Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Dari 'Zero' menjadi 'Hero': Aung Than

15 January 2010, 12:26 , by Surya Aslim

 

Hari itu, 15 Dec 09, di desa Pyi Thaw Thar, Kungyangon. Aku sedang mengunjungi beberapa wilayah yang diduga masih dihuni oleh kelompok IDP. Beberapa minggu belakangan ini aku memang mendengar berita mengagetkan bahwa sebenarnya masih ada beberapa kantung IDP di Kungyangon. Kata orang, sebenarnya IDP tersebar di tiga lokasi. Ketika berita ini kami konfrontir ke Pemda, mereka kemudian mengakuinya.

Myanmar Map

Ini hal yang sangat sensitif. Bayangkan, 19 bulan setelah Topan Nargis menghantam Myanmar, 2 Mei 2008, masih ada IDP (Internally Displaced Person). Di lain pihak, pemerintah Myanmar selalu berkeras bahwa semua IDP sudah mendapatkan rumah. Tidak ada lagi IDP. Kalaupun mereka disudutkan oleh berbagai dugaan IDP di lapangan, maka pemerintah melabeli IDP tersebut sebagai “Increased Population”, warga tambahan. Sebuah eufemisme yang menyakitkan.

Kembali ke laptop!, maka kungjunganku ke Pyi Thaw Thar adalah bagian dari asesmen utk melihat living condition of those forgotten IDPs. Lihat sendiri foto-foto yang kulampirkan di tulisan ini. Betapa buruknya barak mereka. Barak di Aceh jauh lebih bagus daripada gubuk IDP Myanmar. Gubuk-gubuk tersebut terbuat dari rumbia dan gedhek, sumbangan dari CARE. Usianya sudah lebih satu tahun, dan sudah banyak yang lapuk. Dari jauh, kita bisa melihat ke dalam barak yang luasnya 3 × 3 meter. Apa yang mau ditutupi, wong rumbia dan gedhek sudah lapuk semua?.

IDP Camp

Anggota timku masih sibuk tanya sana sini ke beberapa IDP ketika kuputuskan untuk jalan sendiri dan menyusuri area tersebut. Kamp ini lebih teratur dan rapi ketimbang kamp lain yang kudatangi tadi pagi. Tapi, the level of poverty is strikingly similar. Kondisi gubuk yang sangat jelek, perabotan yang nyaris tidak ada, anak-anak yang tidak berbaju, sumber air yang cukup jauh, pekerjaan yang sukar didapat, dll.

Water Well

Aku berjalan melewati beberapa gubuk ketika mataku tertumbuk pada seorang gadis yang sedang menjahit. Hah? Apa aku gak salah lihat? Seorang penjahit in an IDP camp, out of nowhere? Apa gak salah nih? Aku langsung membelokkan langkahku, dan menuju pintu gubuk, ke arah si gadis itu. Ketika sampai di pintu gubuk, aku dapati ada beberapa orang lain sedang memotong dan mengelem kulit buatan.

Rupanya mereka sedang membuat dompet.
Masya Allah !…. sebuah kegiatan ekonomi produktif di kamp IDP?
Antusiasmeku langsung bangkit.
Rentetan pertanyaan keluar dari mulutku:
Berapa harga dompet ini di pasar? Berapa ongkos produksi? Kapan mulai bikin usaha ini? Kemana dijual? Dari mana dapat skill ini? Berapa orang tenaga kerjanya? Siapa bosnya?

End Product

Ketika sampai pada pertanyaan itu, seorang pria malu-malu mengangkat tangannya.

Ooooo…dia bosnya. Aung Than, namanya. Umur: 30 tahun. Dia sudah memulai bisnis ini sejak sebelum 2008. Setiap minggu dia bepergian ke Yangon untuk mengantar dompet ke penampung. Penampung menghargai dompetnya Kyat 280 per unit (Rp 2800). Sementara, harga dompet eceran adalah Kyat 500 per unit (Rp 5000). Dengan harga Kyat 280 per unit, Than Aung sudah dapat untung. Dia sudah bisa mempekerjakan 5 orang (2 orang tukang jahit, dan 3 orang tukang lem). Semuanya wanita, dan salah satunya sedang hamil 9 bulan. Aung Than tidak pernah mengikuti training ttg kesetaraan gender, tapi apa yang dia lakukan untuk memberdayakan wanita sudah melebihi kemampuan LSM besar. Sekali lagi, Aung Than hanya seorang IDP, seorang pengungsi. Kini dia adalah seorang pengungsi yang mampu mempekerjakan sesama pengungsi lainnya.

Masing-masing tukang jahit digaji sebesar Kyat 35.000 per bulan (Rp 350.000), sementara tukang lem digaji Kyat 15.000 (Rp 150.000). Kapasitas produksi usaha Aung Than mencapai 150 dompet per hari. Upah tersebut mungkin terdengar sangat kecil bagi kita di Indonesia, namun bagi orang Myanmar, itu sudah sangat besar. Apalagi mereka IDP. Well, GDP per capita Myanmar adalah USD 379 per tahun, atau sekitar Rp 350.000 per bulan. Bandingkan dgn GDP per capita di Indonesia yang USD 1868, Sierra Leone (USD 329), atau Haiti (USD 611).

Home Industry

Dompet yang diproduksi Aung Than tidak bisa dibilang berkualitas bagus. Kualitas bahannya sangat jelek, bahan yang dipakaipun termasuk yang murahan, dari kulit buatan/imitasi. Dompetnya diberi merk “Arrow”. Kendatipun jelek, Aung Than sudah berhasil membuat dirinya mandiri. Dia bahkan bisa mempekerjakan orang lain. Ketika aku berbicara dgn salah seorang pekerjanya yang sedang hamil 9 bulan itu, aku dapati nada yang penuh syukur dari sang calon ibu, betapa masih bisa mengumpulkan uang di saat sedang menantikan kelahiran anaknya. Betapa sang ibu berharap uang yang dikumpulkannyakelak akan bisa digunakan untuk memberi makan dan pakaian yang layak bagi anakknya.

Begitu Aung Than mengatakan bahwa setiap minggu dia pergi ke Yangon untuk mengantarkan dompet (dan sekaligus membeli bahan baku), terbayang olehku betapa berat perjalanan Aung Than setiap minggunya. Sebenarnya Kecamatan Kungyangon tidak jauh dari Yangon. Hanya 60 km. Tapi, infrastruktur yang jelek has hampered the movement of the people. Dari kamp-nya, Aung Than harus naik mobil Willys (mobil zaman Perang Dunia II) menuju Pasa Kungyangon, 1 jam perjalanan. Dari sana, dia masih harus naik bis ke pelabuhan ferry Dala, 2 jam perjalanan, ongkos Kyat 1000. Kalau naik taxi (semacam L 300), ongkosnya Kyat 4000. Dari Dala, Aung Than akan membawa buntelan berisi dompet menyeberangi Sungai Yangon yang membelah Yangon. Tepat, di seberang sungai, tibalah dia di Pelabuhan Yangon, yang merupakan pusat kota Yangon. Dari sana, mungkin dia akan naik bis yang padat, menuju pasar Yangon yang tidak berapa jauh dari sana. Total: Aung Than bisa menghabiskan minimal 3 jam perjalanan dari kamp-nya menuju Yangon, one way. Dia akan pulang ke kamp-nya pada hari yang sama. Berarti, dia harus bergegas. Transportasi ke Kungyangon tidak gampang, apalagi ke kampungnya. Sebelum gelap dia harus kembali ke kamp. Jadi, Aung Than harus straight to the business everytime he travels to Yangon. “Dimana ya dia makan siang?” pikirku. Mungkin dia hanya bisa makan siang di kios-kios pinggir jalan yang bertebaran di seluruh penjuru pasar Yangon. Harga makanan berkisar dari Kyat 350 sampai Kyat 750. (Aku pernah coba makan di “warteg”, dengan menu sangat mewah (dua jenis lauk, tahu, plus nasi), hanya Kyat 1200. Tapi itu sangat mahal bagi orang desa seperti Aung Than).

Aku terharu melihat usaha yang dilakukan oleh Aung Than. Hingga saat ini dia tidak pernah mendapatkan bantuan apapun dari berbagai pihak untuk mendukung usahanya. Ketika Topan Nargis menghancurkan usahanya, yang tersisa hanyalah dua mesin jahit, yang hingga kini masih dipakainya. Kantorku saat ini sedang mempersiapkan penerbitan sebuah buku tentang rekaman kekuatan/energi hidup para korban Nargis. Anehnya, I am sorry to say, the strongest survivors of Nargis (and other disasters as well) are those who have only received so little from the entire humanitarian response operation.

Seperti biasa, setiap kali mendapati penggalan kisah luar biasa seperti pengalaman Aung Than, aku hanya bisa tercenung. Aku seolah mau meraung-raung karena saking malunya, karena merasa bersalah. How come we have missed them from the beneficiary list? Aku bagaikan anak kecil yang ingin melompat-lompat karena saking gembiranya. Aung Than is the jewel. Aung Than is one among several champions of Post-Nargis recovery. Ini dia jawaraku. Ini dia a success story of a resilient community.

Namun, di satu sisi, rasa malu segera muncul pada diriku. Aku malu pada diriku yang masih jadi orang gajian, menantikan gaji tiap bulan, berlindung di balik CV-ku dan my long array of so called “relevant experience”. Aku malu pada diriku yang sangat mencintai my own comfort zone, and is not dare enough to step on the uncharted territory, seperti yang dilakukan oleh Aung Than.

Apa yang akan engkau lakukan bila rumahmu hancur, usahamu hancur, keluargamu tewas, and yet you need to survive, and top of all, the assistance has hardly ever come?. Aung Than rebuilt his “business empire” from the two remaining sewing machines! Bagiku, kendatipun usaha Aung Than hanya berlangsung di sebuah gubuk, it is already a business empire. For me, Aung Than and the likes are the champions of Post-Nargis recovery.

Surya Aslim Surya Aslim has been working in the development field since April 2004. The Aceh Tsunami brought major change to his career. Within a fortnight, he was involved in the Tsunami humanitarian response operation at that time with British NGO Islamic...

Detail Profile »

4  Comments

by kus at 16 January 2010, 06:42

wow , kisah yang bagus dan inspiratif sekali :)

by Alwis at 19 January 2010, 04:06

Semua memiliki comfort zone untuk survive. Penulis tak perlu meraung-raung malu karena membandingkan diri dengan Aung Than. Mungkin Aung Than tadinya juga punya hasrat ingin memiliki CV dg list panjang “relevant experiences” seperti yg dimiliki si penulis, Surya Aslim.
Toh, Aung Than telah berbuat. Ia buktikan dan dan berikan a success story of a resilient. Penulis tak perlu alih profesi atau ingin menjadi Aung Than. Tugas penulis dan kita semua adalah menyebarkan ‘virus’ dan motivasi Aung Than, agar dapat makin tersebar dan dapat dirasuki lebih luas lagi, untuk menginspirasi siapapun.
Thanks for this story from the field.

by Ehabel at 1 February 2010, 08:15

Setelah melihat beberapa pengalaman dari negeri orang, selalu pada akhirnya saya selalu bersyukur kepada Tuhan YMK bahwa saya telah dilahirkan di bumi indonesia dan menjadi warga Indonesia. Saya semakin bangga menjadi Bangsa Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

by Yuni at 17 September 2011, 00:56

Salam kenal…

salut pada semua orang yang tetap tegar dan bangkit setelah diluluhlantakkan tragedi.

Boleh saya minta info tentang Myanmar?

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

796 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Rane HAFIED Radio Broadcasting has been his hobby and work for almost 15 years, way back to his college time in Indonesia. For the past 9 years, Rane or also known as JaF has been working at a radio station in Singapore...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 5 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 12 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 15 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 15 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 16 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago