Khartoum tanggal 17, 18, 19 March 2010 , sudah 3 hari Sudan diserang oleh Haboob alias badai pasir, seluruh kota Sudan seperti ibu kota Sudan Khartoum, kota di selatan Sudan seprti Juba, Malakal, Abiyei, Bor, dan kota di bagian utara Sudan, seperti Elfaser, Nyala, Elgenina dan Zalinge serta beberapa kota kecil lainnya semua tertutup oleh hebatnya badai HABOOB ini.
Seperti biasa setiap hari menjalankan tugas, bangun di pagi hari pada pukul 4 pagi, membuka jendela untuk mengirup udara segar nya ibukota Sudan , tapi bukan udara segar yang terhirup melainkan bau khas pasir dan debu yang sangat menyengat…niat mengihirup udara segar langsung diurungkan dan kembali menutup jendela agar debu dan pasir ini tidak masuk ke dalam kamar yang sudah sumpek alias kamar sepetak.
Perjalanan dari tempat tinggal ke UN Air Terminal-05 tidaklah jauh hanya di tempuh tidak lebih dari 3 menit, (karena tidak ada kemacetan seperti di Jakarta dan waktu menunjukan masih pukul 4.30 di pagi hari).
Sesampainya di UN Air Terminal 05, yang oleh staff UNMIS dan UNAMID biasa di panggil ZERO FIVE, sudah banyak berkumpul staff UNMIS dan UNAMID yang sedang menunggu dibukanya proses check-in counter ke dua misi UN terbesar di Sudan.
Wajah2 yang masih ngantuk, hawa mulut yang pasti masih ‘bau naga’, dan bau badan orang2 hitam yang khas seperti bau bandot yang nggak pernah mandi bercampur-aduk diruang tunggu keberangkatan penerbangan menuju ke Sudan Selatan dan Sudan Utara.
Mereka tidak faham akan cuaca yang terjadi disekeliling mereka, mereka tidak mengerti apakah pesawat dan penerbangan UNMIS dan UNAMID yang akan membawa mereka ke daerah selatan dan utara dapat berangkat sesuai waktu atau tidak, bergantung pada ulah si 5 huruf itu: HABOOB.
Nah, berkaitan dengan pesawat yang dipergunakan kedua misi PBB ini, mari kita ulas jenis/model pesawat apa sajakah yang biasanya membawa mereka terbang ke Selatan dan Utara Sudan ini. Ada 2 (dua) operasi pemulihan perdamaian dibawah naungan PBB di Sudan, yaitu: UNMIS (United Mission in Sudan) dan UNAMID (United Nations Hybrid Mission in Darfur), keduanya mengoperasikan pesawat-pesawat:
Beberapa contoh foto untuk model Passenger Aircraft:
Cargo Aircraft:
Catatan: Foto-foto diatas diambil dari berbagai sumber dan adalah milik/hak citpa masing-masing pemilik. Digunakan hanya untuk keperluan ilustrasi semata.
Masing-masing pesawat diatas memiliki Callsign tersendiri, seperti: B737-500 series dipanggil dengan sebutan atau alias UNO 516, sedangkan pesawat jenis MD 83 mempunyai callsign: UNO 512 dan lain seterusnya,
Para crew masing-masing pesawat sudah siap standby, para ground staff dan tangkering sudah siap, air ops mereka statusnya sudah ‘ready’, kebetulan penulis ini (Baca: Saya) salah satu tugas utamanya adalah membuka/memulai proses passenger check-in pada counter mulai pukul 5AM dan menutupnya pada pukul 6.30AM , 1 Jam Tigapuluh Menit durasi proses passenger check-in tersebut.
Satu per satu penumpang datang, yang kebetulan kali ini, misi UNAMID mendapet jatah mengunakan sebuah Boeing 737-500 series dengan kapasitas 110 seater, (14 Business class buat para boss UN) dan sisanya 96 seater (Economy Class). Memang persis sekali gayanya bak commercial flight-lah ceritanya..
Pukul 6,30AM telah pas ditunjukkan pada jarum jam ini, para penumpang semua sudah masuk ke arena keberangkatan alias ruang tunggu untuk jadwal keberangktan masing-masing, Terminal ini juga dilengkapi ruang cafetaria yang ala kadarnya, Makanan yang dijual tidak lebih dari donat yang dari bentuk dan rasanya jauh sekali dari mirip dengan Dunkin Donuts di kampung halaman serta sandwich dan kue kecil yang berisikan keju didalamnya, selain itu disediakan juga minuman panas; kopi dan teh serta beberapa minuman ringan soda..
Sudah hampir 9 bulan ini, penulis yang bau kencur ini selalu dan selalu disuguhkan dengan makananan atau cemilan yang disebut diatas.. bosan memang, tapi apa boleh buat dari pada perut tidak terisi dan masuk angin.
Tunggu punya tunggu yang seperti biasanya dilakukan pemanggilan untuk segera merapat ke gate/gerbang keberangkatan dari Terminal 05 untuk masuk dalam pesawat, kita lakukan pemanggilan pada pukul 07.00AM. Para penumpang segera beranjak dari tempat duduk mereka, yang sedang asik ngobrol segera berbenah dan cepat-cepat membentuk barisan antri dan bergegas menuju gate atau gerbang yang dibuka memang jumlahnya hanya satu itu.
Kebrangkatan pesawat yang menuju utara Sudan seperti biasa dilakukan pada ETD 07.30AM, semua penumpang yang berjumlah 110 tadi diberangkatkan dengan menggunakan 4 bus yang berkapasitas masing-masing 25 seater, telah beranjak dari Terminal menuju ke arah tarmac/daerah landasan atau apron tempat diparkirnya pesawat-pesawat UN.
Terlihat mulai jelas dimana cuaca menjadi gelap, pasir berterbangan, lampu-lampu apron dan Terminal utama yang biasanya jelas keliatan ini menjadi samar-samar karena tertutup oleh debu pasir. 5 bus itu tetap bergerak…menuju pesawat, sesampainya disisi pesawat, satu persatu mereka turun dari bus dan menaiki tangga pesawat dan masuk menuju tempat duduknya masing-masing.
Penunpang duduk dengan manisnya didalam, cabin crew dengan senyum terpaksa, karena ruang cabin pesawat yang tadinya terasa wangi, sekarang berubah dengan aroma bau dari badan dan bau mulut para penumpang yang mungkin belum gosok gigi.
30 menit berlalu, Air Operations Staff masih menunggu kabar dari Elfasher untuk berita/keadaan cuaca disana. Terdengar dari radio pada channel 32 (channel MOVCON dan AIROPS) flight following what is the status of ELF (Efasher) WX (Artinya: Weather), dan sayup-sayup terdengar dari flight following bahwa visibility below minimum. Ini artinya tidak memungkinkan untuk pesawat melakukan pendaratan di Elfaser di utara Sudan.
30 menit kemudian Air Operation Staff mengambilkan keputusan untuk mengembalikan seluruh penumpang yang sedang duduk manis di dalam pesawat untuk kembali ke Terminal dikarenakan laporan jarak pandang tidak memungkinakan untuk penerbangan melakukan pendaratan .
Seluruh penumpang kembali menuju Terminal, dengan muka heran dan terbengong-bengong dan menduga apa gerangan terjadi sehingga dengan terpaksa menuruti perintah crew untuk menuruni pesawat keluar dan menaiki bus untuk kembali ke Terminal.
Sesampainya di Terminal, kita umumkan bahwa karena jarak pandang yang sangat terbatas di station tujuan, maka dengan alasan safety (Keselamatan), maka kita harus menunggu untuk sampai cuaca membaik merujuk pada aviation safety .
Akhirnya, tungu punya tunggu, 1 jam, masih belum membaik, 2 jam masih tetap begitu, malahan si-jarak pandang hanya berkisar 300 M, Waktu telah menunjukan pukul 12.00 siang, kita melakukan kontak dan menanyakan apakah masih dilanjutkan atau kita kita lakukan pembatal penerbangan dan kita laksanakan esok harinya.
Pukul 14.00PM cuaca masih seperti pada pagi hari, seluruh penumpang kelihatan sangat kelelahan, karena mereka telah menunggu dan datang pada pukul 5 di pagi hari, sudah hampir 10 jam mereka menunggu belum ada kepastian berangkat.
Tepat nya pada pukul 15.00PM, kita mendapatkan kabar bahwa penerbangan untuk tujuan Elfasher, Entebbe (Uganda), Nyala, Elgenina,dan Zalinzi dibatalkan karena cuaca akibat si Haboob ini tidak memungkinkan untuk sebuah penerbangan.
Pembatalan serupa juga dilakukan oleh Air Operations UNMIS, penerbarbangan ke selatan Sudan, dengan tujuan seperti Juba, Malakal,Port of Sudan, Abeyei dan lainnya juga turut dibatalkan karena si Haboob ini.
Badai debu atau pasir ini amat sangat berpengaruh, seluruh kota tertutup oleh debu dan pasir, bau pasir terasa sangat menyengat…kita yang tak terbiasa harus menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut, semua meja kerja komputer dan lain2 terkena dampaknya, debu dan pasir menutupi seluruh kantor dan perlengkapan-nya, Itulah namanya si HABOOB, kita berharap dalam waktu 1 hari bisa menikmati udara segar kembali, ternyata si HABOOB masih kangen bertengger dan tidak mau meninggalkan Sudan, dan ternyata karena HABOOB ini lah yang juga menggagalkan penerbangan international dengan pesawat dari Doha/Qatar, Abu Dhabi dan Dubai/UAE dimana mereka tidak dapat melakukan rutinitas penerbangan seperti biasa karena ganasnya HABOOB Sudan ini.
Airport-airport kecil di daerah utara dan selatan Sudan tidak memiliki ILS (Integrated Landing System) yang dapat memandu penerbangan untuk pendaratan, terbatasnya pengembangan ILS ke daerah-daerah ini diakibatkan perang saudara yang berkepanjangan.
Kalau di tanah air ada pawang hujan, adakah pawang Haboob di Sudan?. Kalau ada yang kenal dengan seorang pawang haboob, bolehlah coba diperkenalkan agar beban pekerjaan ini tidak terlalu banyak akibat pembatalan penerbangan karena ulah si Haboob. Salam hormat dari Khartoum, ibukota Sudan.


















Hehehe… Sangakain Haboob ini apa…. ?
Temen baik gitu selama bertugas di negeri bau kelek itu…
dan ternyata badai pasir…
tapi untung penumpang nya ga brutal ya..