About This Post

Muhammad IRAWADI

Correspondent Muhammad IRAWADI

Total 2 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 309 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 5.0/10(1 vote cast)

Articles

Idul Fitri Didaerah Tugas

Hari raya Idul Fitri bagi umat muslim, terutama bangsa Indonesia merupakan hari kemenangan. Perayaan hari besar tersebut telah menjadi tradisi di Indonesia, ditunjukkan dengan cara pulang kampung atau mudik. Setiap menjelang pelaksanaan Idul Fitri kita menyaksikan masyarakat Indonesia yang dengan suka rela berjejalan dikereta api ataupun terminal bus. Hanya setahun sekali pulang untuk berkumpul dengan keluarga, apapun dilakukan termasuk antri untuk mendapatkan tiket pulang ke kampung halaman.

Lain halnya dengan pasukan Indonesia yang melaksanakan misi pemeliharaan perdamaian dunia di Lebanon. Konga XXIII-A merayakan hari kemenangan tersebut dengan sholat Ied berjamaah dilapangan upacara, Soekarno. Hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1428 H, di Lebanon jatuh pada tanggal 12 Oktober 2007. Hal ini berdasarkan ketetapan yang diambil oleh pemerintah Lebanon. Berdasarkan informasi dari media masa di Indonesia, keputusan pemerintah atas 1 Syawal 1428 H, ditetapkan pada hari Sabtu tanggal 13 Oktober. Meskipun ada kaum muslim yang melaksanakan Idul Fitri pada hari Jumatnya. Hal ini dalam Islam menghormati perbedaan karena itu adalah sebuah rahmat yang harus disikapi secara arif dan bijaksana.

Sebetulnya pada malam Jumat (11 Oktober) pasukan Indonesia masih melaksanakan sholat taraweh secara berjamaah karena belum mendapatkan informasi tentang hari raya tersebut. Pemberitahuan akan pelaksanaan Idul Fitri diterima dari KBRI di Beirut, yang menyampaikan bahwa sidang ulama Lebanon memutuskan Idul Fitri jatuh pada hari Jumatnya. Sehingga setelah pelaksanaan taraweh dilanjutkan dengan gema takbir menyambut hari kemenangan tersebut.

Sholat Idul Fitri dilakukan secara terpusat dengan khotib Letkol (Tit) A. Munim dan imam serka Saeroji. Dalam uraian hikmahnya diplomat yang bertugas di kontingen Indonesia tersebut menyampaikan, “bahwa kemenangan akan terefleksi apabila kita tetap bisa mempertahankan kualitas ibadah kita. Meskipun bulan ramadhan telah berlalu tetapi kehidupan sehari-hari selanjutnya, bila ibadah kita makin baik berati kita dapat menjadi pemenang seterusya”. Selesai khotib menyampaikan ceramahnya kegiatan dilanjutkan dengan berjabat tangan untuk saling memaafkan dan menikmati makanan khas Idul Fitri seperti opor ayam, lontong dan rendang menjadi menu utama.

Serka Saidun Gultom menguraikan perasaannya tentang Idul Fitri di Lebanon, bahwa “secara pribadi tentu saya merasa rindu dengan keluarga, karena hal tersebut telah menjadi tradisi untuk berkumpul bersama, terutama setelah sholat Ied. Namun sebagai prajurit saya tetap harus mengutamakan tugas”, paparnya. Ketika ditanya bagaimana kondisi keluarganya, Sersan Kepala yang menjabat sebagai Dansimayon Yonif 328 Kostrad menguraikan bahwa, hari kemarin dia telah menelpon istrinya agar membelikan baju untuk putra semata wayang mereka yang baru berumur 3 tahun. Selain itu Gultom berpesan, agar juga membelikan keperluan untuk kedua orang tua dan datang bersilahturahmi. Dia akan segera menghubungi melalui telepon saat Idul Fitri di laksanakan di Indonesia.

Sedangkan kesan yang lain disampaikan oleh prajurid kepala Wazid yang juga menyampaiakan titip salam terhadap keluarganya di Surabaya. Bapak berputri satu ini juga baru pertama kali melaksanakan Idul Fitri jauh dari keluarga. Namun sebelum bekerluarga atau masih sendiri, sudah sering bertugas dan merayakan Idul Fitri di daerah operasi. Namun saat telah bekeluarga, saat inilah pertama kali jauh dari kampung halaman. Untungnya di Lebanon banyak rekan-rekan yang mengalami hal yang sama sehingga bisa saling menghibur atau bisa mengirim pesan singkat (SMS) ke istri tercinta. Prajurit yang berasal dari Batalyon Angmor 1 Surabaya, menyampaikan bahwa tahun lalu Idul Fitri dirayakan sebelum berangkat tugas ke Lebanon. Sehingga masih bisa berkumpul dengan keluarga dan selesai sholat Ied, putrinya yang berumur 1 tahun waktu itu menggenakan jilbab. ”Lucu sekali dan saya sering membetulkan dan merapihkan jilbabnya”, ujar prajurit asal Magelang tersebut, mengenang. ”Namun disini kami tetap gembira karena Insya Allah kami akan menyelesaikan tugas tidak lama lagi. Kami mohon doa restu dari mayarakat Indonesia agar kami dapat meneyelesaikan tugas mulia ini dengan berhasil dan selamat”, ujarnya lebih lanjut.

Kemenangan dan pengorbanan merupakan seperti dua sisi mata uang yang tak dipisahkan. Dengan pengorbanan tulus dan ikhas, jauh dari keluarga namun semangat dan ketegaran hati tetap terpatri di seluruh prajurit Konga XXIII-A. Semoga Tuhan Yang Maha Esa meridhoi pengabdian pasukan Garuda…..

by ambar at 22 October 2007, 01:03

Semoga Tuhan Yang Maha Esa meridhoi pengabdian pasukan Garuda….. AMIIIN.

by novrina at 1 November 2007, 10:28

jauh dari orang2 yg kita cintai memang bikin dada kekurangan oksigen rasanya…. tetap tabah dan sabar dalam menjalani misi perdamaian ini ya pak, doa2 dari keluarga tercinta pasti selalu menyertai seluruh yg bertugas di sini ;)