About This Post

Tri Ambar NUGROHO

Correspondent Tri Ambar NUGROHO

Total 7 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 174 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 5.5/10(2 votes cast)

Articles

Disini: Dangdut itu terasa nikmat dan gurih sekali!

Hari itu hujan deras campur gludug, dia ramai dar-der-dor dilangit sana, sementara kita-kita hanya bisa berteduh dibawah lindungan kontrakan beratapkan lembaran seng yang berisik sekali bunyi-nya tertimpa derasnya curah hujan: “ratatatatatatatatatataa…” begitulah bunyinya.

Ya, suara hujan dan dentuman yang menghujam atap seng rumah dimana kami berteduh. Waktu itu, ada Mas Hilman dan Mas Luigi – selain si kampret ini. Waktu itu adalah hari Minggu sore, dimana bagi kebanyakan dari kita di tanah air – hari minggu sore adalah hari yang terasa seperti di Syurga (halah – Hiperbola sekali kamu!).

Ya .. bagai di Syurga – mengapa tidak? Bayangkan, biasanya hari Minggu sore itu adalah jadwal wajib nangkring dan bercengkerama, kalau bukan bersama keluarga di rumah, ngobrol ngalor-ngidul dengan sanak famili dalam sebuah acara arisan keluarga, dan/atau nangkring bersama kampret sepergaulan di deret bangku-meja kafe tongkrongan kelas wahid di bilangan Jakarta itu – sambil ramai kedua bola mata menyatroni dara-dara manis yang berseliweran dilajur promenade shopping mall itu.. (Gawat! – menetes sudah air liur ini – membayangkannya! – Setaaan!)

Oke, kembali ke realita, Sodara – sodara!
Waktu itu, listrik dirumah kita (Maksudnya rumah kontrakan Milobs Indonesia) masih mampus, cahaya remang-remang sore masih berbaik hati dan mau menerangi ruang didalam, kita bertiga masih sibuk wara-wiri keluar masuk antara ruang tamu dan dapur. Sebuah kegiatan standar, apalagi kalau perut ini sedang dilanda kelaparan dari habis setengah hari beraktivitas diluar.. salah satunya belanja sembako mingguan dari satu supermarket kepada berikutnya.

Berburu bumbu dan bahan makanan yang sudah pasti jauh dari ketersedian ragam layaknya di kampung halaman. Mie instant yang tersedia disini sudah pasti terasa aneh di lidah kita yang terbiasa dengan citarasa nusantara. Bumbu dapur, sudah beruntung bertemu yang serupa, sisanya banyak jenis rempah ala India – dimana kalau dibuka tutup kemasan-nya, guna memastikan apakah ini serupa dengan bumbu ketumbar atau bumbu dapur di kampung, aromanya malah kok persis dengan bau ketek orang India yah? – Wah nggak jadi deh beli!

Sepanci penuh mie dan udang rebus, dengan improvisasi bumbu masak ngawur (Perhatian: Hal ini tidak berlaku pada masakan yang dimasak oleh Mas Hilman) ditambah dengan berbagai gaya penyajian, lengkap sudah menu makan malam kita. Uap panasnya mengepul ke udara – merebak ke sekeliling ruangan, ditambah dengan irisan cabe rawit yang merasuk ke rongga hidung ini, benar-benar membangkitkan selera.

*Hore!! * – listrik dirumah menyala, nampaknya si juragan kontrakan di rumah sebelah juga sudah mulai sepet juga matanya karena sudah tidak bisa melihat lebih baik dalam kegelapan. Maka hidanganpun terlihat manis tersaji diatas meja makan dan tentunya terasa lebih menantang.

“Ntar dulu, ujar Mas Hilman..! – masih ada yang kurang..!” , mengkerutlah dahi dan melengkunglah kedua alis mata ini jadinya.

Apalagi yang kurang ya? – nasi sudah matang tersaji, piring-sendok-garpu sudah ada.. – begitulah pikir dalam benak ini.

Sambil bergegas menuju rak dimana TV dan DVD player itu berada, ternyata beliau kemudian memasang musik pengiring santap malam. Bukanlah alunan melodi musik klasik ringan ala Mozart dan/atau Beethoven, melainkan alunan merdu musik dangdut yang dibawa-nya sebagai pengobat rindu.

Bang Thoyib, itulah judul lagu perdana yang menemani santap malam ditengah hujan gluduk saat itu – lebih baik ketimbang mendengarkan ramai-berisik suara atap seng dengan dentuman derasnya air hujan.

“♪..♫.. Bang Thoyib… Bang Thoyib… ♪..♫..♪..kapan pulang?” – begitulah kira-kira lirik sajak lagunya ;-)

Kok persis ya dengan sutuasi yang saya dan kawan-kawan di misi ini? (Jarang pulang). Ramailah gelak-tawa ini jadi-nya.. membicarakan wanita-wanita terkasih yang sedang berada nun jauh di kampung halaman serta romantika kehidupan sembari ditemani alunan musik dangdut itu. Entah kenapa, kok tiba-tiba dengan iringan musik dangdut itu, hidangan santap malam kita terasa lebih nikmat dan gurih ya?

At times, I think Dangdut is stupid – but I listen to it, anyway..

by Domba Garut! at 12 January 2008, 16:55

Gua sukaa banget ama yang satu ini:

“At times, I think Dangdut is stupid – but I listen to it, anyway..”

Jangan2 dia koleksinya lengkap nih.. coba hibahkan dulu kepada tim KONGA XXI-5 yang baru ini, nampaknya mereka nggak bawa bekal lagu dangdut nih!

Tarik, maang!… Yiihaaaa…. :-)

by andri at 13 January 2008, 00:49

dapur bersejarah, mulai dari dari ayam gosong sampe daging kambing yg nggak bisa mateng dimasak berjam-jam.
Tapi dibawah kan ada restoran, klo dah capek tinggak order ato makan kebawah. Rumah di Sinkor kiranya layak dipertahankan.

by joseph at 13 January 2008, 22:41

Rombongan mereka (KONGA XXI-4), dikasih lagu apa pun makanannya terasa enak. Wong mereka emang doyan maem. Liat aja postur mereka bertiga yg melebar.. Beda dg rombongan baru yg memanjang (kerempeng?), karena dikasih lagu apa pun dipake untuk senam……

by Puguh H.J Pamungkas at 15 January 2008, 17:59

Ya pokoke Dangdut is the Music Of My country ya mas Tapi jangan lupa pulang juga ya mas……..

by didut at 21 January 2008, 13:53

pasang kucing garong pasti lbh hot tuh :P

by loper at 15 February 2008, 21:57

emang tidak ada yang lebih gurih selain melihat liukan penyanyi bang thoyib …hahahhahaha

by ET at 18 February 2008, 15:25

Meskipun saya bukan penggemar dangdut, tapi kalo lagi ‘stress’ banyak kerjaan, dengerin lagu dangdut enak buanget !!
Apalagi untuk Bapak2 yang lagi tugas di negara orang… jadi kangen keluarga ya pak ?