About This Post

Correspondent Luigi PRALANGGA

Total 7 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 352 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 5.5/10(2 votes cast)

Articles

I am an army of one

Musim panas tahun 1989, Tokyo berada dibawah sinar mentari yang cukup terik. Kawan satu asrama saya waktu itu, sebutlah dia namanya, Jiro Kobayashi adalah kawan yang sedikit berbeda dengan anak-anak Jepang lainya yang saya kenal sebagai national camper.

Ya, waktu itu, musim panas tahun 1989, si Kampret ini bergabung dalam sebuah misi pertukaran pelajar di Jepang. Musim panas waktu itu adalah masa dengan kegiatan terpadat dan melelahkan buat saya yang waktu itu baru berusia 15 tahun.

Jiro, seingat saya – kalau dilihat dari rata-rata tampang anak-anak Jepang lainya, itu mirip karakter kartun jepang, sosok seorang jagoan, parasnya tinggi dari kebanyakan, dan terbilang lebih cakep dari rata-rata peserta Camping Pemuda se-Asia Pasifik lainya, yang kata saya sih, mereka semua tampangnya kalau tidak kurus begeng macam orang-orangan sawah atau gendut buntet macam si Giant-nya kartun Doraemon dengan pipi bundar penuh jerawat mirip roti burger bertabur biji sesame (Baca: Wijen), dengan senyum dan gigi kuningnya yang super-butek itu, serta berbicara Bahasa Inggris dengan logat yang amat jauh dari mudah untuk dimengerti kedua kuping ini. Sumpah!

Dengan kepiawaian Jiro berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, membuatnya didaulat menjadi ketua kelompok dalam banyak sesi diskusi, dimana peserta dari negara lainya turut merasa hambatan komunikasi sebelumnya tuntas teratasi.

Terlepas dari beragamnya deskripsi fisik yang digambarkan secara sontoloyo barusan tadi, satu hal yang membuat saya salut adalah, kinerja dan semangat juang mereka pantas diacungi jempol, serta rasa respek yang bukan kepalang terhadap para kakak-pembina dan para staff exchange programme itu.

Bushido, yaitu falsafah juang orang Jepang yang tertanam kuat sejak kecil, telah menjadikan bangsa dan negara mereka maju melesat meninggalkan ketinggalannya dan membuat Jepang seperti kondisi saat ini.

Mereka kuat, bukanlah semata dari besarnya kekuatan armada dan angkatan perang layaknya negeri Paman Sam itu. Namun Semangat juang masing-masing individunya yang besar dan terus terjaga tinggi.

Dengan seragam atau tidak, tanpa atau dengan senjata, sebenarnya kalau kita masing-masing mau sadari, dan mulai berbuat perubahan – setiap individu adalah anggota prajurit. Each of us is an army of one, fighting the same war as a nation: Making a better future.

Menjadi pejuang tidaklah harus selalu berada didalam seragam atau berbekal senjata.. jiwa dan semangat juang serta rasa cinta tanah air dan bela bangsa adalah senjata yang utama.

*_Jadilah prajurit pejuang, dan pejuang prajurit.._ *karena dengan falsafah itulah kita bisa bisa maju mengajar ketinggalan, memerdekakan diri dari ikatan, menjamin masa depan yang lebih baik. Seperti halnya falsafah Bushido bagi orang Jepang.

Setiap anak bangsa ini, mempunyai tanggung-jawab bersama (a shared-responsibility) melalui peranan dan kapabilitasnya masing-masing pada bidangnya, merapatkan barisan, menyatukan langkah dan memberdayakan sesama dalam semangat persatuan untuk membawa bangsa Indonesia kembali menjadi bangsa yang besar dan makmur.

Meminjam kembali apa yang pernah dilontarkan JFKAsk not what your country can do for you; ask what you can do to your country

by hilman at 4 September 2007, 18:00

Bener tuh kang, penduduk kita yang banyak ini kalau setiap orang berkarya yang terbaik untuk bangsanya dilandasi semangat kebangsaan dan patriotisme (nggak harus militer lho…)dapat kita bayangkan betapa hebatnya negara kita. Sekecil apapun karya kita pasti akan punya arti, seperti ingat cerita Colombus (kalau nggak salah lho) ketika menantang seluruh orang yang hadir disitu untuk mendirikan telur, tidak ada yang bisa, selanjutnya dia pecahkan sisi lain dari telur dan ternyata bisa berdiri.Namun timbul komentar mereka “wah kalau gini gua juga bisa”. Naaah. itu intinya. Kalau bisa ngapa nggak lu kerjain” . Memang perlu kita sadari negara kita mungkin semerawut, kalang kabut menurut beberapa pandangan orang, tapi menurut saya sebagai anak bangsa bukan nambahin semerawut, saling nyalahkan, kadang sampai njelekkan bangsa sendiri.Tapi siapa yang memperbaikinya kalau nggak kita sebagai bangsa Indonesia, Mungkin kadang perlu juga sih pake semboyan “Right or Wrong This is My Beloved Country”. Dan pake semangatnya tokoh perwayangan mungkin(karena saya bukan org Jawa tapi tau sedikit) yaitu UMBO KARNO ( maaf kalau salah sebut).
Salam Merah Putih

by JaF at 4 September 2007, 21:34

OOT dikit. Tadi nyoba telpon tapi gak nyambung2 kang.. Pengen bikin profil pralangga.org buat acara radioku euy.. Ntar nyoba lagih ah

by hume at 4 September 2007, 21:51

wah , seandainya anak2 orang indonesia semangat untuk belajarnya seperti anak2 orang jepang gak kepikir deh indonesia bakal seperti apa … keren pastinya. Semangat anak2 indonesia untuk memajukan bangsa ini …
hehehhe ….

by Yeni Setiawan at 5 September 2007, 00:38

menurut saya sudah tidak saatnya lagi kita berandai-andai negara kita akan bangkit dan sejajar dengan negara lain.

saat ini adalah saat kita mulai, kita bangkit, mulai dari diri kita sendiri, pasangan kita, anak-anak kita.

jangan salahkan siapapun, tapi ajak siapapun.

by si_dapitz at 5 September 2007, 17:50

Mari Bangkitttt sodarahh…sodaraahhh….Mariiii Semuahhhh..Jangann bermalass…malasaaannnn..susah juga ya kalo cuman berteriak sendiri dan dicuekin pula .:)…
halaw kang…piye kabare…apik ta?

by Jennie at 15 September 2007, 12:41

Very nice article, Luigi. I’m so proud of you.

by Harriansyah at 17 September 2007, 10:25

I agree with Mba Jennie, you have nice article kang.