Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

E-mame!, I think I've got it! [From STD to HIV/AIDS]

2 December 2008, 18:46 , by Luigi PRALANGGA

 

Sudah lama memang saya berkeinginan mengulas perihal yang satu ini.. Memang sensitif namun itu adalah fakta yang harus diterus-terangkan. Hampir rampung 5 tahun saya bertugas disini, sudah pasti selayaknya seorang pria (baca: Laki-laki) yang senantiasa punya hasrat yang melonjak-lonjak akan lawan jenisnya, perihal “urusan isi celana dalam” adalah merupakan topik hangat yang tidak pernah bosan untuk dibahas, antara sesama kolega sekantor, rekan se-negara dan terus sampai ke sang pasangan.

Sudah mulai senyum-senyum, khan? – baik, kita mulai yah cerita seru ini.. untuk melindungi hak privasi narasumber, kita sebut sajalah dia namanya: Marveen Khreepeekhanjhoot.

Saya tidak begitu mengenalnya secara pribadi, meski dia adalah staff IT yang senantiasa datang berkunjung ke gedung tempat saya bekerja, sangat piawai membantu urusan komputer lelet sampai ke koneksi jaringan yang sering kali batuk-pilek. Maklumlah kita disini terhubung dengan koneksi internet dan jaringan data melalui protokol microwave-links yang notabene kalau sudah hujan gludug – langsung deh jadi lelet dan putus.. disitulah si kampret ini kemudian berteriak menghubungi IT Helpdesk dimana si Mamang Khreepeekhanjoot itu datang menolong.

Sepintas lalu dia adalah pria yang menyenangkan, ramah dan tidak keliahatan berangasan, dengan kepala bersorban kain biru, gimana sih layaknya pria dari suku Singh. Anaknya kecil kurus, meski badan-nya bau bawang stadium akuut, tercium nyaring saat dia berada di kolong meja memperbaiki kabel komputer itu – saya harus berdamai hati dulu sampai dia hengkang jauh barulah kemudian menyemprotkan air refreshner di ruangan. (Jahat sekali memang saya ini!).


Salah satu pesta-pesta internal para staff mission itu.

Pesta demi pesta, acara gathering sana dan sini, sosok Mang Khanjoot _ sering terlihat dan acapkali dekat-intim dengan beberapa gadis muda setempat (Maksudnya: Wanita muda Liberia). Tidak dipungkiri bagi semua staff yang bekerja di daerah pasca konflik, baik itu pria-wanita, sipil-militer, apapun statusnya di _katepe masing-masing, semuanya berubah menjadi ‘lajang’ (meski di kampung/negara asalnya mungkin sudah beranak-3) dan bergantung pada individu dan gaya hidup [perilaku sex] masing masing apakah status ‘lajang jadi-jadian’ itu kemudian membuat mereka bebas untuk menjalin hubungan dengan siapa-saja.


10,000 personil militer lengkap dengan urusan hajat-nya masing-masing.

Kehadiran lebih dari 10,000 personil military peacekeepers dan sekitar 1,000 staff sipil PBB dibawah naungan UNMIL di Liberia, yang notabene kebanyakan dari personil itu adalah para pria..

Ya, pria-pria yang sudah pasti jelalatan mata (dan hasratnya) tiap kali ada wanita dengan sepasang “bujur” _ atau “wadah-cai” _(maksudnya: payudara) aduhai, sudah pasti leher mereka berputar hampir 360 derajat mengikutinya.

Ya, dan si kampret ini adalah termasuk diantaranya!.


Hello, nama saya Joni – kok kamu mirip sekali dengan Dian Sastro, sodaraan ya?

Pria-pria yang karena situasi penugasan ini kemudian mendadak berubah menjadi “lajang”. Tidak dipungkiri, terutama mereka personil militer yang mungkin lebih banyak ‘restriction’ atau batasan selama mereka masih bertugas di negeri asal di kesatuan-nya – begitu mendarat disini langsung deh matanya melotot hampir mau loncat keluar dengan lidah yang menjulur ke bawah sembari terus “ngacai” bak ilustrasi mesin kasino yang muntah terkena hit jackpot.

Meski tidak semua begitu, paling tidak begitulah kisah yang saya dengar dari rekan-rekan staff sipil wanita yang si kampret ini kenal baik dan dekat (yang tentunya berparas aduhai) saat mereka berpapasan dengan mereka dari kontingen peacekeepers Pakistan, misalnya.

Hey, lighten up! – they’re just perhaps admiring you! – begitulah bela si kampret ini.

Kembali ke cerita si Mang Khanjoot itu, Tidak lama berselang, sebulan sebelum si kampret ini cuti mudik yang baru saja berlalu ini, sempat berkunjung ke rumah salah satu kawan, seorang staff warganegara Thailand yang juga adalah rekan serumah si Mang Khanjoot ini. Sebutlah si kawan Thai saya ini bernama, Charbool Rashanamphool. Saya dengan si Mas Charbool ini selalu bertukar resep masakan dan bumbu-bumbu masak, apalagi saat dia kembali dari cuti, selalu banyak membawa oleh-oleh yaitu seabrek bumbu masak instan, macam si Bumbu Indofood-lah.

Perlu diketahuai bahwa, selain perihal wanita, makanan adalah salah satu topik pemersatu para pria ‘mendadak lajang’ ini.

Selain urusan suplai bumbu masak, si kampret ini pun banyak dibantu Mas Charbool untuk urusan reparasi laptop yang dipakai ngeblog ini bila ada masalah, maka datanglah saya kesana, sembari dia utak-utik, dari teras menjepretlah banyak foto-foto pemandangan sekitar dimana apartemen mereka berada di lantai 4, pada perempatan jalan Benson dengan Center street, terbilang kawasan pusat kota Monrovia dan pasar tumpah jadi-jadian pun sering digelar disana.


Dengan Mas Charbool di teras depan

Diruang tamu terlihat si Charbool sedang berbincang dengan si Khanjoot, sementara si kampret ini sibuk motret kesana kemari dari balkon. Tidak lama kemudian bergegaslah ia (Mang Khanjoot) keluar apartemen nampak terburu-buru, entah mengapa.

Hey, what’s with him rushing?”, tanya saya.

Dunno, exactly – he was just asking whether I have some anti-itching cream and pain killer tabs”, jawab si Charbool.

Is he bitten by insect, mosquito or something? – to me he looks not well indeed”, balas si kampret ini.

No.. I think he’s in a deeper shit.. I told him so to avoid these girls from the first place.. but, he took shit to even listen.. and he’s going home on leave this weekend.. definitely his wife may not be glad to learn any of this crap..”, jelas Mas Charbool.

Dengan jeda nafas, kemudian ia (Mas Charbool) mulai bercerita bahwa sekitar seminggu lalu, si Mang Khanjoot rajin mengundang beberapa teman wanita lokal (maksudnya: Wanita Liberia) berkencan dan menginap.

Meski yang diceritakannya adalah sebatas cerita kekesalan bahwa tamu-tamu gadis itu kerap menyikat habis makanan dan bir tersimpan di kulkas milik si Charbool ini saat lewat tengah malam, namun si kampret ini kemudian faham bahwa nona-nona-hitam-dan-mungkin-kemudian-terlihat-manis-karena-sudah-berbulan-bulan-menahan-hajat adalah kemungkinan besar carrier atau pembawa penyakit “gatal-gatal” didalam retsleiting itu.

Sudah maklumlah bahwa perihal berkencan dan menginap ini sudah pasti bukan untuk bermain ucing-sumput (Baca: Petak Umpet) atau sekedar main catur dan semisalnya. Sudah pasti hanya untuk urusan assooy melepas hajat secara sembarang dan beresiko.


Beberapa papan billboard tentang bahaya HIV/AIDS


HIV/AIDS Berbahaya: Ah itu urusan belakangan!


HIV/AIDS: Alamak!

Dalam banyak ulasan, paparan dan beberapa publikasi oleh UNICEF, UNFPA, UNAIDS dan WHO, menjelaskan bahwa daerah pasca-konflik adalah sarang prostitusi dimana dengan deras masuk-nya jumlah orang asing/pendatang yang masuk dibawah naungan misi kemanusiaan danlain sbeagainya, dan siapapun berada didalamnya, baik itu populasi origin, pendatang termasuk semua personil militer kontingen peacekeepers dan expat sipil macam staff PBB memang rawan sekali dari terjangkit PSK/STD (Baca: Penyakit Seksual kelamin/Sexually Transmitted Desease) dan sampai resiko tertular HIV/AIDS.

Belum lagi faktanya bahwa lebih dari 33% penyebaran HIV/AIDS itu berada di benua Afrika, dan Liberia adalah salah satu negara didalamnya. Mengerikan, bukan?!!!!.


Remaja putri: Rentan kontraksi HIV/AIDS dari luar.

Acapkali, host population – terutama anak-anak perempuan remaja adalah rentan terhadap kontraksi HIV/AIDS yang dibawa oleh pendatang. Karena faktor himpitan ekonomilah penyebab utama terdapat tidak sedikit dari mereka yang kemudian mengambil jalan pintas terjun ke dunia prostitusi, terutama ditujukan pria-pria (hidung belang) asing itu.

Itulah mengapa saya ingat betul saat minggu pertama mendarat di Monrovia, saat mengikuti Induction Training, yaitu training awal yang wajib diikuti oleh semua staff (Sipil, Militer, Konsultan dan Kontraktor) yang bernaung dibawah UNMIL dimana salah satu materi dan session-nya adalah HIV/AIDS dan the Do’s and Don’ts dalam perihal ‘isi celana dalam’ ini selama masih bertugas di daerah misi peacekeeping ini.


Mission assignment: Honey, saya nggak akan bandel, kok!

Kalian bertugas disini adalah juga senantiasa berjanji untuk mampu menjaga status HIV/AIDS [Negative] masing-masing. Bila saatnya tiba untuk cuti mudik – maka pakai dan terbanglah pulang ke kampung halaman-mu disanalah lepas-puaskan dengan pasangan tetapmu..” – begitulah seru HIV/AIDS Adviser, Kolonel Joyce Puita sembari tangan kanan-nya mengacung-acungkan sebuah dildo yang sudah terbungkus licin oleh sebuah kondom.

Ya, si kampret ini masih ingat betul saat itu, sembari salah satu session dari pembekalan HIV/AIDS ini menyajikan slide foto pasien yang terkena penyakit semacam Syphillis, Gonorrhea, Genital Herpes dan seabrek nama-nama sebutah PSK yang lidah ini susah sekali mengucapnya, namun sudah merinding melihat slideshow yang secara gamblang menunjukkan ‘burung’ seorang pasien STD yang bentuknya sudah nggak keruan lagi; bonyok nggak jelas, persis terong yang tergilas ban truk! – belum lagi gambar kelamin wanita yang mirip telur ceplok gosong begitu!.

Wah, sudah deh – jadi hilang tuh nafsu meski disodorkan Seorang Julia Perez menari-nari bugil didepan hidung ini —> nggak bakalan “bangun deh!”. Tidak sedikit dari peserta Induction Training itu yang tidak bisa menikmati santap makan siangnya lantaran terbawa gambar ‘telor ceplok’ itu. Kacau deh!.

Dengan semangat berapi-api layaknya tukang obat diterminal Blok-M itu, didepan peserta training, sang Kolonel itu kemudian berkelakar begini:

E..mame! – I think I’ve got it” (Ee, My man, sepertinya saya ketularan!)

That night when I met her, she looked OK and seemed to be healthy-Ooh!”

Sembari tangan dia terus memegang-megang daerah retsleiting celananya. Gelegar tawa semua peserta training kontan sudah tidak tertahan lagi. Pihak administration UNMIL meski sudah menganjurkan berkali-kali dalam kampanye internal memerangi HIV/AIDS kepada seluruh peacekeepers dan menyediakan seabrek-abrek dispenser kondom di setiap toilet yang ada didalam fasilitas kompleks gedung, tetap saja kendali akhir itu ada dan berpulang pada keputusan masing-masing individu.


HIV/AIDS: ABC Rules – Abstinence, Be Faithful & Condomize


Stay Safe: Whenever and Wherever

HIV/AIDS is real.. therefore keep the promise..
Keep the promise to avoid being contracting with one..
Keep the promise to be faithful..
Keep the promise to practice safe sex..
keep the promise to advocate others..

Saya lupa persisnya, namun saat menulis posting entry ini, teringat saya akan sebuah email yang dikirim salah seorang pembaca setia situs web peacekeepers ini, seorang ibu muda, dari emailnya mengaku tinggal di Medan, dari sekian baris kalimat dalam email itu, ia kemudian bertanya kepada saya pada emailnya: “Mas, sampeyan bagaimana caranya kalau sedang jauh disana terus menjadi kepengen banget.. untuk itu-tuh..?” – si kampret ini hanya senyum-senyum sambil kemudian tertawa lepas membaca pertanyaan itu.

Sudah dijawab kok via email, dan terima kasih atas pertanyaan-nya – demikian saya tutup balasan email waktu itu.

Bagi para staff sipil yang bergelut di daerah misi (pasca-konflik), untuk kita-kita di UNMIL, diberikan jatah rehat yang umum disebut (R&R) Rest & Recupperation, atau (ORB) Occupational Recupperation Break, dan bagi perwira Military Observer namanya CTO (Compensatory Time-off), yaitu 5 hari kerja (7 hari kalender) yang sering dikombinasikan dengan jatah/tabungan cuti tahunan untuk dipakai untuk pulang terbang mudik ke kampung yang salah satunya bisa dipakai untuk mengadakan hajatan “mbelah duren” dan hajatan lain-nya. Begitulah salah satu response saya pada email untuk ibu tadi.

Ohya, ada yang bisa bantu njawab mungkin ada masukan lain?

PS: Bun, kapan ya disana musim duren tiba?. Tolong kasih tau yah.. saya mau cuti nih untuk panen.. – love you!

Dody Muhtar Taufik Dody Muhtar Taufik, currently holding a rank in Major Cavalry. Graduated in 1995 from Indonesia’s military academy, Possesses various military course to include Basic Armor, Staff Officer’s Course, Para Trooper and several other to include the latest in Civil Military...

Detail Profile »



Join Us

join our group in Facebook

Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

530 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Hari MULYANTO Lieutenant Colonel Mulyanto was born in Nganjuk, East Java, Indonesia in 1969. After he finished his formal education of high school in 1987, he joined the Indonesian Military Academy as Cadet. In the year of 1991 he was...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Love to life
I would never regret to mark this day as one of most beautiful and important mile stone in my life. I fall in love again this very day. Never thought... »
Joe Juferdy , 1 day ago

Polisi Militer PBB study banding ke Satgas POM TNI
Sebanyak 7 orang peserta Kursus Instruktur Polisi Militer PBB (UNMILPOC) mengadakan study banding ke Markas Satgas POM TNI Konga XXV-B/UNIFIL di UN Posn 7-3 Blat, Lebanon, Rabu (03 Februari... »
Muhammad Dahlan , 5 days ago

Mayor CPM Johny paul Johannes Pelupessy: Komandan upacara sertijab Komandan UNIFIL
Mayor Cpm Johny Paul Johannes Pelupessy , Pasi Log Satgas POM TNI Konga XXV-B/UNIFIL mendapatkan kepercayaan menjadi Komandan Upacara pada Upacara Serah Terima Jabatan Komandan UNIFIL ( United Nations Interim... »
Muhammad Dahlan , 8 days ago

Akhir sebuah cerita
Kukatupkan kedua telapak tangan ini kewajah sambil menarik nafas sedalam-dalamnya. Kutekan sekuat mungkin dengan harapan kejadian yang sedang kualami ini bisa berubah menjadi sebuah mimpi, mengharapkan ku terbangun dari mimpi... »
Ehabel , 8 days ago

Masyarakat Miskin Lebanon bersama Indobatt
Maryam hanyalah salah seorang gadis miskin yang terlahir lumpuh dari desa Deir Siriane di Lebanon Selatan. Kondisi ini telah dideritanya sejak lahir. Suatu kebahagiaan dialaminya ketika Dansatgas... »
Sanra Michiko Moningkey , 11 days ago

 

Recent Comments

Shevonne Sinclair- Lowe commented on Volunteering Gives You an Opportunity to Change People's Lives, Including Your Own
a few seconds ago


hussein heykal commented on Aid Necessities Transporter (A.N.T.) Part 4
a few seconds ago


Foto Unik commented on Polisi Militer PBB study banding ke Satgas POM TNI
a few seconds ago


Viking KARWUR commented on Tibet dan romantisme putus cinta
a few seconds ago


Serka ibrahim commented on Serah Terima Tugas Satgas Konga Lebanon
a few seconds ago

Partner

pralangga.blogspot.com