Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Kurniawan Syarifuddin

GARUDA melanglang buana LEBANON

12 March 2009, 01:21 , by Kurniawan Syarifuddin

 

Konflik Lebanon dan UNIFIL. Pada saat temaramnya langit Lebanon selatan pada tanggal 12 Juli 2006, sekelompok militan bersenjata melakukan penyerangan terhadap konvoy patroli perbatasan Israel, sehingga mengakibatkan 3 orang tewas, 2 lainnya terluka dan 2 orang prajurit Israel Defence Force (IDF) ditawan kemudian dibawa ke wilayah Lebanon Selatan. Sementara itu, puluhan roket diluncurkan ke wilayah Israel utara oleh Hizbollah, satu kelompok perlawanan bersenjata Lebanon yang memusuhi Israel dan menguasai wilayah di Lebanon Selatan, yang juga mengakui telah melancarkan penyerangan ke Patroli IDF. Maka dimulailah apa yang dinamakan ‘Perang 34 hari’, atau yang juga disebut sebagai ‘Perang Lebanon jilid II’ setelah serangan Israel ke Lebanon pertama kali pada tahun 1978. Sejak itu 1.700an orang tewas, 5.000 lebih terluka dan ratusan lainnya kehilangan tempat tinggal, dengan kerugian material mencapai US $ 5 milyar yang di derita oleh kedua belah pihak, Lebanon-Israel. Upaya perdamaian yang telah dimulai sejak di keluarkannya UN Security Council Resolution 425 pada tahun 1978, kemudian mencapai kemajuan yang signifikan dengan ditarik keluarnya IDF dari Lebanon pada pertengahan tahun 2000. Walaupun kemudian mengalami masa pasang surut, menjadi tidak berarti kembali.

Dunia meradang, terutama bagi PBB yang kehilangan 4 Military Observer dan 1 Civilian Staff, sementara 16 orang anggota lainnya mengalami luka-luka. Walaupun mengalami kedukaan yang mendalam dan keterbatasan gerak disertai dengan resiko yang tinggi, PBB melalui kepanjangan organisasi penjaga perdamaiannya di Lebanon (UNIFIL-United Nations Interim Force in Lebanon), berupaya secara terus menerus untuk melaksanakan tugasnya dan memberikan bantuan kemanusiaan. UNIFIL yang berdasarkan Resolusi 426 (1978) terdiri dari 2.000 orang tentara gabungan manca negara, merasa perlu untuk mengembangkan kekuatannya untuk bisa terus menciptakan dan memelihara perdamaian di wilayah Lebanon Selatan. Pada akhirnya Resolusi 1701 (2006) dikeluarkan oleh Dewan Keamanan PBB, yang selain menyerukan berhentinya peperangan juga menjadi dasar pengembangan UNIFIL menjadi sampai dengan 15.000 orang pasukan dengan wilayah operasi yang diperluas dengan masuknya juga wilayah lepas pantai Lebanon dan kota Tyre.

Penambahan jumlah pasukan yang cukup besar dan harus dikerahkan dalam waktu yang sangat singkat, mengundang kesediaan dari beberapa negara anggota PBB, diantaranya Spanyol, Italia, Perancis dan Korea Selatan. Indonesia yang selalu berperan aktif dalam memelihara perdamaian dunia juga turut bersedia dan menyiapkan 1 Satgas Batalyon Infanteri Mekanis untuk segera diberangkatkan dan bergabung dengan misi UNIFIL dalam bentuk yang baru. Sejak itulah Kontingen Garuda (penyebutan untuk pasukan Indonesia yang dikirimkan dalam rangka tugas pemeliharaan perdamaian) melanglang buana dan menjelajah di seluruh penjuru langit Lebanon Selatan dan lepas pantainya.

Dimulai dari ‘0’

Pada awalnya, tidak ada satupun anggota TNI yang bertugas di UNIFIL, walaupun memiliki pengalaman yang luas dan juga sedang terlibat dengan banyak misi PBB lainnya, sebagai United Nations Military Observer (UNMO-pengamat militer tidak bersenjata) maupun Troop (pasukan bersenjata). Hal ini disebabkan jumlah personel terlibat cukup kecil (2.000an Troops + 50an UNMOs), juga tidak adanya hubungan yang cukup erat antara pihak yang bertikai (Lebanon-Israel) dengan Indonesia sebagai salah satu prasyarat bahwa pasukan PBB yang akan dikirim adalah diketahui dan disetujui oleh kedua pihak tersebut. Dengan desakan PBB untuk lebih menciptakan keseimbangan pasukan dan dukungan dari negara-negara OKI, pada akhirnya Israel menyatakan kesetujuannya dengan keterlibatan Indonesia di UNIFIL. Akan tetapi masih ada kekhawatiran dari Israel maupun negara lainnya bahwa Indonesia sulit untuk tidak memihak (Impartial), hal ini disebabkan oleh latar belakang pasukan Indonesia yang mayoritas beragama Islam memiliki kedekatan keagamaan dengan pihak yang menjadi subyek pertikaian, Hizbollah.

Dengan berjalannya waktu, kekhawatiran itu berangsur hilang dan diganti dengan kekaguman terhadap pasukan Indonesia yang mampu secara profesional menjalankan tugasnya sebagai Peacekeeper, sekaligus dapat memberikan kesan yang lebih positif tentang keberadaan UNIFIL terhadap masyarakat sekitar daerah operasi. Hal ini ditandai dengan beberapa penghargaan yang disampaikan oleh pejabat teras UNIFIL, maupun oleh pemerintahan setempat baik itu pemerintah Lebanon maupun faksi Hizbollah. Sebagai dampaknya, keinginan untuk menghadirkan pasukan dari Indonesia untuk bergabung dari UNIFIL semakin besar, sehingga dimulai dari ‘0’ menjadi 1.200an prajurit yang tergabung dalam 4 Satgas berbeda dan military Staff, dimulai dari ‘0’ menjadi negara ke ‘3’ terbanyak menyumbangkan prajuritnya.

Serba yang Pertama

Kontingen Garuda yang dikirim dan bergabung dengan UNIFIL memiliki keunikan tersendiri, hal ini dikarenakan dari 4 Satgas yang dikirimkan secara terpisah, merupakan untuk pertama kalinya Indonesia mengirimkan militernya untuk menjalankan tugas-tugas spesifik yang harus diemban.

1. Satuan Tugas Batalyon Infanteri Mekanis Kontingen Garuda XXIII.
Untuk pertama kalinya Indonesia mengirimkan Satgas Yonif Mekanis, karena sebelumnya hanya Batalyon Infanteri biasa yang tergabung dalam Kontingen Garuda. Pada tanggal 10 Oktober 2006, 850 orang dari Garuda XXIII-A secara bertahap mulai berangkat menuju Lebanon Selatan, menggunakan sarana angkutan Udara dan Laut, kemudian mendapatkan daerah operasional di Sektor Timur UNIFIL dengan Markasnya berada di Sukarno-Hatta Camp, UN Posn 7-1/Adhsit al-Qusayr. Daerah Operasi Indobatt (sebutan untuk Garuda XXIII), adalah merupakan daerah yang dikuasai dan merupakan salah satu titik kuat Hizbollah, selain dijadikan oleh Israel sebagai jalur tercepat untuk mencapai kota Beirut pada “Perang 34 hari”. Wilayah ini dianggap sebagai wilayah paling rawan diantara wilayah lainnya, karena juga penerimaan masyarakat sekitar terhadap UNIFIL yang sangat kecil bahkan cenderung memusuhi.

Akan tetapi dengan profesionalisme yang tinggi, Indobatt mampu melaksanakan tugasnya sebagai peacekeeper yang profesional dan juga mampu menciptakan suatu hubungan yang akrab dengan masyarakat sekitar. Banyaknya informasi tentang lokasi UXO (Un-exploded Ordnance) yang disampaikan oleh masyarakat menjadi salah satu indikator pendekatan kepada masyarakat yang berhasil dalam rangka mendukung tugas pokok. Selain itu, karena merupakan jati dirinya sebagai prajurit rakyat, prajurit Indobatt mampu menjalin kedekatan dengan masyarakat dengan akrab, hal ini ditandai dengan undangan yang cukup banyak dari tokoh masyarakat sekitar, sampai dengan teriakan “Garuda!” yang diteriakkan oleh Orang tua, Pemuda, Wanita dan anak-anak, bahkan oleh personel LAF (Lebanon Armed Forces) yang berpapasan ketika Indobatt melaksanakan patroli.

Sampai dengan saat ini, Garuda XXIII telah melakukan dua kali rotasi pergantian personel dan dengan segala kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki akan terus menciptakan cerminan prajurit Indonesia yang Profesional sebagai Peacekeeper, dekat dengan masyarakat dan memiliki integritas yang tinggi dalam melaksanakan tugas. Sehingga harapan Sekjen PBB untuk menciptakan PBB yang lebih kuat untuk dunia yang lebih baik akan dapat tercapai melalui cara memperhatikan kebutuhan utama masyarakat sekitar, mengamankan denyut nadi kehidupan perkampungan sekitar dan juga menampilkan sosok Peacekeeper yang dapat dijadikan sandaran dalam memelihara keamanan sekitar dapat diwujudkan dengan keberadaan “Garuda” di wilayah Tenggara-Lebanon Selatan.

2. Satuan Tugas Polisi Militer Kontingen Garuda XXV.
Untuk pertama kalinya Indonesia mengirimkan Satgas Polisi Militer, sebelumnya anggota Polisi Militer yang dikirimkan adalah bagian dari suatu Satgas lain. Pada tanggal 12 Desember 2008, 75 orang dari Garuda XXV-A telah beroperasi secara penuh untuk menjalankan tugas sebagai Polisi Militer untuk wilayah sektor timur. Markas Indosempu (sebutan untuk Garuda XXV) berada di UN Posn 7-2/Marjayoun, yang bersebelahan dengan Markas Komando Sektor Timur UNIFIL.

Penegakan hukum, disiplin dan tata tertib, melaksanakan pengawalan, melakukan penyidikan adalah beberapa tugas yang akan dijalankan oleh Indosempu. Bukan saja personel dari Indobatt yang menjadi obyek pengawasan, akan tetapi seluruh kontingen lainnya yang berada dibawah komando Sektor Timur.

Keakraban, tenggang rasa dan sikap saling menghormati yang merupakan cerminan masyarakat Indonesia menjadi perwujudan tingkah laku Indosempu dalam menjaga hubungan yang baik dengan kontingen lainnya, sehingga mempermudah dalam menjalankan tugasnya dengan baik tanpa menimbulkan perasaan ketersinggungan. Selain itu ketegasan dan kepatuhan dalam menegakkan peraturan, tata tertib, disiplin serta bertingkah laku, mewujudkan “Garuda” yang gagah mengawasi wilayah ‘buruannya’ tanpa melupakan jati dirinya.

3. Satuan Tugas FHQSU Kontingen Garuda XXVI.
Untuk pertama kalinya Indonesia mengirimkan Satgas yang terdiri dari pasukan khusus/Komando, sebelumnya anggota pasukan khusus/Komando yang dikirimkan adalah bagian dari suatu Satgas lain. Pada tanggal 7 Nopember 2008, 200 orang dari Garuda XXVI-A telah beroperasi secara penuh untuk menjalankan tugas sebagai unsur pelayan dan pengaman dari UNIFIL HQ, dengan markasnya di Sudirman Camp yang berada di UNIFIL HQ Compound-Naqoura. Secara organisatoris Garuda XXVI merupakan 2 satuan yang berbeda, yaitu Indo FHQSU berjumlah 50 orang bertugas mendukung pelayanan di UNIFIL HQ dan Indo FP Coy berjumlah 150 orang bertugas mengamankan UNIFIL HQ New Extension Camp.

Pelaksanaan tugas dari UNIFIL HQ tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak didukung oleh unsur pelayanan yang baik dan ketiadaan rasa aman pada saat bekerja, beristirahat maupun bergerak. Hal inilah yang menjadi tanggung jawab Indo FHQSU, tidak saja memberikan pelayanan yang maksimal untuk segala kebutuhan hidup mulai dari tempat tidur, makanan, laundry sampai dengan fasilitas olahraga, akan tetapi merencanakan dan melaksanakan pengamanan di seluruh markas UNIFIL sekitarnya.

Keterlibatan pasukan Komando sangat dibutuhkan untuk memberikan keyakinan akan rasa aman kepada seluruh unsur pimpinan, staf dan pegawai lokal UNIFIL setiap waktu dan dalam keadaan apapun. Sikap militer, keramahan dan ketegasan serta kewaspadaan yang tinggi, menjadi perwujudan dari “Garuda” yang selalu siaga dalam menjaga keamanan ‘sarangnya’ dan memberikan pelayan terbaik bagi ‘penghuni sarang’ lainnya. Sesuatu yang menarik terjadi tatkala seorang Tentara Wanita Italia, dengan muka kenes dan senjata di pundaknya, menghormat dan mengucapkan salam “Garuda” atau tentara Polandia sambil menyapa mengucapkan “Horas”. Keakraban, saling pengertian dan kerjasama yang baik dapat ditunjukkan oleh para Garuda di UNIFIL HQ, walaupun dengan keterbatasan bahasa diantara mereka, yang hanya lancar berbahasa nasionalnya masing-masing.

4. Satuan Tugas Maritim Kontingen Garuda XXVIII.
Untuk pertama kalinya Indonesia mengirimkan Satgas Maritim yang terdiri dari 1 unit kapal perang. Medio Maret 2009, 109 orang dari Garuda XXVIII-A, dengan menggunakan KRI Diponegoro akan berangkat dari pelabuhan Tanjung Priok menuju Lebanon. Setelah kurang lebih 1 bulan (waktu tempuh perjalanan), kapal akan siap untuk beroperasi di wilayah lepas pantai Lebanon untuk menjaga keamanan di lautan serta mencegah upaya penyeludupan senjata dari arah laut.

Bangsa bahari yang mampu untuk menaklukkan 7 Samudra dengan gagah berani dan waspada, adalah salah satu jati diri bangsa Indonesia, ditunjukkan dengan keberadaan para pelaut kita di Lebanon. Tidak hanya mengamankan akan tetapi juga sebagai pembimbing dalam membentuk LAF yang lebih mahir dalam mengamankan kedaulatan wilayahnya di lautan.

Dengan kapal terbaru yang dimiliki dan dilengkapi dengan Helikopter maritim, siap untuk mewujudkan “Garuda” yang juga terbang diatas lautan dengan gagah dan siaga, serta mampu membimbing sang ‘anak’ untuk belajar melanglang buana.

5. Staf Militer.
Selain itu terdapat 10 Garuda yang bertugas di UNIFIL HQ dan 11 Garuda lainya di UNIFIL Sector East Command Post, yang dengan ketelitian dan kecermatan dalam mengerjakan pekerjaan administrasi dan perencanaan bertugas sebagai Military Staff Officer. Mewujudkan tidak saja “Garuda” berjaya di udara, akan tetapi juga mampu menjalankan seluruh mekanisme operasi pemeliharaan perdamaian di wilayah Lebanon Selatan yang diperlukan dengan baik.

Dengan keberagaman ini, menjadi gambaran kepada dunia Internasional, bahwa Indonesia dengan TNI nya yang diwakili oleh para prajurit yang tergabung dalam kontingen Garuda, siap untuk melaksanakan tugas apapun yang diperintahkan dalam rangka berperanserta secara aktif dalam menjaga perdamaian dunia. “Garuda” akan terus terbang tinggi, tidak saja di wilayah Lebanon, tetapi di seluruh dunia demi membawa dan mengharumkan nama banga dan negara Indonesia dengan gagah berani, tangguh dan profesional.

PS. Sekedar Informasi terbaru, keberadaan Garuda akan semakin bertambah di Lebanon, dengan adanya permintaan penambahan 150 orang dari Satuan Pengamanan Wilayah dan beberapa Dokter Spesialis. Sebagai bukti, bahwa Indonesia, TNI dan Garuda terus mendapatkan kepercayaan dari seluruh pejabat di UNIFIL maupun di UNHQ.

TETAP SEMANGAT
GARUDA!”

Kurniawan Syarifuddin Kurniawan SYARIFUDDIN Lieutenant Colonel Inf Kurniawan Firmuzi Syarifuddin, SE was born in Jakarta in November 1968, graduated from the military Academy (Akmil AD) in 1990. Further from second Lieutenant, he began his military career in Kostrad/Army Strategic Command then assigned to Brigif...

Detail Profile »

2  Comments

by Siti Hanifa at 15 March 2009, 01:59

Pak, saya cukup lama membaca situs ini. Seingat saya markas pasukan Yon Mekanis Indonesia dinamakan Soekarno Base, sejak 23 A dan 23 B. Knp skrg dirubah Pak? Sebaiknya nama Pak Hatta dikasih ke yg tambahan psk baru saja Pak

by Fauzirohman at 15 February 2010, 12:57

kami mohon doa nya agar ,kami sukses di libanon selatan ……………………by KONGA XX111 D

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

796 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Yogi Nugroho Captain Yogi Nugroho was born in Malang, East Java, 31 years ago. The thought of earning well education, was the reason why he decided to attend the Taruna Nusantara High School and graduated from the school in 1997. As one of...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 5 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 12 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 15 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 15 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 16 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago