Correspondent Nadia FEBINA
Total 8 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 86 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
<< Ketika Si Cantik Lebanon Bernyanyi Lagu Indonesia
United Nations Medal - Sebuah kebanggaan bagi Kompi Zeni TNI di MONUC >>
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
Akang Luigi…..Bravo peacekeeper…..tulisan akang menggetarkan jiwa “peacekeper” saya ….tapi apa daya ...
by Catur Sulasdiarso in 60th anniversary of UN Peacekeeping: Active participation
50x sehari patroli udara? hebat… but, bahan bakar dunia sdg naik, ...
by Lili in Kontingen GARUDA XXIII B melaksanakan patroli pengintaian udara
enjoy reading kang luigi’s article! well-done written. wish i can have ...
by ukirsari in 60th anniversary of UN Peacekeeping: Active participation
Terus kabarkan kepada DUNIA yang GEMPITA, bahwa masih banyak ...
by cowoktulen in Sekolah kehidupan untuk anak Liberia
Hello Bapak, how are you doing? Its been a long time ...
by Nichael Supit in Sekolah kehidupan untuk anak Liberia
Selamat bertugas buat Konga XXIII B, dengan aktifnya Air Patrol ...
by Luigi Pralangga in Kontingen GARUDA XXIII B melaksanakan patroli pengintaian udara
wah, mantap banget, kalo permainan indonesia banyak banget, contohnya beteng2an, ….dan ...
by menwaums in Tentara PBB di Lebanon ikuti lomba balap egrang
sukses mas…saya selalu mengikuti berita dari sana meskipun nggak terus ...
by Sentot Hery Suseno in Tentara PBB di Lebanon ikuti lomba balap egrang
Mas Donasion,
Saya mengerti banget perasaan-nya jauh dari keluarga dan sanak-family, karena ...
by luigi pralangga in Pekan Baru: Merindu yang sudah membiru
pa, , , , , ,we miss u. . . .
pa, ...
by nandha in Pekan Baru: Merindu yang sudah membiru
Cuplikan percakapan dari film Blood Diamond:
“T.I.A”, kata Leonardo Di Caprio.
“T.I.A?”, tanya si cantik Jennifer Connely.
“This Is Africa”
Sembari mesem-mesem si nadiyem yang lagi nonton DVD Blood Diamond di rumah bergumam: “T.I.A bisa juga This Is Angola, yak. Kan sama-sama A.”

Sebelumnya saya minta maaf karena postingan ini sejatinya adalah sebuah curhatan akbar. Memang biarpun saya sudah mulai terbiasa dengan hal-hal yang normal bagi orang biasa tapi adalah sebuah kemewahan kalau di Angola, tapi tetep aja ada kejadian-kejadian yang bawaannya bikin mangkel. Bagi kita aneh, bagi mereka normal. Bagi kita normal, bagi mereka aneh. Begitulah suka duka hidup di sini. Kadang mulai meragukan yang namanya fakta, logika dan rasio, kalau bisa dibalik-balik begini, berarti tidak bersifat absolut ya? maap, melenceng! hehe
Jadi begini ceritanya.
Yang namanya di Angola, birokrasi itu seratus kali lebih rumit daripada di Indonesia. Aseli. Jadi temans, kalo mau ngomel sama birokrasi di Indonesia yang memakan waktu lama hanya untuk ngurus ini itu, mendingan ditunda dulu ngomelnya, ingat temanmu ini yang tinggal di Angola ini yaa, hehe. lhah melenceng lagi Oke, back to topic. Nnah dengan birokrasi yang panjang itu, semua rencana ke luar dari Angola tentunya harus dipikirkan masak-masak. Singkat cerita, untuk sekedar mencari penyegaran dan charge battere buat sepuluh hari berlibur ke negara tetangga, Namibia, persiapan pun harus dilakukan dari 2 bulan sebelumnya. Ini karena pesawat dari dan ke Angola itu sedikit, jadilah harus rebutan. Untungnya setelah ngotot-ngototan dengan travel agent yang bawelnya setengah mati, akhirnya ticket dan visa pun ada di tangan…setelah 2 bulan. Walaupun mesennya terbang dengan namibian airline, tapi karena faktor rebutan itulah dapetnya pesawat dari airline nasional angola. Agak ketar-ketir memang, tapi dipikir-pikir nggak pa-pa deh kan harus nyoba juga setidaknya sekali, iya gak?
Pada hari H nya kita harus berangkat, seneng banget dong tentunya. We were soo looking forward! Pesawat berangkat jam 11.00, kita harus udah ada di depan counter check-in jam 06.00, dan berangkat dari rumah jam 05.40. Itu berarti wekker menyala jam sekitar 04.30 pagi. Kebayang kan, berangkat siang harus bangun dari subuh. Ini walaupun agak mencengangkan kedengarannya, tapi buat kita-kita yang tinggal di Angola, udah mulai terasa normal. Jadi peraturannya, kalau mau berangkat, harus tiba di airport setidaknya 4 jam sebelum waktu keberangkatan. Dan memang nggak main-main. Biarpun kita datang tepat waktu (-4jam), begitu sampai di sana antriannya panjaaaang banget. Maklum, meja check-in nya cuma satu. Hehe, gila kan.
Setelah dengan setianya ngantri selama kurang lebih 1.5jam, akhirnya sampai juga saya dan Maskyu di depan counter check-in. Setelah menunjukkan ticket kami, si mas nya dengan nada datar bilang, “Mbak nya bisa berangkat, tapi suaminya nggak bisa.”
“Haaaa?“, kita berdua kaget. “Maksud looo? gimana-gimana, nggak ngerti”
“Iya, si masnya ga ada di list bookingan kita”
“Lhah, gimana ini udah valid ticket gitu loh. Ini lho mas, ticket nya.. Niiih.”
“Iya, tapi ga ada di sistem”
Setelah kita perhatiin, ternyata yang namanya “sistem” adalah secarik kertas bertulisan tangan yang isinya list penumpang-penumpang hari itu. Nggak ada komputer. Hanya secarik kertas yang nanti dicoret nama dan nomernya kalau si penumpang udah check-in. Seperti to-do-list saya sehari-hari!
“Coba tunggu aja di pinggir situ, nama suaminya saya masukin waiting list. Kalau ada penumpang yang cancel baru kamu bisa naik. Jadi tunggu aja”, kata si masnya dengan nada penuh otoritas. Rupanya dia mulai nggak sabaran.
Enak aja, dibegituin mulai habislah kesabaran saya & Maskyu, “Lhah gimana tho mas, saya kan udah bayar, ini buktinya.” Saya ngotot dung.
“Ya tapi namanya nggak ada di list ini, gimana mau saya masukin ke pesawat?”
“Lhoh, orang pake tulisan tangan begitu, paling kolega situ yang lupa ga masukin ke kertas. Atau jangan-jangan situ kali yang lupa.. hayyo??! Ayolah Mas, yang bener aja, ini kan bukan salah kita, masa jadi di waiting list”
“Lha iya, ini juga bukan salah saya. Kalau nama situ ga ada ya berarti ga ada. Titik.”
Nnah lo. Bingung. Inilah namanya logika dibalik-balik. Speechless in seattle, kita udah ga ngerti mau ngomong apa lagi. Akhirnya kita mengalah dan pergilah kita ke pojokan “waiting list”. Oh iya perlu digarisbawahi bahwa percakapan di atas berlangsung dengan bahasa inggris dicampur bahasa portugis karena si masnya nggak fasih bahasa inggris, dan saya & Maskyu juga cuma bisa ngomong bahasa portugis seipirt. Jadi ngebayang dong, hahaha.
Ternyata di pojokan itu setidaknya ada 4 korban lainnya. Jadilah kita korban-korban ini bercurhat-curhatan sejenak. Usut punya usut, ternyata kejadian seperti itu bukan hal yang aneh. Jadi.. ternyata memang benar. Sistemnya adalah: ada seseorang di airline ini yg tugas dan kerjanya kumpul-kumpulin dan mencatat satu-satu nama-nama penumpang untuk flight ini atau itu. Yaa, wajar sekali lah kalo si orang ini lagi siwer nama si penumpang jadi tidak terdaftar! Yang lebih dagelan lagi, biarpun udah ada ticket di tangan yang disertai bukti pembayaran, yang lebih dipercaya adalah si daftar siwer ini. Hahaha, berarti bener kaan judulnya: HANYA DI ANGOLA! :)
Walaupun akhir cerita nya adalah happy ending, yaitu masih ada tempat yang kosong untuk si Maskyu dan akhirnya alhamdulillah kita berangkat berlibur, tak urung kejadian seperti ini agak menimbulkan trauma kecil. Jadi sempet berikrar, kalau nggak terpaksa-terpaksa banget, mungkin itu terakhir kalinya naik airline nya mereka lagi. Secara rencana kami adalah yang terakhir kalinya terbang dengan si airline ini, tentunya nggak lupa dong jepret-jepret sebelum take-off, hehe. Teuteuuup. Kekekek. Tapi manyuuun, abis sebeeellll!!
Hahah, Portugis-English. Saya pikir tadinya di Angola teh bisa pakai bahasa Indonesia logat Semarang gitu :). Sukses selalu ya.
ini pernah juga terjadi di Khartoum satu tahun sebelumnya. mesti berada di aiport 3 jam sebelumnya. belum lagi kalau memasukkan bagasi berebut. terkadang kitanya masih di luar (saking kecilnya badan kita) tas nya udah ada di dalam dan berdebu!
Wah, neng.. ternyata di Liberia juga sama..! jadi istilahnya tiket ditangan bukan berarti akan terbang, biasanya sih kita-kita selalu kasih reminder via text message, telepon, kalau perlu datang ke kantor airlline/travel agent 2-3 hari sebelumnya. Kacau dah!
Bener khan tebakanku: nadiafebina.com/blog… fotonya diambil di Padang Gurun di Namibia.. hehehe!
Ternyata, Angola n liberia situasi airportnya cuma beda2 tipis ya! Makanya walaupun udah 3 kali keluar masuk Liberia tetep aja “stress” bawaannya, tiap nyampe di airport. Makanya benar adanya, kalo udah ada disana perasaan dan jiwa kita harus di setting seperti kelakuan orang2 africa itu..kalo ga yah makan hati aja situ..mungkin bisa dimulai dengan menyapa orang lain, Waz up mame? Gimme small small!!! ;p
Wah, mbak.. di negara kita juga sama kok. Di Papua juga walau udah punya tiket belum tentu terdaftar kok, malah bisa tiba-tiba “digantikan” sama yang lain. Saya pernah harus mundurkan kunjungan karena tim yang mau datang “tidak ada di daftar” padahal tiket sudah di tangan. Padahal “hanya” dari manokwari ke sorong hehe jadi trip ke field bercampur antara senang dan stres! Salam.
wah, gile…gak kebayang tu repotnya mau berangkat liburan……berarti di Indonesia lebih mending ya……hehe….tidak alternatif lain selain udara ya? kereta api gitu/bis? mungkin butuh banyak waktu ya kalo lewat darat….
btw, thanks for sharing,
salam,
ndak papa kalo ribet perjalanannya…yang penting bisa dijadiin bahan postingan, hehehehehe… :D
Nadia… wah, akhirnya kumenemukanmu disini, hehehe.. nyasar kesini ngikutin link yg dikasih mas luigi.. (hai massss, thanks for your advise for my new name).
Nad, keren yach fotonya. Dikau ikut suami yach ke Angola. Duh, hebat yach. Senang sekali baca ceritanya.. pengen nambah malah, hehehehe… :-)
Anyway, OOT, Have you got my email??… kalo udah sempat, bales ya say… Yes, lets be a penpal… :-) (kayak anak ABEGE aja kita yah, hahahaha)
T.A.L.C (tender, attantion, love and care),
silly
« Ketika Si Cantik Lebanon Bernyanyi Lagu Indonesia United Nations Medal - Sebuah kebanggaan bagi Kompi Zeni TNI di MONUC »