Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Cerita dari DR Congo: Pengalaman Bertugas Sebagai Acting Cimic Officer

2 August 2010, 18:56 , by Nita Marcela Siahaan

 

Selain mengajar, saya mendapat tugas tambahan sebagai Acting Cimic (Civil and Military Coordination) Officer di DR Congo untuk menggantikan rekan saya dari Zambia yang sudah selesai melaksanakan tugasnya. Tugas ini berkaitan dengan bantuan kemanusiaan dibidang pendidikan dan kesehatan. Komandan menunjuk saya sebagai Cimic Officer karena menganggap bahwa saya mampu melaksanakan tugas ini. Harus saya akui tugas ini masih asing bagi saya sehingga saya harus belajar dari rekan-rekan yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Cimic Officer.

Saya mulai mempelajari tugas yang baru ini dan berkordinasi dengan rekan-rekan Milobs (Military Observers – pengamat militer) tentang rencana saya yang akan mengunjungi beberapa sekolah dan puskesmas yang memerlukan perhatian dari Monuc. Pekerjaan ini akan saya kerjakan bersamaan pada saat patroli dengan mendatangi lokasi penduduk berdasarkan survey yang dilakukan sebelumnya. Dalam melaksanakan tugas Cimic, saya harus membuat dokumentasi bangunan yang sedang direhabilitasi dan membuat laporan hasil survei lokasi kepada Sector Commander. Pekerjaan ini dapat saya kerjakan petang hingga malam hari tergantung dengan situasi. Kalau saya sedang patroli pagi hari, maka tugas cimic saya kerjakan pada petang hingga malam hari.

Selama saya bertugas di Kisangani, memang saya perhatikan bahwa sarana pendidikan dan kesehatan di provinsi ini sangat minim dan menyedihkan. Sebagai contoh, gedung sekolah terbuat dari tanah, dindingya terbuat dari daun kelapa, sementara kursi dan meja belajar kurang memadai sehingga murid-murid yang belajar terkesan kurang nyaman karena harus berdesak-desakan. Ditambah lagi kondisi murid yang tidak mempunyai seragam untuk ke sekolah. Bahkan ada kalanya, bisa ditemui ada anak laki-laki yang tidak pakai baju atasan saat belajar di kelas. Guru yang mengajar pun tidak menggunakan pakaian yang selayaknya sebagai guru. Kondisi negara yang miskin menjadi penghambat utama dalam bidang pendidikan. Memang ada juga beberapa sekolah yang menjadi sekolah pilihan tetapi sebagian besar sekolah kondisinya sangat menyedihkan.

Pemandangan seperti ini seringkali saya lihat saat melaksanakan patroli. Pernah saat long road patrol atau patroli jarah jauh, saya berkunjung ke beberapa sekolah dasar. Saya saksikan sendiri betapa tingginya minat belajar dari anak-anak setempat tapi fasilitas untuk mereka belajar sangat minim. Saya berdialog dengan Guru, Kepala Sekolah dan para murid. Mereka menyampaikan pada saya agar Monuc bisa memberikan bantuan berupa fasilitas pendidikan untuk mereka. Semua keterangan saya catat dan saya laporkan kepada Sector Commander. Sebagai Milobs, saya hanya bisa memberikan motivasi kepada mereka dan menyampaikan agar mereka tetap semangat untuk belajar. Mudah-mudahan Monuc bisa merealisasi apa yang mereka inginkan. Mengingat tingginya jumlah sekolah yang masih perlu mendapat bantuan dari Monuc, negara ini sepertinya masih kurang mampu mengatasi masalah yang ada. Saya prihatin melihat kondisi masyarakat setempat terutama yang berkaitan dengan pendidikan karena masih banyak yang belum mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang layak. Sebagian besar anak-anak di Kisangani tidak bersekolah. Mereka harus bekerja dengan berjualan di pasar bersama orangtuanya. Situasi ini tidak hanya terjadi di luar kota tetapi juga di dalam kota dengan banyaknya anak yang tidak ke sekolah karena orangtuanya miskin.

Mengawali tugas saya sebagai Cimic Officer, saya bersama tim melaksanakan city patrol atau patroli kota, mengunjungi sebuah sekolah dasar yang akan di rehabilitasi. Kondisi bangunan sekolah ini masih lumayan bagus karena gedungnya sudah terbuat deri beton sehingga yang perlu diperbaiki hanya atapnya yang bocor dan dindingnya yang sudah mulai rusak. Dokumentasi gedung yang saya buat kemudian diserahkan Komandan.

Pada minggu berikutnya, saya bersama Sector Commander dan Team Leader langsung melihat kondisi gedung yang bocor dan rusak. Setibanya kami di gedung sekolah, kami disambut oleh Kepala Sekolah, Guru dan murid-murid sekolah dasar. Komandan berdialog dengan Kepala Sekolah dan menyampaikan bahwa Monuc akan bersedia untuk membantu merehabilitasi gedung yang nantinya akan dikerjakan oleh anggota kontingen Senegal. Jumlah murid yang belajar di sekolah dasar ini memang banyak, sehingga perbaikan gedung memang harus dikerjakan secepatnya agar mereka dapat belajar dengan nyaman.

Sembari menunggu Komandan berdialog, saya berkeliling disekitar gedung dan memotret gedung yang benar-benar rusak berat. Rupanya pada saat saya memotret, para murid memperhatikan dan mengikuti saya dari belakang. Saya tanya ada apa, ternyata mereka ingin difoto juga. Saya fotolah beberapa murid untuk dokumentasi…eh tau tau semua bergerombol mendatangi saya berteriak untuk difoto. Hampir saja saya terjatuh karena mereka mendorong saya dan teman-temannya agar berfoto bersama saya. Dalam hati saya usil juga nih murid dorong-dorongan untuk difoto atau apakah anak-anak ini jarang berfoto atau memang tidak pernah ada yang memotret. Saya jadinya ikut dorong-dorongan juga sambil ketawa-ketawa bersama mereka. Ada rasa senang ketika bisa berdialog dan menghibur anak-anak yang polos dan lugu ini. Menyenangkan juga ada selingan semacam ini ketika melaksanan tugas Cimic karena dengannya saya dapat menghibur para murid walau berfoto bersama saja sudah bisa membuat mereka gembira. Komandan saya hanya tersenyum melihat anak – anak tersebut bergerombol dengan saya. Komandan pun tak luput juga didorong karena ingin berfoto dengan Beliau. Yang terakhir Gurunya pun rupanya ingin berfoto juga dengan saya..yah saya minta tolong rekan saya untuk mengabadikannya. Suasana seperti ini tidak dapat saya lupakan di dalam hidup saya dimana saya bisa bergembira bersama anak-anak sekolah dasar dari Congo.

Suasana pun tambah riuh karena waktu foto bersama, ada seorang murid bertanya kepada saya apakah saya orang China. Kemudian saya jawab bahwa saya orang Congo dan anak tersebut berteriak sambil tertawa dan bilang tidak mungkin ada orang Congo kulitnya putih dan rambutnya lurus. Mereka tidak percaya dengan ucapan saya. Padahal saya hanya bercanda agar anak-murid tersebut geger. Lantas saya jelaskan sambil tertawa bahwa saya adalah orang Indonesia, dan semuanya mengangguk-angguk mengatakan “oooooohhhhhhhhhh..”. Komandan terheran-heran melihat anak-anak tersebut bisa berdialog dengan saya padahal saya tidak lancar berbahasa Perancis.

As Cimic Officer accompany  SECTOR 2 COMMANDER visiting quip impact project (QUIP)2

Diantara sekian banyak murid, pasti ada saja yang berani bertanya apa saja termasuk bertanya apakah saya punya biskuit. Sambil tertawa saya mengeluarkan biskuit yang selalu saya bawa di tas saya. Tapi sebelumnya, saya minta dia untuk bernyanyi terlebih dulu. Dan anak itu langsung bernyanyi dengan wajah yang serius, sesuatu hal yang justru membuat wajahnya bertambah lucu. Dia menyanyikan sebuah lagu berbahasa Congo yang saya bilang lagunya bagus sekali. Lantas saya memberikan biskuit itu dan dia melompat saking senangnya. Dia mengucapkan mercy Mama Indo alias terimakasih Ibu Indonesia.

Kemudian tiba waktunya kami harus pamit kepada guru dan anak-anak lugu tersebut, saya perhatikan ada secercah harapan dan kegembiraan di wajah mereka. Saat saya akan naik ke mobil, seorang murid yang wajahnya lucu meminta uang kepada kepada saya katanya akan dipakai untuk membeli buku. Gurunya marah dan anak itu ketakutan kemudian rekan saya melarang untuk memberikan uang, sebab kalau satu orang dikasi lantas semuanya akan menuntut. Akhirnya saya urungkan niat saya untuk memberikan uang untuk anak tersebut. Memang kebiasaan di Congo , kalau kita memberikan uang kepada seseorang, maka yang lain harus dikasih juga. Kebiasaan itu akan terus menerus mereka lakukan seakan-akan merupakan kewajiban kita untuk memberikan uang kepada mereka.

Rehabilitasi gedung sekolah dasar ini mulai dikerjakan pada minggu berikutnya dan pekerjaan ini akan selesai sekitar 2,5 bulan. Sambil menunggu gedung sekolah dasar dikerjakan, saya melanjutkan tugas lainnya yaitu berkunjung ke sebuah puskesmas. Saya bersama tim berpatroli sambil berkunjung ke sebuah Puskesmas yang terletak di dekat Wagenia Water Fall. Kondisi Puskesmas ini sangat menyedihkan karena persediaan obat-obatan yang sangat terbatas sementara jumlah pasien yang berobat tidak seimbang dengan jumlah obat tersebut. Selain itu, pasien yang menginap di puskesmas sebagian besar adalah orang miskin yang tidak mampu untuk membayar biaya rawat inap. Saya kasihan melihat pasien yang dirawat disini karena keadaan mereka yang sangat mengenaskan.

Kondisi kesehatan Ibu dan bayi membuat hati saya merasa miris. Betapa tidak, bayinya mengalami gizi yang sangat buruk sehingga ia menjadi bayi yang kurus kering. Pemandangan seperti ini sudah tidak asing lagi bagi saya, karena setiap tempat yang saya kunjungi pasti ada seorang Ibu membawa bayinya dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Mereka mengeluarkan _uneg-uneg_nya kepada saya dan berharap Monuc bisa memberikan bantuan obat-obatan untuk mereka. Semua keluhannya saya dengarkan dan saya catat, dan saya sampaikan kepada mereka bahwa semoga puskesmas mendapatkan bantuan dari Monuc.

Selesai patroli saya laporkan kondisi Puskesmas kepada Komandan agar Beliau dapat memberikan petunjuk selanjutnya kepada saya. Saya diperintahkan Komandan untuk berangkat bersama beliau ke Puskesmas untuk mengadakan dialog dengan Kepala Puskesmas agar Beliau dapat memutuskan apa yang terbaik untuk Puskesmas. Keesokan harinya, saya dan Komandan bersama seorang penerjemah berangkat ke Puskesmas. Setibanya disana Komandan langsung mewawancarai Kepala Puskesmas dan menanyakan kesulitan yang mereka hadapi termasuk untuk membantu membangun fasilitas kamar pasien dan toilet. Atas saran Sector Commander, saya diminta untuk merencanakan rehabilitasi puskesmas, membuat dokumentasi dan mengikuti perkembangan pembangunannya.

Pekerjaan ini kadangkala tidak berjalan mulus karena ada saja kendala yang saya hadapi bersama tim. Saya punya pengalaman buruk pada saat mengunjungi lokasi puskesmas yang akan direhab. Pada saat akan menuju lokasi, kami dihadang oleh penduduk setempat dengan memblokir jalan dan meminta uang dengan cara paksa. Mereka berkerumun membawa bambu memukul mobil yang kami tumpangi. Kami berusaha menjelaskan bahwa tujuan kami adalah untuk berdialog dengan Kepala Puskesmas berkaitan adanya bantuan kesehatan masyarakat dari Monuc. Namun apa daya mereka tidak menggubris penjelasan kami, padahal kami sudah membawa seorang penerjemah orang Congo yang menjelaskan kepada sekelompok pemuda tersebut agar kami diijinkan masuk. Sayang, usaha tersebut sia-sia. Kami langsung putar balik arah dan salah seorang rekan kami yang berasal dari Kenya yang berpostur tinggi besar membentak kerumunan orang tersebut dengan bahasa setempat dan kerumunan itu pun langsung bubar dan kami langsung meninggalkan lokasi. Kejadian ini tidak menyurutkan niat saya bersama tim untuk tetap berpatroli dengan mendatangi lokasi penduduk yang membutuhkan bantuan dari MONUC.

Minggu berikutnya saya tim kembali mendatangi lokasi puskesmas. Kali ini kami mendapat sambutan baik dari masyarakat setempat dan mereka meminta maaf akibat tingkah laku pemuda yang minggu lalu yang menyebabkan kami tidak dapat berkunjung ke lokasi. Kesempatan yang baik ini saya manfaatkan untuk berkordinasi dengan Kepala Puskesmas bahwa MONUC telah menyediakan dana untuk membantu pembangunan Puskesmas dengan batas waktu yang tidak terlalu lama. Kepala Puskesmas merasa terharu dan menyampaikan ucapan berterima kasih kepada saya dan team.

Seiring berjalannya waktu, dalam waktu 2,5 bulan rehabilitasi puskesmas dan gedung sekolah dasar hampir selesai dikerjakan. Saya bersama Sector Commander dan Team Leader langsung mengecek fisik bangunan yang dikerjakan. Sector Commander menyampaikan kepada Kepala Puskesmas bahwa apabila Puskesmas telah selesai direhab, maka ia akan diresmikan dengan mengundang beberapa pejabat setempat. Tentunya pekerjaan ini harus sering dikontrol mengingat bantuan yang diberikan oleh MONUC harus benar-benar sesuai dengan rencana dan selesai tepat waktu. Saya pun terus menerus memantau proses rehabilitasi ini pada saat patroli atau diluar jadwal patroli perkembangannya tetap saya ikuti.

Tanpa terasa proses rehabilitasi puskemas dan sekolah dasar sudah selesai. Sebagai Cimic Officer, saya harus terus menerus harus mengecek kembali kondisi bangunan dan merencanakan peresmiannnya. Saya laporkan rencana peresmian kepada Sector Commander dan Komandan setuju dengan rencana tersebut. Saya pun mulai berkordinasi dengan pihak terkait dan menyelesaikan tugas ini dengan tuntas agar pada saat acara peresmian semuanya dapat berjalan dengan lancar.

Sebelum puskesmas dan sekolah dasar diresmikan oleh pejabat MONUC, saya sampaikan saran kepada Sector Commander untuk membuat _release _tentang proyek kemanusiaan dan pendidikan yang sudah selesai dikerjakan oleh Team Site/204 Sector-2 Kisangani. Komandan saya bertanya: “What for?”. Saya jelaskan dengan gamblang bahwa sebaik apapun proyek yang dikerjakan kalau tidak disampaikan melalui media cetak dan elektronik akan menjadi sia-sia, dan masyarakat tidak akan mengerti apa yang dikerjakan oleh MONUC. Oleh karena itu informasi harus dimuat d imajalah dan disiarkan ke Radio Okapi yang merupakan radio nasional di Congo serta televisi lokal. Dengan demikian, seluruh masyarakat dapat menerima informasi tersebut. Sector Commander heran mendengar penjelasan saya karena baru ini kali pertama seorang milobs yang bertugas sebagai civic memberikan saran yang demikian baik.

Untuk meyakinkan Komandan, saya juga menjelaskan bahwa salah satu tugas saya di Penerangan TNI AD adalah membuat release _yang memberitakan kegiatan kunjungan Kasad ke daerah yang berkaitan dengan TNI AD. Akhirnya Komandan setuju dengan ide saya untuk membuat _release _dan meminta saya untuk bekerjasama dengan PIO atau _Public Affair Officer. Saya dibantu oleh seorang _Civilian _dari PIO yaitu rekan saya yang bernama Codjo. Saya sampaikan kepada Codjo bahwa konsep _release _yang saya tulis sudah dibaca Komandan. Codjo menyetujuinya dan menyampaikan kepada saya bahwa _release _yang saya konsep akan dia edit, setelah itu akan disampaikan lagi kepada Sector Commander untuk beliau nilai apakah isinya sudah layak untuk dimuat di Bulletin. Kemudian Codjo menyampaikan bahwa _release _yang saya tulis akan dikirim ke Kinsasha untuk dimuat pada edisi bulan berikutnya. Saya pun sudah merasa lega karena tugas pertama sudah selesai.

Sector Commader merasa gembira membaca bulletin yang salah satu isinya adalah proses rehabilitasi gedung sekolah dasar dan puskesmas yang dikerjakan Team Site 204/Kisangani. Beliau mendapatkan appresiasi dari Pejabat MONUC karena tugas dapat diselesaikan dengan baik dan dimuat di Majalah MONUC. Beliau menyampaikan appresiasi juga kepada saya pada saat briefing dengan para perwira. Kesan Komandan yang disampaikan kepada para perwira saat briefing yaitu bahwa sebagai Acting Cimic Officer saya dinilai sangat pro-active menjalankan tugas dan dapat berkordinasi dengan baik dengan pihak-pihak yang terkait. Rekan-rekan juga menyampaikan terima kasih kepada saya dan mengatakan salut untuk Lady Officer from Indonesia karena dapat mengerjakan tugas Cimic dengan baik.

Sebagai rangkaian kegiatan tugas saya sebagai Cimic Officer, maka tibalah saatnya untuk meresmikan gedung sekolah dan puskesmas di dua tempat terpisah. Acara ini dilaksanakan sekaligus pada hari yang sama agar masyarakat dan murid yang belajar dapat menggunakan fasilitas kesehatan dan pendidikan yang disediakan oleh MONUC. Pada acara tersebut, hadir undangan para pejabat setempat, pejabat MONUC dan tidak ketinggalan pula murid-murid sekolah. Walaupun acaranya sangat sederhana, tetapi hal itu tidak mengurangi khidmat dan semangat dari para undangan yang hadir termasuk media lokal yang meliput acara tersebut. Saya mendampingi Sector Commander pada saat beliau diwawancara oleh Radio Okapi berkaitan dengan proyek bantuan kemanusiaan yang diserahkan MONUCkepada masyarakat setempat.

Setelah acara selesai kami kembali ke kantor melaksanakan tugas rutin. Kira-kira pukul 14.00 saya dipanggil oleh Sector Commander untuk menghadap beliau. Saya pun berpikir mengenai apakah ada yang salah pada acara peresmian tadi pagi dan sebagai akibatnya pertanyaan pun melintas di pikiran saya. Begitu masuk ke ruangan saya lihat di dalam sudah ada seorang reporter wanita dari Radio Okapi. Setelah dipersilahkan duduk oleh Sector Commander, beliau menjelaskan bahwa sebagai ungkapan terimakasih beliau kepada saya maka saya diberikan kesempatan untuk diwawancarai oleh Radio Okapi berkaitan dengan proyek pendidikan dan kesehatan yang baru diresmikan. Saya terkejut dan saya sampaikan bahwa bahasa Perancis saya kurang lancar. Komandan hanya tersenyum dan mengatakan beliau bersedia menjadi penerjemah bagi saya. Dalam hati saya merasa hebat sekali karena Komandan bersedia menjadi penerjemah untuk saya. Saya akui saya merasa grogi juga menghadapi reporter Radio Okapi yang posturnya tinggi besar. Sebelum wawancara dimulai saya dan Komandan berlatih selama lima menit agar jawaban yang akan saya sampaikan tidak keliru. Reporter wanita yang asli orang Congo tersenyum melihat saya berlatih tapi saya tenang saja.

Saat wawancara berlangsung saya harus konsentrasi karena reporter wanita bertanya dalam bahasa Perancis dan Komandan menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris kepada saya. Setiap pertanyaan yang diajukan saya jawab sesuai kapasitas saya dan mengikuti aturan yang sudah diagariskan oleh Komandan. Setelah wawancara selesai, Komandan dan reporter tersebut berkomentar bahwa saya sangat sopan dan tenang seakan-akan saya sudah familiar dalam wawancara. Komandan pun bertanya apakah saya sudah pernah diwawancarai sebelumnya. Saya jelaskan selama saya bertugas di TNI AD, baru kali ini saya mendapat kesempatan wawancara dan itu pun berlangsung pada saat bertugas sebagai Milobs. Komandan dan reporter menyampaikan terimakasih dan berulang-ulang menjabat tangan saya sebagai ungkapan terima kasih.

ptl 20 may 010

Rekan-rekan saya yang semuanya kaum pria heran karena kenapa saya terlalu lama menghadap Komandan. Saya jelaskan bahwa saya baru selesai diwawancarai reporter Radio Okapi. Mereka berteriak dan tertawa gembira dan langsung menyalami saya. Pengalaman ini sangat berharga bagi saya karena saya dapat dapat memberikan kontribusi yang positif untuk Team Site 204 di Sektor-2 Kisangani. Rekan-rekan menyampaikan rasa terima kasih karena saya dapat membawa nama baik Milobs dari Sektor 2 dengan melaksanakan tugas Cimic dengan baik pula. Hal ini membuat saya merasa bangga sebagai Kowad dari Indonesia karena berhasil menyelasaikan tugas ini dengan baik serta membawa nama baik Indonesia di dunia Internasional.

Nita Marcela Siahaan Lieutenant Colonel. Nita Siahaan MSc. is the first Indonesian Army Woman from the Indonesian Army Information Service who joined Peace Keeping Operations under the banner of United Nations (MONUC) in Congo. The Indonesian Government has assigned Ltc Nita to...

Detail Profile »

2  Comments

by didut at 4 August 2010, 19:19

kadang sebuah biskuit sdh dapat membahagian mereka :)

by asni at 6 August 2010, 01:17

how lovely story….

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

798 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Arief Bastian Sanusi Arief Bastian Sanusi, 1st Lieutenant Marine Corps, was born in December 1983 in Pangkalan Susu, North Sumatera. After conclusion of formal education at SMUN 1 Padang in 2001, He drafted hiimself at the Indonesian Naval Academy and later became the...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 7 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 14 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 17 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 17 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 18 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago