Correspondent Luigi PRALANGGA
Total 19 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 422 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
Inspeksi higenis ketiga Kontingen Indonesia >>
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Banyak terlihat anak usia sekolah yang harus bertengger di pasar nan bau dan super-duper jorok itu, berkutat dengan barang dagangannya masing-masing, dari mulai menjual kacang tanah, daging-potong, buah-musiman, sampai ke gudang macam tetek-bengek lainya. Mereka mulai berjualan sejak ayam jago itu berkokok, sampe sore bahkan kemudian ada yang terlihat hingga larut malam.
Jangan pulang dulu sebelum dagangan itu laku semua, yah!
Mungkin itulah sebuah ekspresi yang tercetus oleh Marijou Konneh, sebutlah namanya begitu. Ia adalah anak gadis usia kisaran 11 tahun berkata pada adiknya – sebutlah dia bernama: Fatimata Konneh, 8 tahun.
Sebuah scene yang dirasa lumrah terlihat tidak jauh dari Pasar Duala, sebuah pasar tradisional yang amat hiruk-pikuk arah barat luar kota Monrovia.
Banyak terlihat anak usia sekolah yang harus bertengger di pasar nan bau dan super-duper jorok itu, berkutat dengan barang dagangannya masing-masing, dari mulai menjual kacang tanah, daging-potong, buah-musiman, sampai segudang aneka macam tetek-bengek lainya. Mereka mulai berjualan sejak ayam jago itu berkokok, sampe sore bahkan kemudian ada yang terlihat hingga larut malam.
Dari kejauhan saya hanya bisa mengalunkan-angan, berusaha menebak apa sih yang dijual si Fatimata di dalam baskom besar itu?. Sepertinya sebuah masakan-matang dijual eceran. Baskom atau panci besar itu, sudah pasti terasa berat ditopang oleh kepala mungilnya, meski berbalutkan helaian kain yang digulung, melindungi ujung kepala agar tidak nyeri dan meratakan stabil posisi panci agar berdiri-diam dikepalanya meski ia berjalan kesana-kemari.
Kemacetan yang selalu menyapa setiap dari kita para staff UN yang bekerja di Misi ini, khususnya buat mereka yang bertugas di Mornovia, nama Duala Market, sudah identik dengan daerah macet, berdebu dan bau, serta ke-engganan setiap dari kami jikalau mempunyai keperluan yang harus melintas pasar itu.
Namun, kemcaetan pagi itulah yang telah memberikan kesempatan bagi kedua mata ini untuk sejenak mengamati kehidupan dan pergulatan keseharian mereka; para pengusaha cilik itu lalu-lalang sembari berteriak-lantang menjajakan barang dagangan.
Pada tanggal 14 Juni 2007 baru lalu, di New York, AS – Wakil badan dunia untuk anak-anak (UNICEF) untuk Pantai Gading/Ivory Coast (Côte d’Ivoire), Youssouf Oomar, mengatakan bahwa traficking atau penyelundupan adalah kasus yang membuat keprihatinan mendalam bagi perlindungan atas anak untuk Pantai Gading dan bagi regional Afrika Barat.
Bagi banyak negara di Afrika, membiasakan atau memperkenalkan anak-anak pada dunia kerja atau menyuruh mereka belajar berdagang atau wira-usaha adalah perihal biasa atau lumrah, namun demikian hal tersebut telah banyak mengalami perubahan dari satu generasi kepada berikutnya.
Saat ini sudah menjadi lahan usaha dimana disana terdapat pihak perantara, dimana mereka meberikan pembayaran sejumlah uang kepada sang orang tua, kemudian sang anak seterusnya diselundupkan/traficked entah kemana – jelas Pak Youssouf dari UNICEF – Pantai Gading tadi.
« Maafkan saya, Abigail.. Inspeksi higenis ketiga Kontingen Indonesia »