Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Digoda Boda-boda Uganda

11 June 2010, 12:40 , by Maria Adinda

 

Rasanya buanyaak banget yang bisa gue ceritain dari perjalanan ke Entebbe, Uganda kemaren. Seperti diulas pada “part-one’ dari article tempo hari, ijinkanlah gue bercerita sambunganya ya, ini dia… teetoreeettt! (Baca:Bunyi Terompet).

Sebelum masuk memulai konferensi meja kotak-kotak, sempet2inlah berfoto didepan halaman Entebbe Support Base (ESB) yang notabene berkibar dengan megahnya bendera biru PBB di angkasa Entebbe. ESB adalah depo logistik PBB yang mendukung 5 misi pemulihan perdamaian (peacekeeping) PBB, yaitu:

1. United Nations Mission in Sudan
2. United Nations Hybrid Mission in Darfur
3. African Union/United Nations Hybrid Mission in Somalia
4. United Nations Mission in the Central African Republic and Chad
5. United Nations Mission in the D.R. Congo

Terletak disisi Bandara Entebbe lama, depo logistik ini lumayan guede banget, yang mana heli-helikopter putih berinitial “UN” bertengger nggakjauh dari ruang conference kita, bahkan saat conference berlangsungpun suara para peserta harus dibuat nyaring lantang lantaran kalah dengan deru baling-baling heli yang segede gaban itu sedang mendarat.

Inilah sebagian beberapa foto yang berhasil gue jepret termasuk personil military peacekeepers dari kontingen Uruguay yang melintas didepan conference venue:

IMG_8272 IMG_8515
IMG_7768 IMG_9114
IMG_8046 IMG_8168
IMG_8169 IMG_7770
IMG_8223 IMG_8227

Beberapa temen-temen yang ditemui disini selalu menyarankan untuk bisa berfoto di halaman depan ESB, yang dirasa wajib buat pengunjung perdana ke fasilitas UN di Entebbe ini, yang notabene adalah juga sebagai institute pelatihan reguinal UN-PKO (United Nations Peacekeeping Operations) untuk afrika wilayah bagian timur.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan dan mumpung semua orang bersiap-siap masuk ke ruangan jadi gak ada yang liat daku ngeceng sebentar:

IMG_8160

Gue inget banget waktu hari pertama sebelum mulai conference ada briefing dari pihak ESB Security, yang mengulas soal kurs mata uang, jam operasional dispatch bus, security situation dan rencana bepergian ke Kampala. Semua sibuk menyimak dengan seksama:

IMG_9001

IMG_8428

IMG_7834

Boda-boda, masakan apa pula itu?. dalam briefing singkat itu memang dijelaskan bahwa para tamu conference boleh jalan-jalan keluar lahan hotel Lake Victoria, hanya kalau sudah gelap tidak disarankan untuk jalan kaki sorangan, apalagi gadis cantik dan pemalu seperti diriku. ;-p – satu lagi, yaitu dilarang keras menumpak boda-boda.

Boda-boda… Boda-boda, begitulah bunyinya.. rodanya ada dua.. bau kelek supirnya.. “ ngerti sudah mahluk apa itu boda-boda?, dia adalah tidak lain dan tidak bukan adalah Ojek Khas Uganda. Sebenernya nggak ada yang spesial sih dari si boda-boda ini, ojek motor yang nangkring dan bergerombol di sisi jalan dan/atau perempatan di Entebbe, Kampala dan mungkin seluruh pelosok Uganda. Yang jelas, bila dibandingkan mamang ojek langganan gue di Cileduk, masih jauh lebih ganteng dia ketimbang Boda-boda Uganda ini.. dan gue gak segan-segan memeluknya saat naik dibonceng kesana kemari. Namun, maaf kata, untuk Boda-boda yang satu ini, agak ‘jiper’ (Baca: Ngeri juga) kalau udha numpak terus gue kemudian dibawa kabur entah kemana, lalu bau kelek itu udah pasti nempel dibaju gue ini, mesti direndem air kembang jadinya, kacau deh!.

Boda-boda1 Boda-boda4
Boda-boda2 Boda-boda3

Selama seminggu kegiatan dari pagi sampe sore diruang conference venue dan hampir maghrib baru kemudian diantar nyampe hotel lagi, rasanya pengen banget menikmati lingkungan diluar pagar hotel ini.. begitu keluar beranjak sedikit dari gerbang hotel Lake Victoria.. langsung deh si Boda-boda itu, nyamber macam elang persis mau menghadang mangsa..

Dengan deru mesin motor khas buatan China, duduklah dia dimana kedua tangannya mencengkeram stang speda motor itu, dengan frame putih kacamata gelap, terseyumlah dia menyeringai padaku seraya berkata: “Hahubaebeooowazza..wazzaa..” – tau deh artinya apa, kedengeran ditelinga dan yang bisa diingat ya mirip seperti itu suaranya. Mungkin dia ingin menawarkan jasa ojeknya: “Mbakyu, ayo ndisik numpak ojek karo aku.. ta anter mau kemana..”

Tapi tetep aja, gue ngeri.. apalagi liat kacamata putih dan gigi kuningnya itu, yang ada gue bisa dibawa kabur dan nggak dipulangin utuh, berabe khan?. Njawab aja kemudian dengan senyum: “No, thank you..” – sambil ngibrit masuk lagi kedalam.

Menurut penjelasan Roger (a.k.a. Tohir), Boda-boda adalah moda transportasi murah, cepat dan tersedia disegala penjuru Entebbe. Hanya saja faktor keselamatan berkendara dengan Boda-boda tidak dijamin, sebab kalau mereka sudah emosi dengan sesama boda-boda lainnya, mngebut macam balapan di sirkuit sentul pun bisa kejadian tanpa peduli-setan dengan penumpang yang diboncengnya. Si Tohir-pun sering bercerita bahwa sebelum dia naik keatas ojek Uganda ini mesti diwanti-wanti dulu: “Ojo banter-banter nyetirnya, pokoke kalo banter nggak ta’ bayar lho!” – kira-kira begitulah.

Oke, cukuplah tentang si Boda-Boda Uganda yang bawbaw kelek itu. Hari terakhir workshop. Semua peserta dengan semangat pengen spend time dan jalan-jalan ke Kampala, the capital of Uganda. Jaraknya sih cuma sekitar 30km dari Entebbe. Tapi hampir semua orang bilang kalau pergi ke sana bisa berjam-jam karena macet parah. I was curious how bad it can be. Kalo dibanding dengan traffic Jakarta, hmmmm….let’s see.

Ngacir ke Kampala

Akhirnya perjalanan ke Kampala dimulai dan gue dan Paa mbakyu asal Thailand yang juga wakil dari misi PBB di Nepal mendapat kursi kehormatan di sebelah pak supir yang sedang bekerja. Oh no…. sepanjang perjalanan gue berusaha gak narik napas dalem2 ato napas dengan mulut. Man, bawbaw sekali badan-nya si pak supir ini. Gue hampir2 saja muntah ke dashboardnya – berabe banget khan! – sayangnya gue gak bawa itu minyak nyongnyong asli plembang yang bisa gue sumpelin di idung guna menjaga stabilitas dan keamanan perut biar gak —> jackpot tiba-tiba. Tapi demi jalan2, semuanya gak gue rasain dihati. Cukup sampe Kampala aja dan gue langsung aja deh pindah ke kendaraan taxi dimana si Juragan Liberia itu berada. Ah betapa leganya…. dan nggak pake bau kelek bikin mampus itu.

Kesan pertama pas masuk Kampala: “Kok kayak persis di daerah Ciledug ya?”. Asli ampir mirip!!. Kalo traffic sih kayaknya masih kalah sama Jakarta deh. Emang Jakarta tobh markotobh deh soal traffic.

IMG_9287

IMG_9297 IMG_9300
IMG_9319 IMG_9321

Beda dengan Entebbe yang sejuk dan gak berdebu, ini kota penuh dengan debu. Gak jauh bedalah atmosfernya dengan Indonesia. Kalo gak liat orang2nya nan gelap, mungkin gue berasa di Jakarta kali. Pergilah kami ke African Village alias pasar seni dan souvenirnya.

IMG_9354

IMG_9371

IMG_9360

IMG_9361

Berhubung sudah banyak yang dibeli pas di Entebbe, jadi gue udah gak terlalu nafsu belanja banyak disini. Cuma beli satu dua buat ngelengkapi yang belum kebeli aja. Trus kita ke mall paling okeh di situ namanya “Garden City”. Setelah gue dan juragan berkeliling mall dan selesai cuma dalam 5 menit, kami duduk di satu2nya coffee shop di situ. Aduh, jangan ngebayangin macam Kafe Starbucks deh!!. Gak kan ada!.

IMG_9455

The best supermarket is “Uchumi” dan jauh kerenan Hypermarket Carrefour kemana2. Nih mall bener2 segitu doang. gue dan colleague dari Kosovo, Nagham, liat2 sepatu di toko kecil gak ber-ac macam di Pasar Proyek Senen dan pas kita tanya harga sepatunya adalah 160.000 Ugandan Shilling alias US$ 80!! —> Mampus!, buset, mahal amat dan sama sekali nggak worth it buat toko & mall sekecil itu. Udahlah pilihan terbatas, harga mahal nian. Period – gue gak mau belanja-belanja lagi.

Setelah puas muterin mall dan duduk di coffee shop, kita ngeng menuju Serena Hotel for dinner. It was beautiful hotel and the food was great. We had this seafood buffet and lobster for “olyukenit” (Maksudnya: Makan sepuasnya nggak tau malu).

Serena Hotel adalah hotel berkelas paling top di Kampala, dan memang masuk kedalamnya saja sudah diperiksa pake kaca teropong yang mengitari kolong mobil dimana satpamnya dicekeli senapan AK-47, ampun deh!.

Rombongan kita masuk dengan bus charter macam angkot yang penyok-penyok itu, dan turun dilobby restoran. Bellboy yang berjaga didepan gerbangpun agak susah membuka si pintu angkot ini awalnya. setelah masuk kedalam,memang beda ya.. ini dia hotel kelas wahid di Kampala:

IMG_9502

Aduh, kalo gak mikir kenyang dan malu, mungkin dah 6x bolak balik ngambil tuh lobster. Menurut panitia acara, Doudou, enjoying dinner there cannot be more than 50,000 Ugandan Shilling alias USD25. Jadilah I put aside duit segitu dan gak gue belanjain. Tapi ternyata semuanya adalah 80,000 Ugandan Shilling. Ha ha ha… duit di dompet gue tinggal 73rb shilling dan gak ada lebih. Ya sutralah, gue cuma punya duit segitu dan gue bayar segitu. Maaf ya buat sapa pun yang akhirnya harus bayar lebih gara2 nombokin gue.

Ini dia suasana santap malam bersama dengan seluruh delegasi dari misi peacekeeping PBB di Entebbe itu. Seru banget dan ini adlah perjalanan dinas perdana gue yang gak akan gue lupain:

IMG_9514

IMG_9521

IMG_9535

IMG_9537

Itu adalah malam terakhir di Negara Bawbaw. Besok paginya jam 10 perjalanan panjang menuju tanah air dan duty station dimulai. Byebye BawBaw. Somehow I left my heart there & wished to return one day. I don’t mind to be posted there, really. Semoga before end of this year the meeting will be held again. Crossing my fingers.

PS: Sebenernya gue males banget nulis. Selain males, gak tau mau nulis apaan. Gak ada inspirasi. Tapi berhubung ketangkep langsung sama Juragan Kampret di hotel Lake Victoria, langsunglah gue dikasih PR dan harus nyelesein nih tulisan. Peace, juragan :-)

Maria Izilda Adinda Maria Izilda Adinda started her post in UNMIT Timor Leste as Procurement on September 2009. Prefer to be called ‘Jilly’ instead of Maria (don’t ask her where Jilly came from. Not so long story, but too lazy to explain). Born...

Detail Profile »

10  Comments

by Eko Westberg at 12 June 2010, 04:45

Tenyata naik boda boda asik loh…cepoy2…

by Sigit Setiyo Pramono at 12 June 2010, 04:46

Jilly celeb…deh…Salute!

by Luigi Pralangga at 12 June 2010, 04:47

Jilly, akhirnya lengkap sudah ceritamu di Entebbe… ayo siap2 bikin laporan yang beneran-nya ke kantor.. :D

jangan2 dia teringat terus si Mas Boda-boda berbau kelek itu :D

by Tohir Riadi at 12 June 2010, 05:13

Mbak Jilly..asyik nian cerita awak..tapi sayang harusnya dikau coba tuh barang sekejap naik boda bodanya:D

by warm at 12 June 2010, 16:08

perjalanan yg keren
ah kapan ya saya bisa menengok kampung keduanya juragan liberia yg termahsyur di tanah air ini
:)

by Wino Sumarno at 15 June 2010, 08:40

Thanks ya dengan kiriman2nya yang tetap setia…..

Aduh sy nggak sempat ke Entebbe, padahal ada pesawat UN yg terbang kesana walau duduk bersama barang2 cargo, karena kalau di UNMIS prioritynya untuk logistik (waktu itu), kalau sekarang aku nggak tau apa juga untuk personil

Ternyata keren juga Entebbe plus bisa jalan-jalan ke Kampala….Ok, keep contact and sekali lagi hatur nuhun !

Salam Hormat,
Wino Sumarno

by roisnahrudin at 15 June 2010, 19:37

Nenk Adinda…Lha koq ya pas yang macetnya yang dibandingin sama kampoeng Cipete tho…Ayo kapan bisa sempatin dateng ke desa Adshit AlQusayr sini…dijamin gak macet…manusianya guanteng-guanteng dan cuantik-cuantik rek…Peace nenk…

by SSGT Deni Ruyani at 17 June 2010, 04:22

Asslm…………………….

Cerita yang sangat asyik dan mengesankan dari seorang putri Indonesia yang mengunjungi negara antah berantah BAWBAW, tapi rasnya kurang lengkap karena saya tidak mendengar cerita tentang Jinja(hulu sungai nil) asyikkkkkkkk lhoooooo kakkkkkkkkkkkkkkk.

Salam kenal……………..GARUDA….GARUDA…..GARUDA……..

SSGT Deni Ruyani
Liasion Logistic
Indo Eng Coy
Ext : 6239
EMAIL: MONUC-BUN-INDOENG@UN.ORG

by Cipu at 20 June 2010, 19:32

Jil, ada satu hal yang membuat lu selalu enjoy dengan setiap pengalaman lu, kegilaan lo. Hahahahah, everybody will always feel comfort spending time with you. I am sure the boda boda driver feel comfort as well if you want to use their service. I know it might discomfort you, but trying boda boda can be a lifetime experience, right? Hahahaha coz none of us have.

Hope to hear more “gokil” stories from you since I did not get anymore updates from you.

Regards

bunTED :p

by quinie at 20 June 2010, 20:13

huahahaa.. ya jelas beda lah.. dimarih mah tukang ojeknya wangi dan rapih. tapi kalo kelakuan selama perjalanan, juga ada kok yang tanpa ada temennya yang ngomporin, tetep ngebut serasa ngebawa penumpang yang biasa naik F1.
salam kenal.
mampir ke postingan ini karena liat ada komennya cipu disitu :D

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

799 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Kapt Bagus Djatmiko Bagus Jatmiko Born in the city of Madiun, East Java on 20th July 1979, Capt Bagus Jatmiko, SH, joined the Indonesian Navy in 2001. After being deployed in various missions in Indonesia, he is currently serving as French Interpreter Officer in the...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 6 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 13 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 16 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 16 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 17 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago