Correspondent Stenly SAJOW
Total 8 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 724 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
<< Life in Liberia is not always a bed of pink rose petals
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
Terus maju dengan menegakkan disiplin serta imparsialitas dalam mengemban tugas dibawah ...
by Luigi Pralangga in Pasukan TNI bantu tentara Kongo memerangi pemberontak
salut buat Tim Konga. sukses selalu di mana pun berada ...
by anbhar in Peralatan Pasukan GARUDA XXIII-B lulus standar pasukan PBB
duuh, akhir2 ini kok di kepala saya isinya congo melulu.. :( ...
by nadia in Pasukan TNI bantu tentara Kongo memerangi pemberontak
Wow…two thumbs up for all of you guys there.
membuat anak2 ...
by aryo in Prajurit Garuda bangun Taman bermain untuk anak sekolah Lebanon
Itulah kenangan … yang pasti tdk akan pernah anda lupakan,pasti banyak ...
by Erfan Ahmad in Kenangan di Bumi Pohon Cedar
Sebuah langkah yang positive dalam membangun kerjasama dgn FARDC,hanya saja ...
by Erfan Ahmad in Pasukan TNI bantu tentara Kongo memerangi pemberontak
Yakin, pasti pengalaman bertugas di Lebanon ini adalah merupakan pembuka mata ...
by Luigi Pralangga in Kenangan di Bumi Pohon Cedar
Saya membayangkan fotonya bakalan bersalju, ternyata tetep gersang juga yah, hehehe… ...
by silly in Kenangan di Bumi Pohon Cedar
Wahhh, hebat.
Selamat untuk keberhasilan pasukan garuda membantu membangun taman bermain ...
by silly in Prajurit Garuda bangun Taman bermain untuk anak sekolah Lebanon
Me and Luigi have been discussing about this volunteering things many ...
by silly in Volunteering: Voices from the field!
Museum sejarah yang ada di Pulau ini benar-benar fantastiqe, mereka pamerkan beragam hal yang historiqe dalam tiap ruang terpisah. Disana bias melihat bagaimana sejarah Africa. Dari unsur sejarah kolonialnya sampai perguliran agama masuk di Afrika dan khususnya Senegal.
Dakar – Senegal, 29 Juni 2006
Pagi itu cuaca sangat bersahabat. Namun kondisi kesehatan saya agak kurang baik. Karena telah 4 hari melewati hari-hari di Dakar, kota yang cuacanya sangat panas. Terik matahari mebuat saya agak kurang enak badan. Ditambah dengan kegiatan extra berjemur membuat saya agak pilek dan demam, karena dihari itu, pagi-pagi sekali kira-kira jam 05.00 saya terbangun karena hidung saya yang sebelah kiri berdarah. Akhirnya harus melakukan therapy and follow up untuk diagnosa epitaxis ini. Setelan itu jam kira-kira jam 06.00 saya lanjut berbaring diatas tempat tidur (hanya tiduran saja).
Jam 07.15 pagi itu, saya kaget terbangun mendengar suara telepon saya berbunyi. Tonny teman saya yang orang Senegal menelepon dan memberitahu saya kalau sebentar lagi dia akan tiba di hotel saya. Saya baru sadar kalau hari sudah siang. Kita berdua janjian untuk bertemu jam 07.30.
Hari ini, kita janjian untuk melakukan perjalanan ke Pulau Goree pada jam 08.00 pagi.
Meski diawali dengan niat untuk menunda rencana perjalanan ini, karena badan agak kurang fit, ditambah juga keragu-raguan untuk mengunjungi pulau yang disebut orang ‘transit point‘ para budak sebelum dijual ke Eropa dan Amerika. Jujur, yang terpikir dikepala saya saat itu adalah sebuah tempat kuno yang mungkin seperti benteng tua saja, terpencil, agak kuno dan hanya bisa buat kita bertahan satu jam dan setelah itu bosan dan pulang ke hotel, capek dan tidur. That’s it.
Namun, entah kenapa niat untuk berkunjung ke pulau ini timbul juga karena mengingat kata teman-teman kantor yang pernah datang ke Senegal (juga kata kerabat yang ada di Indonesian Embassy – Senegal, katanya tidak lengkap datang ke Senegal tanpa berkunjung ke pulau ini). Rasa penasaran inilah yang menggoda saya untuk mengumpulkan kekuatan saya dan melangkan ke kamar mandi, dan bersiap untuk melakukan perjalanan pulau Goree. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kataku dalam hati, menghibur dan menyemangati diri.

« Life in Liberia is not always a bed of pink rose petals Flying on Business: Dari sapa ramah sang pramugari, aneka hidangan keju sampai ke hitut tanpa henti »