Konon katanya menjadi seorang relawan PBB emang gampang-gampang susah, tak terasa sudah 2 tahun waktu berjalan survive kata teman-teman. Sampai kapan ini akan berjalan hanya Allah yang tau, mungkin besok, lusa atau di lain hari, semuanya harus tetap berjalan apa adanya.
Ditengah-tengah kerinduan yang mendalam akan suasana rumah, istri tercinta dan anak-anak tersayangku, waktu pada jam tangan ini menunjukkan jam 07:45 pagi. Tersadar dari semua lamunan pagi itu, dalam hati berkata: ‘Saatnya memulai semua rangkaian yang di rencanakan sehari sebelumnya’, bergeraklah langkah kaki ini menuju kantor tempat saya menghabiskan waktu sambil menghitung hari buat cuti berikutnya.
Langkah kaki pun terus dipercepat maklum penerbangan pertama IL-76 UNO765 dan UNO766 akan mengudara pukul 08:00 dari pusat logistics El Obeid menuju Port Sudan menjemput beberapa container yang sudah di rencanakan kemarin dan destinasi selanjutnya El Fasher, Darfur sebagai Pusat Misi UNAMID. Sempat terpikir sepintas semoga seabrek cargo hari ini dapat diangkut sesuai rencana.
Dimana sih letaknya Darfur itu? coba simak baik-baik peta dibawah ini:
Tak terasa, tibalah didepan pintu kantorku. Seperti biasa perjalanan dari rumah sampai ke tempat duduk kantor ini sapa senyum tegur selalu diucapkan walau kadang tak tahu sosok-sosok itu, apakah mereka staff civilian, militer, polisi, hingga local staff buat diri ini, sudah menjadi kewajiban untuk menyapa atau bahkan setidaknya diberikan sedikit senyum dikit aja deh.
Cape juga ceritanya ya kalo serius gitu, mending dibuat santai aja dikit sambil buatin teh atau kopi di kantor maklum lupa sarapan telat bangun. Dengan secangkir kopi tadi langsunglah cepat-cepat buka program email Lotus Notes, program aplikasi email client yang digunakan oleh UN dan semua badan PBB. Dari email ini mulailah terbaca, perintah harian buat operasi movement control hari ini, segala informasi dan urusan tetek bengek invoice serta sebarek tasking order membuat kedua mata ini menjadi juling menatap layar monitor. Cepat-cepatlah memeriksa email sebelum koneksi ke email server ‘ngadat’ atau saat koneksi ke jaringan ‘kambuh’ belum tentu ‘mood’ para personil helpdesk CITS/IT yang notabene kebanyakan berasal dari India segera datang untuk ‘troubleshooting’ dan saat merkea datang ke kantor, sudah deh.. ruangan kantor mendadak sangit dengan aroma kari masala dan nyaring bau bawang dari badan mereka, belum lagi kepala saya ini jadi ikut-ikutan bergeleng-geleng. (Khas orang India selalu geleng2 kepalanya saat bicara).
Sederet email yang masih berwarna ‘merah’, kadang pada sisi kiri sering terdapat sebuah tanda seru (!), dan ada satu email pagi itu yang bertajuk: Pemulangan Material Logistics Pemilu.
Seperti kita ketahui, bahwa saat ini, Sudan sedang melangsungkan pemilu, dan ini adalah pemilu presiden dan anggota DPR-nya. Sudan adalah negeri yang diselumuti dengan hamparan gurun maha luas dengan warna pasir bernuansa kuning. Sejauh mata memandang, pasir kuning itu membentang luas. Membaca dengan seksama si email tadi, eh terlihat nama Puguh Pamungkas dalam daftar sebagai flight & cargo monitor. Wah, jadi langsung terbayang-bayang dimata dan dihati, bahwa saya bakal berkunjung dari kabupaten satu ke kabupaten berikutnya dengan menaiki ‘si gajah putih bergoyang’ (Baca: Helikopter Rusia itu). Cape deh…!
Mungkin ada yang bertanya, gimana rasanya naikin si gajah putih ini? alias Helikopter buatan Rusia dengan model MI-8 maupun Mi-26 dan sejenisnya. Silahkan tanya saya via FB ya!
Terbang keluar-masuk pedalaman di Sudan, apalagi pada saat pemilu dan pasca-pemilu seperti sekarang ini rasanya: waswas campur aduk. Persiapan pra-penerbangan yang matang dan rinci adalah keharusan, mengingat kondisi keamanan yang dirasa sedang genting-gentingnya. Apalagi mengetahui bahwa penerbangan ini akan membawa kertas suara hasil pemilu.
This flight is no joke! , membawa terbang kertas hasil pemungutan suara adalah ‘dangerous cargo’, dan mengetahui sebagaimana sensitive-nya muatan ini bagi masyarakat Sudan, apalagi terhadap pihak partai oposisi dan/atau kalangan pemberontak pastinya. Dari beberapa foto hasil jepretan fotografer resmi UNMIS, berikut beberapa foto menggambarkan bagaimana sibuknya kita semua mengurus pemilu di Sudan ini:
Memastikan semua informasi detail dan kelengkapan dokumen penerbangan terjaga, serta persiapan briefing harus dilakukan hari ini, meski tanggal keberangkatan adalah hari esoknya. maka pengurusanMOP (Movement Of Personnel) lalu security clearance serta manifest penumpang dan cargo dipersiapkan sedini mungkin, segala sesuaitu yang serba last minutes assignments ini berjalan dengan baik.
Penerbangan mengangkut hasil suara ini pasti tidak kelar sehari, dan Kabkabiya adalah menjadi daerah tujuan hari pertama menjemput cargo hasil pemilu ini.
Dengan menggunakan MI-26 UNO792, siaplah diri ini menuju tempat yang akan di tuju. Setelah selesai semua preflight naiklah aku ke gajah putih ini yang ada tulisan U dan N berwarna hitam segede-gedenya di bagian helicopter buatan Negara beruang merah ini (Rusia) yang konon adalah helicopter cargo terbesar.
Setelah start engine mulailah tubuh ini ikut menari bergoyang mengikuti alur yang di berikan si baling-baling yang berputar lama kelamaan semakin cepat dan cepat hingga bergoyanglah tubuh ini bak penari dangdut meliuk-liuk menggoyangkan pinggulnya.
Bergeraklah helicopter ini taxi out menuju runway ketika telah terbang kira 50 feet heli ini pun turun kembali dan RTA (Return To Apron), pilot pun mengurungkan niatnya untuk take-off.
Terbang di wilayah udara Sudan, kita semua harus mulai maklum akan musim-nya Mas Haboob (Baca: Badai Pasir) sang penguasa gurun, apalagi saat dia sedang mengamuk, maka tertundalah keberangkatan saat itu sampai 2 jam kemudian. Seperti apa sih badai pasir itu?, Simak kllipnya dibawah ini:
Akhirnya 2 jam pun berlalu, sang pilot mencoba memberangkatkan kita kembali terbang menuju Kabkabiya yang jaraknya lebih kurang 70Nm dari El Fasher.
Setibanya di Kabkabiya kita langsung disambut oleh seorang helo (petugas lapangan buat team site) dan diperkenalkanlah kepada seorang petugas KPU setempat dan gelarlah kegiatan cargo loading itu. Dengan bantuan masyarakat setempat disegerakanlah proses loading tersebut dengan alasan takut “Mas Haboob” akan datang lagi (Repot deh!).
Setelah semua proses manifesting dan perhitungan semua kotak yang akan di angkut maka diserahkanlah dokument tersebut ke Loadmaster dan kitapun kembali pulang menuju Elfasher dengan selamat.
Melihat keberhasilan yang diraih hari itu dan seluruh tugas berhasil dilaksanakan dengan baik tanpa halangan hati yang tadinya lelah dan merana karena rindu yang membiru kata Kang Luigi menjadi sedikit terhibur dan siap selanjutnya buat tugas berikutnya kekabupaten lain seperti Kutum dan Saraf Umra El Taweisha dihari berikutnya. Semoga semua yang dilakukan mendapat perlindungan Allah yang maha kuasa khususnya bagi para peacekeeper civilian, pasukan Garuda baik militer maupun polisi. Safety & Security first while on mission duty and bringing about peace to the world. Salam Garuda Merah Putih dari Darfur!.
Catatan: Beberapa foto diambil dari UN Photo dan EU Parliament



















Bang… Wah Ajak2 donk naik si Gajah putih Bergoyang…
Seru banget kayanya tuh…
Sukses Selalu Bang…
Salam Hangat dari Tanah Air…