About This Post

Correspondent Luigi PRALANGGA

Total 19 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 422 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 5.0/10(1 vote cast)

Articles

Child Labour: Jangan pulang sebelum [semua] dagangan laku!

Banyak terlihat anak usia sekolah yang harus bertengger di pasar nan bau dan super-duper jorok itu, berkutat dengan barang dagangannya masing-masing, dari mulai menjual kacang tanah, daging-potong, buah-musiman, sampai ke gudang macam tetek-bengek lainya. Mereka mulai berjualan sejak ayam jago itu berkokok, sampe sore bahkan kemudian ada yang terlihat hingga larut malam.


Jangan pulang dulu sebelum dagangan itu laku semua, yah!

Mungkin itulah sebuah ekspresi yang tercetus oleh Marijou Konneh, sebutlah namanya begitu. Ia adalah anak gadis usia kisaran 11 tahun berkata pada adiknya – sebutlah dia bernama: Fatimata Konneh, 8 tahun.

Sebuah scene yang dirasa lumrah terlihat tidak jauh dari Pasar Duala, sebuah pasar tradisional yang amat hiruk-pikuk arah barat luar kota Monrovia.

Banyak terlihat anak usia sekolah yang harus bertengger di pasar nan bau dan super-duper jorok itu, berkutat dengan barang dagangannya masing-masing, dari mulai menjual kacang tanah, daging-potong, buah-musiman, sampai segudang aneka macam tetek-bengek lainya. Mereka mulai berjualan sejak ayam jago itu berkokok, sampe sore bahkan kemudian ada yang terlihat hingga larut malam.

Dari kejauhan saya hanya bisa mengalunkan-angan, berusaha menebak apa sih yang dijual si Fatimata di dalam baskom besar itu?. Sepertinya sebuah masakan-matang dijual eceran. Baskom atau panci besar itu, sudah pasti terasa berat ditopang oleh kepala mungilnya, meski berbalutkan helaian kain yang digulung, melindungi ujung kepala agar tidak nyeri dan meratakan stabil posisi panci agar berdiri-diam dikepalanya meski ia berjalan kesana-kemari.

Kemacetan yang selalu menyapa setiap dari kita para staff UN yang bekerja di Misi ini, khususnya buat mereka yang bertugas di Mornovia, nama Duala Market, sudah identik dengan daerah macet, berdebu dan bau, serta ke-engganan setiap dari kami jikalau mempunyai keperluan yang harus melintas pasar itu.

Namun, kemcaetan pagi itulah yang telah memberikan kesempatan bagi kedua mata ini untuk sejenak mengamati kehidupan dan pergulatan keseharian mereka; para pengusaha cilik itu lalu-lalang sembari berteriak-lantang menjajakan barang dagangan.

Pada tanggal 14 Juni 2007 baru lalu, di New York, AS – Wakil badan dunia untuk anak-anak (UNICEF) untuk Pantai Gading/Ivory Coast (Côte d’Ivoire), Youssouf Oomar, mengatakan bahwa traficking atau penyelundupan adalah kasus yang membuat keprihatinan mendalam bagi perlindungan atas anak untuk Pantai Gading dan bagi regional Afrika Barat.

Bagi banyak negara di Afrika, membiasakan atau memperkenalkan anak-anak pada dunia kerja atau menyuruh mereka belajar berdagang atau wira-usaha adalah perihal biasa atau lumrah, namun demikian hal tersebut telah banyak mengalami perubahan dari satu generasi kepada berikutnya.

Saat ini sudah menjadi lahan usaha dimana disana terdapat pihak perantara, dimana mereka meberikan pembayaran sejumlah uang kepada sang orang tua, kemudian sang anak seterusnya diselundupkan/traficked entah kemana – jelas Pak Youssouf dari UNICEF – Pantai Gading tadi.

by Raffaell at 26 June 2007, 14:14
Lebih keras kehidupanya ya dibanding negara kita, karna tidak semua anak di Indonesia seperti itu, hmm jadi bersyukur dengan bangsa sendiri..
by ShOFa at 26 June 2007, 22:12
duhh kasian amat masih kecil udah dipekerjakan gitu, padahal usia kya mereka kan harusnya menikmati hari" selain dengan belajar ya bermain supaya perkembangannya juga normal.. hmmppff disini juga kyana masih banyak yg bernasip seperti mereka..
by tria at 26 June 2007, 23:04
Mungkin 10 tahun yang lalu kita masih bisa bangga kang sama anak2 indonesia...sekarang, bukannya saya mau menutup mata...tapi hampir disetiap lampu lalulintas ( khususnya di kota bandung ) anak2 usia balita hingga belasan tahun, berkeliaran mengulurkan tangan...mohon belas kasihan.
Kalau pemerintah saja hanya bisa diam...lalu kita harus bagaimana...?
Kita salah memilih pemimpin, mereka bukan cacat fisik...tapi cacat hati dan perasaan...
SBY saja setelah satu tahun bencana lumpur Lapindo...baru bisa meneteskan air mata sekarang...lalu saat awal2 terjadinya bencana, kemana mata hati beliau ? ... so
biarkan saya ikut mati rasa bersama mereka anak2 jalanan...
by bhisma at 26 June 2007, 23:13
Kita berasal dari species yang sama. Dan memiliki beberapa persamaan secara fisik sebagai manusia. Namun kenyataan tersebut sering kali enggan diterima oleh beberapa gelintir manusia, seringkali mereka mengganggap rasnya atau sukunya atau bangsanya lebih mulia dari yang lain. Padahal materi yang menyusun jasad kita jelas-jelas sama namun ada beberapa sekumpulan umat di dunia ini tabu atau bahkan najis mengangggap manusia-manusia yang hitam dan kumal yang hidup di benua afrika sebagai saudara.
Mereka menjadi kaum yang terpinggirkan, menjadi bangsa yang akrab dengan kebiadapan kaum yang ambisius.
Afrika...adalah bagian dari masa depan kita. Menyelamatkan anak-anak afrika sama pentingnya dengan program penyelamatan bumi dengan program penghijauan.
by ZD at 27 June 2007, 03:58
"Dari banyak sumber, statistik dan cerita pengalaman pertama dari mereka yang menjadi korban child labour ini, penyebab utama dan prosentase terbesar adalah: Kemiskinan."

Dan kemiskinan terus berlanjut..salah satunya karena structural / social violence...(ketidakmampuan tatanan sosial /politik dalam pemberian kesempatan kepada semua orang untuk mendapatkan akses kepada kehidupan yang lebih baik)..bagaimana mungkin si miskin keluar dari kemiskinannya kalau pendidikan mahal, kesempatan kerja sangat terbatas, akses layanan kesehatan tidak merata dan mahal, pemerintahnya sibuk sendiri perang atau ngurusin kepentingan partainya sendiri, korup dan hanya berpihak kepada kaum kapitalist...



by ZD at 27 June 2007, 04:25
kemiskinan dalam konteks keterbatasan penghasilan bisa dipandang sebagai "sunatullah", inevitable...takdir...karena kehidupan menggariskan harus ada yang miskin dan ada yang kaya didunia ini ....tapi yang evitable adalah...pembenahan tatanan/lingkungan sosial...dalam arti..biarpun orang pendapatannya dibawah poverty line...tapi mereka tetap masih punya akses kepada perikehidupan sosial yang berpihak pada mereka..saat mereka sakit..mereka bisa mendapatkan segala layanan dengan layak dan terjangkau...ada sarana yang bisa meningkatkan penghasilan mereka...ada shelter2 yang bisa menampung mereka..mereka tak harus mengemis atau mengamen di lampu merah..karena ada layanan2 sosial yang bisa memenuhi kebutuhan dasar mereka....

yah...mungkin saya hanya bermimpi...dan akan terus bermimpi sampai ada yang mampu merubah dunia yang penuh perang dan keserakahan sebagian pemegang kekuasaan ini menjadi dunia seperti yang sering orang bilang sebagai utopia
by imcw at 27 June 2007, 04:28
selama negara belum bisa menjamin kesejahteraan dan keamanan anak indonesia, selam itu tidak akan bisa membuat anak indonesia apa adanya...
by hanan at 27 June 2007, 11:33
sedikit ikut berkomentar atas email yang saya terima dari pralangga.com

jika kita bicara ttg kondisi anak2 Indonesia, mungkin memang bisa dikategorikan lebih beruntung dibandingkan kondisi anak2 Afrika (dalam beberapa hal). Anak-anak Afrika dari yang saya pernah baca di beberapa media, memiliki karakter yang cukup keras sesuai dengan kondisi lingkungannya. Mereka terbiasa hidup dalam keadaan pahit. Namun masih memiliki daya tahan yang lebih kuat dibandingkan anak2 Indonesia.
Sedangkan anak Indonesia, rata-rata terbentuk secara tidak sengaja. Mungkin benar bahwa anak2 Indonesia menjadi pengamen, tukang minta-minta, dan lain sebagainya disebabkan oleh kemiskinan, tetapi tak jarang pula karena memang tidak mendapatkan pemahaman yang memadai ttg kehidupan oleh orang tuanya. Banyak pula yang kurang diperhatikan dan sebagainya walau faktor kemiskinan menjadi alasan terbanyak saat ini.

Bahkan menurut berita akhir2 ini, banyak juga terjadi kasus penjualan anak, yang lebih parahnya lagi mereka ada sebagian yang dijual untuk dijadikan pekerja seks, atau pencopet, atau malah menjadi pembantu rumah tangga yang mendapat perlakuan tak wajar.

bicara solusi, memang selayaknya pemerintah tanggap terhadap hal ini. Tapi, sesuai dengan tulisan di atas, saya sepakat jika semua pihak ikut bahu-membahu dalam back up hal ini. Bagaimana pemerintah bisa menjalankan kewajibannya secara tepat dan efektif sesuai dengan pasal 34 UUD 45 bahwa anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Selanjutnya bagaimana LSM-LSM yang ada memainkan peran untuk pendidikan atau advokasi terhadap mereka. Kemudian tak lupa juga masyarakat, yaitu kita, sebagai pihak yang tidak sekedar penonton, mungkin kita bisa melakukan apa aja yang bisa kita lakukan, bisa jadi kita berperan dalam pendidikan mereka, kemudian orang tua anak, nah masalah orangtua anak ini juga perlu penyikapan dari masyarakat sekitar. Tidak sebatas mengingatkan saja, tetapi bagaimana melakukan pembinaan secara terus menerus untuk memberikan pemahaman bagaimana urgensi mendidik anak. Sehingga sampai pada tataran orangtua menjadi lebih peduli dengan anak-anak mereka walaupun dihimpit kemiskinan.

mungkin saya hanya bisa berkomentar ini saja dulu. senang sekali rasanya bisa kembali ke situs ini, sudah sekian lama tak berkunjung, ternyata sudah banyak perubahan. Oke sekian dulu. Oiya saya juga ingin numpang info, boleh ya.
kebetulan perpustakaan saya sudah selesai, isinya memang macam-macam, jenisnya juga banyak sebenarnya, tidak hanya buku-buku keagamaan, silahkan berkunjung :

http://perpustakaanonline.freehostia.com (tanpa www)

saudara/i bisa ikut berkontribusi jika ingin mengirimkan makalah, essay, jurnal, ringkasan buku, artikel dan sebagainya. Situs ini salah satu yang akan saya link nanti. Boleh ya pak admin :)
by Rinto at 27 June 2007, 15:37
sebenernya perilaku dan kebiasaan anak itu tergantung didikan orang tua, pendidikan formal hanya sebagai panduan dan arahan supaya anak bisa mendapatkan hal yang baru dan lingkungannya.
pendidikan formal cenderung diperhatikan oleh pemerintah dan tanggung jawab pemerintah menaungi institusi ini. program2 pemerintah menurut saya sih sudah lebih baik dari sebelumnya, ada program wajib belajar, SD gratis, dll, cuma memang implementasinya belum merata dan kurang koordinasi, monitoring juga masih kurang, namun setidaknya ada usaha utk ke arah lebih baik.
nah sekarang peran orang tua yang paling penting....didikan keluarga jelas lebih memiliki porsi lebih tinggi ketimbang pendidikan formal.
Jadi kalau mau anak kita memiliki masa depan yang baik, orang tua yang harus mengarahkan anak untuk melihat masa depan itu. kalo anak dipakai sebagai alat untuk "tenaga cadangan" mencari nafkah, kepribadian anak akan terbentuk bahwa hidup hanya sekedar untuk mencari nafkah, tidak memiliki cita-cita, dan akan terus menerus hingga ke anak cucunya nanti, perilaku dan kepribadian itu akan melekat.
So...wahai orang tua...pedulilah dengan anak-anak kita. bentuk kepribadiannya menjadi anak yang memiliki cita-cita dan tidak hanya hidup untuk hari ini.
salam,
-Rinto-

by Joan at 27 June 2007, 20:27
Somehow reminds me of the story of my father's hard childhood, around 60 years ago... :-(
by Herawati Kadarman at 27 June 2007, 21:39
Aku jadi ingat anak-anak di negeri kita sendiri, di Jawa, di Padang, di Banjarmasin, mencari uang tambahan dengan berjualan kue, daun pisang, air sirup (yang entah dari pewarna apa dibuatnya)............... masya Allah............. belum lagi di pabrik pabrik di Kudus, Pati, di mana anak-anak menjadi buruh lintingan tembakau.......

by Elis at 27 June 2007, 21:42
Agar nasib anak indonesia lebih baik dari anak2 Liberia & negara Afrika tentunya dengan memperhatikan keejahteraan mereka dengan cara mensubsidi pendidikan dan mengarahkan mereka bagaimana cara menggunakan waktu di luar jam2 pendidikan untuk hal2 yang menghasilkan misalnya : membuat kerajinan tangan yang bermanfaat dan hasilnya dapat dipasarkan dengan cara mejual secara tidak langsung atau langsung (tidak langsung bisa saja menitipkan kerajinan tangan ke market : swalayan,warung atau supermarket, sedangkan secara langsung bisa saja mereka menjual hasil kerajinan tangan tersebut melalui temen,tetangga,atau mempromosikan keorang2 terdekat mereka juga dapat mereka pasarkan langsung di pasar dan hasilnya dapat dipergunakan untuk pendidikan mereka, jadi mereka dapat melanjutkan pendidikan sampai mereka mampu dengan hasil mereka sendiri tanpa membebani orang tua mereka.

Bisa saja mengembangkan talenta yang mereka punyai ; misalnya ada yang pandai menyanyi atau melukis atau yg pandai memasak. Hal2 yang alamiah seperti ini pasti ada pada diri manusia, tinggal kita saja bagaimana kita mengembangkannya. ( Mereka menjadi orang2 yang mandiri dan tangguh menghadapi hidup )

Tapi semua itu kita harus ada guru yang dapat mengajarkan beberapa keterampilan dan membuka wawasan berpikir mereka. Dan yang paling penting lagi jangan memanfaatkan keadaan mereka untuk kepentingan pribadi seseorang.
(karena banyak hal itu terlihat dikehidupan nyata; mereka dipaksa bekerja dan hasilnya untuk orang yang mengkordinir mereka, sementara pendidikan mereka tidak diperhatikan sama sekali ).

Dan yang paling penting sekali, kita harus memiliki kesadaran untuk melakukan program KB yang dicanangkan pemerintah dari tahun 70an. sehingga angka kelahiran anak tidak tinggi dari keluarga kurang mampu/miskin.

Banyak sekali kita temui sekarang ini, keluarga kurang mampu/miskin memiliki banyak anak sehingga untuk kesejahteraan anak tidak dapat diperhatikan lagi ( jangankan untuk pendidikan makan saja mereka sulit dan terkadang anak2 tersebut dibebani untuk mencari uang buat keperluan keluarga mereka ).

Bagi pasangan yang belum menikah harap diperhatikan tingkat kelahiran anak sehingga mereka dapat kehidupan yang layak nantinya, tentunya anak Indonesia dapat hidup secara layak dan bernasif lebih baik dari sekarang.


Salam,
Elis
by Gaw at 27 June 2007, 22:47
sedih. terlebih jika melihat kenyataan bahwa di negara kita juga tidak sedikit tenaga kerja anak-anak... thx for sharing this story mas Luigi.. kapan kembali ke Indon? kita ketemuan ya, -Gaw-
by undercover at 27 June 2007, 22:55
Sedih rasanya memang melihat anak-anak usia sekolah harus bekerja. Mungkin jika harus melihat sampai jauh ke Afrika untuk sekedar melihat kenyataan ini saya kira, kita akan sangat keterlaluan. Karena banyak juga anak-anak Indonesia yang mengalami nasib serupa. Anak-anak jalanan, pemulung, bahkan sampai pekerja sex komersial sering kita dapati sebagai kenyataan yang memiriskan. Saya juga nggak ngerti kenapa pemerintah seakan kurang serius menangani masalah ini. Musuh semua bangsa adalah adalah kemiskinan. Dan banyak saudara-saudara kita yang termasuk dalam kategori tersebut. Sebenarnya, jika pemerintah benar-benar menganggap masalah ini benar-benar serius, riskan karena anak-anak adalah masa depan bangsa ini. Pemerintah bisa saja mengganggarkan biaya pendidikan untuk anak-anak yang kurang mampu tersebut sampai anak-anak tersebut layak untuk bekerja. Dalam arti jika memang kondisinya anak-anak tadi harus kembali bekerja karena tidak mungkin pemerintah menganggarkan biaya sekolah tiap anak-anak tersebut sampai jenjang pendidikan tertentu, biarkan mereka bekerja setelah mereka layak untuk bekerja sekitar usia-usia SMU untuk menopang biaya sekolahnya.
by diditjogja at 28 June 2007, 04:20
poverty jadi bagian 'penting' dari karakter benua hitam. Ditambah trafficking, tambah ruwet..di indonesia juga (?!)
by linda at 28 June 2007, 12:56
miris emang kang liat nasib anak2 yg kurang beruntung. mestinya mereka mengenyam pendidikan tp ternyata karna tuntutan kebutuhan tak pernah merasakan pendidikan. makasih kang dah diingetin utk memperhatikan para ponakan.
by Ray at 28 June 2007, 20:14
Sedih juga melihat banyak anak2 yang masih dibawah umur karena alasan tertentu harus banting tulang untuk kehidupan mereka atau untuk orang lain.

Sebenarnya problem ini juga banyak kita jumpai di negara kita, seperti anak2 jalanan yang harus mencari uang dengan jalan mengamen atau berjualan asongan. padahal resiko yang bakal terjadi bisa lebih buruk dari hasil yang mereka dapatkan, termasuk resiko kecelakan sementara untuk itu sendiri tidak ada insurance yang menjamin keselamat mereka dalam mengais rejeki di jalan.

saya juga belum terlu paham siapa yang harus disalahkan, apakah orang tua Sebenarnya atau karena lingkungan yang harus membawa mereka kesana.
Kita tahu tingkat kemiskinan terutama dinegara kita, masih sangat tinggi.. dan hal ini juga makin bertambah karena dipacu oleh makin banyaknya penganguran. apalagi setelah ujian sekolah, akan makin banyak orang yang butuh kerja sementara penyedia kerja makin berkurang atau turn over yang makin edikit.

Jadi akan banyak faktor yang mempengaruhi orang untuk mempekerjakan anaknya atau rela melepaskan anaknya untuk bekerja.

tambahan usulan untuk menanggulangi persoalan ini, sikap pemerintah harus lebih tegas menyangkut program pendidikan untuk anak usia sekolah. dan penegakan hukum untuk orang/ pengusaha atau bahkan orang tua yang mempekerjakan anak dibawah umur.
Dalam hal ini anggaran untuk pendidikan Dasar harus lebih banyak. Penyediaan tempat pembinaan atau penampungan untuk anak2 jalanan terutama untuk anak2 yang sudah tidak memiliki orang tua, dalam hal ini pemerintah harus konsisten dalam pengeloaannya. karena masalah konsistensi masih selalu menjadi hal yang sangat sukar untuk diterapkan dinegara kita ini.

Ok, itu dulu kalee ya... sorry kalo ada yang salah.






by vyta_ at 29 June 2007, 03:08
cerita tentang "Marijou Konneh" di atas tidak jauh berbeda dengan exploitisir tunas-tunas muda indonesia di pinggiran jalan dan lampu merah di Kota Bandung.Mungkin lebih parah karena akan memberikan pembelajaran yang keliru tentang bagaimana cara mempertahankan hidup bagi seorang anak untuk masa depannya nanti.

ada diantara anak-anak dari masyarakat miskin di Bandung yang salah satu contohnya dibekali tiga atau empat buah layah atau ulekan dari batu yang dipanggul dengan bambu atau dengan kayu.(sayang tidak sempat saya foto)
tadinya saya iba dengan kondisi mereka yang seharusnya sedang bermain atau sedang tidur di pangkuan ibunya, tetapi setelah saya selidiki mereka ternyata dimanfaatkan oleh satu kelompok tertentu untuk mendapatkan uang dari rasa iba orang-orang "bermobil"
pernah saya baca juga ada satu tokoh dari Lembaga Pemberdayaan Masyarakat yang mengatakan bahwa anak-anak tersebut sudah sering diajak untuk berhenti melakukan "kekeliruan"nya tetapi sangat sulit untuk dihentikan.kelompok-kelompok tersebut sulit untuk diindentifikasi sampai suatu ketika ibu itu "menculik" salah satu dari mereka hanya untuk bisa bertanya tentang siapa yang memanfaatkan kondisi mereka sebagai "anak-anak" hanya untuk mendapat uang dari rasa "iba"
Kenapa saya bilang kekeliruan...karena menurut saya... tidak masalah buat anak-anak apabila karena keterpaksaan mereka harus ekstra kerja lebih keras toh mereka dibelajarkan untuk bisa mandiri dengan catatan mereka tidak kehilangan masa-masa bermain, dan yang lebih penting sesuai dengan kekuatan anaknya.Lha kalau anak usia 5 tahun diberikan beban layah 6 buah yang besar-besar trus dipanggul di sepanjang jalan dekat lampu merah di jalan riau kota Bandung... siapapun yang berhati "ibu" dan melihat itu akan jatuh iba.dan mereka terorganisir. didrop dan dijemput pada satu tempat tertentu.saya tidak tau apakah mereka bersekolah atau tidak, soalnya jaman sekarang yang tidak bersekolah justru anak-anak di kota.karena biaya sekolah di kota lebih mahal daripada di kampung-kampung...Bukan Begitu?

Anak adalah titipan Allah... jadi saya kira anak siapapun kalau kita rawat dan jaga ada perhitungan tersendiri dengan "Allah" dalam Bisnis Berkehidupan.

Anak Indonesia?
Waw... That is Complicated.
Kesan saya tentang anak Indonesia...sekarang mereka sedang terbawa pada arus konsumtif yang perlu kontrol. Saya salut ada pemerhati penerus bangsa yang membuat acara Tivi "Si Bolang" yang diplesetin anak saya Si Bocah Patah Tulang, Meskipun dengan begitu dia juga meniru Back to Nature, padahal sebelumnya dia lebih banyak duduk di depan PS-nya.

Banyak ya yang ditulis???
he he he keasyikan. Mudah-mudahan bisa berbagi cerita ya...
Salam kenal Om Luigi...
Wasallam.


by Heru at 29 June 2007, 22:04
Assalamu'alaikum,

Halo Om, apa kabar-asik banget baca pengalaman si Om di Monrovia..walaupun isinya membuat hati kita miris. Mungkin Om Luigi sudah tau juga yah. Kondisi anak2 di Indonesia yang masih banyak juga seperti itu. Kalo aku lihat anak2 yang berdagang dipasar masih dididik ortunya dari sisi yang positif dimana mereka diharuskan berusaha untuk mendapatkan rejeki penutup perut-nya sehari2. Mereka jadi memiliki keinginan jiwa menjadi. Pengusaha Kecil dan berusaha untuk survive ditengah kerasnya arus kehidupan. Tidak begitu hal-nya dengan orang tua disini. Banyak anak2 yang masih sangat belia harus berada dipinggiran jalan, bukannya untuk berdagang, tetapi menjadi "Pak Ogah2 Kecil" yang dengan memelas dan sedikit memaksa meminta dari pejalan dan pengendara yang sedang berhenti dilampu merah. Sulit bagi kita untuk memberi atau tidak. Amat sangat dilematis. Disatu sisi kita tidak ingin mengajarkan kepada mereka untuk hanya menadahkan tangan. Tapi dilain sisi hati ini terasa menjerit bila tidak memberikan sedikit rejeki yang kita miliki kepada bocah2 malang tersebut.. Yah begitulah Om kondisi kehidupan nyata.. kalo lihat iklan TV tentang dana BOS untuk pendidikan aku juga jadi sedih anak yang seharusnya bias ceria dating kesekolah, tapi terpaksa harus bergelut mencari rejeki, akhirnya semua jadi lingkaran setan kemiskinan..

Ditunggu kabar selanjutnya yah Om.


Wassalam,

Heru