Hari itu, 15 Dec 09, di desa Pyi Thaw Thar, Kungyangon. Aku sedang mengunjungi beberapa wilayah yang diduga masih dihuni oleh kelompok IDP. Beberapa minggu belakangan ini aku memang mendengar berita mengagetkan bahwa sebenarnya masih ada beberapa kantung IDP di Kungyangon. Kata orang, sebenarnya IDP tersebar di tiga lokasi. Ketika berita ini kami konfrontir ke Pemda, mereka kemudian mengakuinya.
Ini hal yang sangat sensitif. Bayangkan, 19 bulan setelah Topan Nargis menghantam Myanmar, 2 Mei 2008, masih ada IDP (Internally Displaced Person). Di lain pihak, pemerintah Myanmar selalu berkeras bahwa semua IDP sudah mendapatkan rumah. Tidak ada lagi IDP. Kalaupun mereka disudutkan oleh berbagai dugaan IDP di lapangan, maka pemerintah melabeli IDP tersebut sebagai “Increased Population”, warga tambahan. Sebuah eufemisme yang menyakitkan.
Kembali ke laptop!, maka kungjunganku ke Pyi Thaw Thar adalah bagian dari asesmen utk melihat living condition of those forgotten IDPs. Lihat sendiri foto-foto yang kulampirkan di tulisan ini. Betapa buruknya barak mereka. Barak di Aceh jauh lebih bagus daripada gubuk IDP Myanmar. Gubuk-gubuk tersebut terbuat dari rumbia dan gedhek, sumbangan dari CARE. Usianya sudah lebih satu tahun, dan sudah banyak yang lapuk. Dari jauh, kita bisa melihat ke dalam barak yang luasnya 3 × 3 meter. Apa yang mau ditutupi, wong rumbia dan gedhek sudah lapuk semua?.
Anggota timku masih sibuk tanya sana sini ke beberapa IDP ketika kuputuskan untuk jalan sendiri dan menyusuri area tersebut. Kamp ini lebih teratur dan rapi ketimbang kamp lain yang kudatangi tadi pagi. Tapi, the level of poverty is strikingly similar. Kondisi gubuk yang sangat jelek, perabotan yang nyaris tidak ada, anak-anak yang tidak berbaju, sumber air yang cukup jauh, pekerjaan yang sukar didapat, dll.
Aku berjalan melewati beberapa gubuk ketika mataku tertumbuk pada seorang gadis yang sedang menjahit. Hah? Apa aku gak salah lihat? Seorang penjahit in an IDP camp, out of nowhere? Apa gak salah nih? Aku langsung membelokkan langkahku, dan menuju pintu gubuk, ke arah si gadis itu. Ketika sampai di pintu gubuk, aku dapati ada beberapa orang lain sedang memotong dan mengelem kulit buatan.
Rupanya mereka sedang membuat dompet.
Masya Allah !…. sebuah kegiatan ekonomi produktif di kamp IDP?
Antusiasmeku langsung bangkit.
Rentetan pertanyaan keluar dari mulutku:
Berapa harga dompet ini di pasar? Berapa ongkos produksi? Kapan mulai bikin usaha ini? Kemana dijual? Dari mana dapat skill ini? Berapa orang tenaga kerjanya? Siapa bosnya?
Ketika sampai pada pertanyaan itu, seorang pria malu-malu mengangkat tangannya.
Ooooo…dia bosnya. Aung Than, namanya. Umur: 30 tahun. Dia sudah memulai bisnis ini sejak sebelum 2008. Setiap minggu dia bepergian ke Yangon untuk mengantar dompet ke penampung. Penampung menghargai dompetnya Kyat 280 per unit (Rp 2800). Sementara, harga dompet eceran adalah Kyat 500 per unit (Rp 5000). Dengan harga Kyat 280 per unit, Than Aung sudah dapat untung. Dia sudah bisa mempekerjakan 5 orang (2 orang tukang jahit, dan 3 orang tukang lem). Semuanya wanita, dan salah satunya sedang hamil 9 bulan. Aung Than tidak pernah mengikuti training ttg kesetaraan gender, tapi apa yang dia lakukan untuk memberdayakan wanita sudah melebihi kemampuan LSM besar. Sekali lagi, Aung Than hanya seorang IDP, seorang pengungsi. Kini dia adalah seorang pengungsi yang mampu mempekerjakan sesama pengungsi lainnya.
Masing-masing tukang jahit digaji sebesar Kyat 35.000 per bulan (Rp 350.000), sementara tukang lem digaji Kyat 15.000 (Rp 150.000). Kapasitas produksi usaha Aung Than mencapai 150 dompet per hari. Upah tersebut mungkin terdengar sangat kecil bagi kita di Indonesia, namun bagi orang Myanmar, itu sudah sangat besar. Apalagi mereka IDP. Well, GDP per capita Myanmar adalah USD 379 per tahun, atau sekitar Rp 350.000 per bulan. Bandingkan dgn GDP per capita di Indonesia yang USD 1868, Sierra Leone (USD 329), atau Haiti (USD 611).
Dompet yang diproduksi Aung Than tidak bisa dibilang berkualitas bagus. Kualitas bahannya sangat jelek, bahan yang dipakaipun termasuk yang murahan, dari kulit buatan/imitasi. Dompetnya diberi merk “Arrow”. Kendatipun jelek, Aung Than sudah berhasil membuat dirinya mandiri. Dia bahkan bisa mempekerjakan orang lain. Ketika aku berbicara dgn salah seorang pekerjanya yang sedang hamil 9 bulan itu, aku dapati nada yang penuh syukur dari sang calon ibu, betapa masih bisa mengumpulkan uang di saat sedang menantikan kelahiran anaknya. Betapa sang ibu berharap uang yang dikumpulkannyakelak akan bisa digunakan untuk memberi makan dan pakaian yang layak bagi anakknya.
Begitu Aung Than mengatakan bahwa setiap minggu dia pergi ke Yangon untuk mengantarkan dompet (dan sekaligus membeli bahan baku), terbayang olehku betapa berat perjalanan Aung Than setiap minggunya. Sebenarnya Kecamatan Kungyangon tidak jauh dari Yangon. Hanya 60 km. Tapi, infrastruktur yang jelek has hampered the movement of the people. Dari kamp-nya, Aung Than harus naik mobil Willys (mobil zaman Perang Dunia II) menuju Pasa Kungyangon, 1 jam perjalanan. Dari sana, dia masih harus naik bis ke pelabuhan ferry Dala, 2 jam perjalanan, ongkos Kyat 1000. Kalau naik taxi (semacam L 300), ongkosnya Kyat 4000. Dari Dala, Aung Than akan membawa buntelan berisi dompet menyeberangi Sungai Yangon yang membelah Yangon. Tepat, di seberang sungai, tibalah dia di Pelabuhan Yangon, yang merupakan pusat kota Yangon. Dari sana, mungkin dia akan naik bis yang padat, menuju pasar Yangon yang tidak berapa jauh dari sana. Total: Aung Than bisa menghabiskan minimal 3 jam perjalanan dari kamp-nya menuju Yangon, one way. Dia akan pulang ke kamp-nya pada hari yang sama. Berarti, dia harus bergegas. Transportasi ke Kungyangon tidak gampang, apalagi ke kampungnya. Sebelum gelap dia harus kembali ke kamp. Jadi, Aung Than harus straight to the business everytime he travels to Yangon. “Dimana ya dia makan siang?” pikirku. Mungkin dia hanya bisa makan siang di kios-kios pinggir jalan yang bertebaran di seluruh penjuru pasar Yangon. Harga makanan berkisar dari Kyat 350 sampai Kyat 750. (Aku pernah coba makan di “warteg”, dengan menu sangat mewah (dua jenis lauk, tahu, plus nasi), hanya Kyat 1200. Tapi itu sangat mahal bagi orang desa seperti Aung Than).
Aku terharu melihat usaha yang dilakukan oleh Aung Than. Hingga saat ini dia tidak pernah mendapatkan bantuan apapun dari berbagai pihak untuk mendukung usahanya. Ketika Topan Nargis menghancurkan usahanya, yang tersisa hanyalah dua mesin jahit, yang hingga kini masih dipakainya. Kantorku saat ini sedang mempersiapkan penerbitan sebuah buku tentang rekaman kekuatan/energi hidup para korban Nargis. Anehnya, I am sorry to say, the strongest survivors of Nargis (and other disasters as well) are those who have only received so little from the entire humanitarian response operation.
Seperti biasa, setiap kali mendapati penggalan kisah luar biasa seperti pengalaman Aung Than, aku hanya bisa tercenung. Aku seolah mau meraung-raung karena saking malunya, karena merasa bersalah. How come we have missed them from the beneficiary list? Aku bagaikan anak kecil yang ingin melompat-lompat karena saking gembiranya. Aung Than is the jewel. Aung Than is one among several champions of Post-Nargis recovery. Ini dia jawaraku. Ini dia a success story of a resilient community.
Namun, di satu sisi, rasa malu segera muncul pada diriku. Aku malu pada diriku yang masih jadi orang gajian, menantikan gaji tiap bulan, berlindung di balik CV-ku dan my long array of so called “relevant experience”. Aku malu pada diriku yang sangat mencintai my own comfort zone, and is not dare enough to step on the uncharted territory, seperti yang dilakukan oleh Aung Than.
Apa yang akan engkau lakukan bila rumahmu hancur, usahamu hancur, keluargamu tewas, and yet you need to survive, and top of all, the assistance has hardly ever come?. Aung Than rebuilt his “business empire” from the two remaining sewing machines! Bagiku, kendatipun usaha Aung Than hanya berlangsung di sebuah gubuk, it is already a business empire. For me, Aung Than and the likes are the champions of Post-Nargis recovery.





wow , kisah yang bagus dan inspiratif sekali :)
Semua memiliki comfort zone untuk survive. Penulis tak perlu meraung-raung malu karena membandingkan diri dengan Aung Than. Mungkin Aung Than tadinya juga punya hasrat ingin memiliki CV dg list panjang “relevant experiences” seperti yg dimiliki si penulis, Surya Aslim.
Toh, Aung Than telah berbuat. Ia buktikan dan dan berikan a success story of a resilient. Penulis tak perlu alih profesi atau ingin menjadi Aung Than. Tugas penulis dan kita semua adalah menyebarkan ‘virus’ dan motivasi Aung Than, agar dapat makin tersebar dan dapat dirasuki lebih luas lagi, untuk menginspirasi siapapun.
Thanks for this story from the field.
Setelah melihat beberapa pengalaman dari negeri orang, selalu pada akhirnya saya selalu bersyukur kepada Tuhan YMK bahwa saya telah dilahirkan di bumi indonesia dan menjadi warga Indonesia. Saya semakin bangga menjadi Bangsa Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Salam kenal…
salut pada semua orang yang tetap tegar dan bangkit setelah diluluhlantakkan tragedi.
Boleh saya minta info tentang Myanmar?