Masih terbayang di ingatan gempa yang terjadi tanggal 12 januari 2010 lalu. Hari ini, tepat 6 bulan setelah gempa bumi melanda Haiti. Masih terbayang saat itu, bagaimana saya dan teman- teman yang terkena gempa berusaha keluar dari reruntuhan kantor kami. Belum lagi saat kami melihat bahwa kantor kami baik yang berada di Christopher Hotel maupun Villa Privee sendiri ternyata rata dengan tanah. Kami beruntung masih bisa selamat. Banyak dari teman-teman kami ternyata tidak dapat menyelamatkan diri karena gempa yang terjadi sangatlah cepat. Dalam hitungan detik, semua runtuh. Hitungan detik yang merubah wajah Haiti. Hitungan detik yang merubah hidup banyak orang termasuk saya. “people says…everything will never be the same…”
Kita kehilangan begitu banyak teman, baik itu warga masyarakat Haiti sendiri maupun teman-teman kami di kantor. Seratus satu (101) orang dari MINUSTAH dinyatakan tewas dan menjadi korban. Sementara itu, lebih dari 222.570 orang tewas, 300,572 luka-luka dan lebih dari seperempat dari jumlah penduduk kehilangan tempat tinggal. Bagi United Nations sendiri, ini merupakan kejadian yang tragis karena kehilangan personnel dalam jumlah yang besar, termasuk didalamnya kepala misi di Haiti, Mr.Hedi Annabi dan Deputynya Mr.Luis Da Costa.
Pagi ini, kami kembali berkumpul untuk mengenang teman-teman kami dan berdoa agar mereka yang telah berpulang di berikan tempat disisi sang pencipta, keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, dan kami yang masih berada disini diberikan kekuatan untuk dapat terus membantu Haiti menuju tahap recovery.
Sebuah mural artistic sebagai tanda untuk mengenang teman-teman kami kini terpasang di dalam Log Base, semoga ini bisa mengingatkan kita semua akan peristiwa di bulan Januari tersebut.
Haiti, khususnya Port Au Prince, setelah 6 bulan bulan gempa tidaklah terlalu banyak berubah. Disana-sini masih terlihat jelas dampak kerusakan dari gempa bumi. Gedung-gedung yang runtuh masih banyak yang belum dibersihan. Tempat-tempat pengungsian masih tersebar dimana-mana. Ini adalah kenyataan yang tidak dapat di pungkiri dimana proses emergency menuju proses recovery memang bukanlah persoalan yang mudah.
Haiti yang boleh dibilang sebelum gempa bumi sudah di gerogoti dengan banyak permasalahan, baik itu dari segi keamanan, pendidikan, ekonomi, kesehatan dan lain-lain. Kini dengan gempa bumi yang melanda 6 bulan yang lalu, membuat keadaan bertambah semaikin rumit. Cuaca yang tidak bersahabat (hurricane yang setiap tahun mengincar dan panasnya cuaca di Haiti) semakin membuat masyarakat Haiti terpuruk.
Meskipun keadaan ini sangat sulit, tentu saja kita tidak bisa menutup mata. Begitu banyaknya perhatian dunia yang tertuju ke Haiti. Respon kemanusiaan dari masyarakat dunia datang untuk memberikan pertolongan. Bahkan negara kita, Indonesia sampai mengirimkan team reaksi cepatnya ke Haiti. Yah, walaupun pada akhirnya team kita tidak bisa mendarat di Haiti dikarenakan situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, tapi paling tidak ini menunjukkan perhatian negara kita terhadap apa yang terjadi di Haiti. Ini membuat saya teringat akan peristiwa tsunami di Aceh tahun 2004 yang lalu dan banyaknya perhatian dunia yang tertuju ke Aceh.
Haiti, setelah enam bulan, mencoba bangkit kembali. Walau dengan kesulitan disana-sini, berusaha untuk menata hidup mereka yang sekali lagi mendapat cobaan. Haiti, dengan senyum walaupun terlihat getir, masih bisa menari dan tertawa. Mencoba untuk tetap tegak berdiri. AYITI..KANPE..




Mbak Eno,
Sungguh sebuah berkah mbak Eno dan rekan-rekan kita masih selamat dari hantaman gempa itu. Membaca cerita mbak tentang Haiti 6 bulan setelah gempa, rasanya hati ini miris sekali. Seolah gempa baru kemarin terjadi. Kebetulan saya akhir-akhir ini banyak membaca artikel dari berbagai badan UN ato IGO mengenai Haiti setelah gempa. Gambaran mereka seolah sangat bagus, tapi cerita mbak membuka jendela kita bahwa mereka belum sampai ke tahap recovery yang seharusnya. Semoga kerja keras mbak dan rekan membantu mereka akan membawa manfaat yang luar biasa untuk mereka. Haiti Standing!
salam semangat
Nurul
Dear Mbak Eno,
Apa yang terjadi di haiti adalah cobaan luar baisa baik bagi rakyat Haiti dan misi PBB disana. Semoga semuanya bisa pulih kembali dan sama-sama setiap individu bisa bersatu dan beranjak keluar dari masalah yang ada. Didoakeun agar tugasnay dimudahkan dan mampu menjawab tantangan sehari-hari selama bertugas.. kepak sayap anak garuda Merah Putih di Haiti senantiasa membuat kita bisa bangga akan sumbangsihmu disana.
Mohon jaga kesehatan dan tetap waspada.. habis gelap terbitlah terang dengan catatan bahwa kita bisa terus mampu untuk melanjutkan perjalanan hingga menuju ujung terowongan (kegelapan) itu… salam hangat dari kita-kita di afrika barat..
Tiada badai yang tidak reda, tiada kesusahan tanpa kebahagiaan…mari berangkulan tangan bersama membantu saudara kita yang kesusahan di haiti…