Correspondent Luigi PRALANGGA
Total 37 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 629 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
<< HUT MARINIR Ke-61 Dirayakan di Lebanon
Munim: Perjalanan Sang Diplomat >>
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Badan AIDS PBB, UNAIDS telah memperingatkan bahwa personil militer adalah kelompok dengan resiko tertinggi untuk tertular dan menjadi elemen penyebaran HIV. Hal ini juga tertuang dalam UNAIDS report on peacekeepers and AIDS bulan July 2006.
Kalau kita berbicara perihal masalah yang satu ini, HIV/AIDS, memang tidak akan berujung batas dan pembahasannya, selain ini adalah sudah menjadi agenda global, dan menjadi keprihatinan hampir semua penyelenggara negara, dimana menurut data dari UNAIDS, badan PBB yang menangani urusan ini, kisaran lebih 30% dari penyebaran HIV/AIDS ini berada di benua Afrika.
Pada 21 April 2006 lalu, dalam sebuah wawancara, dikutip dari IRIN-NEWS, “Liberia’s new peacetime government is alarmed at the rapidly rising rate of HIV and AIDS infections, which is now a “serious problem”, kata President Ellen Johnson-Sirleaf.
HIV/AIDS memang telah menjadi problema serius di Liberia; dimana problem ini telah beranjak pertumbuhannya menjadi rata-rata 12% (dan} prosentasi infeksi yang terjadi pada kanak-kanak dan wanita dirasa lebih tinggi.
Selama perang sipil yang berlangsung 14 tahun itu, senjata dan mortir adalah elemen yang biasa dipergunakan, termasuk juga kekerasan seksual dan pemerkosaan yang dilakukan untuk menteror, mengintimidasi/mengontrol terhadap populasi sipil. Menurut prakiraan PBB, sekitar 40% wanita di Liberia telah menjadi korban selama periode perang sipil.
Sejak, September 2003, dengan di tandatanginya “Accra Comprehensive Peace Accord”, peperangan telah terhenti dan Liberia dijaga oleh 15.000 pasukan pemulih perdamaian dari PBB yang disumbang oleh 46 negara dalam naungan UNMIL, dimana sebelum pasukan perdamaian internasional UNMIL masuk ke Liberia, peacekeeping troops di Liberia berasal dari kontingen negara-negara West African states.
Menurut sang presiden (Ellen Johnson-Sirleaf), kehadiran sejumlah besar pasukan tersebut juga memberikan kontribusi terhadap masalah AIDS yang sudah ada.
“We have peacekeeping forces in this country, and they have been here many years of our conflict. They come from areas where the infection rate is much higher. Our sexual behaviour, contribution and interactions with those who come with the peacekeeping forces, all increases the incidence of AIDS. So today we are feeling the effect,” kata Presiden Sirleaf.
Diantara para kontingen peackeepers yang tergabung dalam the United Nation Mission in Liberia (UNMIL) adalah berasal dari battalions dan police support dari berbagai negara di belahan selatan Afrika dengan diantara mereka berasal dari negara dengan tingkat pertumbuhan infeksi AIDS tertinggi di dunia.
Memang saya juga merasa bahwa ini adalah urusan sakit kepala dunia, bukan hanya Liberia dan mereka di negara lain di Afrika saja.
Sejak awal si kampret ini menjejakkan kakinya di Liberia, sudah banyak yang UNMIL lakukan, saya masih ingat banget briefing yang dihadiri saat masih tergolong sebagai “Newly Deployed/Arrived staffs”, mengikuti banyak sekali briefing dan meeting tentang mission orientation, sejak masih di New York dan hingga nyampe di negeri si bau kelek ini.
Diantara beberapa briefing itu, termasuk diantaranya adalah HIV/AIDS Awareness Program yang menjadi menu wajib bagi semua staff UNMIL yang baru datang, untuk hadir dan menyelesaikan briefing itu dimana disana dijelaskan bahaya HIV/AIDS, jenis penyebarannya sampai ke langkah-langkah preventif, termasuk itu bagaimana cara memasang kondom (yang baik dan benar) – diuji satu persatu, berbekal “burung-burungan karet” yang jumlahnya tauk berapa banyak – saat dibagikan dengan sebungkus kondom – ada kali di model burung-burungan itu bertumpuk dalam dua keranjang seterikaan penuh!, ada yang warna hitam, merah jambu dan warna coklat sepertu kulit sayah! (Gelo!)
Berhasil memang, selepas kita keluar dari kelas pelatihan itu, dengan berbagai display foto-foto medis dari contoh kasus STD (Penyakit kelamin), yang burung-burungnya melepuh karena penyakit ini dan itu, dan ada yang burungnya sakit seperti terlihat persis telor ceplok bentuknya (Wah, kacau deh!) dan lain sebagainya, pokoknya abis itu – intinya: Jaga burungmu itu, jangan sampai lepas dan masuk ke sarang burung yang bukan milik/semestinya.
Banyak program yang dijalankan oleh UNMIL baik sensitising terhadap para/internal antar-sesama staff UNMIL serta kepada para military peacekeepers di level kontingen dan kepada khalayak ramai di Liberia akan bahaya/ancaman HIV/AIDS dan langkah-langkah pencegahannya.
Selain dari training awareness tersebut, kebijakan baru dalam Peacekeeping Guidelines yang sudah lumayan lama di terbitkan bahwa UN discourage personnel from sexual relations with members of the local community, and ban sex in exchange for money.
Badan AIDS PBB, UNAIDS telah memperingatkan bahwa personil militer adalah kelompok dnegan resiko tertinggi untuk tertular dan menjadi elemen penyebaran HIV. hal ini juga tertuang dalam UNAIDS report on peacekeepers and AIDS bulan July 2006. Terlepas dari prestasi yang telah diraih UNAIDS tahun 2000, jalan masih sangat panjang kedepan, dan tujuan/misi yang tercantum dalam Resolusi No. 1308, bahwa seluruh anggota peacekeepers (militer) dan staff yang tidak berseragam (sipil) harus diberikan pengetahuan/pemahaman dan pemberdayaan untuk melindungi diri dan mereka lainya terhadap HIV.
« HUT MARINIR Ke-61 Dirayakan di Lebanon Munim: Perjalanan Sang Diplomat »