Air dan pasokan air bersih adalah kebutuhan bagi setiap orang. Pihak misi pemulihan perdamaian PBB di Liberia (UNMIL) dalam mendukung kinerja para kontingen peacekeepers, salah satunya adalah memastikan bahwa fasilitas penyediaan air bersih berjalan baik dan lancar. Kualitas pasokan air bersih dan bebas bakteri adalah tujuan utama pihak Water & Sanitation Unit dari Engineering Section, UNMIL. Berbicara perihal upaya pihak misi menyediakan sarana air bersih kepada segenap jajaran kontingen peacekeepers yang bertugas di berbagai daerah di pedalaman Liberia adalah dengan mengirimkan unit pengolah air yang dipelihara dan dioperasikan dibawah pengawasan seorang Water & Sanitation Engineer.
Teringat akan kunjungan kerja dimasa lampau ke pedalaman, dimana saya ditemani oleh seorang Water & Sanitation Engineer, dia adalah wanita cantik aslinya dari Peru, sebutlah namanya Rosa Hesedahare. Kita berdua berkunjung ke lokasi dimana pasukan peacekeepers dari Kontingen Pakistan bertugas, yaitu di Tubmanburg, sekitar 100 km arah barat dari ibukota Monrovia.
Si Mbak Hesedahare ditugaskan untuk memeriksa instalasi pengolahan air minum milik UNMIL yang dioperasikan oleh satuan mekanik dari anggota kontingen Pakistan disana, yang diberitakan sejak 2 hari lalu si mesin filtrasi dan pompa air dari unit instalasi itu mengalamai ‘batuk & pilek’, walhasil tidak sedikit anggota perwira dan sejumlah pasukan Pakistan disana menjadi ‘manja’ – maksudnya mandi jarang demi menghemat jumlah konsumsi air. Hehehehe…


Lokasi markas Besar Pakbatt-1 (Pakistan Battalion-1) berada tidak jauh dari Danau Bomi (Bomi Lake), yaitu sebuah danau buatan yang berasal dari mining pit (Lubang Penambangan) bijih besi yang lama ditinggalkan tak terurus, dimana telanan air tanah pada sisi dasar tambang itu mencuat keatas menjadikannya danau. Nah dari danau itulah sumber air dan pasokan air bersih batalion Pakistan di Tubmanburg itu berasal. Dari kejauhan terlihat sangat besar sekali si diameter danau itu mungkin sebanding dengan seperempat luas kawah gunung tangkuban perahu, dan dari cerita penduduk setempat mengisahkan bahwa si danau ini kedalaman dasarnya mencapai 200 meter lebih.


Air danau terlihat sangat jernih dan semakin dalam berubah menjadi kebiru-biruan gelap, serem juga melihatnya seperti danau tanpa dasar begitu.. ramai ikan-ikan sejenis ikan mujair tumbuh berkembang biak disana, juga termasuk selusin lebih ular phyton menurut cerita orang kampung setempat juga oleh anggota mekanik kontingen Pakistan yang mengoperasikan unit instalasi air bersih itu. Keberadaan saya disana adalah menerima masukan dari Watsan (Water & Santitation) Engineer akan unit water filtration yang telah dipesan/beli oleh pihak misi dan menyusun laporan kinerja dari mesin itu agar kemudian disampaikan bilamana ada klaim warranty atas perangkat mesin filtrasi tersebut.
& cooking purposes) by the Pakistani battalion in Tubmanburg, Liberia." />

Mbakyu Hesedahare ini, meski parasnya kecil mungil dengan piawai memeriksa panel kontrol mesin dan water bleeder (tangki air berbentuk bantal raksasa) yang besarnya seumpama kasur gajah bengkak, bersama dengan seorang anggota kontingen berjalan hilir-mudik, sementara menunggu si kampret ini kemudian berlanjut berbincang dengan anggota kontingen lain-nya yang sedang sibuk mengisi air yang sudah disaring kedalam truk tangki untuk kemudian dibawa ke markas Pakbatt.
Dibantu oleh 2 rekan staff lokal, dia berkeliling dan mundar-mandir memeriksa peralatan sembari si Kampret ini menunggu didalam ruang kontrol:



“Kemarin saya melihat ular phyton disisi danau masuk ke semak-semak, diameternya itu paling tidak sebesar paha saya..” ujar si Akheem, seorang anggota kontingen berpangkat kopral itu. Ramai memng mendengarkan cerita para anggota kontingen itu, dengan berbahasa Inggris yang agak terbata-bata, mereka dengan semangat bercerita tentang bagaimana angkernya si danau ini dan lain sebagainya.
Lepas tengah hari, usai mengerjakan pemeriksaan dan menyusun laporan temuan di lapangan, si Mbakyu Hesedahare bersama sikampret ini kemudian bergegas menuju fasilitas penampungan di Markas Pakbatt guna mengambil sampel air tambahan selain dari beberapa sampel air danau tadi. Bagi mereka yang bertugas di Tubmanburg, sudah pasti faham benar bahwa tidak ada satupun restoran yang dirasa cocok dilidah orang asing ini, selain warung nasi ala Liberia yang notabene masakannya adalah sup dari beraneka macam daging mulai dari serpihan ikan asap, potongan daging ayam dan daging sapi atau bushmeat lain-nya serta fufu, sejenis adonan kenyal dari tepung singkong. Sudah pasti tidak akan dilirik dan mengen dilidah kita-kita, maka diputuskannyalah untuk mengganjal makan siang ini dengan membeli pisang sambil buru-buru kembali ke Monrovia.
Berhentilah kita pada sebuah pasar tradisional, dengan maksud mencari buah-buahan untuk disantap saat itu dan kalaupun ada sisanya dibawa pulang. Buah-buahan yang umum banyak tersedia di pasar adalah pisang dan nanas saja.


Ternyata, sambutan hangat anak-anak di pasar itu memang menyenangkan, apalagi saat mereka bersorak setelah kilat lampu blits ini menyambar mereka yang sudah siap berpose ala aktor film-laga. Oleh-oleh dari Tubmanburg kali itu menghasilkan lebih dari sekedar pisang, ternyata.. berikut beberapa jepretan-nya:


Lama banget saya tidak berkunjung di situs ini karena satu dan lain hal… :)
Om Luigi di foto ini masih kurus yaaa… Btw, anak-anak itu sumringah banget yaak..
Pengen rasanya suatu saat bisa “jalan-jalan” sampe pelosok kayak gitu…
Goog Luck
Terimakasih Beritanya dan selamat bertugas untuk Prajurit indonesia……
salam Super..
Tjut Herlita
Jkt
A great article indeed and a very detailed, realistic and superb analysis, of these books, very nice write up, Thanks.