Nama BJ Habibie mantan Presiden ke 3 Republik Indonesia sangat di kenal didunia penerbangan dimana konsep efisiensi kokpit sampai sekarang tetap dipakai oleh perusahaan pembuat pesawat terbang diseluruh dunia, bahkan rumus Habibie yang diciptakan oleh mantan vice preiden sebuah perusahaan terkemuka pembuat pesawat terbang di jerman diajarkan secara luas di universitas universitas teknik di Jerman. Kita patut berbangga karena sebuah karya anak bangsa Indonesia dipakai acuan oleh bangsa bangsa di dunia.
Tentunya apa yang dilakukan oleh mantan Presidean kita itu memerlukan kerja keras dan keseriusan yang sangat luar biasa, rumus Habibie tidak tercipta karena secara kebetulan tapi sudah barang tentu melalui proses yang sangat panjang. Semua cerita tersebut diatas sangat bertolak belakang dengan apa yang diciptakan oleh seorang anak bangsa Indonesia yang lainnya, yang ia namakan “Flying Toilet” walaupun mengandung unsur kata Flying namun tidak ada kaitan sama sekali dengan dunia penerbangan .
Jangan pernah membayangkan bahwa flying toilet adalah toilet dalam pesawat terbang dengan bak besar lengkap dengan gayung untuk mengguyur kotoran kita, atau toilet dengan “bathtub” yang bisa untuk selonjor. Flying Toilet tercipta bukan melaui proses panjang yang memerlukan riset bertahun-tahun dan memerlukan keseriusan tapi flying toilet ini tercipta karena secara kebetulan, karena suatu kebutuhan yang sangat amat mendesak. Sebuah konsep yang sangat amat sederhana namun sangat hakiki karena menyangkut keselamatn jiwa, aneh tapi nyata, dan konsep tersebut sekarang dipakai oleh beberapa negara antara dari Thailand, Malaysia, Philipina, Nepal, Bangladesh, India, Pakistan, Mesir, Mali, Uganda, Nigeria, Zambia, Gambia, Zimbabwe, Jerman, Swedia, Ecuador.
Kembali pada sejarah terciptanya Flying Toilet, temuan itu diawali dengan adanya “Operation Order” dari Kolonel Bharat Shekawat Singh(India) Komandan sector III/Malakal United Nations Mission in Sudan/UNMIS untuk melaksanakan Long Range Patrol ke Pibor Sebuah daerah di wilayah kerja Bor yang kira kira 45 menit jika di tempuh dengan helikopter MI 8 buatan Rusia. Ada 3 kelompok bersenjata di Pibor yaitu SAF (SUDAN ARMED FORCES) atau angkatan bersenjata pemerintah Sudan(utara), SPLA (Sudan People Liberation Army) atau Tentara pemerintah Sudan (selatan) dan PDF (Pibor Defence Forces), sebuah kelompok bersenjata yang seharusnya sesuai dengan CPA (Comprehensive Peace Agreement) harus memilih bergabung dengan SAF atau SPLA.
Kita -kita disini (Ada Mas Ambar Nugroho, dan Bang Benny Nadeak) sampe ngakak nggak kelar-kelar mbaca si Flying Toilet! :))
Ternyata disana nggak cuman hujan peluru aja yah - hati2 kalau melihat kantong plastik beterbangan diudara - kalau kena ceplokan-nya jamin pasti kaket setengah mati.. :)
Sedia payung sebelum kena serangan "flying toilet!".
Ditunggu cerita-seru selanjutnya!
Salam kangen dari Liberia - Afrika Barat!
kirain sedari awal tuh ceritanya serius buanget bang !
eh ... ternyata lucu banget atuh ... untunglah di liberia ndak gitu-gitu amat ... cuman kita disini harus selalu waspada ama "land mines" kalo jogging ke pantai .... terutama pagi hari ... masih banyak sisa-sisa "land mines" yang tdk tersapu ombak .. he he he
Ketika saya baca postingan ini ga ada kesan jorok berlebihan. Tapi ketika baca komen "ceplokan" yang bikin keket dari Kang Kabayan Liberia malah bikin gimanaa.. gitu ngebayanginnya.
Oh iya, salam kenal ya Mas Catur. Koq ga ketahuan dimana tugasnya nih? Ditunggu cerita2 seru lainnya ya, dan selamat bertugas!!.
...nah sekarang saya udah nemu jawabannya :D