Dia adalah seorang perwira dari salah satu negara Amerika Latin berpangkat Kapten. Sejak awal masuk ke dalam team, saya sudah melihat bahwa perwira tersebut sangat profesional dan mempunyai semangat kerja yang luar biasa walaupun kadang sedikit kesulitan dalam berbahasa Inggris, karena bahasa resmi mereka adalah Spanyol. Dalam perkenalannya dia menyampaikan bahwa dia seorang perwira dari pasukan khusus memiliki tiga putri dan saat itu istrinya sedang mengandung anaknya ke empat dengan harapan mendapatkan anak laki-laki karena ke tiga anak sebelumnya adalah putri.
Berjalan beberapa bulan kami semakin akrab dan dia bercerita banyak tentang keluarganya, pengalamannya dan berbagai hal lainnya. Dari pembicaraannya saya menangkap memang dia sangat sayang sekali terhadap keluarganya terutama ke tiga putrinya juga kedua orang tuanya. Berbagi cerita begini kadang salah satu cara untuk menghilangkan rasa rindu dan stress apalagi kalau kita temui orang yang tepat untuk sharing.
Suatu hari si perwira tersebut berubah total, hilang keceriaanya selama ini dan kelihatan sangat gelisah, sayapun bertanya permasalahannya, ternyata ayahnya dirawat dirumah sakit. Saya masih ingat tiga hari yang lalu saat kami pergi patroli dia menyempatkan menelpon ayahnya mengucapkan selamat hari ayah (di negara tersebut ada hari ayah selain hari ibu).
Dua malam berikutnya dia kelihatan semakin sedih dan gelisah dan bahkan menagis akhirnya diketahui bahwa ayahnya sudah divonis dokter karena komplikasi penyakitnya, dalam dua hari kedepan akan meninggal. Setiap saat dia memantau perkembangan ayahnya dan setelah itu dia akan langsung cerita kepada saya dengan terus tak kuasa menahan tangis dan sayapun menjadi ikut terharu. Yang lebih mengharukan lagi adalah memang dia sudah menjadwalkan dua minggu lagi akan pulang dan ingin berkumpul bersama dan akan membawakan hadiah untuk ayahnya yang akan dibelinya saat dalam perjalanan pulang di Duty Free bandara. Dia berharap kalaupun harus meninggal dia ingin bertemu untuk terakhir kalinya. .
Menjelang beberapa jam keputusan pasti meninggal ayahnya, diapun mendapat informasi bahwa istrinya akan masuk rumah sakit untuk melahirkan sehingga dapat dibayangkan betapa kalutnya perwira tersebut. Sampai dia berkata setengah berteriak ”I should be there, I should be there!!!”(sebagai informasi untuk cuti/CTO, memang kita harus rencanakan jauh hari selain tiket, memang ada hitungan hari untuk bisa mengambil CTO – Compensatory Time-Off dan Leave).
Saya kira prajurit itu pantang menitikkan air mata. Ternyata benar, orang yang kuat itu bukan berarti tidak pernah meneteskan air mata. Tapi lebih-lebih dikarenakan bagaimana seseorang itu bersikap atas cobaan yang sedang menimpanya. Saudara2ku Konga XXIII-A menangislah disaat kalian rindu kepada kampung halaman, disaat hati kalian dibombardir rasa kangen yang mendalam kepada anak istri tercinta dan orang2 tersayang. Karena orang yang kuat, bukan berati tidak pernah menitikkan air mata. Karena menangis bukan berarti kalian cengeng. Karena terkadang titik air mata adalah embun penyejuk dan damai galau hatimu.
tentara juga manusia :D