Menghitung hari buat pulkam memang kadang membuat kita jadi lebih stress. Sebenarnya sebelum kejadian gempa tanggal 12 Januari lalu, dari jauh-jauh hari saya sudah merencanakan untuk pulang ke Indonesia, rencananya sih tanggal 19 Januari saya akan start dari Port Au Prince dan tiba di Indonesia sekitar tanggal 21 Januari..(perjalanan 3 hari yang melelahkan…..), tanggal ini pun sebenarnya sudah disesuaikan dengan tanggal kepulangan teman-teman dari Mission yang lain, sesuai dengan rencananya….mudik kali ini kami akan mempergunakan untuk ketemu dengan teman-teman yang lain, maklum saja selama ini, pertemanan, persahabatan dan persaudaraan kami ini hanya terjalin melalui jalur email, facebook dan telepon inter-mission… tanpa pernah bertemu muka, jadilah memang waktu mudik ini menjadi sesuatu yang di tunggu-tunggu.
Tapi memang kita berencana tapi Tuhan yang menentukan,saat gempa melanda Haiti, otomatis semua rencana mudik jadi berubah, keinginan untuk pulang harus di kesampingkan, situasi yang tidak memungkinkan dan banyaknya korban yang jatuh baik dari teman-teman kami di mission maupun masyarakat Haiti sendiri, membuat saya memutuskan untuk tinggal dan bekerja, paling tidak saya bisa sedikit memberikan pertolongan kepada teman atau masyarakat yang memang membutuhkan pertolongan…
Komunikasi yang memang langsung terputus setelah gempa memang menjadi kendala tersendiri,saya yang memang tidak bisa di hubungi (telepon dan alat komunikasi lainnya memang tidak bisa berfungsi), saya pun sempat dinyatakan “hilang”.
Mas Yogi yang berada di Jordanian Camp saat itu dan Bang Paulino yang berada di Workshop berusaha menghubungi saya, tapi memang komunikasi yang terputus memang membuat mereka menjadi lebih khawatir apalagi mendengar bahwa gedung kantor saya juga ikut runtuh.
Tas saya yang berisi segala dokumen penting pun termasuk passport tidak sempat saya ambil,tertimbun bersama reruntuhan kantor, ada hal yang menurut saya agak “aneh” saat itu, biasanya ID card yang saya punya selalu saya simpan di tas ransel, tapi entah kenapa hari itu, karena ejekan teman di kantor, saya mencabut kalung ID card saya dan menyimpan kalungnya di tas, sementara ID Cardnya saya jepit di kemeja yang saya pakai saat itu, hari itu setelah gempa…saya keluar dari reruntuhan kantor hanya dengan pakaian di badan dan ID card yang tersemat di saku kemeja saya…terbayang kalau tanpa ID card lagi, saya yang sudah kehilangan passport dan dokumen-dokumen penting lainnya harus berurusan lagi dengan segala ‘birokrasi’, sesuai dengan aturan yang berlaku di UN, disetiap tempat yang menjadi area UN, kita harus selalu memperlihatkan ID card kita, tanpa ID card tentu saja agak susah untuk memasuki area tersebut.
Kendala komunikasi saat itu memang menjadi problem, kami yang hanya bisa menerima telepon inter mission memang sangat terbantu dengan adanya bantuan dari mission di Afganistan yang lebih dulu menelpon ke Mas Yogi (Mas Kasman thanks berat ya…) dan Pak Lurah kami (nuhun Kang Luigi ya…heheheh) yang notabene berada di Liberia, teleponnnya yang 24 jam on sangat membantu kami-kami disini, perbedaan waktu antara Liberia dan Haiti yang berbeda sekitar 6 jam membuat kami harus ‘menghitung’ waktu-waktu tersebut agar tak menggangu tidur “Pak Lurah”, tapi terus terang saja.. heheheh…kami memang lebih banyak menggangu tidur Kang Luigi dengan updated-updated tentang keadaan di Haiti maupun keadaan 3 rekan WNI kita, sambungan telepon teleconference dengan Perwakilan RI di New York, jadilah sambingan three-party: Monrovia-New York-Port au Prince kadang menjadi alternatif, karena susahnya kami yang berada di Port au Prince untuk menelpon ke luar negeri.
Saat itulah beliau di Liberia menjadi fasilitator kami.
Satu-satu masalah perlahan dapat teratasi, Passport saya yang sudah tertimbun dan tidak bisa di ‘recovery’ lagi akhirnya mendapat ganti, dari Perutusan Tetap RI di New York melalui Konsulat Jendral RI di New York akhirnya mengeluarkan passport baru buat saya, tentunya saya sangat berterima-kasih sekali, paling tidak sekarang saya sudah punya dokumen yang bisa di pakai apabila terjadi evakuasi.
Satu hal mungkin yang kembali menjadi masalah lagi…masalah visa…sejak terjadinya gempa di Haiti, semua kedutaan di Port Au Prince selalu di penuhi oleh masyarakat Haiti yang ingin pergi ke negara-negara tersebut, sebut saja kedutaan Amerika, sejak dari subuh orang-orang sudah mulai mengantri di depan kedutaan, berharap bahwa dengan datang pagi-pagi sekali mereka bisa mendapatkan visa untuk dapat pergi mengungsi ke Amerika.
Di kedutaan Prancis pun tidak banyak berbeda,negara Haiti yang memang notabene mempunyai hubungan “khusus” dengan Prancis karena pernah menjadi negara jajahan Prancis menjadi sasaran masyarakat Haiti.
Di depan kedutaan Prancis masyarakat juga dengan rela mengantri, dimana orang-orang sudah berdatangan sejak pagi buta, bahkan ada juga masyarakat yang sampai membuka tenda di depan kedutaan dan menginap disana.
Kedutaan Amerika di Port au Prince yang tidak bisa melayani kami untuk mendapatkan visa menjadi kendala tersendiri, berbagai opsi ditawarkan ke kami, seandainya kami di haruskan untuk berangkat tanpa visa, dalam pikiran saya yang sudah pernah mengalami bagaimana ribetnya tiba disuatu negara tanpa visa….ingat artikel pertama saya Bertemunya si Anak Hilang.
Saya yang sudah pernah mengalami susahnya bepergian tanpa visa, akhir mulai bertanya sana-sini, kemungkinan untuk mendapatkan visa di tempat lain.
Negara yang menjadi tujuan kami tidak lain adalah Republik Dominica, jadwal pun harus kami sesuaikan dengan tanggung jawab kami di tempat kerja, tentu saja bukan pekerjaan yang mudah untuk meminta izin, apalagi dengan keadaan dimana kami juga kekurangan staff.
Untungnya masalah transportasi bisa diatasi dengan beroperasinya pesawat PBB yang melayani rute Port au Prince – Santo Domingo, antrian untuk mendapatkan seat juga menjadi problem…..Alhamdulillah akhirnya bisa juga kami pergi ke Santo Domingo.
Jatah spesial “off-duty” dari supervisor yang cuman 2 hari akhirnya bisa saya pergunakan untuk mendapatkan visa, proses nya tidak berbelit-belit seperti yang saya bayangkan, mungkin karena dari pihak MINUSTAH sendiri telah memberikan surat keterangan yang sangat membantu dalam proses mendapatkan visa,di tambah dengan keadaan di Port au Prince yang semua orang sudah tau, betapa banyaknya masalah yang di hadapi setelah gempa.
Akhirnya dalam hitungan jam..(dengan nada agak memaksa, saya meminta agar visanya dapat selesai hari itu juga..),akhirnya visa dapat kami dapat…(saya sempat mau protes soalnya saya cuma di kasih 6 bulan sementara teman-teman dari negara lain di kasih visa 5 tahun..!).
Balik ke Port au prince dengan hati yang senang, mbak Laxmi Karma yang sudah menyiapkan tiket dan visa yang sudah di tangan…
Hanya menunggu beberapa hari lagi.. rencananya saya dan Mas Yogi akan pulang.. INDONESIA….WE ARE COMING HOME…








Dear Eno, sing sabar yah dalam penugasanmu di Haiti. 2 minggu lalu sempet teleponan lama dengan Mbak Wati, beliau baru aja nyampe kdi New York lagi setelah semingguan di santo Dominggo dan beberapa lama di port au Prince bertemu denganmu.. seru ceritanya…
Rajin bekerja dan rajin cuti, itulah salah satu resep sehat dan waras bekerja di misi.. tetep semangat dan slaam hangat dari kita-kita di UNMIL – Liberia.