Tidak ada tugas yang sulit kata orang bijak. Selain itu, sering juga kita mendengar bahwa kesulitan hanya selalu hadir pada saat awal kita memulai sesuatu. Ini pun terbukti dalam pelaksanaan tugas Kontingen Garuda XXVI-A yang dari namanya, khususnya ‘trademark’ huruf “A”, dimana menggambarkan bahwa satgas ini adalah pelaksana pertama tugas yang belum pernah dilakukan oleh prajurit TNI siapapun dan dimanapun. Kita adalah perintis yang membuka jalan untuk diikuti pengikut selanjutnya. Tugas kita adalah mencari jalan dengan membuka semua semak belukar penjelajahan di belantara UNIFIL, khususnya sebagai Force Headquarter Support Unit. Bukan suatu pekerjaan yang mudah maupun banyak pula terhambat oleh berbagai macam rintangan terutama dalam hal berkomunikasi, terutama tanpa pengetahuan keberagaman budaya berkomunikasi beragam bangsa di dunia internasional yang dapat ditemui di UNIFIL. Namun, kemampuan berkomunikasi-lah yang ternyata menjadi kunci pembuka pintu kelancaran tugas, kepuasan mengetahui keberhasilan dan kebanggaan memiliki citra yang positif serta yakin akan dikenang sepanjang waktu oleh rekan-rekan internasional.
Lingkup pembahasan budaya internasional yang luas saya persempit dengan hanya mengupas hal yang berkaitan dengan komunikasi yang saya anggap terpenting terutama pada tahap awal memulai semua tugas atau kegiatan. Perlu juga disampaikan bahwa saya tidak akan membahas betapa pentingnya bahasa Inggris karena semua sudah memahami betul bahasa itu adalah mutlak syarat berkomunikasi yang efektif. Sebagai salah seorang pendahulu, sudah sepatutnya saya selalu menghimpun segala pengalaman dalam pelaksanaan tugas yang dapat menjadi bahan masukan untuk generasi selanjutnya. Kali ini saya akan memulai bercerita dengan memberikan sedikit banyak wawasan tentang budaya internasional di UNIFIL yang saya cermati selama 6 bulan terakhir tinggal dan bekerja di lingkungan Markas Besar UNIFIL.

Pertanyaan pertama yang saya akan jawab adalah, adakah yang sebenarnya sudah kita ketahui tentang budaya internasional dalam hal berkomunikasi ? Jawabanya adalah ada, akan tetapi belum tentu kita menyadarinya sehingga terkadang tidak tersadari pada saat kita memulai berkomunikasi. Seluruh bangsa yang ada di UNIFIL sebanyak 28 asal tanah air memiliki keseragaman sifat manusia yaitu keinginan bersahabat dengan landasan saling menghormati. Kita dibesarkan di negara yang berdasarkan asas-asas kehidupan saling menghargai dan saling menghormati. Ini sudah kita kuasai dan telah tersirat dalam darah daging kita sejak kecil. Sehingga penerapannya sangatlah mudah karena kita sudah terbiasa dan terlatih akan hal tersebut. Untuk itu, tidak ada alasan bagi kita untuk ragu-ragu berkomunikasi dengan bangsa lain terutama bila kita ingin mengetahui semua yang menyangkut tentang pelaksanaan tugas kita. Tidak pernah saya bertemu dengan seseorang dari seluruh bangsa yang ada di UNIFIL yang akan menolak untuk membantu memberikan apa yang mereka sudah ketahui untuk kita konsumsikan. Tinggal hanya bagaimana kita mengungkapkannya dengan efektif serta dilengkapi dengan sikap ciri khas orang timur yaitu sopan dan santun, yang juga sudah menjadi darah daging warga nusantara.
Keinginan untuk bersahabat dapat terlihat dengan pernuh kesan melihat bagaimana prajurit dari negara Ghana menilai begitu tinggi arti persahabatan sampai tidak pernah luput seharipun masing-masing dari mereka mampir ke kantor FHQSU, walaupun hanya untuk menyampaikan “Hai, how are you Sir ?”, kemudian dilanjutkan dengan mengucapkan “I just wanted to say hai. Thank you very much.” Seperti itu, setiap harinya, wujud rasa penerimaan mereka terhadap kehadiran kita di UNIFIL.
Selain itu saya juga terkesan dengan warga Irlandia yang saat ini hanya sejumlah 6 orang di UNIFIL, dimana terlihat budaya apresiasi serta budaya sopan santun mereka kadang melebihi kita sebagai orang timur. Tidak pernah kehadiran salah satu dari mereka yang tidak membuat suasana ceria dengan keahlian untuk bersenda gurau. Dan ketika kita meminta pendapat pun mereka dengan antusias membeberkan segala wawasan dan teori-teori bijak yang berdasarkan pengalamanannya. Karena rata-rata dari mereka sudah pernah melaksanakan misi perdamaian lebih dari dua atau tiga kali. Bahkan tugas kita saat ini pernah mereka laksanakan sebelumnya pada saat awal-awal berdirinya UNIFIL, sehingga ini bisa kita jadikan sarana penyambung ikatan batin untuk berkomunikasi, bekerja sama dan yang terpenting menjalin persahabatan.
Terlebih lagi posisi FHQSU, khususnya departemen logistik dimana saya menjabat sebagai seorang Quarter Master yang bertugas mengkoordinir pelayanan dasar kenyamanan kehidupan di Markas, dimanfaatkan sebagai suatu wadah untuk terus menerus menjaga komunikasi yang positif. Dengan ini bisa disimpulkan bahwa tidak ada suatu warga yang akan menolak persahabatan, tentu tidak mudah dan membutuhkan proses yang memakan waktu, akan tetapi jangan sampai persepsi negatif kita lebih dahulu menguasai pikiran sebelum mengawali percakapan kepada yang lain.
Pertanyaan selanjutnya adalah, apa-apa saja yang layaknya penting untuk diketahui sebelum berkomunikasi dengan warga internasional? Sekali lagi saya tidak akan menjelaskan lagi betapa pentingnya bahasa Inggris sebagai sarana berkomunikasi, sehingga kita dapat melanjutkan dengan hal lain yang perlu dicermati. Kita pasti akan menyadari bahwa akan sulit bagi kita untuk menjalin komunikasi jangka panjang tanpa mengetahui hal-hal yang dapat menjadi bumerang untuk kita menjaga hubungan tersebut. Tingkat ketersinggungan sangat rentan terutama dengan kemampuan bahasa yang terbatas. Selain itu, tanpa mengenal sifat alami masing-masing warga kadang akan membuat kita kecewa dengan sikap mereka yang sebenarnya tidak bermaksud seperti apa yang terlihat. Untuk itu, perlu dicermati bahwa mengenal ciri-ciri khusus warga internasional dari berbagai negara pun kita harus pahami lebih dahulu.

Suatu contoh adalah bagaimana warga Italia, yang saat ini memiliki jumlah pasukan terbanyak di UNIFIL, seakan terlihat selalu emosional dalam mengatakan pendapatnya, meski mereka hanya membahas suatu hal kecil dan lumrah untuk terjadi, yang tidak sepatutnya diungkapkan dengan nada yang berkesan emosional. Tanpa mengetahui sifat mereka tersebut, kita akan mengira bahwa mereka sedang memperlihatkan kemarahan kepada kita, ditambah lagi dengan terbatasnya kemampuan bahasa kedua warga yang berbeda, tentu akan menjadikan siapapun turut larut dalam emosi akibat ketersinggungan. Suatu hal yang sepatutnya tidak terjadi adalah kesalah-pahaman yang mengakibatkan rusaknya hubungan harmonis hanya karena tidak mengetahui sifat atau budaya warga suatu bangsa dalam mengungkapkan pendapatnya masing-masing.
Contoh lainnya adalah bagaimana orang lebanon terkesan seperti sombong dan angkuh dalam awal percakapan atau perjumpaan. Seakan tidak ada rasa penghargaan dari penampilan awal kita sehingga cenderung disimpulkan bahwa mereka seperti melecehkan kita. Banyak yang juga merasa seperti tidak mempunyai rasa hormat dengan budaya tanpa permisi dalam aktifitasnya disekeliling kita yang sudah pasti akan menyinggung perasaan kita. Bila larut dalam emosi, kita akan memutuskan untuk tidak berteman. Orang bijak pernah berkata “Don’t Judge a book by its cover”, dimana bisa diinterpretasikan bahwa tidak sepatutnya kita menilai suatu kaum dengan melihat paras wajah atau penampilan pertama seseorang. Untuk itu, agar kita pun dapat belajar dari mereka, yang merupakan sebuah tujuan bijaksana dari persahabatan manapun, janganlah kita cepat memutuskan untuk menjauhi atau bahkan tidak berkomunikasi lagi dengan mereka.

Suatu siasat yang sudah terbukti berhasil kita lakukan disini adalah pertama, jangan cepat merasa tersinggung melihat gelagat pelecehan. Kedua, tingkatkan taraf komunikasi dengan sabar melalui intensitas pertemuan yang tinggi. Ketiga, yang juga tidak kalah penting adalah, menyiapkan bahan-bahan pembicaraan diluar kedinasan seperti hal-hal yang kita anggap lucu, menarik sebagai seorang laki-laki, sebagai contoh, adalah topik-topik yang menyangkut tentang perempuan yang tidak pernah tidak berhasil mengundang canda-tawa.
Yang saya cermati sampai saat ini adalah mereka – warga Lebanon- memiliki rasa humor yang sangat tinggi, sehingga bila kita bisa membuat diri kita santai, tenang dan mengajak bercanda dengan topik-topik tersebut, keakraban dari mereka langsung akan terlihat jelas. Saya pun pernah mendengar bahwa bangsa Arab tidak mudah percaya dengan orang, akan tetapi bila sudah mempercayai seseorang, rasa itu tidak akan pernah surut sepanjang masa.
Suatu saat rekan kerja sipil dari Lebanon yang bernama Anton Konsul pernah bercerita bagaimana dia begitu mengagumi salah seorang dari kita karena memiliki suara dan gaya ketawa yang khas ketika Anton mengajaknya bercanda. Dan juga dengan jujur pernah bercerita bagaimana dia juga kesal kepada orang-orang yang acuh dan berbicara seakan merasa yang paling hebat. Saya tidak akan mengungkapkan warga dari bangsa mana yang kadang memiliki sifat ego yang tinggi tapi saya rasa semua bangsa memiliki orang-orang yang bersifat seperti itu.

Ilmu berkomunikasi lain yang patut turut dicantumkan di pembahasan ini adalah yang saya cermati langsung dari bagaimana prinsip persahabatan salah seorang senior saya yang sama-sama bertugas di Lebanon. Keterbatasan bahasa ternyata tidak menjadi halangan, karena tidak hanya warga kita yang belum menguasai bahasa Inggris. Akan tetapi prinsip terkenal yang digunakannya dalam menjalin komunikasi dan persahabatan seperti, ‘memberi dan menerima’ atau ‘take and give’ dan jangan ‘take and take and take’, atau menggunakan prinsip ‘simbiosis mutualisme’ bisa saya perdebatkan menjadi suatu landasan komunikasi effektif yang menghasilkan suatu persahabatan yang berkesan. Orang yang bijak kata orang-orang tua kita adalah orang yang mau mendengar pendapat siapapun yang berbicara, tidak melihat penampilan, pangkat, jabatan, keahlian dan seterusnya. Dan ini lah yang turut menjadi landasan bagaimana komunikasi itu bisa terlaksana dua arah yang efektif sehingga selanjutnya turut menjadi produktif. Sebagai contoh, berikut kesan-kesan yang saya rasa dapat dikategorikan sesuatu yang produktif dari sebuah percakapan.
Rekan-rekan dari Republik Rakyat China sepertinya dilahirkan untuk bersahabat, bukan hanya sekali tapi setiap perjumpaan selalu menawarkan rokok China nya kepada teman-teman satgas bila berjumpa. Tidak bisa dikatakan sebuah wajah yang menipu karena senyum yang mereka berikan kepada kita terpancar tulus pada saat kita akrab bercakap-cakap. Pada saat menghadiri undangan ‘kongkow-kongkow’ dari warga China, yang kurang lebih berjumlah 10-15 orang khususnya yang tinggal di Markas Pusat UNIFIL, dan sampai larut malam kita minum bersama, bercerita, bertukar pendapat, berdebat dan bertukar pengetahuan antara satu dan lainnya, saya berhasil membawa mereka menceritakan beberapa peristiwa penting dalam sejarah negaranya yang menjadi titik tolak kemajuan maupun pada saat tertentu kemunduran peradaban bangsanya. Kemudian diantara percakapan ringan yang membawa gelak tawa, sekali lagi diantaranya adalah masalah wanita, saya agak sedikit merasa kaget ketika mendapatkan apresiasi yang unik dari apa yang saya perdebatkan. Mayor Liang mengutarakan bahwa apa yang saya telah perdebatkan adalah beberapa hal dalam ajaran-ajaran konfusius, yang merupakan salah satu kepercayaan yang dianut sebagian besar warga China. Sehingga, percakapan produktif yang saya maksud disini adalah bagaimana kita bisa belajar tentang banyak hal di dunia ini tanpa harus repot membaca buku, yang kadang menguras waktu lama atau harus diulang-ulang untuk kita mendapatkan kesimpulannya.
Hal tersebut tentu tidak bisa didapatkan dengan semerta-merta atau pada saat baru pertama bertemu. Kadang, sebelumnya kita harus awali dengan mengenal lebih dalam tentang lawan bicara kita, asal dan budaya mereka, atau situasi ipoleksosbud negaranya saat ini, yang akhirnya berkelanjutan tanpa batas. Selain itu ada baiknya kita menyiapkan dahulu apa yang dapat bermanfaat bagi mereka sebelum kita berkomunikasi. Awalnya memang sulit karena percakapan yang direncanakan akan terkesan membosankan. Tetapi dengan kesabaran, latihan, praktek secara kontinyu, hal ini akan mengalir dengan sendirinya. Dan dengan jangka waktu yang panjang selam tinggal di Lebanon bersama mereka, kesempatan tidak hanya datang sekali atau dua kali, tetapi setiap hari dan setiap waktu.

Suksesnya berkomunikasi bisa terlihat dari bagaimana reaksi rekan-rekan internasional bereaksi saat berjumpa di tahap-tahap pertemuan selanjutnya, entah berjumpa didalam hal kedinasan maupun diluar itu. Atau bagaimana setiap rekan-rekan internasional kita menyempatkan diri untuk pamit pada saat akan meninggalkan Lebanon. Berbagai macam cara dapat digunakan dalam menilai hal tersebut dan ini akan dibahas pada pembahasan budaya internasional dalam berkomunikasi di UNIFIL bagian kedua.
Recent Comments
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago