About This Post

Correspondent Luigi PRALANGGA

Total 22 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 589 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 5.0/10(1 vote cast)

Articles

Harga [mahal] sebuah konflik bersenjata bagi kanak-kanak

Seorang remaja putri dengan umur 15 tahun, yang berhasil di wawancarai oleh badan HAM dunia, yaitu Amnesty International, berkisah bahwa dirinya diculik saat tengah malam dari kediamannya oleh Gerombolan Milisi/Pemberontak LRA di Uganda yang dikenal sebagai Lord’s Resistance Army.

Konflik bersenjata, apapun itu jenisnya – apakah itu konflik bersenjata seperti apa yang sudah lama terjadi antara Palestina dan Israel, antara Hizbullah di Lebanon dengan Israel, Pemerintah Russia dan para pejuang Chechnya , lalu Gerilyawan Somalia dengan pemerintah transisi Somalia yang didukung oleh pasukan bersenjata dari negara tetangganya (Ethiopia), sampai kepada konflik serupa di Sierra Leone, Ivory Coast, Burundi, Sudan dan juga Liberia – kesemuanya itu jelas memberikan kontribusi negatif terhadap pengembangan sumber daya manusia, pelanggaran HAM, pembangunan sosial-ekonomi dan aspek kehidupan lainnya.

Salah satu lini dari aspek degradasi diatas adalah dampak konflik bersenjata terhadap anak.
Seperti halnya yang terjadi pada Liberia, Negeri yang dulunya dikenal sebagai permata di barat afrika ini – saat ini masuk dlam kategori 18 negara termiskin di dunia dan parahnya saat ini Liberia berada dalam situasi yang lebih terpuruk lagi, bila mengambil referensi acuan pada Human Development Report tahun 1990.

Menurut data statistik UNDP, bahwa 76,2 % penduduk di Liberia berada dibawah garis kemiskinan, dan hidup dengan pedapatan kurang dari satu dollar perhari-nya, dengan jumlah pengangguran yang mencapai 85 % ini, Liberia ini terus berada dalam jajaran negara – negara dengan resiko kelangkaan pangan di dunia dengan prakiraan sebesar 35% penduduknya mengalami gizi buruk.

Pertanian atau Agriculture yang notabene sejak dahulu (sebesar 54%) telah menjadi sektor pendapatan/pemasukan utama negara, kini hanya tersedia dan dipenuhi dari jumlah bantuan darurat yang berasal dari badan adminsitrasi pangan dunia, FAO dan bekerja sama dengan WFP (World Food Program). Selain Ubi Kayu (Baca: Singkong), makanan pokok penduduk Liberia adalah serupa dengan kita di kampung, yaitu Beras/Nasi/Rice dimana beras ini adalah jenis asupan diet utama (90%) penduduk pada umumnya dan ironisnya hampir seluruh kebutuhan akan beras orang-orang Liberia, sebesar 95% pasokan itu dipenuhi oleh import, menyedihkan bukan? – gambaran serupa mungkin juga terjadi di tanah air – dimana kita [Indonesia] terus mengimport beras dari negara lain – ketimbang mengembangan swasembada beras seperti dahulu pernah dicapai.

by dodski at 11 January 2007, 04:05
semoga ini menjadi pembelajaran yg berarti buat kita semua....

eh, posting saya yg terbaru ga bisa kebuka? makanya pasang flash dunk di komputer anda :D
by Adham Somantrie at 11 January 2007, 04:16
konflik senjata memang tidak pernah memberikan efek positif yang lebih banyak daripada efek negatifnya...
by JaF at 11 January 2007, 05:04
Aminn...

But, Bossman :) , I found it quite an irony.. Di satu sisi kita bersyukur anak-anak kita di tanah air tidak harus jadi korban perang. Tapi di sisi lain, ada kita diperangi oleh hal lain yang dalam jangka panjang bisa menelan korban lebih parah lagi, bukan secara fisik tapi mental anak-anak kita.. Korupsi yang parah dan sudah membudaya adalah salah satu yang paling saya takutkan, lebih dari busung lapar. Sayang 'amunisi' kita masih belum cukup. Dana pendidikan aja cuma berapa segelintir persen dari dana buat beli senjata kayak yang biasa di gotong si Mas Taragawe itu...

Sering saya berpikir, "God sure works in a strange way", ya..
by Hedi at 11 January 2007, 07:36
Yang dialami Liberia itu bisa menghilangkan generasi (generation lost) berapa tahun ke depan ya? Indonesia yang tak separah Liberia kondisinya saja mungkin sudah kehilangan dua generasi :(
by fitri mohan at 11 January 2007, 07:49
kang, saya jadi teringat film Blood Diamond dimana anak-anaknya jadi pemegang senjata dan ditugasi untuk berperang. saya nontonnya aja bergidik dan membayangkan gimana mengerikannya keadaan ini kalau terjadi di lingkungan sendiri. sungguh-sungguh membuat miris...


by dirac at 11 January 2007, 11:46
perang memang membawa akibat buruk bagi siapapun yang terlibat. kapan ya perang bisa lenyap dari muka bumi?
by chocoluv at 11 January 2007, 14:12
huff,,, seharusnya saya bersyukur bisa hidup enak dan sekolah lancar... T_T liat darah aja takut, apalagi disuruh liat pembunuhan di depan mata sndiri
by cacingkepanasan at 11 January 2007, 16:55
Kalau perang bisa merugikan sekali, jadi buat apa ada perang ya :D

by Jeanny Lantang at 11 January 2007, 17:35
Well, Langga..quiet pretty sad that kids hadbeen became as victims just for the politic reason there.
Thanks God was not happened here, however, hadbeen became a
victims from other side, like corruption. They couldn't get a good education especially enough meal for almost they daily life.
Beras ,cabe dan bahan2 kebutuhan pokok lainnya naik from 18 until 40%.

by adek alma at 11 January 2007, 19:20
bukan suatu hal yg muluk, bila kita susunkan jari ini untuk bersama-sama mohon ampun kepada Allah SWT, agar segala bentuk peperangan di dunia ini segera dihentikan.... kasihan anak-anak selalu menjadi korban peperangan yang mereka sendiri tidak tahu "mengapa harus terjadi?"
by Arif Kurniawan at 11 January 2007, 22:37
Kang Luigi... saya teh jadi tertarik untuk mencoba mempelajari sistim edukasi di Monrovia. Sayang internet tidak terlalu banyak memberikan informasi mengenai hal tersebut.
Kalau boleh, saya mengharapkan Kang Luigi menulis edukasi di Monrovia, sukur-sukur kalau Greenville dan Harper juga ikut ditulis. Lumayan datanya bisa dipergunakan publik.

Mengenai export children mercenaries comodity... Apakah anak-anak ex-combatant/korban penculikan itu juga diekspor untuk konflik terbaru akhir-akhir ini di Somalia?

Mohon kalau ada tulisannya, tolong dipublikasikan. Sebab beberapa rekan-rekan jaringan kemanusiaan di semua belahan dunia membutuhkannya demi membuat agenda kampanye bersama untuk human trafficking.
by Rara at 12 January 2007, 05:04
Kasian ya mereka.. Di Indonesia, terutama Jakarta.. 'anak2 malang' seperti mereka jg tak kalah banyak.. Cma, mereka bukan korban perang, tapi korban ketidakpedulian orang tua mereka.. jga ketidakpedulian yang punya Indonesia.. siapa?/ *Indonesia punya kita juga kan??* :D

*mudik hampir tiba.. mudik hampir tiba.. hore.. hore.. * -gaya Tasya-
by mbakDos at 12 January 2007, 10:57
buat anak2, rasanya bukan sekedar bahaya ikut perang-nya aja yang bikin miris. tapi apa akibat dari keterlibatan mereka di perang, itu yang lebih mengenaskan.
bukan bermaksud mengecilkan, tapi kalo 'sekedar' fisik yang kemudian jadi berkurang fungsinya, mungkin masih akan lebih baik dibandingkan traumatic berkepanjangan yang pastinya akan menghantui sepanjang hidup.

and glad to hear that your beloved kids don't need to feel that way... :-)
by venus at 12 January 2007, 16:00
miris saya ngebayangin anak-anak itu, mas :(
by Widya at 12 January 2007, 20:20
Setelah kita mengetahui bahwa ada kehidupan yang lebih buruk daripada di negara sendiri baru kita bisa merasakan betapa masih beruntungnya kita.. bahwa anak anak kita masih bisa sekolah dengan tenang.. bahwa sesulit sulitnya keadaan di negara kita, ternyata kita ga perlu ngeliat anak anak usia sekolah berkeliaran membawa senjata daripada duduk manis di bangku sekolah mereka. Maka dari itu... damailah Dunia.. jangan pada berantem dhonkkkk....



by ambar at 13 January 2007, 00:03
Buat para orang tua ... ceritain deh kisah ini ke anak2nya ... biar tambah motivasi belajar mereka.

Buat kang luigi, LANJUTKAN PERJUANGAN MAN ! kalo bisa suatu saat bisa jadi SG-nya UN yah ... amin. Biar kita bisa dukung UN Peacekeeping n tambah banyak milobs dr indo ... he he he
by aRdho at 15 January 2007, 05:04
ngeri banget ya.. :(
by Yoki at 16 January 2007, 02:38
Memang ironis dan konflik bersenjata dimanapun mempunyai dampak terbesar kepada anak-anak yang notabene mereka tidak tahu dan belon tahu berbuat apa, dan ini yang membuat berdirinya sebuah negara menjadi rentan dengan pondasi yang semakin rentan karena anak-anak terus semakin terpuruk. Meski Indonesia tidak mendapati konflik bersenjata seperti di negara-negara afrika sana, bukan berarti generasi anak-anak kita sudah berkecukupan....secara fisik mungkin ya, tapi kalau kita runut secara seksama, bukanlah hal yang baik mereka dibesarkan oleh sebuah sistem masyarakat yang semakin berkurang menghargai integritas hidup dan saling menghargai sesama. Terlebih, nilai sebuah kejujuran yang di tanamkan kepada mereka melalui pendidikan semakin sirna hilang oleh tuntutan yang namanya pembangunan, dan hal ini lambat-laun akan berujung ketidakstabilan pondasi negara juga di kemudian hari....but! It's is our responsibility to provide and support young generation become more strong civil society base on honesty, you like it or not!

Huuuuu saya tahu banget rasanya waktu ketemu keluarga semakin dekat....sayapun begitu...masih 5 bulan lagih....hikhik
by dian ina at 16 January 2007, 13:58
*merinding*

katanya sih kalo anak-anak emang lebih gampang dicuci otaknya, lebih gampang sembunyi kalo ada bahaya dan takut buat kabur. gila juga milisi bersenjata itu. apa anak-anak mereka sendiri juga diseret ke medan perang?

kok tega...
by maya at 16 January 2007, 19:22
bersyukur banget aku bisa nuntasin sekolah dan gag terpaksa angkat senjata gara2 perang, mas :)
by cikal61 at 16 January 2007, 23:23
tinggal di indonesia memang ternyata masih enak......
walau di beberapa daerah masih ada konflik yg terjadi tapi di makassar saya masih bisa nge-blog........

apa memang sejarah suatu negara harus ditempa oleh konlik?
by piter at 17 January 2007, 00:19
good entry, tetchy. Should be posted with "Harga Mahal Sebuah Konflik bagi anak-anak" title coz within bullets and missiles or not, most of children here dealing with the same situation. Elite's conflicts.

someone stupid.