Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Jingga dan "laleur"

12 June 2009, 17:27 , by Nana Setiawan

 

Seperti kita ketahui dimana-mana yang namanya LALEUR ato nama umumnya LALAT, adalah salah satu binatang sejenis serangga yang ditakuti karena dapat menyebabkan penyakit terutama penyakkt perut. LALEUR (Baca: Lalat) ini hinggap dimana saja sesuka hati mereka termasuk tempat-tempat kotor hingga ke makanan kita dimana dari kaki-kakinya itu, mereka membawa kuman penyakit yang nantinya sakit perut yang lumayan ga begitu nyaman apalagi kalo ketemu yang namanya MENCRET (maaf).

Disini sang JINGGA alhamdulilah tidak sedang dihinggapi kata terakhir di paragraph atas tetapi hanya mau berceloteh tentang yang namanya laleur. Ehem…tes 1,2,3…Baik, para pembaca yang budiman, sang JINGGA sebenarnya sangat jijik terhadap serangga yang namanya laleur, karena memang selain pembawa penyakit juga karena binatang yang dianggap sang JINGGA adalah binatang yang BANGKAWARAH …artinya ga tau sopan santun kapan saja dan dimana saja. Kenapa dijulukin demikian, karena di tempat sang JINGGA yang sedang menghadapi musim hujan dimana air hujannya enggan turun malah suhu panasnya saja yang masih tertinggal dan berusaha membakar kulit sang JINGGA yang dari lahir memang sudah bukan putih tua…tapi coklat matang (emang ada gitu warna itu?????).

Jadi begini boss..setiap siang si laleur yang jumlahnya lumayan banyak sering bermukim di teras yang masih tanah dan terbang masuk ke dalam kamar dari rumah si JINGGA yang kebetulan bergabung dengan rekan peacekeeper Negara PERU dan NIGERIA.

Memang tiap siang sang JINGGA dan rekan-rekan tersebut kembali ke rumah karena memang sudah waktunya perut untuk diisi meskipun masakan yang disiapkan rasa “KUMAHA AING” (Baca: Terserah Saya)… yang penting bisa menghidupi cacing-cacing diperut agar tidak demo menuntut ini itu. Dan, sang JINGGA hari itu beraksi seperti koki professional memasak untuk makan siang dan makan malam nantinya. Tanpa terpengaruh godaan si laleur yang sering terbang melewati telinga, hinggap di mana saja sesuka dia, sang JINGGA tetap bertahan demi makanan. Nah sambil menunggu masakan tersebut matang, sang JINGGA duduk di teras bersama rekan yang lain ngobrol ngalor-ngidul sambil minum air dingin di gelas kesayangan masing-masing.

Disinilah inti permasalahan yang terjadi yaitu saat kami sedang santai ngobrol memperbincangkan general security di area of responsibility (AOR), rekan kami yang dari PERU terbahak-bahak tertawa setelah melihat berulang kali sang JINGGA mengibaskan tangannya untuk mengusir si LALEUR yang BANGKAWARAH itu sering hinggap di hidung, pipi, telinga…wah pokonya dia senengnya maen atas…(maksudnya di daerah wajah, jangan POR-ON atuh!!) padahal saat itu sang JINGGA sedang berseloroh menanggapi pendapat rekan PERU tersebut.

Mungkin karena sang JINGGA sudah terlatih, satu tangkisan KARATE tepat mengenai si laleur dan entah jatuh dimana. Tak terasa perbincangan kami membawa larut masakan menjadi matang dan siap dihantam…dengan sigap kami menyiapkan piring di meja makan yang telah tersedia. Para pembaca yang budiman, entah karena lapar ato emang masakan sang JINGGA yang lezat, kami berdua tanpa bicara sepatah katapun melahap makanan masing-masing…sekitar 4 menit berjalan..tiba-tiba rekan dari PERU ini tersedak batuk karena makananya masih rada panas, so tangan kirinya menangkap gagang gelas alumunium dan langsung menenggak berusaha meredakan batuk.

Saat itu juga sang JINGGA melihat raut wajah rekannya yang terdiam seperti menikmati sesuatu dimulutnya dan berkata “Something strange in my glass and now in my mouth”… kelihatan sekali dia seperti tidak berniat menggigit benda yang dimulutnya dan secara perlahan lidahnya berusaha mendorong benda tersebut keluar dari mulutnya.

You know what was it?….*Geuleuh*…. dia makan si laleur yang BANGKAWARAH yang mungkin terpukul kibasan sang JINGGA tadi dan tercebur di kolam dingin gelas kaleng PERU punya. Fortunately, dia ga nyadar kalo si laleur itu korban keganasan sang JINGGA da secara perlahan namun pasti sang JINGGA menyelesaikan makan siangnya dan beranjak pergi meninggalkan rekan PERU yang masih terlihat marah-marah dan menginjak-nginjak kakinya ke si laleur yang sudah tak berdaya seperti kekerasan yang melanggar HAM. Caciaaaan deh lo, LALEUR!!!!!

Nana SETIAWAN Major Nana SETIAWAN was born in Karawang, West Java on 25 June 1972. Married with 2 children. Graduated from the Indonesian Air Force Academy in 1996. Undergone several training; Parachute Deployment in 1994, Combat freefall in 1998, Kopassus’ Commando...

Detail Profile »

6  Comments

by Luigi at 12 June 2009, 17:52

Kang Nana,

Seru pisan cerita laleurnya.. mungkin si Kampretos de La Peru itu bisa dikasihtau kalau si laleur itu bisa jadi vitamin :D hehehehe… kapan cuti mudik nih?

by ayu at 13 June 2009, 15:15

wuiihh.. lalat pun bisa jadi vitamin hahaha..

by kus at 13 June 2009, 18:29

kalau minuman di hinggapi lalat atau kecemplung lalat, langsung aja tenggelamin lalatnya pakai sendok, trus airnya di aduk 3 kali tapi dengan arah berlawanan jarum jam.

habis itu lalatnya di buang , di minum deh airnya, kata pak kyai bisa nambah daya ingat :P

by hidayat at 13 June 2009, 22:23

tuk ngusir eta si“Laleur” mah gampang,
begini,tangkap satu silaleur, lalu ambil Tipex, nah olesin tipex di kepala (sirah) laleur sedikit saja asal keliatan putih.
Nah pasti laleur-laleur yang lainnya pasti menjauh, karena disangkanya ada “polisi-laleur’, lantaran pake helm putih.
Jangan serius canda aja,
Salam buat semua yang bertugas di lebanon.
dari Saudi-Arabia.

by poobear at 14 June 2009, 04:16

Kang jangan banyak2 buata terasi kang jingga menang baru dapat ulekan batu yang baru buat terasi and ayam penyet terus ne plus pecel lele ala sudan ya selamat bertugas jaga kesehatan dan di tunggu di khartoum

by dewi at 14 June 2009, 16:17

hahah…yikes!! :P lalatnya diiket terus ditempelin sebagai peringatan untuk lalat2 yang lain :D

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

797 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Aisyah Aisyah was born and grown up in Medan, Indonesia. Grown up as a country girl with strong Medan accent, which sometimes confuse people from Indonesia about her Indonesian language. She didn’t imagine that she would travel to leave her country...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 7 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 10 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 10 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 11 days ago

TNI Bantu Clearing Landasan Helipad di Dungu
(Dungu-Kongo, 19/01). Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Kompi Zeni TNI Kontingen Garuda XX-I/MONUSCO dibawah pimpinan Letnan Kolonel Czi Sapto Widhi Nugroho selaku Komandan Satgas (Dansatgas) di samping tugas pokoknya memberi bantuan Zeni kepada Divisi Timur Brigade Ituri MONUSCO (Mission De L Organisation Des Nations Unies pour La Stabilization en Republique Demokratique du Congo) diantaranya mengerjakan jalan Dungu-Duru sepanjang 38 Km dan pemeliharaan Runway, juga melaksanakan clearing di sekitar landasan Helipad di Dungu agar tetap terjaga kebersihannya serta tidak mengganggu helly pada saat take off maupun landing, Rabu (18/1/2012).
Sulikan , 13 days ago

 

Recent Comments

frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Sameer commented on Makhluk Tuhan Paling Sexy di Nepal
a few seconds ago


sutiana commented on Tibet dan romantisme putus cinta
a few seconds ago