Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Combro Kodok ala Liberia

14 December 2009, 10:10 , by Luigi Pralangga

 

Seringkali pertanyaan tentang Liberia datang dari sanak famili, kawan-kawan dan para sahabat di tanah air dan di luar negeri. Kisaran pertanyaan mereka adalah biasanya bagaimana iklim/cuaca, situasi keamanan, kondisi jalan dan seabrek-abrek pertanyaan lainnya via email dan saat berbincang-bincang dengan mereka ditelepon. Namun satu hal yang si kampret ini cukup bingung menjawab pertanyaan: “Seperti apa sih makanan khas Liberia?”. Nah ini dia yang si kampret kurang pengalaman, karena memang jarang sekali mencobanya, satu dua jenis masakan khas setempat pernah dicoba dannampaknya bukanlah menjadi pilihan favorit untuk kemudian dicoba berikutnya. Ohiya, ini disclaimernya: Mohon dibacanya artikel ini selepas makan aja ya!.

Salah satu pengalaman mencoba masakan khas setempat pernah diceritakan juga disini. Secara umum, Liberia punya banyak masakan khas setempat yang enak seperti Jollof Rice, dimana versi Jollof Rice di Liberia adalah sejenis nasi goreng meriah, segala macam masuk tumplek disana, dimana daging ikan asap, ayam dan babi dicincang dan dimasukkan digoreng bersama nasi, mencobanya hanya sekali dengan wanti-wanti agar tidak ada masuk si daging babi tadi.

Berikut sebuah klip dari Youtube, sebuah demo masak yang menjelaskan bagaimana si Nasi Goreng Jollof ala Nigeria yang terkenal itu dibuat:

Beberapa masakan lain, hanya sekedar icip-icip saja cukup tahu rasanya dan menerima sajian saat diundang makan di rumah salah satu staff lokal, nah sisanya ya masak sendiri atau makan di restoran umum ala masakan China atau Lebanon.

Lain padang, lain juga ilalang – begitu kata pepatah. Orang-orang yang sudah tinggal di Ibukotanya Liberia, Monrovia, yang sudah mulai terbiasa dengan pengaruh masakan lebanon, mereka mulai gemar makan roti arab ini, Lebanese Bread, begitulah sebutannya disini, roti kempes bundar dan bila masuk angin, berubah menjadi kenyal (liat) dan sulit dikunyah, sama saja seperti mencerna kain pel yang kering dijemur diterik matahari – terbayangkhan sudah?.

Namun saat kita bergerak ke dusun dan masuk ke pelosok pedalaman, ragam panganan/menu makanan dari penduduk setempat mulai bergeser, dimana ketersediaan dan distribusi bahan makanan dari kota ke pedalaman makinjarang dan harganya bisa berkali-kali lipat membuat semua penduduk di kampung benar-benar mengandalkan kebutuhan pangan dan gizi mereka dari apa yang mereka tanam dan dapatkan di hutan. Ubi ketela, daun singkong dan macam-macam lainnya adalah salah satu dari beragam pasokan gizi bagi orang di pedalaman Liberia.

Saat berkunjung ke Harper, yaitu sebuah kota yang berada di ujung barat Liberia berbatasan dengan Pantai Gading (Rep. of Ivory Coast ), mengunjungi rekan Indonesian Peacekeepers yang betrugas di sana, waktu itu adalah Let. Kol Supriatno, si kampret ini pun ikut menemani patroli reguler mereka ke daerah Pleebo dan Howeke , yaitu kota kedua setelah Harper, dimana patroli jalan darat ini benar-benar melalui kondisi medan yang memprihatinkan.

Letkol Supriatno

Ivory Coast Border

Melewati daerah Pleebo, merujuk koordinat pada peta operasi kita terus menuju daerah berikutnya dan setelah 2 jam ajrut-ajurtan di tengah hutan dan keluar masuk kampung tibalah kita pada sebuah kampung bernama Howeke yang menurut catatan para Military Observer di Harper HQ belum pernah dikunjungi.

Seperti biasa, mereka bertemu dengan tetua kampung disana dan bersilaturahim sambil mewawancari para tetua kampung itu perihal situasi proses perdamaian dan lain sebagainya. Sementara itu si kampret ya sibuk memotret mereka dan melihat-lihat pemandangan sekitar.

Kids in Howeko Village

Anak-anak di kampung itu memang senang sekali mengikuti kemana saja si kampret ini pergi.. dan saat kamera ini menjepret mereka dengan kilauan blitz (lampu kilat) bersoraklah mereka kegirangan. Persis seperti menggembala domba, kemana saja anak-anak itu ikut membuntuti, akhirnya si kampret ini diajaklah ke salah satu rumah tidak jauh dari saung dimana tetua kampung dan para military observer itu ngobrol.

Interview with Town Chief

Disana, ada sekelompok ibu-ibu yang berkumpul dibelakang rumah dimana ada sebuah gubuk dan terdapat beberapa baskom/panci yang tergeletak diatas tanah. melihat kedatangan si kampret ini bersama anak-anak, mungkin beberapa diantaranya adalah anak-anak si ibu-ibu ini, mereka kemudian bangkit dan tersenyum. Nampaknya mereka cukup heran akan munculnya si kampret ini bersama anak-anak mereka dan dengan logat khas Liberia, ibu-ibu itu sepertinya bertanya kepada anak-anak itu: “Hey, kalian nemu darimana ondel-ondel nyasar macam satu ini?”, dijelaskanlah oleh salah satu dari mereka: “Bla..bla..bla….” maka mengangguklah ibu-ibu itu dan menyapa dengan salam.. lalu ngobrol deh sikampret ini kemudian sembari mereka meneruskan memasak.

Melongok apa gerangan yang ada pada panci-panci itu, membuat si kampret ini jadi merinding-disko. Mengapa?

Jelaslah melihat seonggok kodok-kodok rawa, beberapa belut dan kepiting-kepiting kecil tumplek jadi satu dalam sebuah panci, sudah tidak jelaslah itu masakan apa yang akan dibuat dari satwa-satwa penghuni rawa itu jadinya.

Local Delicacy Combro Kodok

terus terang melihat kodok rasanya udah jijik banget, sementara salah satu ibu dengan girangnya menunjukkan cara memasak mereka itu – mungkin dia pikir jepretan kamera ini serasa demo masak pada studio TV itu, sementara si kampret ini menahan diri untuk tidak menampakkan rawut wajah geli dan mau muntah.

Delicacy in the making

Liberia Delicasies

Local Delicacy Sup Kodok

Satu panci kodok-kodok dalam wadah itu kemudian dibuat sejenis sop/soup sementara setengah panci lagi dibuat semacam gorengan dengan dicampur parutan singkong, si daging kodok tadi di cincang kecil-kecil dan dicampurkan entah bumbu apalah itu nggak jelas, lalu di goreng dengan menggunakan api dari kayu bakar. Melihat jenis masakan ini, teringat si kampret ini pada penjual gorengan ditanah air, salah satunya adalah combro. Combro di tanah air sudah pasti nikmat dan bisa jadi si oncom itu dipadu dengan cengek (baca: Cabe Rawit) membuat kedua mata ini merem melek jadinya. Namun ceritanya pasti akan jauh berbeda dengan si combro kodok ini.

Tidak jauh dari dapur itu tergantunglah seekor monyet, pastinya sudah mati dan sebagian sudah terkoyak dagingnya tersisa, selebihnya mungkin sudah menjadi masakan dalam salah satu panci-panci yang menghembuskan uap diatas tungku itu.

The Bush Meat

Daging monyet dan daging satwa liar di hutan lainnya adalah salah satu asupan gizi penduduk di pedalaman Liberia. Nama panggilan umum untuk daging hutan ini adalah “Bushmeat”, dan bila ditawari makan masakan bushmeat ini bisa beragam jenis dagingnya, bisa daging monyet, daging babi hutan, daging simpanse, siamang sampai ke daging trenggiling. Gelo pisan-lah!.

Melihat si kampret ini celingukan dan memotret monyet yang digantung itu, dipanggillah ia oleh salah satu ibu-ibu yang sedang masak itu. Dengan bahasa setempat dia berkata sembari menjulurkan tanyannya memegang sebuah combro hangat, sepertinya dia berkata: “Mas, ini dia combro kodok spesial untukmu, mau?” – Si kampret hanya tersenyum saya sembari agak menggelengkan kepalanya. Edun pisanlah pokoknya!

Dody Muhtar Taufik Dody Muhtar Taufik, currently holding a rank in Major Cavalry. Graduated in 1995 from Indonesia’s military academy, Possesses various military course to include Basic Armor, Staff Officer’s Course, Para Trooper and several other to include the latest in Civil Military...

Detail Profile »

12  Comments

by Yogi Anggoro at 14 December 2009, 10:35

Kang Luigi,
cuma satu kata koment-nya : yeeekkksss…
cocoknya tuh buat ‘jungle survival menu’ aja ya….
mustinya judulnya ditambahin, jgn dibaca kalau mau makan…

eniwei it’s good article… n penuh warna.
Salam buat Indonesian peacekeeper lain yg disana, n bgmn ttg ide bikin kaos indonesian peacekeeper dgn desain yg chic n simple (logo UN dgn tulisan Indonesian Peacekeeper misalnya) dan di beri logo bendera Indonesia di lengannya, agar kami2 ngga selalu disangka Phillipina atau Nepal bahkan China… :)
Bhn kaosnya yg bagus dan awet…
Salam dr Port Au Prince.

by Luigi Pralangga at 14 December 2009, 10:44

Juragan, nuhun pisan.. disclaimernya udah dipasang di alenia pertama tuh :D.

Soal si souvenir UN, emang udah ada rencana, silahkan kontak Kang Deden Wijaya di dlukmanw96@yahoo.com, beliau yang ‘jaga warung’ sehubungan dengan pengalaman kita-kita yang tertuang di cerita ini: Oleh-oleh merchandise UN yang mahalnya minta ampun itu

Kapan rencana cuti mudik?, saya juga akan pesen 2 lusin lebih buat oleh2 temen2 disini dan dipake sendiri :D

by Cipu at 14 December 2009, 11:07

Saya membaca artikel ini sambil makan dan Alhamdulillah gambar-gambar ini belom berhasil mengurangi nafsu makanku. Hehehehe.

Nice post mas, cerita tentang makanan emang ga ada habis nya. sebenarnya di Indonesia pun, banyak kok yang makan kodok. Malah tadi di tipi ada acara yang menampilkan masakan dari Manado yang terbuat dari ular, tikus hutan dan kelelawar (yang mereka sebut tikus terbang). Melihat hewan nya saja sudah gak menggiurkan apalagi mencicipi makanan yang terbuat dari hewan hewan ini.

Keep writing mas luigi.

Eh, blog ini menggantikan blog yang di blogspot yah??

Cipu

by ruanghatiberbagi at 15 December 2009, 03:55

Wuih..masakannya . No Comment dech

by aida emaknya sanne at 15 December 2009, 05:56

Eh..manawi teh bade dicobian, hanjakal, jangan-jangan si monyet juga dibikin gule lagi. btw nice article.. keep writing kang & gbu with your great mission.

by dewi at 15 December 2009, 06:42

Heheh…saya stop membaca sampai pada kalimat “merinding disko”, tidak kuasa, :p Jadinya saya lihat video demo masaknya aja.

Makanya cepet pulang kang!, hariwang ;D

Oia, berarti masih mending makan roti yang digulang gaper campur peluh itu ya kang gkgkgkgkgk.

by triesti at 15 December 2009, 22:34

jadi semua dicampur? creatif juga ya… mendingan kodok sih daripada serangga

by Adhitya Septriadi at 18 December 2009, 02:43

Haloo kang luigi,apa kabar ??? wah nice artikel nih !!! rasanya nano2 pasti ..!!wah kalau saya kang lebih memilih lebanese bread biar keras dan penuh perjuangan untuk memakannya..!!! hehe…!!!

by sri at 22 December 2009, 02:04

eh…nikmat juga. Hampir sama dengan yang sering sri temukan di Medan terutama di daerah pencinan, tapi mereka lebih sophicated lah dalam penampilan. Biasa untuk kodok, mereka udah dibersihkan dan dikasih bumbu warna kuning, tinggal goreng kalo ada yang pesan. untuk ular, mereka dah dipotong potong kecil kecil. tapi ada juga yang sangat wild dengan memajang kelelawar hidup hidup.
enak…enak…bisalah sri dikirim kesana, buat acara masak memasak. chef ala resto !

by prajnam at 26 December 2009, 11:46

Wuaah.. kodoknya ‘seksi’ euy… :D Kalau niat ‘berpetualang’, memang perutnya harus ‘kebal’ selera ya kang… :D Salam!

by Danie at 31 December 2009, 09:37

wah kang, kalau didatangkan ahli kuliner dari Indonesia, daging itu bisa jadi masakan yang enak dipandang ketika disajikan, dan makin menggunggah selera, namun kalau memahami ilmu bahwa daging itu tidak untuk dikonsumsi, pastilah mengatakan yeeeekssss …

thank you for sharing your experience in Monrovia …

by Rian Poncowati at 6 January 2010, 04:53

ahahahahaha…aaiiihhhh geliiii pisan bayangin makan daging onye…hueksss

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

797 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Bambang Iswandaru Bambang Iswandaru, born in Pati November 21, 1976. He is an Indonesian Army engineering officer. At current time, he has been deployed in the Democratic Republic of Congo (DRC) for peacekeeping mission under MONUSCO, as part of Indonesian Engineering company...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 7 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 10 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 10 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 11 days ago

TNI Bantu Clearing Landasan Helipad di Dungu
(Dungu-Kongo, 19/01). Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Kompi Zeni TNI Kontingen Garuda XX-I/MONUSCO dibawah pimpinan Letnan Kolonel Czi Sapto Widhi Nugroho selaku Komandan Satgas (Dansatgas) di samping tugas pokoknya memberi bantuan Zeni kepada Divisi Timur Brigade Ituri MONUSCO (Mission De L Organisation Des Nations Unies pour La Stabilization en Republique Demokratique du Congo) diantaranya mengerjakan jalan Dungu-Duru sepanjang 38 Km dan pemeliharaan Runway, juga melaksanakan clearing di sekitar landasan Helipad di Dungu agar tetap terjaga kebersihannya serta tidak mengganggu helly pada saat take off maupun landing, Rabu (18/1/2012).
Sulikan , 13 days ago

 

Recent Comments

frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Sameer commented on Makhluk Tuhan Paling Sexy di Nepal
a few seconds ago


sutiana commented on Tibet dan romantisme putus cinta
a few seconds ago