Correspondent Nadia FEBINA
Total 6 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 348 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
hehe, jadi nggak boleh berburuk sangka dulu, mas. Buktinya nggak ada ...
by Vina Revi in Terbang bersama pengungsi (Refugee) Liberia
Jadi meskipun capek luar biasa, yang namanya narsis mah kudu tetep ...
by Vina Revi in Terbang bersama pengungsi (Refugee) Liberia
Sukses selalu untuk peacekeeper Indonesia. 50x/hari patroli darat? ke mana aja ...
by anbhar in Kontingen GARUDA XXIII B melaksanakan patroli pengintaian udara
Wauw.. What a beautiful.. Denger denger Kabul bersalju ya Mbak kalau ...
by Sulung Purwoko in Kabul is fascinating!
My deepest condolences goes to all the people who died on ...
by Sulung Purwoko in Deadly attack on UNAMID peacekeepers in North Darfur
Its really a sad news. Well, i hope things will get ...
by Michael in Deadly attack on UNAMID peacekeepers in North Darfur
All the rebels of the world fight for their cause by ...
by Ibtisam Affan in Deadly attack on UNAMID peacekeepers in North Darfur
Wah Seru juga ya Kang Sandy… Ibu ibu dan remaja ...
by Tjut Lita Lambeuso in Saat ibu-ibu KBRI bergembira naik panser PBB di LEBANON
Iya hebat. Program ini dilaksanakan di negeri orang. Di Indonesia program ...
by AnBhar in Kontingen GARUDA XXIII-B hijaukan “SOEKARNO BASE”
wah… kesempatan langka bisa naik Panser PBB. klo dah di ...
by AnBhar in Saat ibu-ibu KBRI bergembira naik panser PBB di LEBANON
Waktu pertama kali saya diajak gabung sama Luigi buat jadi salah satu koresponden di website yg kondyang ini, saya seneng banget, tp sembari bingung juga dalam hati… Lhah, ini gimana juga ceritanya saya si perempuan tanpa misi ini tiba2 harus menulis di website yang judulnya “peacekeeping mission”? Nah lo.
Sebelum cerita panjang lebar, sebagai background buat teman-teman semua, saya mau ceritakan sedikit tentang negara di mana saya tinggal ini. Angola itu sebuah negara yang lumayan besar di pantai barat Africa, tepat di perbatasan selatan Congo, dan perbatasan utara Namibia. Tau kan Namibia.. Itu loh, yg tempat Angelina Jolie melahirkan anaknya dari Brad Pitt itu.. (hayyyah!). Angola ini bahasa nasionalnya yang resmi adalah Portugis, karena bekas jajahan Portugis selama 500+ tahun dan baru merdeka tahun 1975. Nggak lama setelah merdeka itu, terjadilah civil war yg panjang dan baru sekitar 5thn yang lalu usai. Jadi sejujurnya kalo bicara soal peacekeeping di daerah perang, tentunya saya ga punya pengalaman apa2 buat diceritakan, karena negaranya sendiri sudah adem ayem selama 5 tahun barulah saya datang, hihi. Peace yo.

Negara Angola yang beribu kota Luanda ini berpenduduk total sekitar 14juta dengan luas area yang lumayan banget lah, jauh lebih besar dari Pulau Jawa. Cuma sayangnya populasinya hanya berpusat di ibukota. Luanda ini dulu dibuat dengan design capacity 400 ribu manusia, tapi sekarang dihuni oleh 4 juta orang. Tentang macet, ga usah ditanya. Tapi biarlah saya simpan dulu cerita tentang macet dan lain-lain ini buat nanti di posting-posting berikutnya okey.

Hari pertama saya mendaratkan kaki di tanah Angola ini – sekitar 6 bulan yang lalu – saya mempersiapkan diri apa yang akan saya temui di sini. Terus terang saja, saya sampai hafal luar kepala segala briefing dari kantor yang mengirim saya ke sini, segala do’s and don’t’s, dan segala macam warning dari ancaman malaria, susahnya masalah logistic sampai bahaya tertembak di jalan. Mau beli ini itu gak ada, mau ini itu ga bisa, obat anti malaria yang harus diminum tiap hari itu bikin halusinasi, susah punya temen karena semua orang di sana ngomong portugis kecuali expats, apalagi mau punya kegiatan selain ngantor, nggak bakalan ada. Begitu yg selalu mereka bilang, setiap hari, bikin parno tanpa ampun. Tekad saya dahulu: okay, mungkin hidup saya jadi ga nyaman dan kemungkinan besar jadi sengsara seperti kata orang-orang, tapi saya ingin lihat dunia lain, dunia yang bukan Jakarta, Tokyo, New York, London atau Paris. Dunia yang tidak mungkin saya visit kalau tidak karena tugas, yang mungkin bisa menjadi sarana belajar, membuat pikiran dan hati saya menjadi “kaya”. Amien.
Setelah 6 bulan tinggal di sini, apa kesimpulan saya?
Terus terang terbukti bahwa peringatan-peringatan itu agak berlebihan, walaupun tidak bohong. Walaupun harus saya akui, kenyamanan yang selama ini kita anggap normal, kadang sesuatu hal mewah di sini. Misalnya: lagi enak2an mandi, listrik tiba2 mati. Air pun mati, karena pompa nya mati juga. Jadilah saya keluar kamar mandi dengan gumpalan busa shampoo di atas kepala saya. Mau ngomel, ternyata hal ini sudah biasa. Yang ngedengerin juga males, wong itu hal biasa.

Tapi tentu ada pelajaran dan segi postifinya. Karena hal-hal kecil seperti listrik sering mati begitu, saya harus hati-hati untuk tidak tergoda menjadi stress. Hehe. Terus terang hari-hari pertama saya rela loh, menghabiskan waktu untuk merinci secara detail hal-hal yang mengecewakan dan membuat hidup jadi gak nyaman. Tapi sekarang saya kok tidak rela menghabiskan waktu saya untuk itu. Mungkin karena pelan-pelan saya pelajari ternyata kekecewaan dan frustasi itu hanya akan lahir kalau realita dan keinginan tidak sinkron. Berdasar perasaan inilah, saya memutuskan untuk mengkompromikan my will power dengan reality. Well, istilahnya berdamai dengan diri saya sendiri. Masih belajar, karena ini proses. Doakan ya. :)
Satu hal yang saya suka di sini, saya mendapatkan kesempatan bertemu dan berteman dengan orang-orang dari berbagai bangsa. Selain tentunya kawan-kawan dari Angola, sebut saja kawan-kawan dari berbagai negara dan benua: Portugis, Brazil, Inggris, Amerika, Colombia, Malaysia, Vietnam, Lebanon, Flipina, Italia, Pakistan, India, Canada, Equador, Peru, Cuba, Spanyol, Belanda, Perancis dan Iran. Semua berteman dalam perantauan, bersatu dalam perbedaan-perbedaannya. Senangnya mendapat kesempatan untuk merasakan dunia yg tanpa batas, ibarat batin ini mendapat tetesan embun penyejuk setelah lelah melihat berita di tv dari hari ke hari yang mengulas tentang perang dan kehancuran yg dibuat oleh tangan manusia atas dasar uang dan ego.
Walaupun saya tidak menutup mata dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan dan kemiskinan di negara ini, tapi nggak dipungkiri negara ini menawarkan banyak hal-hal yang positif yang pantas buat saya ceritakan juga. Tunggu yaa, di posting-posting berikutnya! :)
Hi Nadia,
Trims udah nyempetin untuk berbagi melalui entry perdana-nya. Memang Angola kalau dilihat dari scope afrika adalah bagai raksasa yang baru saja terbangun dari tidurnya dan melihat geliat ekonominya – tak ayal akan banyak expat-nusantara yang akan hinggap disana.
Ditunggu laporan wisata kuliner ala Angola-nya.. :-)
TOB mba’ bagus artikel ya ..bisa di baca ma teman2 yang lain , nota bene yg belum tau negara sana ..BENER kta Bang Luigi di tunggu wisata kuliner di sana ….salam kenal ya mba’
Salam kenal juga… ternyata Mbak Nadia ini kenal Om Gerhard juga ya… Ok deh… saya menunggu juga artikel kuliner nya… Wisata kuliner deh…
Artikelnya keren…
Wah senengnya bisa kembali share comment di Our Peacekeeping Journey.. Buzz yang bakal dikenang sampe mampus, karena moment nya pas 17 an baru boleh comment. He…
Salam kenal mba Nadia… Artikel nya keren, saya serasa terbawa terbang ikut-ikutan berada di Angola.
Berdamai dengan diri sendiri, istilah yang bisa saya coba juga tuh, mengingat dalam hidup tak selamanya semua rencana terwujud seperti yang selalu kita inginkan.
Hi Nadia, tks utk artikelnya ya…. Bagus! Berkat artikel mu saya jadi tau ttg Angola, dan juga didukung oleh foto2 yg disajikan. Ternyata Angola tuh juga terletak didekat pantai ya, sangat indah melihat pemandangan disekitar pantai yg kamu sajikan ini.
OK, ditunggu dg artikel2 lainnya ya, dan jg lupa sajikan juga foto2 ttg Negara Angola itu.
Cheers….
Peace juga Nad:)…pantai2 nya indah banget ya Nad:)…hati jadi tambah damai dapat menikmati keindahan ciptaan Tuhan ini:)