak di barat Pulau Hispaniola berbatasan langsung dengan Republik Dominica. Ketika pesawat terbang dari atas, penumpang dapat melihat perbatasan antara sisi Dominican yang subur dan hijau, sementara sisi Haiti yang kering dan gundul. Memang terasa sangat sumpek kalau melihat keadaan di Haiti, coba saja liat di jalanan, sampah dimana-mana, jalanan yang sempit di tambah cara mengemudi orang Haiti ini, lebih parah daripada supir angkot di negeri kita (lain kali saya pasti cerita tentang angkot di Haiti ini…hehehee).
Jangan tanya deh mengenai kondisi pasokan listrik di Haiti, generator atau inventer menjadi penerang di waktu malam, itupun generatornya hanya menyala beberapa jam. Kalau berkendara di waktu malam, nyata dan jelas kelihatan kalau tidak ada lampu jalan, yang jadi penerang yah… lampu mobil itu (kalau di pikir-pikir masih untunglah masih untunglah PLN kita di Indonesia mati lampunya bergiliran.. hehehehe), kalau mau masak kebanyakan penduduk disini masih memakai arang untuk pengganti minyak tanah.
Haiti mengalami proses deforestasi di mulai pada zaman kolonial, penggundulan hutan untuk diambil kayunya untuk membuat arang sehingga orang dapat memasak tanpa listrik atau gas, ini memperburuk bencana alam yang melanda Haiti setiap tahun, dan membuat banjir dan tanah longsor semakin parah.
Pada tahun 2008, misalnya, empat badai sekaligus melanda Haiti dan menewaskan lebih dari 1000 orang, meninggalkan ribuan tunawisma dan menyebabkan kerugian sekitar US$ 1 Miliar, baik dari segi infrastruktur maupun pertanian. Tercatat pada saat ini hanya tersisa 2 persen dari hutan di Haiti yang masih terjaga.
Di bandingkan pada saat pertama kali menginjakkan kedua kaki ini di ibukotanya, yaitu Port au Prince, saat itu keamanan masih sangat rentan, masih teringat kata perkenalan pertama dari penjemput saya saat itu, sambil meminta maaf karena terlambat menjemput, sambil memperkenalkan diri kemudian memberikan satu rompi biru anti-peluru lengkap dengan helmet birunya bertuliskan UN“… kebayanglah perasaan saya yang tidak karuan saat itu, tiba-tiba disodori rompi lengkap dengan helmet *seperti mau pergi perang!!!!. Saat perjalanan dari Airport menuju MINUSTAH Logistics Basepun tidak lebih menegangkan, melihat para UN Brazilian peacekeeper yang berjaga-jaga di setiap sudut jalan dan sesekali terdengar suara tembakan semakin menambah tegang suasana….
Sekarang setelah dua tahun lebih bergabung dengan mission, keadaan keamanan sudah lebih baik, kalau dulu penduduk disini takut untuk keluar dari rumah karena tingginya angka kriminal, sekarang mereka bisa bebas bergerak, tidak ada lagi ketakutan untuk berjalan di luar rumah dan beraktifitas. Tentu saja hal ini menjadi suatu tanda kearah yang baik, walaupun tentu saja keadaan ini masih sangat rentan, karena situasi politik yang tidak menentu dan berbagai masalah kemiskinan dan angka kriminal yaitu penculikan (kidnapping) yang cukup tinggi di Haiti.
Mengingat dari sejarah Haiti, tak mengherankan kalau masyarakat Haiti rata-rata hanya memiliki sedikit kepercayaan pada pemerintahannya. Para pemimpin pertama negara itu setelah revolusi 1804 adalah Jean-Jacques Dessalines.
Dia memerintah sebagai raja lalim dan dibunuh kurang dari tiga tahun kemudian. Hal ini diikuti oleh kudeta dan kontra kudeta. Amerika Serikat menduduki pulau ini dari tahun 1915-1934. Dari tahun 1957 sampai 1986, pada saat Duvaliers berkuasa, dia menciptakan pasukan maut yang dikenal sebagai Tonton Macoutes.
Jean-Bertrand Aristide, adalah mantan pendeta, menjadi presiden pertama Haiti yang terpilih secara demokratis pada tahun 1991.
Awalnya dielu-elukan sebagai penyelamat, setelah itu terjadi peristiwa yang ditandai oleh kontroversi dan kerusuhan sipil. Sekarang, Haiti berusaha untuk bangkit dari keterpurukan, perjalanan panjang masih menanti Haiti menuju recovery.















wah pembalakan liar , memang bikin sengsara . Semoga konflik disana cepat selesai .
Memprihatinkan sekali kondisi di Port au Prince ya!!??, kenyataan serupa juga terjadi di Liberia, dimana kayu arang sudah menjadi pengeruk hutan belantara Liberia untuk keperluan memasak dan menyeterika :D.
Semoga rekan-rekan keluarga merah-putih di MINUSTAH senantiasa dalam lindungan Allah SWT dalam menjalankan tuguas, terhidnarkan dari abhawa dan sukses mengemban misinya.
Pembalakan liar terjadi dimana-mana hampir di seluruh negara di dunia ini, ditambah ekploitasi alam lainnya yang berlebihan. Sungguh memprihatinkan. Lama-lama dampaknya bisa menjadi senjata pemusnah masal nomor satu di dunia!
Biar agak seru memang lebih mantap dalam Misi harus pernah ada tembak2annya lengkap dengan pake Helm and Rompi biru. Tapi ingatlah semboyan kita “Biar Mantap asal selamat”“ Thats number one!!
Ternyata ada yang lebih kesasar lagi nih sendirian ke Haiti. But Ok lah n succes, Best regards from Congo.