Sebuah penantian yang panjang dan melelahkan ….. hari – minggu – bulan & tahunpun terus bergulir dan tanpa terasa setelah rasa jemu menjadi mati rasa,ironisnya setelah sekian lama menunggu dan yang ditunggu tidak merasa ditunggu.
LALU…….. tibalah hari itu .
Lamunan sesaat tanpa bayar tadi buyar seketika kala aku mendengar teriakan khas batak yang kubenci tapi kurindu sangat. Suara itu pastilah dia si Radja Nami Siregar sahabat karibku. Aku tak ada pilihan untuk memilih dengan konotasi yang lain dari kata rindu…karena aku memang merindukannya. Seorang sahabat & guru hidup yang mengajarkan dan mentransfer ilmunya dengan tulus kepada semua orang.
Seorang sahabat yang suka berdebat, gigih dan pantang menyerah tapi suka mengalah kalau sudah berujung pada saat menjelang jam makan siang….. dasar anak perantau, itulah uniknya sahabatku yang satu ini iya selalu tak punya malu untuk urusan keamanan lambungnya.
Pertemuan nyata kami ter achir sekitar awal Januari 2001 di Bandung dalam pertemuan tanpa sengaja meeting regional se Jabar Ikatan Marketing Retail Indonesia (IMRI).
Akhirnya kita bertemu disini sohib……..betapa sempitnya dunia ini yaa,dulu kau bilang dunia ini tak berbatas & bertepi, tapi atas kehendak TUHAN ( itu katamu juga ) akhirnya kita bertemu di Africa ini dalam dunia yang berbeda.
Sungguh aku belum bisa mencerna dengan baik semua alasan yang telah kau uraikan tadi malam…bahwa kini kau telah menjadi seorang Pendeta dan kehadiranmu ke Kishasa ini bergabung dengan salah satu Congregation Misi Khatolic “ SVD” yang berpusat di Belgium.
AKU memang tak tau persis kejadian apa yg telah kau alami selama 10 tahun ter-akhir ini sehingga harus memilih jalan MULYA atau sekaligus berdaulat/ber-eksistensi kepada Tuhan, tapi keputusanmu akan kuhargai dalam persepsi & pemahaman dengan kebenaran masing – masing sebagai orang yang ber Tuhan. Aku akan selalu berdoa semoga pengabdianmu merupakan pilihan yang benar dan TUHAN kan selalu menyertaimu dalam iman, kesehatan dan hati yang selalu bersih dalam setiap khotbah mu.
Seandainyapun pilihanmu adalah “ sebuah kebebasan “ dari dunia kotor menuju dunia yang lebih religius menuju perjuangan, untuk terjatuh & berdiri lagi demi menggapai kenyataan hidup yang mungkin lebih indah dari impian kita semua, akupun tak tau. Pilihanmu adalah semata hak mu.
Mengenangmu sohib ….. aku ter-ingat cerita lucu ketika kita sama sama diklat di Bumi Secapa TNI Bandung, dalam acara mencari jejak di tanah pekuburan dilokasi Secapa, aku tahu kau sangat pemberani, tapi aku tak pernah tahu kalau mentor kita Letkol Hamzah memberimu tugas sebagai sosok hantu, ketika kau muncul dengan kostum baju & topeng tengkorak, kau pasti ingat AKU merupakan DAN regu Macan Tutul dan bersama rekan lainnya kami lari terbirit birit, tercekat & terjebak dalam suasana “ Halusinasi Bau Dupa Kemenyan “ yang dibakar dilokasi tanah pekuburan secapa tersebut, sebahagian dari kami terjatuh dan terhimpit persis seperti ikan gembung rebus didalam keranjang bakul, kau bisa bayangkan kalutnya kami dalam cengkeraman rasa takut dengan beban ransel ber-isi 20 kg batubata dipundak kami.
“ Serpihan kenang “ tersebut indah sangat merekat erat diantara kita, walau acara Diklat tersebut hanya 2 minggu sesaat, tapi semuanya tak akan pernah ter-ulang, usia kita sudah jauh terbentang dan akupun sudah mulai lelah merajut hari sambil menyisir waktu menjelang dermaga akhir.
SEJAK itu jumpa kangen tak pernah tuntas dalam setiap janji kita para alumni Secapa, berkali – kali telephone, sms & email sudah kita tayangkan. Pastilah semua jua atas kehendak Tuhan pula.
Kemarin aku sudah memperkenalkanmu dengan para TNI / Milobs yang bertugas dalam misi Perdamaian PBB di Indonesian House – Kinshasa, itulah mereka saudara kita sebangsa dan setanah air, dulu kita hanya mendengar slogan mereka sebagai ABRI yang Manunggal dengan Rakyat….. aku pikir slogan yang sama KINI telah kau pikul dengan Derajat sebagai PENDETA kau juga harus dekat sangat dengan para ummat/jemaat Gerejamu….Pendeta yang pandai memikat & merakyat dengan khotbahmu.
Selamat bertugas sohib dalam misimu sebagai Pendeta / Missionaris ….. aku tak akan pernah melupakanmu sebagaimana harapanku agar kau tak pula melupakanku.
Nama & semua kenangan selama aku mengenalmu pasti akan tercatat dalam pintu lubuk hatiku,akan kukunci dan kuncinya akan kubuang dikedalaman Samudera Segitiga Bermuda agar kenangan itu tak menguap atau terkontaminasi oleh hasutan zaman.
Percayalah ….. AKU pandai dan lihay sangat menyembuyikannya,tak akan pernah terhapus, terkecuali tercuri oleh para Malaikat nantinya.
Dimalam yang hening ….. Kinshasa 25 April 2009 : Erfan Ahmad Piliang
Recent Comments
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago