About This Post

Eva MULYANDARI

Correspondent Eva MULYANDARI

Total 5 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 331 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 6.5/10(2 votes cast)

Articles

Convoy-ride from El-Obeid: Toilet di padang pasir yang maha luas itu..

Bekerja di bagian Movement Control atau disingkat dengan sebutan MOVCON, sebuah bagian dalam opersional misi pemulihan perdamaian di Sudan (UNMIS), banyak memberikan pengalaman unik.

Satu cerita seru waktu itu adalah saat pihak misi peacekeeping di Sudan mengirimkan Ablution, – yaitu toilet dikemas dalam bentuk dan ukuran kontainer, selain ablution, kitchen container units – buatan perusahaan asal Italia – Corimec.

Convoy-ride from El-Obeid

Pengiriman kontainer-kontainer ablution & kitchen unit itu berawal dari duty station dimana saya bertugas di El Obeid, lalu kontainer itu kemudian dikirimkan ke daerah lain dimana pihak misi membuka kantor operasinya di
pedalaman Sudan.

Convoy-ride from El-Obeid

Deployment kontainer ini diangkut oleh beberapa truk dalam bentuk formasi convoy. Sebuah pengalaman mengasyikan berkendara convoy duduk disebelah local drivers. Dengan pemandangan besar dan luas dalam ruang kemudi, perjalanan menyuguhkan banyak khazanah baru.

Banyak pengalaman baru yg didapat dan iring-iringan truk puh harus singgah dibeberapa desa di Sudan, waktu perjalanan sekitar 10 hari, karena jarak tempuh pergi-pulang, namun yang namanya situasi desa di Sudan, alamak! – kotornya minta ampun tidak ada bandingannya deh dengan di
Indonesia.

Convoy-ride from El-Obeid

bepergian pelesir ke pedalaman mengawal kiriman kontainer dengan ber-convoy, banyak sekali enaknya, selain rekreasi gratisan karena selama
ini cukup bosen juga dengan rutinitas dan selalu duduk di kantor. Dengan
pelesir sekali-kali keluar adalah benar-benar sebuah refresing. Namun demikian ada juga hal yang kurang menyenagkan/enak, khusunya buat kaum wanita yang sudah pasti mesti pusing mesti cari-cari tempat aman untuk urusan wese dan ke toilet he…he…. ;-)), selain harus lihat kiri kanan dulu, takut nanti jadi bahan tontonan orang kampung yang mungkin lewat tanpa diketahui.

Untungnya waktu itu, saya sama berangkat dan ditemani bersama convoy leader jadi bisa mencari kesempatan untuk menyelinap dulu dan bersembunyi di semak-semak (kita orang bilang – nyelinap to the bushes ha-ha-ha-ha, sambil segera melepas hajat, dengan kedua mata terus melirik kanan – kiri! Nunggu semua truck lewat baru-lah.. currr!(itu yag waktu diperjalanan). Waktu istirahat makan, wah ini acara yg sudah dipersiapkan sebelumnya dari rumah dimana perbekalan sudah dimasak dan disimpan dalam kaleng biar gampang dan tidak susah karena saya faham benar dari pengalaman sebelumnya tentang bagaimana cara orang-orang Sudan itu makan dan masak, jadi setelah dipikir-pikir, tidak akan makan/beli makanan dari luar.

Niat sih sudah kuat, tapi waktu itu tidaklah mudah menolak tawaran makan
dari para supir-supir truk itu, mereka menawarkan makan siang dengan tangan yg serba jorok (kotornya minta ampun), bayangin aja mereka dijalan
terkadang betulin truck, garuk-garuk badan serta pake ngupil segala dan
segala macam jadi tahu sendiri deh seperti gimana kondisi tangan itu.

Dan mereka dengan bangganya nawarin kita makan siang dan malam hari pertama masih ok selanjutnya terserah anda he…he…….(ampun tdk bisa makan lagi kembali keselera lama……… buka kaleng langsung makan ;-), dan mereka kalau masak daging dan ayam serta semua bumbunya tidak pakai dicuci, secara akal logical mereka beranggapan bahwa kuman smua pasti mati karena udah dimasak, tapi otak berlainan pikirannya,he….he….., sudah gitu rasa dilidah juga aneh ……….. tak terbayangkan he…he…, tapi gimana lagi karena rasa hormat dan saling menghormati ya di telan aja.

Waktu itu deployment ablution container itu persis berada dalam periode
musim dingin, wah aku kira selama ini kalau namanya Africa tdk ada musim
dinginnya ternyata kalau panas sampai 49-51 derajat Celcius, kalau dingin
bener-bener nyosss sampai ketulang, karena perjalanan masih jauh jadi harus istirahat dijalan, nah tempat istimewa untuk tidur, bagi beberapa supir ada yg tidur di dalam ablution karena dipikir ablution container itu masih baru belum dipakai, jadi ya.. dijadikanlah tempat tidur buat mereka, kemudian team leader tidur di Nissan Patrol dengan memodifikasi beberapa tempat duduk dilipat untuk dijadikan tempat tidur, sedangkan saya waktu itu dapat tempat tidur VIP-truck dibelakang supir, disitu khan ada ruang untuk istirahat lah itu istimewa deh rasanya tidur disitu serasa VIP dengan
disatroni dua penjaga ada di luar truk – meski pintu sudah di kunci, tetap harus waspada karena kita belum tahu daerah itu aman atau tidaknya.

Karena waktu tiba, hari sudah gelap jadi tidak bisa observasi sebelumnya,
seperti yang di nasehatkan oleh para bapak-bapak MILOBs (Military Observer TNI). Pagi menjelang dan matahari terbit – terangpun menjalar menyinari ke semua penjuru dan kemduian baru sadar kalau tempat itu tidak karuan, pokoknya udah tidak bisa digambarkan gimana kotor dan joroknya.

Yang repot kalau di pagi hari, kalau untuk urusan mandi setengah badan – itu mah sudah biasa namun urusan buang air kecil dan apalagi besar ini
adalah susah – maka terpaksalah tendang-tendang untuk ngebangunin team leader convoy itu – he…he….

Big boss kita akhirnya terpaksa dibangunin hanya untuk ngater dan njagain
assiten-nya untuk keperluan kencing he…he…… Saat tiba di daerah yang dituju, buru-burulah mencari kesempatan untuk berbersih-diri (mandi), ternyata terkejut sekali waktu ngeliat airnya yang kelihatan berwarna coklat campur sabun. Gelo! – bayangin aja perjalanan 2 malam 3 hari tanpa mandi hanya istilahnya mandi uler-lah (asal basah setengah badan), namun demikian senang juga sih bisa keliling-keliling daerah lain di Sudan dan menambah pengetahuan geografis disana.

Lebih seru juga ternyata masuk pedalaman Sudan. Ada yang mau ikut?

by Luigi Pralangga at 26 September 2007, 17:26

Dear Eva,

Seru mbaca ceritanya, memang untuk urusan perjalanan jauh ke pedalaman macam begini, perkara MCK [Mandi-Cuci-Kakus] adalah urusan runyam, apalagi buat para wanita. Kalau untuk cowok2 sih tinggal mendekat ke semak-semak dan langsung deh —-> Currr!!! :-p

Semoga nggak kapok diminta ikut konvoi lagi, ditunggu cerita seru dan foto-foto dari Sudan yah! Tetep semangat! :-)

by Faesol at 27 September 2007, 18:01

Makasih telah berbagi pengalaman ngantar air dan container utk hajatan… oh jadi di Afrika juga kenal musim dingin ya? Kirain hanya panas melulu. Selamat kerja dan hati hati dinegeri orang.

Salam
FM

by reinhard at 27 September 2007, 18:10

Waduh mba eva, ngebayangin bagaimana beratnya kerja di MOVCON UNMIS, FYI saya ditunjuk sebagai wadan kontingen Formed Police Unit, yang akan berugas di HSP UNMIS pertengahan bulan Desember(kalau sesudah bulan januari akan menjadi UNAMID) di Darfur. Ya, memang semua peralatan dari Indonesia (mobil=53 unit, APC, akomodasi dll) akan dibawa via port of Sudan, menuju (kemungkinan) Nyala, Darfur selatan, dan memang saya dengar semua barang tsb akan melalui AL OBEID (pusat Movcon ?), ok thanks, nanti kalau sudah disana kontak 2x ….yaaa

by hastho at 3 October 2007, 12:16

waduh si abang kite udah ada contact person ne di sudan nanti,pesan temen ati2 bang,witing trisno jalaran suko kulino, takutnya ntar gara2 sakit kuning ngeliat orang lokal, ubi rambat depan rumah diembat juge ne? ati2 gaol, jangan kumat lagi

by Rika at 5 October 2007, 11:07

Hi Mbak Eva, tetap semangat ya.. i wish i have the courage like you!

betewe, kalau bertemu Andre Louhanopessy di Sudan, tolong sampaikan salam saya.. dari juniornya angkatan 95 di TL..