Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Bushmeat: Citarasa kuliner yang mengkhawatirkan ekologi

18 September 2008, 09:44 , by Luigi PRALANGGA

 

Rasanya enak, kok.. Manis!“ – begitulah celoteh salah satu rekan kerja saya di kantor ketika ditanya seperti apa sih rasanya daging monyet dimana saat itu kit abaru saja melintas sebuah pasar tradisional dengan banyak pedagang yang tumpah-ruah kejalan. Menjajakan barang dagangan dari seonggok-besar daun singkong yang diikat serta dibungkus didalam karung hingga kemudian melihat kedai reyot yang ramai dikerubungi lalat dan tergantung disana beberapa potongan daging oleh seutas tali.

Bushmeat, itulah istilah mereka menyebutnya. Kata saya mah namanya: Daging dari hutan, bisa bermacam-macam asal-usulnya, bisa saja daging itu adalah daging monyet, daging rusa, daging landak, trenggiling dan berbagai hewan yang menghuni hutan pedalaman di Liberia.

Pada kesempatan lain, si kampret ini juga melihat satwa liar yang masih kecil, mirip dengan rupanya seekor monyet jawa berbulu lebat keabuan.. jelaslah itu untuk dijual bukan untuk di pelihara. Saat kita mendekat dan melirik si anak penjual monyet itu, dengan se-enak jidatnya ia berkata dengan logat khas Librish [Liberian English]: “Mame, dis is tuwenti dola fo yu!.

Ya, monyet itu dijual seharga dua puluh dollar AS, mungkin karena ia melihat tampang saya yang bukan orang setempat, dimana biasanya si monyet hidup itu hanya laku kurang dari setengah-nya bila dibeli oleh sesama mereka sendiri.

Hampir semua orang di Liberia, faham akan istilah ‘bushmeat’ dan dipastikan pernah dan terus mengkonsumsi daging-daging hutan itu. Buat mereka adalah tadisi yang mengakar kuat untuk mengkonsumsi daging hutan itu lebih ketimbang dari daging sapi yang mulai umum dijual dipasar. Namun demikian, baru-baru ini marak pembicaraan lantaran laporan radio BBC dalam program “Network Africa”, yang mengulas rencana pelarangan perburuan satwa liar untuk keperluan konsumsi dagingnya.

Wah,kalau dilarang berburu – lantas keluarga saya makan apa dong?“ – begitulah tukas salah satu koresponden yang diwawancara diradio saat itu.

Banyak pro-dan-kontra akan rencana beberapa pemerintah di kawasan Central Africa, yaitu mencakup negara-negara seperti: Burundi, Central African Republic, Chad, Democratic Republic of Congo dan Rwanda. Tidak sedikit dari mereka yang berargumen bahwa pelarangan total untuk berburu daging hutan Bushmeat akan berdampak luas bagi peningkatan gizi/perolehan protein masyarakatnya. Memang harus diakui bahwa tradisi mengkonsumsi daging liar hutan/bushmeat ini adalah sebuah kebiasaan sejak jaman baheula. Menurut sebuah laporan yang diterbitkan CIFOR (Centre for International Forestry Research) – menyatakan bahwa perburuan satwa liar untuk konsumsi dagingnya harus diperbolehkan melalui perundang-undangan, dan dikendalikan jumlah/quotanya. Jika tidak – Satwa liar semacam Gajah, dan Gorilla dipastikan akan punah dalam kurun 50 tahun kedepan.

Bagi mereka di kawasan Central Africa, Bushmeat adalah termasuk golongan diet utama, dimana bagi daerah tertentu, si bushmeat ini memberikan 80% perolehan protein dan lemak namun perolehan tersebut harus dibayar dengan harga yang sangat mahal – yaitu kepunahan satwa liar tersebut dan gangguan ekosistem serta keamanan pangan (Food Security).

Seberapa besar sih konsumsi lokal si Bushmeat ini?.

Data dari berbagai riset mengindikasikan bahwa lebih dari sejuta ton per tahun-nya, bushmeat ini diambil melalui perburuan liar di hutan-hutan afrika. Terlepas dari fakta tersebut, dalam laporan CIFOR menyatakan akan pentingnya penggolongan atau pembeda antara mereka kalangan miskin di pedesaan/pedalaman yang secara tradisional mata pencahariannya adalah dari berburu bila dibanding dengan mereka yang berburu untuk kepentingan murni perdagangan/mengambil keuntungan dari perburuan satwa liar ini.

Seorang kawan Military Observer dari TNI/Indonesia yang belum lama ini baru saja menyelesaikan masa tugasnya di Liberia berkisah demikian;

Waduuh, mas… ampun deh.. saya jengkel banget sama kawan saya itu – orang dari [Negara] Mali, yang doyan sekali makan bushmeat.. itu dapur bersama kita udah bau-nya persis bau prengus [Bau Apek stadium akut], gimana sih aroma gosong-gosong dicampur bau kasur yang gak pernah dicuci sepuluh tahun gitu.. menjalar kemana-mana sampe lemari pakaian saya harus saya bungkus baju-bajunya agar nggak nempel.. belum lagi kalau dia beli daging mentah-nya dipasar, ditaruh didalam mobil dan dia nyetir pakai semburan AC full-blown, maka jadilah aroma mobil patroli kita bau BUSHMEAT —> mabok!”

Ya dipilih-dipilih, bushmat bakar.. bushmeat asap!, jangan malu-mali ibu-ibu silahkan mumpung ada..

…entahlah kadang daging rusa-lah atau sekali waktu saya ngeliat di dapur dia sedang masak daging monyet.. taunya dari mana? – ya jelaslah tau wong saya ngeliat tangan kecil dengan jari-jari terkulai mirip tangan anak-kecil, apalagi kalau bukan itu daging monyet!!! – saya jadi merinding dan buru-buru ngacir dari dapur, sialnya saya keinget terus akan si tangan kecil itu.. jadi gak bisa makan selama 2 hari, setan banget khan!”

Si kampret ini hanya bisa ketawa-ketawa aja mendengar kilah cerita-derita itu..

Silahkan datang ke Pasar Duala, salah satu pasar tradisional becek dan bau di ujung wilayah Monrovia, tepatnya di daerah Lower Virginia (Namanya aja sih keren – Lower Virgina, tetep aja lebih kumuh dari pasar Jatinegara)

Hasil bidikan lensa zoom ini, mendapati seekor rusa muda tergeletak, masih segar nampaknya sebab waktu itu jam menunjukkan pukul 7AM, dimana si kampret ini terjebak macet sata melewati pasar ini.

Coba deh liat foto pertama diatas, ada seekor monyet yang di-ikat tergantung di meja dagangan sebelah kiri bawah dan disisi ditengah-nya terikat juga seekor Trenggiling.

Dikala bepergian ke pelosok Liberia, acapkali sering terlihat pada sisi jalan seorang anak yang mengangkat tinggi dengan seutas tali, seekor landak berduri atau kadang seekor tikus hutan yang besarnya seperti kucing dewasa.. hiiy! geli rasanya membayangkan bagaimana mahluk itu berada diatas kuali/tungku dengan aroma rempah-rempah khas mereka.. hmm nyam-nyam!.

Pihak Misi PBB di Liberia sudah beberapa kali dalam komunikasi internalnya menyampaikan instruksi larangan agar para staff peacekeepers militer dna sipilnya agar tidak membeli dan/atau terlibat dalam perdagangan satwa liar baik dalam bentuk hidup dan atau produk dari satwa liar yang dilindungi ini. Selain itu pihak administration misi juga mendukung kampanye bersama pemerintah Liberia menyadarkan masyrakatnya agar dapat melestarikan populasi satwa liar mereka.

So guys, berpikirlah beberapa kali, saat berkeinginan untuk membeli, kemudian memakan daging-daging satwa liar itu.. tapi, Cerita dong.. pernah makan daging hutan jenis apa, dimasaknya bagaimana dan rasanya gimana?

Buat kawan-kawan peacekeepers di MONUC – DR Congo, ONUCI – Ivory Coast, bolehlah cerita soal si Bushmeat ini.. seperti apa disana?

From Liberia, West Africa – salam Bushmeat deh!

Dody Muhtar Taufik Dody Muhtar Taufik, currently holding a rank in Major Cavalry. Graduated in 1995 from Indonesia’s military academy, Possesses various military course to include Basic Armor, Staff Officer’s Course, Para Trooper and several other to include the latest in Civil Military...

Detail Profile »



Join Us

join our group in Facebook

Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

530 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Arman PASARIBU Born in Jakarta, Indonesia, in his early thirties. Graduated from Indonesia’s Police Academy in 1998, holding a degree in criminology at the University of Indonesia in 2003, concluded his education at Indonesia’s Police Science College (PTIK) in 2004. A...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Love to life
I would never regret to mark this day as one of most beautiful and important mile stone in my life. I fall in love again this very day. Never thought... »
Joe Juferdy , 1 day ago

Polisi Militer PBB study banding ke Satgas POM TNI
Sebanyak 7 orang peserta Kursus Instruktur Polisi Militer PBB (UNMILPOC) mengadakan study banding ke Markas Satgas POM TNI Konga XXV-B/UNIFIL di UN Posn 7-3 Blat, Lebanon, Rabu (03 Februari... »
Muhammad Dahlan , 5 days ago

Mayor CPM Johny paul Johannes Pelupessy: Komandan upacara sertijab Komandan UNIFIL
Mayor Cpm Johny Paul Johannes Pelupessy , Pasi Log Satgas POM TNI Konga XXV-B/UNIFIL mendapatkan kepercayaan menjadi Komandan Upacara pada Upacara Serah Terima Jabatan Komandan UNIFIL ( United Nations Interim... »
Muhammad Dahlan , 8 days ago

Akhir sebuah cerita
Kukatupkan kedua telapak tangan ini kewajah sambil menarik nafas sedalam-dalamnya. Kutekan sekuat mungkin dengan harapan kejadian yang sedang kualami ini bisa berubah menjadi sebuah mimpi, mengharapkan ku terbangun dari mimpi... »
Ehabel , 8 days ago

Masyarakat Miskin Lebanon bersama Indobatt
Maryam hanyalah salah seorang gadis miskin yang terlahir lumpuh dari desa Deir Siriane di Lebanon Selatan. Kondisi ini telah dideritanya sejak lahir. Suatu kebahagiaan dialaminya ketika Dansatgas... »
Sanra Michiko Moningkey , 11 days ago

 

Recent Comments

Shevonne Sinclair- Lowe commented on Volunteering Gives You an Opportunity to Change People's Lives, Including Your Own
a few seconds ago


hussein heykal commented on Aid Necessities Transporter (A.N.T.) Part 4
a few seconds ago


Foto Unik commented on Polisi Militer PBB study banding ke Satgas POM TNI
a few seconds ago


Viking KARWUR commented on Tibet dan romantisme putus cinta
a few seconds ago


Serka ibrahim commented on Serah Terima Tugas Satgas Konga Lebanon
a few seconds ago

Partner

pralangga.blogspot.com