Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Haiti…..Enam bulan setelah gempa…AYITI KANPE... (Haiti Standing)

14 July 2010, 01:30 , by Endang Satriyani

 

Masih terbayang di ingatan gempa yang terjadi tanggal 12 januari 2010 lalu. Hari ini, tepat 6 bulan setelah gempa bumi melanda Haiti. Masih terbayang saat itu, bagaimana saya dan teman- teman yang terkena gempa berusaha keluar dari reruntuhan kantor kami. Belum lagi saat kami melihat bahwa kantor kami baik yang berada di Christopher Hotel maupun Villa Privee sendiri ternyata rata dengan tanah. Kami beruntung masih bisa selamat. Banyak dari teman-teman kami ternyata tidak dapat menyelamatkan diri karena gempa yang terjadi sangatlah cepat. Dalam hitungan detik, semua runtuh. Hitungan detik yang merubah wajah Haiti. Hitungan detik yang merubah hidup banyak orang termasuk saya. “people says…everything will never be the same…”

Kita kehilangan begitu banyak teman, baik itu warga masyarakat Haiti sendiri maupun teman-teman kami di kantor. Seratus satu (101) orang dari MINUSTAH dinyatakan tewas dan menjadi korban. Sementara itu, lebih dari 222.570 orang tewas, 300,572 luka-luka dan lebih dari seperempat dari jumlah penduduk kehilangan tempat tinggal. Bagi United Nations sendiri, ini merupakan kejadian yang tragis karena kehilangan personnel dalam jumlah yang besar, termasuk didalamnya kepala misi di Haiti, Mr.Hedi Annabi dan Deputynya Mr.Luis Da Costa.

DSC00983

DSC00975

Pagi ini, kami kembali berkumpul untuk mengenang teman-teman kami dan berdoa agar mereka yang telah berpulang di berikan tempat disisi sang pencipta, keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, dan kami yang masih berada disini diberikan kekuatan untuk dapat terus membantu Haiti menuju tahap recovery.
Sebuah mural artistic sebagai tanda untuk mengenang teman-teman kami kini terpasang di dalam Log Base, semoga ini bisa mengingatkan kita semua akan peristiwa di bulan Januari tersebut.

Haiti, khususnya Port Au Prince, setelah 6 bulan bulan gempa tidaklah terlalu banyak berubah. Disana-sini masih terlihat jelas dampak kerusakan dari gempa bumi. Gedung-gedung yang runtuh masih banyak yang belum dibersihan. Tempat-tempat pengungsian masih tersebar dimana-mana. Ini adalah kenyataan yang tidak dapat di pungkiri dimana proses emergency menuju proses recovery memang bukanlah persoalan yang mudah.

Haiti yang boleh dibilang sebelum gempa bumi sudah di gerogoti dengan banyak permasalahan, baik itu dari segi keamanan, pendidikan, ekonomi, kesehatan dan lain-lain. Kini dengan gempa bumi yang melanda 6 bulan yang lalu, membuat keadaan bertambah semaikin rumit. Cuaca yang tidak bersahabat (hurricane yang setiap tahun mengincar dan panasnya cuaca di Haiti) semakin membuat masyarakat Haiti terpuruk.

DSC00077

IMG_0390

Meskipun keadaan ini sangat sulit, tentu saja kita tidak bisa menutup mata. Begitu banyaknya perhatian dunia yang tertuju ke Haiti. Respon kemanusiaan dari masyarakat dunia datang untuk memberikan pertolongan. Bahkan negara kita, Indonesia sampai mengirimkan team reaksi cepatnya ke Haiti. Yah, walaupun pada akhirnya team kita tidak bisa mendarat di Haiti dikarenakan situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, tapi paling tidak ini menunjukkan perhatian negara kita terhadap apa yang terjadi di Haiti. Ini membuat saya teringat akan peristiwa tsunami di Aceh tahun 2004 yang lalu dan banyaknya perhatian dunia yang tertuju ke Aceh.

Haiti, setelah enam bulan, mencoba bangkit kembali. Walau dengan kesulitan disana-sini, berusaha untuk menata hidup mereka yang sekali lagi mendapat cobaan. Haiti, dengan senyum walaupun terlihat getir, masih bisa menari dan tertawa. Mencoba untuk tetap tegak berdiri. AYITI..KANPE..

Endang Satriyani Endang Satriyani, or known as Eno, has recently joined the UN mission in September 2007, having been assigned in Haiti, under MINUSTAH as UNV Finance Advisor, of which her main duty is working together with Haitian Nationale Police (HNP)...

Detail Profile »

3  Comments

by Nurul Rochayati at 15 July 2010, 05:33

Mbak Eno,

Sungguh sebuah berkah mbak Eno dan rekan-rekan kita masih selamat dari hantaman gempa itu. Membaca cerita mbak tentang Haiti 6 bulan setelah gempa, rasanya hati ini miris sekali. Seolah gempa baru kemarin terjadi. Kebetulan saya akhir-akhir ini banyak membaca artikel dari berbagai badan UN ato IGO mengenai Haiti setelah gempa. Gambaran mereka seolah sangat bagus, tapi cerita mbak membuka jendela kita bahwa mereka belum sampai ke tahap recovery yang seharusnya. Semoga kerja keras mbak dan rekan membantu mereka akan membawa manfaat yang luar biasa untuk mereka. Haiti Standing!

salam semangat
Nurul

by Luigi Pralangga at 15 July 2010, 17:13

Dear Mbak Eno,

Apa yang terjadi di haiti adalah cobaan luar baisa baik bagi rakyat Haiti dan misi PBB disana. Semoga semuanya bisa pulih kembali dan sama-sama setiap individu bisa bersatu dan beranjak keluar dari masalah yang ada. Didoakeun agar tugasnay dimudahkan dan mampu menjawab tantangan sehari-hari selama bertugas.. kepak sayap anak garuda Merah Putih di Haiti senantiasa membuat kita bisa bangga akan sumbangsihmu disana.

Mohon jaga kesehatan dan tetap waspada.. habis gelap terbitlah terang dengan catatan bahwa kita bisa terus mampu untuk melanjutkan perjalanan hingga menuju ujung terowongan (kegelapan) itu… salam hangat dari kita-kita di afrika barat..

by armanpasaribu at 19 July 2010, 03:37

Tiada badai yang tidak reda, tiada kesusahan tanpa kebahagiaan…mari berangkulan tangan bersama membantu saudara kita yang kesusahan di haiti…

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

798 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Sanra Michiko Moningkey Captain Air Force Sanra Michiko Moningkey was born in 1976 in Manado, having been graduated from the Indonesia’s Air Force Academy in 2002 is presently serving the United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), as Indonesia’s Garuda Contingent – Military...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 7 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 14 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 17 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 17 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 18 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago