Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Nadia FEBINA

Hanya Terjadi di Angola

10 April 2008, 09:17 , by Nadia Febina

 

Cuplikan percakapan dari film Blood Diamond:
“T.I.A”, kata Leonardo Di Caprio.
“T.I.A?”, tanya si cantik Jennifer Connely.
“This Is Africa”

Sembari mesem-mesem si nadiyem yang lagi nonton DVD Blood Diamond di rumah bergumam: “T.I.A bisa juga This Is Angola, yak. Kan sama-sama A.”

Sebelumnya saya minta maaf karena postingan ini sejatinya adalah sebuah curhatan akbar. Memang biarpun saya sudah mulai terbiasa dengan hal-hal yang normal bagi orang biasa tapi adalah sebuah kemewahan kalau di Angola, tapi tetep aja ada kejadian-kejadian yang bawaannya bikin mangkel. Bagi kita aneh, bagi mereka normal. Bagi kita normal, bagi mereka aneh. Begitulah suka duka hidup di sini. Kadang mulai meragukan yang namanya fakta, logika dan rasio, kalau bisa dibalik-balik begini, berarti tidak bersifat absolut ya? maap, melenceng! hehe

Jadi begini ceritanya.

Yang namanya di Angola, birokrasi itu seratus kali lebih rumit daripada di Indonesia. Aseli. Jadi temans, kalo mau ngomel sama birokrasi di Indonesia yang memakan waktu lama hanya untuk ngurus ini itu, mendingan ditunda dulu ngomelnya, ingat temanmu ini yang tinggal di Angola ini yaa, hehe. lhah melenceng lagi Oke, back to topic. Nnah dengan birokrasi yang panjang itu, semua rencana ke luar dari Angola tentunya harus dipikirkan masak-masak. Singkat cerita, untuk sekedar mencari penyegaran dan charge battere buat sepuluh hari berlibur ke negara tetangga, Namibia, persiapan pun harus dilakukan dari 2 bulan sebelumnya. Ini karena pesawat dari dan ke Angola itu sedikit, jadilah harus rebutan. Untungnya setelah ngotot-ngototan dengan travel agent yang bawelnya setengah mati, akhirnya ticket dan visa pun ada di tangan…setelah 2 bulan. Walaupun mesennya terbang dengan namibian airline, tapi karena faktor rebutan itulah dapetnya pesawat dari airline nasional angola. Agak ketar-ketir memang, tapi dipikir-pikir nggak pa-pa deh kan harus nyoba juga setidaknya sekali, iya gak?

Pada hari H nya kita harus berangkat, seneng banget dong tentunya. We were soo looking forward! Pesawat berangkat jam 11.00, kita harus udah ada di depan counter check-in jam 06.00, dan berangkat dari rumah jam 05.40. Itu berarti wekker menyala jam sekitar 04.30 pagi. Kebayang kan, berangkat siang harus bangun dari subuh. Ini walaupun agak mencengangkan kedengarannya, tapi buat kita-kita yang tinggal di Angola, udah mulai terasa normal. Jadi peraturannya, kalau mau berangkat, harus tiba di airport setidaknya 4 jam sebelum waktu keberangkatan. Dan memang nggak main-main. Biarpun kita datang tepat waktu (-4jam), begitu sampai di sana antriannya panjaaaang banget. Maklum, meja check-in nya cuma satu. Hehe, gila kan.

Setelah dengan setianya ngantri selama kurang lebih 1.5jam, akhirnya sampai juga saya dan Maskyu di depan counter check-in. Setelah menunjukkan ticket kami, si mas nya dengan nada datar bilang, “Mbak nya bisa berangkat, tapi suaminya nggak bisa.”

Haaaa?“, kita berdua kaget. “Maksud looo? gimana-gimana, nggak ngerti”
“Iya, si masnya ga ada di list bookingan kita”
“Lhah, gimana ini udah valid ticket gitu loh. Ini lho mas, ticket nya.. Niiih.”
“Iya, tapi ga ada di sistem”

Setelah kita perhatiin, ternyata yang namanya “sistem” adalah secarik kertas bertulisan tangan yang isinya list penumpang-penumpang hari itu. Nggak ada komputer. Hanya secarik kertas yang nanti dicoret nama dan nomernya kalau si penumpang udah check-in. Seperti to-do-list saya sehari-hari!

Coba tunggu aja di pinggir situ, nama suaminya saya masukin waiting list. Kalau ada penumpang yang cancel baru kamu bisa naik. Jadi tunggu aja”, kata si masnya dengan nada penuh otoritas. Rupanya dia mulai nggak sabaran.
Enak aja, dibegituin mulai habislah kesabaran saya & Maskyu, “Lhah gimana tho mas, saya kan udah bayar, ini buktinya.” Saya ngotot dung.
“Ya tapi namanya nggak ada di list ini, gimana mau saya masukin ke pesawat?”
“Lhoh, orang pake tulisan tangan begitu, paling kolega situ yang lupa ga masukin ke kertas. Atau jangan-jangan situ kali yang lupa.. hayyo??! Ayolah Mas, yang bener aja, ini kan bukan salah kita, masa jadi di waiting list”
“Lha iya, ini juga bukan salah saya. Kalau nama situ ga ada ya berarti ga ada. Titik.”

Nnah lo. Bingung. Inilah namanya logika dibalik-balik. Speechless in seattle, kita udah ga ngerti mau ngomong apa lagi. Akhirnya kita mengalah dan pergilah kita ke pojokan “waiting list”. Oh iya perlu digarisbawahi bahwa percakapan di atas berlangsung dengan bahasa inggris dicampur bahasa portugis karena si masnya nggak fasih bahasa inggris, dan saya & Maskyu juga cuma bisa ngomong bahasa portugis seipirt. Jadi ngebayang dong, hahaha.

Ternyata di pojokan itu setidaknya ada 4 korban lainnya. Jadilah kita korban-korban ini bercurhat-curhatan sejenak. Usut punya usut, ternyata kejadian seperti itu bukan hal yang aneh. Jadi.. ternyata memang benar. Sistemnya adalah: ada seseorang di airline ini yg tugas dan kerjanya kumpul-kumpulin dan mencatat satu-satu nama-nama penumpang untuk flight ini atau itu. Yaa, wajar sekali lah kalo si orang ini lagi siwer nama si penumpang jadi tidak terdaftar! Yang lebih dagelan lagi, biarpun udah ada ticket di tangan yang disertai bukti pembayaran, yang lebih dipercaya adalah si daftar siwer ini. Hahaha, berarti bener kaan judulnya: HANYA DI ANGOLA! :)

Walaupun akhir cerita nya adalah happy ending, yaitu masih ada tempat yang kosong untuk si Maskyu dan akhirnya alhamdulillah kita berangkat berlibur, tak urung kejadian seperti ini agak menimbulkan trauma kecil. Jadi sempet berikrar, kalau nggak terpaksa-terpaksa banget, mungkin itu terakhir kalinya naik airline nya mereka lagi. Secara rencana kami adalah yang terakhir kalinya terbang dengan si airline ini, tentunya nggak lupa dong jepret-jepret sebelum take-off, hehe. Teuteuuup. Kekekek. Tapi manyuuun, abis sebeeellll!!

Nadia FEBINA Nadia FEBINA Nadia Febina has been working as an engineer for 7 years in oil & gas projects & production for a major oil company. She now lives in Angola since February 2007. Prior to that, also as an engineer, she had...

Detail Profile »

8  Comments

by Koen at 10 April 2008, 12:37

Hahah, Portugis-English. Saya pikir tadinya di Angola teh bisa pakai bahasa Indonesia logat Semarang gitu :). Sukses selalu ya.

by wijaya at 10 April 2008, 14:10

ini pernah juga terjadi di Khartoum satu tahun sebelumnya. mesti berada di aiport 3 jam sebelumnya. belum lagi kalau memasukkan bagasi berebut. terkadang kitanya masih di luar (saking kecilnya badan kita) tas nya udah ada di dalam dan berdebu!

by Luigi Pralangga at 10 April 2008, 15:14

Wah, neng.. ternyata di Liberia juga sama..! jadi istilahnya tiket ditangan bukan berarti akan terbang, biasanya sih kita-kita selalu kasih reminder via text message, telepon, kalau perlu datang ke kantor airlline/travel agent 2-3 hari sebelumnya. Kacau dah!

Bener khan tebakanku: nadiafebina.com/blog… fotonya diambil di Padang Gurun di Namibia.. hehehe!

by Fenty at 10 April 2008, 16:17

Ternyata, Angola n liberia situasi airportnya cuma beda2 tipis ya! Makanya walaupun udah 3 kali keluar masuk Liberia tetep aja “stress” bawaannya, tiap nyampe di airport. Makanya benar adanya, kalo udah ada disana perasaan dan jiwa kita harus di setting seperti kelakuan orang2 africa itu..kalo ga yah makan hati aja situ..mungkin bisa dimulai dengan menyapa orang lain, Waz up mame? Gimme small small!!! ;p

by Yulia at 11 April 2008, 11:09

Wah, mbak.. di negara kita juga sama kok. Di Papua juga walau udah punya tiket belum tentu terdaftar kok, malah bisa tiba-tiba “digantikan” sama yang lain. Saya pernah harus mundurkan kunjungan karena tim yang mau datang “tidak ada di daftar” padahal tiket sudah di tangan. Padahal “hanya” dari manokwari ke sorong hehe jadi trip ke field bercampur antara senang dan stres! Salam.

by Bardan Dalimunthe at 12 April 2008, 01:18

wah, gile…gak kebayang tu repotnya mau berangkat liburan……berarti di Indonesia lebih mending ya……hehe….tidak alternatif lain selain udara ya? kereta api gitu/bis? mungkin butuh banyak waktu ya kalo lewat darat….

btw, thanks for sharing,

salam,

by anton ashardi at 12 April 2008, 05:00

ndak papa kalo ribet perjalanannya…yang penting bisa dijadiin bahan postingan, hehehehehe… :D

by Silly at 23 April 2008, 04:29

Nadia… wah, akhirnya kumenemukanmu disini, hehehe.. nyasar kesini ngikutin link yg dikasih mas luigi.. (hai massss, thanks for your advise for my new name).

Nad, keren yach fotonya. Dikau ikut suami yach ke Angola. Duh, hebat yach. Senang sekali baca ceritanya.. pengen nambah malah, hehehehe… :-)

Anyway, OOT, Have you got my email??… kalo udah sempat, bales ya say… Yes, lets be a penpal… :-) (kayak anak ABEGE aja kita yah, hahahaha)

T.A.L.C (tender, attantion, love and care),
silly

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

797 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Arief Rahman Hakim Major Arief Rahman Hakim, married to Sully Dewi Triono, with two children. Deployed by the Indonesian Navy to represent the country serving as the Indonesian Military Observer under the mandate of United Nations Stabilization Mission in Nepal (UNMIN) based in...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 7 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 10 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 10 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 11 days ago

TNI Bantu Clearing Landasan Helipad di Dungu
(Dungu-Kongo, 19/01). Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Kompi Zeni TNI Kontingen Garuda XX-I/MONUSCO dibawah pimpinan Letnan Kolonel Czi Sapto Widhi Nugroho selaku Komandan Satgas (Dansatgas) di samping tugas pokoknya memberi bantuan Zeni kepada Divisi Timur Brigade Ituri MONUSCO (Mission De L Organisation Des Nations Unies pour La Stabilization en Republique Demokratique du Congo) diantaranya mengerjakan jalan Dungu-Duru sepanjang 38 Km dan pemeliharaan Runway, juga melaksanakan clearing di sekitar landasan Helipad di Dungu agar tetap terjaga kebersihannya serta tidak mengganggu helly pada saat take off maupun landing, Rabu (18/1/2012).
Sulikan , 13 days ago

 

Recent Comments

frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Sameer commented on Makhluk Tuhan Paling Sexy di Nepal
a few seconds ago


sutiana commented on Tibet dan romantisme putus cinta
a few seconds ago