Correspondent Wijaya NGURAH
Total 4 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 138 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
<< Pasukan Garuda XXIII-B, Bunga Musim Semi di Lebanon Selatan
Sebuah jangkar bagi peacekeepers ini.. >>
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mulai tanggal 1 March 2008 kemarin; resmilah saya di pindahkan dari Port Sudan yang menjadi duty station saya hampir 9 (sembilan) bulan lamanya. Walaupun short notice dari Chief General Services bener-bener shorter than my current hair style; namanya perintah ya harus dijalankan.
Kesimpang-siuran atas penempatan tugas saya yang baru sudah saya rasakan begitu ada e-mail dari sekretaris di Headquarters. Chief Unit pernah bilang kalau saya akan dipindah-tugaskan ke Wau (Salah satu Sector di Southern Sudan, sekedar info; Mbak Eva rencananya mau di tugaskan di sini; mungkin mau ketemu ADAM?) yang mana saya akan sangat senang hati menerimanya. Anehnya Chief of Section bilang kalau saya sementara bertugas di Khartoum.
Mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa saya tidak begitu “senang” dengan Khartoum?. Khartoum buat saya seperti sosok yang tidak akan pernah saya bisa mengerti. Selain karena luas wilayahnya sendiri; UNMIS Headquarters juga bukanlah tempat yang mudah untuk dijelajahi, khususnya bagi staff pendatang baru (new arrivals) in town seperti saya. Kantor UNMIS yang kelihatan “agak bertebaran” dimana Unit Container Offices yang banyak dan “Most likely every bodies are chiefs”…he..he.. membuat saya kurang antusias untuk bekerja di UNMIS – Khartoum HQ.
Agak corny ya alasannya? Tetapi tentu saja saya suka beberapa hal mengenai Khartoum. Karena keuntungannya adalah kita bisa menikmati sedikit “Normal life” di Khartoum. Restaurants dengan berbagai cita rasa dan variasi jenis hidangan. (walaupun kalau soal harga mereka sepertinya sepakat; untuk berharga mahal). Bicara soal harga; Khartoum is slightly less expensive compare with the other places in Sudan,(Ms Eko; daftar harga sembako nya di share ke kita ya?)
Supermarket juga banyak pilihan dari yang agak mahal sampai yang naujubilleh harganya! Cuman karena tidak ada pilihan lain, ya belanja juga deh sambil berdoa moga-moga MSA naik bulan depan. He..he… according to Yuanita; indeed!
Cuman sekarang setelah sekian lama di Khartoum (tepatnya dua minggu) sudah mulai terasa kerasannya. Walaupun Scope of Work mesti nyempil di mana-mana, paling tidak dengan adanya teman Indonesia yang lebih banyak, lumayan mengobati kekesalan akan kepindahan ini.
Apalagi baru-baru ini sempat juga “temu anjangsana” (ngutip istilah umum yang di pakai jaman ORBA) dengan rekan-rekan setanah air, baik dari civilian, kepolisian, personil Milobs TNI, dan juga staff KBRI. Atas dukungan Yuanita, jadilah kita berkaraoke-nite, walaupun terus terang waktu itu tidak banyak yang ikutan nyanyi (entah karena kurang pede; atau belum mau merubah lahan keja untuk menjadi penyanyi) tetapi tujuan utama untuk ngumpul paling tidak terlaksana.
Acara berlanjut lumayan seru juga malam itu. Banyak orang yang bisa datang dengan masa pemberitahuan yang sehari sebelumnya (coordinated by Yuanita :-) thanks ya Nit!). Kalau diijinkan untuk absent, nih mereka-mereka yang sudah mau spending their precious time buat gabung; Staff Civilian; Mas Sulung, Mbak Eko yang tinggalnya di Westberg…he…he…, Mbak Dian penguasa El-Fasher di Darfur pastinya juga ada Mbak Yuanita (our favorite singer)
Dari POLRI ada; Mas Ary Laksmana (sesepuh POLRI di UNMIS), Mas Budi, Mas Tommy, Mas DaCosta (tambahin dong kalo ada lagi)
Dari TNI ada; Mas Sarwono,juga ada Mas Tri
Dari KBRI; pastinya pasangan Sophan Sophiaan/Widyawati versi Khartoum, Mas Iman dan Mbak Tari
Juga jangan lupa the only one and always our favorite and reliable Indonesian in Khartoum Mas Taufik, yang walaupun bukan UNMIS/UNAMID buat kita sudah kayak motto salah satu brand mobile phone ”Connecting People”
Buat yang udah ngebantu dengan camilan and the gank, thanks berat. Buat yang belum sempet ngumpul bareng; kita broadcast nanti kalau ada acara lagi…he…he…
buat mas-mas di TNI dan POLRI; sorry kalau jabatan dan kepangkatannya tidak ditulis, masalahnya saya tidak begitu mengerti istilah-istilah kepolisian dan kemiliteran,sekali lagi mohon maaf!
Kalau di negeri si bau kelek ini, personil close protection dari kontingen Filipina yang sering ngundang kita berkaroke di tenda barak mereka.. namun semenjak 2 kontingen terakhir udh nggak ada tentara wanitanya lagi – males aaaah! :D
Wah… Asyiknya ya bisa karaoke bareng. Pasti seru.. Dan tentunya dengan karaokean bisa ngelupain kesepian dan kepenatan, apalagi di lingkungan baru yang perlu adaptasi dulu. Lingkungan baru semangat baru, lingkungan baru temen baru..
Kang;
Ide karaoke nya dari jeng Nita! She is the jewel Indonesian in Khartoum.
Mas Wijaya,
Kapan nih ngumpul2 lagi…harus semakin banyak dan rame.
Saya dan rekan2 siap BERKONTRIBUSI, bukan hanya urusan nyanyi tapi juga untuk GANJAL PERUT, hahaha…as usual lah..
« Pasukan Garuda XXIII-B, Bunga Musim Semi di Lebanon Selatan Sebuah jangkar bagi peacekeepers ini.. »