Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Diplomasi kuliner itu berlanjut

4 April 2010, 07:40 , by Luigi Pralangga

 

Dikepala ini masih teringat jelas bagaimana saat si kampret ini berusia 15 tahun, ia terbang ke Jepang untuk mewakili sekolahnya pada sebuah program pertukaran pelajar. Segudang kenalan baru, keluarga angkat dan sahabat yang dijabat sejak itu. Termasuk diantaranya pemahaman budaya asing danbagaimana pola pikir orang-orang di luar kampung si kampret itu menjalani kehidupannya dan bagaimana mereka beranjak dengan keseharian serta membangun impian mereka masing-masing. Kesempatan petualangan luar negeri perdana si kampret saat itu memang menyuguhkan kesempatan ‘pertukaran kebudayaan dan pemahaman budaya asing’ dalam bentuk langsung dimana ini benar-benar sebagai pembuka mata wawasan.

Semenjak fase itu, kadar ‘pede’ (Baca: Percaya Diri) didukung dengan kemampuan berbahasa asing yang membaik, membuat misi pribadi untuk mejelajah dunia semakin berkibar yang akhirnya mendaratkan si kampret ini pada jenis pekerjaan seperti saat ini. Dari perjalanan fase awal berlanjut hingga berikutnya, satu kesamaan dari jenis pendekatan hubungan antar budaya yaitu diplomasi kuliner, dimana perihal kuliner itu adalah elemen yang memiliki nilai minat kesamaan (Common Interest Values) yang lebih besar ketimbang lainnya.

Suasana santai dan bersahabat terjalin diatas meja makan dengan hidangan beraneka ragam. Sesi makan malam inilah yang biasanya kemudian mencairkan ketegangan dan urusan sakit-kepala saat berinteraksi perihal urusan dinas di kemudian hari.

Home Cooking 081

Riverview 335

IMG_2294

IMG_2322

Bekerja pada misi PBB, seperti di Liberia ini, dengan rekans dan sahabat satu penugasan misi yang beragam, menjadikan si kampret ini benar-benar terekspose dengan citarasa masakan mancanegara yang bermacam-macam. Tentunya tidak semua masakan negara asing itu cocok, dan menjadi favorit di lidah ini, tetap saja aja jenis masakan atau minuman yang rasanya amit-amit. Entah apa namanya, sebuah minuman khas dari India yang rasanya persis seperti kuah sayur sop, asin begitu dengan sejenis gorengan tepung yang mengambang diatas permukaan disajikan dengan pecahan es-batu. Kelihatan eksotis bila dilhat, namun: Huaaah! – begitu diteguk, rasanya pedes-bikin-batuk ingin disemburkan langsung. Namun apa daya, sesi pertukaran budaya melalui sajian kuliner ini tidak boleh sedramatis itu, jadi diteguklah itu si-“es sayur sop” itu dan meletakkan kembali diatas meja seraya berkata: “It tastes a bit different.. from the way it looks”.

Memasak bersama atau saling menghidangkan jenis masakan antar negara dari para staff peacekeepers, adalah salah satu cara diplomasi yang dirasa cukup ampuh untuk membuka tantangan koordinasi pada urusan pekerjaan pada keesokan harinya, atau malah untuk mendapatkan dukungan keahlian mereka pada suatu project yang mungkin dilaksanakan bersama dan/atau antar departmen.

Pada banyak kesempatan, si kampret ini lebih sering memutuskan untuk memasakkan para kolega dan sahabat mission-nya hidangan masakan nusantara, selebihnya mendatangi undangan santap malam dengan hidangan khas negara si pengundang.

IMG_7846

Memasakkan menu semisal Sayur Lodeh dengan bantuan bumbu instan dari kampung halaman dengan berbagai improvisasi bahan yang tersedia di daerah misi, atau gulai rendang, sate ayam, nasi goreng dan beberapa menu sederhana lainnya ternyata mampu membuat landasan kekerabatan yang kuat untuk perihal lainnya.

IMG_9913 IMG_9918

IMG_9920

Tidak jarang mereka menjadi mulai gemar berbahasa atau membunyikan kata-kata dalam bahasa Indonesia dari bungkus kemasan si bumbu instan itu, atau menyapa saya dengan panggilan mister nasi goreng, atau mister sate ayam dan sebagainya. Paling tidak, budaya dan nilai-nilai pemahaman akan “Indonesia” itu sudah perlahan masuk dengan cara yang bersahabat dan menyenangkan. Tidak sedikit dari mereka yang purna tugas acapkali berkirim khabar sembari diujung email mereka menanyakan bagaimana cara dan resep membuat nasi goreng tadi.

Kejadian lain adalah, saat salah satu acara kantor memintakan si kampret ini untuk menyumbangkan sebuah masakan dimana rekans lainnya juga menyajikan hidangan serupa dari negaranya, tanpa pikir panjang maka dipilhlah sajian khas sate kambing dan sate ayam, karena selain mudah mendapatkan bahan daging tersebut, bumbu kacangnya menggunakan selai kacang yang umum dipakai sebagai selai roti tawar, mau cari bumbu kacang khas Indonesia mana ada di Liberia?.

Dengan bantuan ‘Bedinde’ trampil, Sarah Susuna-Nangtung yang sudah pandai memasak masakan Indonesia, membantu persiapan membakar sate, tentunya disponsori oleh:

Riverview Life 036

Membuat sate ala Indonesia, apalagi di daerah misi seperti ini, mesti pintar-pintarlah mencari alternatif, selai kacanglah jadi pilihan dengan dicampur sedikit bumbu-bumbu dan kecap manis yang masih tersedia cukup di ruang harta-karun lemari penyimpanan ini.

Riverview 007

Disaat acara digelar, ada sekitar 100 orang para staff PBB hadir, si hidangan sate itu adalah masakan yang paling cepat ludes-nya sampai si kampret ini nggak kebagian sama sekali. Di akhir acara, si kawan tuan rumah, mencari si kampret ini, ada apa gerangan? . Nampaknya salah satu kawan baik-nya, staff senior misi asal Nigeria diperkenalkannya kepada si kampret ini dan langsunglah tanpa ba-bi-bu berkata dengan semangat: “Seumur hidup saya tidak pernah mencicipi daging panggang seperti ini lezatnya, empuk dan sausnya aneh sekali namun enak..!!” belum sempat si kampret ini kembail menjawab pujian itu, dia tidak berhenti nyerocos dan berkata selanjutnya: “Besok minggu depan, kita akan merayakan hari kemerdekaan kita dan saya ingin sekali bisa menghidangkan daging panggang seperti ini.. bagaimana kalau dirimu bisa bersedia memasakkannya untuk kita?… akan ada sekitar 300 orang yang akan hadir, saya akan bayar semua biayanya yang diperlukan…”

Dalam hati langsung berkatalah: “Mampus!! – masak sate untuk 300 orang, weekend saya bisa lenyap menguap dihabiskan di dapur memasak dengan arang, cape dan bau asap…”, akhirnya secara diplomatis si kampret ini menjawab: “Dengan senang hati saya akan berbagi resepnya padamu, dimana pasti racikan daging panggangu akan lebih enak dari malam ini.. – saya akan kirimkan via email ya resepnya” – dan buru-buru deh ngacir. Badan bisa bongkrek (Baca: Remuk) jika masak untuk satu batalion, untuk temen-temen deket sekitar 4-5 orang sih nggak masalah… :D

Mengundang makan rekan kolega untuk mencicipi hidangan nusantara di tempat akomodasi sendiri sangatlah berbeda dengan memasakkan masakan nusantara di dapur orang lain. Si kampret ini memang cukup perhatian dengan kebersihan dapur dan tatanan akan bagaimana perkakas masak itu disimpan dan lain sebagainya sehingga dapur itu terlihat resik dan bersih, maka semagat memasak itu berkibar tinggi.

Fleksibilitas nampaknya menjadi cobaan saat salah satu sahabat dekat di misi ini sedang tidak sehat dan si kampret ini berinisiatif untuk datang mengunjunginya dan memasakkan masakan Indonesia agar dia lekas sembuh dan terhibur, namun melongok dapurnya yang serba ‘Naudzubillah’ jorse-nya (Baca: Jorok Banget) kadang menjadi males. Memasak di ruang dapur yang redup dan perkakas yang nggak jelas juntrungan disimpan dimana dan kebersihannya. Belum lagi fasilitas ledeng (Air Keran) yang cuman sekedar hiasan dinding saja, alias air untuk cuci-kukumbah dan masak diambil dari gentong atau drum besar disudut ruangan yang gelap itu. Namun, akhirnya masakanpun berhasil dihidangkan dan habis disantapnya. baju ini bau asap dan aroma bumbu melakat di baju sudah bukan aneh lagi, yang penting si kawan bisa terhibur hari itu. Memang saat sedang tidak sehat begitu, kunjungan sahabat itu bisa meringankan beban psikis.

Diplomasi kuliner, memang terbukti keampuhannya, paling tidak untuk kita-kita yang bertugas di misi PBB ini, dimana ungkapan seperti: “Meals makes us closer together” pas sekali analoginya. Nampaknya pendekatan ini akan terus diterapkan si kampret ini kedepan.

Home Cooking 088

Bagaimana dengan kawan-kawan disana.. ayo ceritakan pengalamanmu!. Terima kasih sudah sempat membaca habis dan membubuhkan komentarnya disini.. Salam hangat dari afrika barat.

Dody Muhtar Taufik Dody Muhtar Taufik, currently holding a rank in Major Cavalry. Graduated in 1995 from Indonesia’s military academy, Possesses various military course to include Basic Armor, Staff Officer’s Course, Para Trooper and several other to include the latest in Civil Military...

Detail Profile »

12  Comments

by tuty herman at 4 April 2010, 08:16

duuuhhh si akang…keep smiling kang. Pernah gak kehabisan ide mo masak apa. he he he

by Luigi Pralangga at 4 April 2010, 08:20

@Mbak Tuty: Nuhun pisan udah ditengokin.. iyah nih.. kudu bisa improvisasi. Kemaren masak sop kambing dengan sayur campur aduk (kacang polong, kacang panjang, dan kentang) pokoknya nutrisi terjaga, 4 sehat 5 kenyang dan 6 bahagia selama di misi sambil menghitung hari menuju jadwal cuti mudik :D

Kumaha diditu masak apa hari ini?

by Lulu K. Flint at 4 April 2010, 08:33

Lui…improvisasi bahan masakan mau gk mau mmg hrs bs klu tinggal dinegri lain ya..
Disini jg pas dulu baru sampe (12 thn yg lalu) sering bikin bumbu sate pk peanut butter..Tetep enak kan..:)
And pernah nggak bikin opor ayam and nggak punya kemiri ?
Pk kacang tanah mentah jadinya deh..whuaa…

Happy cooking Lui..
Jd lapar euy..

by Harri at 4 April 2010, 08:45

<quote>“It tastes a bit different.. from the way it looks”.</quote>

Sangat diplomatis kang. Btw knp ga bikin sate kambing bumbu kecap, biar yummy.

Ga kebayang es kuah sopnya.

by Hendriko at 4 April 2010, 09:21

Jauh2 masih nyari indomie rebus/goreng gi?. Udah gt kecap Cap Banggo jg dibawa?. Indonesia memang surganya rempah2 ya…?

by Dewi at 4 April 2010, 20:21

Betul-betul binangkit. Lanjutken diplomasinya kang! :‘D
oia, sudah pernah nyoba bikin kue belum kang disana?

by Hairudin at 5 April 2010, 00:49

Hebat euy si akang, selain jago nulis ternyata jago masak juga tah. Kumaha kang kabarna?

by Dedy Farhamsa at 6 April 2010, 00:04

Wuaaah… jadi lapar. Bikin nasi goreng dulu ah.

by Nazieb at 6 April 2010, 01:59

Ha, pasti mereka belum mencoba rendang yang rasa rempahnya meledak-ledak? Bikinin satu dong, kang :D

by Yudha PH at 6 April 2010, 08:27

Diplomasi kuliner memang mak-nyus, dan sangat penting.
Kalo perut sudah kenyang, pikiran jadi jernih.
Kumaha damang?
Semoga kang Luigi sehat2 saja di liberia sana.

by Deded Wardi at 8 April 2010, 23:37

Kang… Untuk Lidah memang ga bisa boong.. Indonesia itu memang surga nya Makan enak…

by Lia Ishadi at 10 April 2010, 03:52

Kang Lui….
tanggal 21 April Bapak mau ke Berlin, trus pulangnya mampir ke Beirut. Kali aja temen2 UNIFIL disana pengen nitip2 makanan Indo…hihihihi….
Tapi aku bilang Bapak dulu yaa…mau gak direpotin gitu :p

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

0 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Nana SETIAWAN Major Nana SETIAWAN was born in Karawang, West Java on 25 June 1972. Married with 2 children. Graduated from the Indonesian Air Force Academy in 1996. Undergone several training; Parachute Deployment in 1994, Combat freefall in 1998, Kopassus’ Commando...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 7 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 10 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 10 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 11 days ago

TNI Bantu Clearing Landasan Helipad di Dungu
(Dungu-Kongo, 19/01). Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Kompi Zeni TNI Kontingen Garuda XX-I/MONUSCO dibawah pimpinan Letnan Kolonel Czi Sapto Widhi Nugroho selaku Komandan Satgas (Dansatgas) di samping tugas pokoknya memberi bantuan Zeni kepada Divisi Timur Brigade Ituri MONUSCO (Mission De L Organisation Des Nations Unies pour La Stabilization en Republique Demokratique du Congo) diantaranya mengerjakan jalan Dungu-Duru sepanjang 38 Km dan pemeliharaan Runway, juga melaksanakan clearing di sekitar landasan Helipad di Dungu agar tetap terjaga kebersihannya serta tidak mengganggu helly pada saat take off maupun landing, Rabu (18/1/2012).
Sulikan , 13 days ago

 

Recent Comments

frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Sameer commented on Makhluk Tuhan Paling Sexy di Nepal
a few seconds ago


sutiana commented on Tibet dan romantisme putus cinta
a few seconds ago