Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Catatan setahun di Congo - Kejut budaya & Mencari Bantal (Bag 1)

12 December 2009, 02:01 , by Nita Marcela Siahaan

 

“DALAM PENUGASAN DIWILAYAH KONFLIK PENUGASAN APAPUN YANG DILAKUKAN OLEH PRAJURIT PRIA JUGA DIKERJAKAN OLEH PRAJURIT WANITA TERMASUK: *MENJADI PENGEMUDI*” – Mendapat kepercayaan dari Pemerintah Indonesia sebagai Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat) yang pertama mewakili Indonesia untuk bergabung dengan perwira dari manca negara untuk melaksanakan tugas operasi misi perdamaian PBB/MONUC di Kongo.

Congo large locator

Congo Map

Setelah melalui beberapa rangkaian proses seleksi serta pembekalan di Mabes TNI, saya diberangkatan ke daerah operasi pada tanggal 18 Januari 2008 dengan menggunakan maskapai penerbangan Thai Airways dengan rute JakartaBangkokAddis AbabaKinshasa. Rute penerbangan yang sangat panjang dan meletihkan itu tidak mengendorkan semangat saya sebagai prajurit untuk siap menghadapi segala situasi yang ada. Saya harus transit selama 7 jam di Bangkok untuk melanjutkan penerbangan ke Congo. Sambil menungu waktu untuk penerbangan berikutnya saya berjalan-jalan di dalam bandara melihat counter yang menjual beragam jenis barang dan souvenir. Tepat pukul 3 dinihari saya siap-siap terbang dengan menggunakan pesawat Ethiophian Airlines. Walaupun masih mengantuk karena tidak sempat istirahat di Bangkok saya ikut mengantri untuk check in bersama penumpang lain yang semuanya orang kulit hitam.

Pukul 8 pagi waktu setempat saya tiba Ethiophia dan beristirahat sejenak untuk menghilangkan kepenatan selama penerbangan. sambil melihat pemandangan Negara Ethopia yang sangat indah dari bandara Addis Ababa. Saya tidak menyangka bahwa negara ini sudah mulai maju. Sekitar pukul 9 waktu setempat saya melanjutkan penerbangan ke Congo. Penerbangan menuju ke Congo ternyata cukup panjang karena harus transit di Gabon dan menunggu penumpang dari Gabon menuju Congo.

Pada tanggal 19 Januari 2008 pukul 15.30 saya tiba di Kinshasa. Saat turun dari pesawat Ethophian Airlines di Bandara Ndjili, saya disambut udara panas yang menyengat dan sekelompok orang berkulit hitam yang menanyakan identitas saya. Saya tunjukan dokumen yang dikeluarkan oleh MONUC kepada petugas bandara dan menjelaskan kepada mereka bahwa saya perwira Indonesia yang baru tiba di Congo. Serem juga melihat orang kulit hitam yang berada disekitar bandara, wajahnya tidak ada yang tersenyum semua berwajah serius.

Saya lega setelah melihat rekan Milobs Indonesia berdiri dipintu bandara menjemput saya. Sambil menunggu bagasi, saya memperhatikan situasi di Bandara Ndjili dan heran melihat Bandara ini sangat sederhana untuk ukuran bandara Internasional.

Ndjili International Airport1
Illustration Photo – © Copyrights Google Inc.

Bandara Ndjili Hangar
Airlines.net Photo – © Copyrights

Dalam hal pengambilan bagasi saja memerlukan waktu yang cukup lama. Setelah proses pengambilan bagasi selesai kami keluar menuju shuttle bus yang disiapkan oleh MONUC.

Sepanjang perjalanan saya terkejut melihat kondisi negara ibukota Congo yaitu Kinshasa yang sangat kotor dan tidak teratur, tampaknya negara ini masih terbelakang terlihat dari gedung tua disepanjang jalan serta banyak pedagang tradisional menjajakan dagangannya sehinggga mengganggu lalu-lintas. Melihat pemandangan di Kinsasha saya mengalami sebuah kejut-budaya, karena itu sepanjang perjalanan saya hanya membisu dan membayangkan betapa getirnya harus tinggal selama satu tahun di kota seperti itu. Namun saya segera tersadar bahwa saya membawa misi negara. Saya buang jauh-jauh kecemasan itu dan saya bertekad saya harus mampu menghadapi segala tantangan yang ada dihadapan saya.

Yang paling mengejutkan saat menuju Indonesian House saya lihat lingkungannya sangat kotor dengan timbunan sampah dan berbau pesing. Anak-anak langsung mengerumuni saya dan rekan saya untuk meminta uang dengan nada memaksa . Saya hampir tidak percaya melihat kenyataan yang saya hadapi.

Tidak berapa lama kami sudah sampai di lantai bawah untuk menuju rumah Indonesia yang terletak di lantai 9. Saya sempat bingung melihat koper saya yang besar dan berpikir siapa yang akan membawanya ke atas . Rupanya Senior Milobs pria meminta bantuan kepada anak-muda tanggung untuk membawa koper menuju ke Indonesian House. Saya kagum melihat anak usia belasan tahun tersebut mampu mengangkat dua koper sekaligus yang satu dijinjing dan yang satu dijunjung dikepala sembari menaiki tangga hingga ke lantai 9.

Indonesian House berada di lantai 9 dimana liftnya pun sudah tua kadang berfungsi dan kadang mati. Sangat menyedihkan melihat kondisi lift yang sudah tidak layak pakai tapi masih dioperasionalkan juga. Kami mulai menaiki tangga menuju Indonesian House. Saya lihat Senior Milobs pria santai saat naik tangga mungkin mereka sudah terlatih. Bagi saya yang jarang naik tangga memang terasa letih terutama pada saat naik ke anak tangga di lantai 4 s/d 9, lutut pun terasa mau copot dan nafas mulai ngos-ngosan serta mulai muncul keringat dingin mungkin karena belum terbiasa.

Wah bisa dibayangkan kalau saya angkat koper sampai ke lantai 9 mungkin saya tidak kuat. Begitu koper tiba di lantai 9 anak-anak dan anak muda tersebut meminta bayaran yang mahal padahal sebelumnya mereka sudah terbiasa bawa koper ke atas dan sudah faham berapa bayarannya. Tapi kali ini semua heran kenapa mereka emosi minta bayaran mahal dan setengah memaksa dan suaranya menakutkan seperti mau berkelahi.

Sebagai orang baru saya terkejut melihat perangai penduduk lokal yang sangat kasar dan tidak memiliki etika dan sopan santun kepada warga asing yang baru tiba di negaranya, sangat kontras dengan kita di Indonesia.

Setelah tiba di rumah lantai 9, saya terburu-buru membuka koper untuk mengambil baju Loreng dan sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan). Dalam waktu 10 menit saya sudah siap dan berangkat ke Force HQ untuk proses check-in, berfoto untuk pembuatan ID Card.

Markas Force HQ MONUC

Lambang MONUC

Sekembalinya dari Force HQ, saya mulai lagi menaiki tangga menuju lantai 9. Wah!, ternyata berat juga naik tangga memakai sepatu lars. Saya bayangkan jika setiap hari saya harus naik turun tangga memakai sepatu lars, lama-kelamaan betis saya bisa bertambah besar seperti betis pemain sepakbola.

Pada malam harinya saya bersama para Senior Milobs menyiapkan makan malam. Kami tidak mempunyai pembantu sehingga semua harus bekerjasama menyiapkan makan malam. Selesai makan malam saya minta tolong kepada Senior Milobs Pria menemani saya pergi ke Mall untuk membeli bantal, karena saya sulit tidur tanpa bantal. Lokasi Mall dengan Indonesian House jaraknya cukup dekat dengan berjalan kaki sekitar 15 menit kami sudah tiba disana. Mall di Kinshasa tidak tergolong jenis mall yang modern, namun barang-barang yang dijual lumayan bagus termasuk bantal yang akan saya beli harganya US$30 dollar*…lumayan mahal tapi kualitasnya bagus. Salah seorang Senior Milobs, *Letkol Marinir Arif Harnanto yang baik hati dan bijaksana mungkin heran kenapa saya kok mesti mencari bantal segala. Maka, saya sampaikanlah bahwa “bantal” yang digunakan di rumah Indonesia-kan sudah turun-temurun dan yang memakai bantal itu pun Milobs pria sehingga aroma bantal sudah bercampur-aduk nggak keruan mungkin juga ilernya ada yang lengket di bantal itu dan Letkol Arif pun hanya senyum-senyum saja mendengarnya. (Bersambung).

Nita Marcela Siahaan Lieutenant Colonel. Nita Siahaan MSc. is the first Indonesian Army Woman from the Indonesian Army Information Service who joined Peace Keeping Operations under the banner of United Nations (MONUC) in Congo. The Indonesian Government has assigned Ltc Nita to...

Detail Profile »

3  Comments

by Luigi Pralangga at 12 December 2009, 02:07

Hello Mbak Nita,

Memang berat ya, Mbak!. apalagi jadi Srikandi pertama yang mendarat di DRC (Congo) dan memang terkenal sekali dari cerita rekans di UNMIL yang pernah bertugas di MONUC/Congo kalau umumnya orang-orang disana itu kasar dan tidak ramah abis!.

Perihal bantal di “Indonesian House” yang notabene adalah warisan turun temurun, persis sama kok dengan bantal-bantal di Rumah Milobs Indonesia di Liberia yang acapkali si sarung terlihat sudah kumel, busuk dan menggumpal benjol-benjol begitu bentuknya nggak jelas!. (Hahahahaha…)

Tapi tetap aja nyaman buat kita (para pria Indonesia) pakai tidur, apalagi kalau sudah ngumpul ngobrol sampai malam – nampaknya bau iler itu sirna! :D

by Yudha PH at 12 December 2009, 03:35

Untuk orang yg biasa tidur dengan posisi terlentang mungkin ‘kualitas’ bantal ga jadi masalah. Tapi, buat saya penting. Soalnya, saya kalo tidur terbiasa dengan posisi tengkurap. Bisa dibayangkan jarak ‘iler’ yg lebih dekat dengan hidung.

Mungkin mba seperti saya juga ya..? Hahaha…

by Ehabel at 12 December 2009, 05:05

Jangankan perempuan Mba,…. Laki aja schock pertama kali!!! Kalimat pertama yg paling saya ingat dan gak akan pernah sy lupakan adalah ““Wllcome to Negeri Antah Berantah”“.

Tapi nilai positif yg saya bisa ambil dari pengalaman di negeri ini adalah saya bisa lebih bersyukur menjadi bangsa Indonesia dan hidup di negara Indonesia dg segala kelebihan dan kekurangannya!!!

BTW soal bantal, saya ada pertanyaan, pilih bau bantal Indo House atau bau keringat orang Lokal???. Kalo saya sih dg sigapnya lebih baik langsung nyambar Bantal utk tidur…. by Good Night, have a nice dream!!!

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

799 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Stenly SAJOW Stenly SAJOW Graduated from Medical University in 2002 then joined with humanitarian organization, started-off with several International Non-Governmental Organizations (I-NGOs) then continue his career ambition at one of the United Nations (UN) agencies. In late 2005, then he took an assignment as...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 6 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 13 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 16 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 16 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 17 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago