Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Budaya orang Congo berfotoria

13 March 2010, 04:49 , by Arny Wahyuni

 

Orang-orang Congo sangat hobi untuk berfoto ria, jadi jangan heran jika tukang foto keliling bisa ditemukan hampir di setiap sudut kota. Kebiasaan berfoto-ria ini memang sudah membudaya di masyarakat Congo, berfoto bagi mereka merupakan suatu aktifitas yang wajib dilakukan hampir disetiap acara penting bahkan pula yang tidak penting. Seperti contohnya, jika mereka makan di restoran, saat makanan disajikan, maka akan terlihat beberapa orang tukang foto beraksi, mengambil foto-foto mereka saat sedang menikmati hidangan, dengan berbagai gaya yang kadang bagi kita terlihat konyol dan lucu. Saat sedang shopping, jangan heran jika anda melihat seorang tukang foto mengikuti serta mengambil foto serombongan orang yang sedang melihat-lihat ataupun membeli barang. Bahkan di rumah sakit, anda bisa menemukan pengunjung rumah sakit berfoto-ria dengan pasien, walau si pasien hanya bisa berbaring di ranjangnya.

Biaya per foto yang dikenakan oleh tukang-tukang foto ini bervariasi dari 1000 FC untuk 2 hari jadi dan 2000 FC untuk 1 hari jadi dan 3000 FC untuk kilat (FC =Congolese Francs, 1 USD = 910 FC). Setelah mereka selesai melakukan sesi pemotretan bak foto model, jika si customer minta foto-foto itu untuk dikirimkan ke kantor atau rumah mereka, maka si tukang foto akan menanyakan nama dan alamat mereka, tapi jika, si customer minta kilat, maka si tukang foto akan bergegas mencari fotolab untuk mencetak foto-foto tersebut.

Congolese1 Congolese2

Tapi jangan salah, kebudayaan berfoto ria ini tidak berlaku untuk orang asing. Jika ada orang asing mengambil foto di tempat umum, misalnya di rumah makan atau di tempat rekreasi maka harus hati-hati. Orang-orang Congo tidak suka bila diri mereka difoto oleh orang asing, bahkan jika kita ingin mengambil foto sebuah obyek, misalnya airport, mobil yang sedang berlalu lalang di jalan atau sungai ataupun kapal, jangan heran jika tiba-tiba kita dikerubutin orang-orang termasuk polisi yang ingin menyita kamera kita.

Kejadian buruk pernah menimpa saya, ketika tugas di Mbandaka yang terkenal dengan “Kota Khatulistiwa” karena di lewati oleh garis khatulistiwa. Dari Bang Ehabel (salah satu milobs dari Indonesia yang bertugas di Mbandaka), saya mendapat info tentang tugu khatulistiwa yang terletak tidak jauh dari pusat kota. Iseng-iseng dengan salah satu teman, saya mengunjungi tugu ini, pas mau jeprat-jepret ambil foto, teman saya teriak “awas mereka datang”, begitu saya tengok ke belakang, beberapa orang local teriak-teriak sambil lari ke arah saya” Madam, bayar dulu 50 $ untuk mengambil foto”. Teman saya langsung lari ketakutan, otomatis saya ikutan lari juga. Begitu sampai di mobil, kita langsung tancap gas, kabur dari tempat, tanpa satupun foto berhasil saya ambil. Tapi untunglah, mereka belum sampai menangkap kita. Setelah itu, saya kapok untuk mengambil foto lagi di tempat umum.

Jika kasus seperti ini sudah sampai di polisi ditambah jika mereka menemukan bukti bahwa kita mengambil foto-foto orang congo ataupun obyek pemerintah maka siap-siap saja kita didenda minimal US$1000 – 4000 dan jika kita tidak mempunyai uang sebesar nominal itu, maka kita akan dikurung sampai ada seseorang yang menebus kita.

Jadi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik jangan berfoto ditempat umum, mengambil foto seorang tokoh/pejabat dalam acara khusus tanpa ijin atau mengambil foto obyek pemerintah, seperti jalan raya, airport, jembatan, sungai, kantor, dll.

FotogaferCilik

Lebih-lebih lagi jika kita merupakan staff UN, maka masalah yang akan kita hadapi akan lebih besar, karena masyarakat Congo melihat UN sebagai gudang uang atau sapi-perahan. Jadi jangan heran jika mereka akan mengenakan denda kepada kita dua kali lipatnya. Lebih baik berhati-hati daripada terkena masalah karena hal sepele.

Arny Wahyuni Born in Semarang, on 4 may 1978, married with 1 child, Arny Wahyuni has been currently serving under Mission L’ONU en RD Congo (MONUC), the United Nations peacekeeping mission in the Democratic Republic of Congo. Graduated as nutritionist and further...

Detail Profile »

10  Comments

by irene sirait at 13 March 2010, 05:12

heheehe..menarik..!!!

di tempatku sini (Hargeisa – Somaliland; Afrika Timur), ada larangan informal utk motret tempat2 milik pemerintah seperti bank pemerintah misalnya atau bandara hargeisa. Waktu aku pertama kali mendarat di bandara hargeisa, biasa deh naluri pengen ngerekam semua yg dilihat pertama kali, maka otomatis tangan ngeluarin kamera dr tas sandang.. niat mau motret gedung bandaranya.. eh.. beberapa UN Troops langsung teriak2 melambaikan tangan tanda melarang sambil bilang: “mam! no picture! no picture! go! go!” snif snif.. tapi akhirnya pas uda di luar bandara, aku tanya supir kantor ama staff kantor yg jemput aku, kt mereka foto aja sekarang, krn aku ada sama2 penduduk lokal. maka berhasillah aku memotret bandara hargeisa :))

kl di tempat2 umum, ga masalah motret.. bahkan krn di sini ada kebiasaan “chewing khat together” terutama di sore hari.. mereka2 yg lagi chewing n mulai “high” kita potret, malah melambai2kan tangan, senyum2 sambil bilang “more pictures mam.. thank you mam.. i love you mam” hahahaa..

lain ladang lain belalang ya…

thanks Akang uda memposting ceritanya Arny motret di Congo.

salam hangat dari Hargeisa yang udara gurunnya dinginnnnnn banget!!!

-irene sirait

by tuty herman at 13 March 2010, 05:43

betul tuh mbak. Makanya koleksi poto saya tentang mereka minim buangetz

by Yudha PH at 13 March 2010, 06:24

Wah ngga nyangka, di sana banyak foto modelnya.
Dari 3 foto di atas, kalau $50 per orang, biayanya sudah lebih dari $1000. Atau, bisa barter foto?

by Dicky at 13 March 2010, 06:28

wah seru tuh critanya.. take care yah mbak ambil fotonya.. di Liberia sih juga gitu mbak.. tapi kita seneng dikejar2 ma masy lokal… skalian olah raga …ha ha ha..

by jarwadi at 13 March 2010, 06:43

herannnnn, congo mungkin satu satu nya negara ya tidak aman bagi fotografer asing ya

by Arny at 13 March 2010, 08:05

Banyak kejadian lain yg dialami oleh temen2ku ttg foto memfoto ini. Salah seorang temanku mo ke Paris, dia gi nunggu boarding gitu di bandara Internasional Congo. Iseng-iseng motret bandara dan aktifitasnya. Alhasil, dia kena tangkep polisi, kamera disita, suruh bayar 1500 USD plus ketinggalan pesawat, nah lho…dah jatuh ditimpa tangga pula…

by Ehabel at 13 March 2010, 11:57

Ehhhh…. sempat dikejar2 hansip tugu juga ya!!! Hik3X.. Kok gak laporan sm yang berwajib?

Lagian gak ngajak2 sy sih kesana. Kalo bareng sm saya, kita bawa preman pasar yg lebih galak peliharaan saya, tinggi Besar, Item pekat, Bulat, mata melotot, gak mandi 7 hari…. aman kita. Bangsanya sendiri aja takut ngeliatnya. Cukup sogokin Fufu+Rokok Indo, beres dah dr pada bayar dollar ke hansip gocengan.

by agus mewal at 13 March 2010, 12:04

hampir sama dengan keadaan di sudan ini, kita susah sekali untuk menganmbil gambar tempat2 yang bagus dan indah…ya pandai2 kita saja …salam dari khartoum sudan

by Arny at 14 March 2010, 11:59

Bang Ehabel, …lain kali kalo aku kesitu lagi, aku booking tuh bodyguardnya…biar bisa kliyeng2 di Mbandaka tanpa diganggu…

by Lili at 17 March 2010, 04:31

waa repot jg yaa… hehehe

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

799 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Kapt Bagus Djatmiko Bagus Jatmiko Born in the city of Madiun, East Java on 20th July 1979, Capt Bagus Jatmiko, SH, joined the Indonesian Navy in 2001. After being deployed in various missions in Indonesia, he is currently serving as French Interpreter Officer in the...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 6 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 13 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 16 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 16 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 17 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago