Sabar.. sabar..!, Saya pun amat sangat naik darah secepatnya mendengar ucapan ini. Mari kita putar ulang adegan-nya. Siang itu, Kamis, 16 July 2009, saya sempatkan untuk bertandang ke kantor pusat Lonestar Communications, salah satu operator GSM terdepan di Liberia, ingin mencari solusi akan gangguan sambungan langsung telepon internasional dari kartu prabayar mereka tiap kali saya menelpon ke kampung halaman (Indonesia).
Siang itu, saya masih berpakaian seragam militer loreng-loreng (PDL) lengkap dengan emblem bendera merah putih pada sisi pundak sebelah kanan ini jelas terlihat dengan dibawahnya dibordir sebuah kata: INDONESIA.
Setelah kelar duduk menunggu, maka jatuhlah giliran saya untuk duduk di kursi pada counter meja pelayanan pelanggan, disambut oleh seorang petugas customer service executive mereka, seorang mas-mas dengan perawakan sedang yang kira-kira umurnya lebih muda dari saya. Maka saya tanyakan saja langsung:
Begini, mas.. coba tolong dijelaskan mengapa mutu suara pada sambungan telepon internasional ke Negara saya selalu tidak pernah bisa bersih, suara yang terdengar di ear-piece ponsel ini selalu pecah-pecah dan sulit dimengerti, walhasil saya membayar menit pulsa telepon untuk sebuah kualitas suara yang buruk..
Nama negara yang bapak hubungi itu dimana?
Indonesia, mas..
Wah, pak, nampaknya operator kami belum mempunyai kerjasama langsung dengan operator GSM di Negara bapak (seteleh jari-nya merunut pada sebuah daftar nama negara-negara).. Sepertinya teknologi komunikasi di Indonesia belum maju ya.. dimana nama Negara itu tidak ada dalam daftar Roaming Partners kami..
Mendengar penjelasan ‘asbun‘ (Baca: Asal Bunyi) si Petugas customer Service ini, langsung membuat kedua mata ini melotot dan rambuk jabrik saya menjadi kaku tegak. Saya melihat rekan kerja si petugas customer service kampret yang duduk disebelahnya sudah mulai mencium hawa amarah saya, terlihat dari lirik-lirik kedua matanya tertuju antara tampang saya yang sudah mau ngamuk dan membandingkannya dengan tampang si kampret sontoloyo itu, namun ia tidak bersuara sama sekali.
Maksud kamu apa dengan berkata bahwa teknologi komunikasi di Negara saya terbelakang? Apa yang kamu tau tentang teknologi komunikasi disana?
Iya, maksud saya.. kalau teknologi komunikasi di Negara bapak sudah maju, mestinya sudah terdaftar sebagai roaming partner kami disini, ini daftarnya.. buktinya nama Indonesia tidak ada.., bisa jadi Negara bapak tidak punya satelit sendiri.. – jawabnya santai.
Makin beranglah saya jadinya, telapak tangan kanan ini tiba-tiba mendadak kesemutan stadium tinggi, dan lengan ini kemudian menjadi sangat ringan, saking ringan-nya sudah siap untuk menggaplok muka si petugas customer service ini… yakin saya kalau si petugas customer service sontoloyo itu tidak pernah tahu akan Satelit Palapa dari semenjak seri B2 sampai C2 sudah membahana di ranah antariksa, kalau saja emosi ini tidak terbendungkan, sudah pasti dia digaplok bulak-balik sampai pagi..
Dengan nada tinggi, namun masih dirasa sopan, saya merespon:
Saya ingin bicara dengan manager-mu sekarang.. kamu tidak memberikan jawaban yang semestinya dari pertanyaan awal saya tadi, percuma saya bicara dengan kamu sejak tadi.
Tidak lama kemudian datanglah seorang mas-mas lengkap dengan dandanan ala jas dengan dasi serba hitam keabu-abuan, kemudian dia duduk disebelah si petugas customer service itu lalu berkata kepada saya:
Selamat pagi, bapak.. ada yang bisa saya bantu..
Selamat pagi juga, saya hanya minta satu hal kepada bapak sebagai manager dari customer service lonestar cell agar mengajarkan kepada anak buahnya yang satu ini untuk membuka internet dan mencari di google akan informasi telekomunikasi di Negara saya yang mengatakan bahwa teknologi telekomunikasi di Negara saya terbelakang, tidak punya satelit dan segala macam lain-nya hanya karena belum ada operator GSM Indonesia yang sudah terdaftar sebagai roaming partner anda.
Penjelasan staff bapak, sama sekali tidak menjawab pertanyaan saya tentang mutu suara sambungan langsung internasional malah beralasan macam-macam. Ini sungguh tidak professional dan sebaiknya dia tidak berada di meja depan melayani pelanggan. Penjelasannya mengecewakan!.
Memang pada akhirnya rasa kesal ini tidaklah tuntas disana.. saya memutuskan untuk segera pergi meninggalkan kantor pelayanan pelanggan Lonestar Cell – Liberia dan berujung mengganti kartu SIM GSM ini dengan kartu sim milik operator lain.
Keberadaan staff asing, khususnya dalam hal ini para staff UNMIL di Liberia, baik itu staff militer dan sipil yang berjumlah sekitar 10 ribu personil lebih, adalah pertimbangan startegis bagi kalangan usaha agar senantiasa meningkatkan mutu pelayanan-nya, termasuk itu jasa telekomunikasi yang sudah pasti menghasilkan banyak pendapatan dari jasa sambungan telepon GSM yang digunakan oleh para expat di Liberia.
Sangat disayangkan memang sikap pelayanan yang saya alami tempo hari, sebagai pertimbangan perhitungan revenue/pendapatan, rata-rata setiap staff expat di Liberia, rata-rata merogoh koceknya membeli kartu isi ulang/prabayar GSM paling tidak sebesar US$ 100/bulan-nya, bila dikalikan dengan 10 ribu personnil, sudah menjadi US$ 1 juta setiap bulan pemasukan pasti bagi si perusahaan jasa telepon GSM itu.
Sebelumnya, saya juga pernah cerita disini perihal mahalnya ongkos berkomunikasi ke tanah air.. namun demikian sepertinya tidak ada pilihan lain.. Tetep saya masih kesel sama si Lonestar Cell.. dan sedikit bingung juga dengan para operator GSM di tanah air, mengapa sampai Indonesia masih belum berpikir untuk menggarap pasar telekomunikasi di Afrika, yang notabene dari slogan pemasaran mereka selalu mengacung-acungkan jargon “operator kelas dunia”, ini dunia yang mana?.
Bila kalian jeli akan potensi pasar telekomunikasi di Afrika, maka Negara-negara yang masih dan baru saja pulih dari konflik seperti Liberia ini adalah lini utama untuk bisa segera hadir dan menggelar persaingan, juga bagi kita-kita para Indonesian Peacekeepers dan Indonesian expat yang bekerja di luar ini bisa dibuat besar hati dan terakomodasi akan kebutuhan komunikasi mereka serta pelanggan lain-nya.. jelas ini adalah sebuah wacana sekaligus teguran buat kalian, wahai operator GSM nusantara.. saatnya kalian juga bertandang dan bertanding disini.. tidak hanya menjadi jago-kandang saja.
Sekedar informasi pembanding saja, setiap misi pemulihan perdamaian oleh PBB digelar di sebuah Negara, PBB membawa serta puluh-ribuan personil dari kontingen military peacekeepers mereka, ditambah lagi dengan ribuan jumlah staff sipilnya masuk kedalam negeri yang dilanda konflik itu.. dan terlepas dari kebutuhan dukungan telekomunikasi untuk keperluan operasional dinas yang notabene sudah besar jumlah dollar-nya, kebutuhan komunikasi pribadi masing-masing puluhan ribu personil itu tetaplah harus dipenuhi, yang mana setiap hari terdapat puluhan ribu-menit-percakapan-telepon itu tersambung dari-dan-menuju tanah air asal mereka masing-masing..
Dengan ketidak-sigapan personil customer service operator GSM setempat seperti pengalaman saya tempo hari, apakah tiada dari kalian yang melihat kejadian ini sebagai sebuah sinyalemen kesempatan bisnis?.
Wake up guys! – the next big market is actually here waiting for you to develop..
Ayo bangun kerjasama yang baik dengan para operator GSM di Afrika sini.. pertimbangan bisnis tidak hanya semata-mata ditujukan kepada jumlah telco-traffic saat ini saja, namun lihat kedepan. Sudah banyak operator-operator GSM asing barat dan timur tengah yang masuk beraliansi dengan pemain local-regional di afrika.
Bagaimana pengalaman bertelepon rekan-rekan peacekeepers yang lain?, apakah keluhan kalian ditanggapi secara baik oleh sang operator GSM setempat?.
Artikel ini hanyalah sebuah refleksi kekecewaan seorang pelanggan yang sebaiknya dicermati dengan bijaksana dan bagi mereka para pemain industri telekomunikasi di tanah air, seyogyanya bisa berperan aktif menyiasati potensi pasar di daerah pasca-konflik dan senantiasa bisa terus mendukung kebutuhan komunikasi para Indonesian peacekeepers yang bertugas jauh di medan penugasan misi PBB ini agar silaturahim dengan kerabat dan handai taulan di kampung halaman senantiasa terjaga erat, bermutu dan mampu memberikan yang terbaik sebagai ganti sumbangsihmu terhadap perjuangan kita menjaga perdamaian.





hehehe..menggelitik bacanya..tuh CS belum pernah ikut training kepuasan pelanggan…..kayaknya bisa di bisnisin tuh…
tetap semangatttt yaaa….harumkan nama Indonesia tercinta yang sedang berduka ini….
Dasar Lonestar dalam tempurung! (nyesek juga neh :D) btw,untuk operator dalam negeri ada yang berminat ekspansi? (ah,mungkin masih pikir-pikir bung…)
“operator kelas dunia” ya di dunia lonestar nya itu pak. kasian deh, kuuleun jadinya gak tahu kita sudah punya satelit. sabar saja pak, karena bawaan nama barangkali itu perusahaan operator tilpun liberia ;D
Sabar pak, orang sabar di sayang Tuhan… :)
maklumlah pak, orang orang afrika tuh mayoritasnya aneh2.. hehe
saya juga sempat mengalami hal yg hampir sama tuh, mendapatkan pelayanan yg kacau dari customer service-nya…
Salam dari Accra…
Ini kisah nyata yang senada, dari rekan bernama Adnan, dari Maroko.
Adnan: Koen, aku baru tahu negara kayak Indonesia bisa punya satelit.
Koen: Masa? Aku nggak ngebayangin bahwa struktur informasi di negaramu sedemikian parahnya. Di kotamu ada koran nggak?
Adnan (memerah): Jarang ada orang Maroko tahu ada negara bernama Indonesia.
Koen: Terbukti kan? Selain soal informasi, soal pendidikan juga perlu perhatian besar di Maroko.
Adnan: Soalnya negaramu nggak terkenal.
Koen: Omong-omong, ada jalan Cassablanca di Jakarta. Tahu nggak?
Adnan: Hah? Masa?
Koen: Bangsaku hormat sama bangsa kalian. Nggak tahu kenapa nggak bisa sebaliknya.
Adnan: Masa?
Koen: Cari di Google. Kalau 10 tahun lagi nggak ada Jalan Jakarta di Cassablanca, kamu yang malu.
BTW, nggak lama kami jadi sohib juga, sambil saling belajar.
pasti byk hitung2annya Mas, makanya operator GSM kita gak bergegas utk bermitra sama operator GSM di belahan benua Afrika. perlu diperbanyak dulu jumlah orang Indonesia di sana spy niat Mas kesampean :)
Di satu sisi, CS dituntut untuk menanggapi tuntutan klien. Kegagalannya untuk menanggapi—-keseringan diam atau tanya-tanya ke kolega misalnya—-adalah rapor merah bagi dia, sehingga si CS pun berusaha/berkeras untuk berbicara sehingga terkadang hanya mengarang apa yang ada dikepalanya saja. Kalau si CS berwawasan luas oke, tapi kalau yang seperti anda ceritakan jadinya be-ra-be.
Ya sudah ikhlaskan saja, karena kebanyakan orang di negara terbelakang katakanlah Liberia (benarkah?)maka masyarakatnya juga terbelakang, minim wawasan :-)
Halo Mas Luigi,
Hehehehehee…
Aku mo ikut kominter nih.
Ehh… Tpnya, emang negara
kita ga terkenal kok.
Maaf, lho Mas Koen.
Kta emang “jago kandang”.
Kta yg ga pernah mendunia
kalah sebagai yg d jajah
dan menang sbg penjajah.
Itulah negriku.
Coba tanya profesor termuda
dr mana? Pasti ga tau. Apalagi
dengan nama “Tansu”.
Tp kita menghormati bangsa laen
dgn memberikan nama jalan dgn
nama mrk itu uda membuktikan
klo bangsa Indonesia itu bangsa
yg ramah.
Den, Ka urang mah sempet bagus punya toleransi 80% ..mungkin cuaca oge ..
Geus ganti kartu ..?
Aduuuh,
Sedih banget dengar ceritanya :0 Wis, sing sabar wae atuh KaNg. Entar kita minta Telkomsel buat buka partnership ke Afrika. Sembarangan tuh CS :)
Hello…helloo…helloooo….????
Wah bener ga nyambung, euyyyy!!!
Makanya ‘Den, ga usah pake cellphone.. pake telepati aja…..!!!
Lebih jernih, cepat, n ga pake biaya….. :-)
Hahahahaha… ga juga kok, indonesia terkenal dimana-mana, coba… orang2 asing kan belajar perang gerilya itu dari indonesia. Banyak buku-buku dan ilmu-ilmu yang diambil dan dipelajari orang asing dari buku buatan orang indonesia.
Kalo masalah GSM, dah banyak kok negara yang bekerja sama dengan GSM di Indonesia. Kakak ku sering banget telepon2an berlama-lama dengan GSM nya dari negara Belanda, Jerman atau Perancis. Emang kadang kurang bagus suara nya, tapi ketika untuk telepon yang kedua kali nya suara nya jernih. Mungkin itu hanya karena gangguan sinyal saja, jadi seharus nya jangan tinggalin dulu tuh customer service sebelum memberikan penjelasan yang baik tentang GSM di Indonesia (narsis negara sendiri mode on).
Sayang, coba di kasih tau satelit apa aja yang udah di luncurin Indonesia. Bisa blink-blink clink-clink tuh mata nya… (O_~).v,,
cuma pengen tanya da g? pasukan yang diberangkat kan ke libanon namanya aris titis p.?
klu g da si gpp,,kan cuma tanya doank///
he..he..untung msh sabar, hampir “diberi tuh CSnya” scara stadium tinggi..kalo di Jkt mgkn sudah masuk kolom Surat Pembaca…
Sabar mas..sabar… ga usah emosi menghadapai orang2 seperti itu. Wajarlah mereka kan bodoh terhadap informasi tentang bangsa kita.
Menggelitik juga cerita di atas. Hehehe ada ya ternyata orang-orang yang ga tau Indonesia.
Salam dari Bogor – Indonesia
Hem..
Sebenernya PT Telkom kalo gak salah sudah mulai invasi ke afrika, cuman ke Afsel bukan Liberia :P
AfSel kekna pengen ToT ama Indonesia, selain AfSel, PT Telkom juga sering kirim personil ke Qatar untuk ToT disono. CMIIW :D
Berapa semenit Pak? Kalau dibandingin dengan callback service macam jajah.com gimana?