Correspondent Juanita CHRISTINA
Total 3 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 179 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
<< Kontingen Indonesia berjaya, kalahkan jawara menembak Spanyol
Seingat saya tidak sampai remuk badan begini! >>
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Penempatan kerja yang bervariasi selama dua tahun belakangan membuatku berfikir bahwa sebenarnya Afrika tidak akan pernah bisa dirubah! Kenyataan yang sangat sedih… pilu jika melihat kondisi kehidupan mereka yang sangat-sangat dibawah standard.
Tapi fenomena pemikirian ini sedikit demi sedikit berubah, ketika saat itu saya mendarat pertama kali di Zimbabwe tahun lalu. Sedikit takjub melihat kota yang tertata dengan rapih, lumayan bagus tata kotanya untuk ukuran negara di benua afrika, bahkan gedung2nya dibangun dengan arsitektur yang oke. Standar pendidikan yang boleh dibilang highly-qualified, tata bahasa inggris yang jelas.
Tapi seperti pada umumnya, Harare, ibukota Zimbabwe hanya seperti sampul buku, tertata dengan baik dan cantik, tetapi isi didalamnya berantakan dan kacau-balau!
Saya belum sempat mengunjungi Afrika Selatan, yang kemungkinan besar sama dengan Zimbabwe, bahkan gosipnya lebih indah, apalagi Cape Town. Namun demikian, banyak orang juga berkisah kalah tingkat kejahatan di Afrika Selatan masih dirasa sangat tinggi, inilah yang membuat saya urung untuk berlibur kesana.
Banyak yang menyasarankan untuk amat berhati-hati jika berkunjung kesana, khususnya kota Johanesburg. Konon, banyak kejadian tanpa ba-bi-bu, langsung saja; “Dorr! – langsung main tembak!. Pengalaman naas saat transit di Bandara di Johannesburg saat menuju ke Harare, sudah 2 kali bagasi ini selalu tercecer!
Oke, kembali lagi ke laptop…..!

Zimbabwe, 10 tahun yang lalu kononnya salah satu negara yang teramat nyaman untuk hidup, terutama untuk para ‘Rhodesian’ (istilah untuk orang kulit putih yang beratus-ratus tahun mengkolonisasi zimbabwe ini). Meski, setelah zimbabwe merdeka banyak tanah-tanah orang kulit putih yang diambil alih oleh petani kulit hitam, tapi tetap saja masih banyak yang orang kulit putih yang menetap disini, dan mereka masih bersikap RASIS! Coba bayangkan!
Setelah 5 tahun belakangan ini, kondisi perekonomian menurun nasionalnya dengan drastis, tahun lalu saya melihat antrian nan panjang bak ular-naga di beberapa supermarket atau dijalan, itu berarti mereka mengantri untuk gula atau roti. Tahun lalu pemerintah mengontrol semua harga di pasaran, otomatis pengusaha ‘malas’ untuk berjualan dong, tapi pemerintah tetap saja ‘main-paksa’.
Akibatnya , tahun ini dihapusnya kontrol pemerintah atas harga sembako disana – dampaknya langsung terasa bahwa harga-harga melambung jauh. Namun demikian – antrian di banyak pinggir jalan tahun ini, bukan karena sembako, melainkan mengantri untuk ambil uang.

Pembatasan ketat moneter berlaku, dimana setiap orang dibatasi saat hendak mengambil uang di bank atau di ATM. Bahkan banyak orang yang sudah mengantri dari subuh, dan belum tentu mujur bisa mengakses dana/tabungan-nya di Bank tersebut.
Coba bayangkan, negara ini (Baca: Zimbabwe) memberlakukan 2 satuan harga untuk exchange rate/valuta asing.
Kurs resmi: US$ 1.0 = 30.000 Zim Dollar, namun untuk kurs di pasar gelap (Black Market) – saat ini, (Kurs bisa berubah-ubah dari hari-ke-hari): US$1.00 = 10.000.000 Zim Dollar.

Inilah uang Zim Dollar yang harus dibayar untuk segelas Bir!



Sudah pasti kita akan merugi dong, kalau menukar Dollar AS dengan menggunakan standard kurs resmi dari pemerintah, walhasil saat saya hendak menukar Dollar AS, mau tidak mau harus diam-diam dan sebaiknya perlu sekali untuk bisa kenal orang yang tepat.
Kalau hal ini diketahui pemerintah – resikonya bisa-bisa ditangkap dan masuk bui…entah untuk berapa lama! (Gawat!). Yakin bahwa, semua orang di Zimbabwe yang mempunyai cadangan dana dalam Dollar AS akan pasti melakukan hal yang sama, tak luput orang pemerintahan itu sendiri, bahkan sang Presiden sekalipun.
Bicara soal tingkat penghasilan disini, sangatlah rendah, semisal untuk gaji seorang anggota keamanan/satpam biasanya berpenghasilan 15 Juta Zim Dollar/bulan, itu berarti kurang dari US$ 2.00 perbulan, dan untuk pegawai pemerintahan mungkin kurang dari US$ 100.00.
Dengan hancurnya tatanan ekonomi dan hyper-inflasi stadium akut ini, coba pikirkan bagaimana caranya setiap indiviu di Zimbabwe bisa survive ??
Masalah tidak hanya seputar lack of money and basic commodity, tapi juga masalah langka BBM. Tidak semua pompa bensin ada bensinnya, lucu kan?. Sudah menjadi peraturan disini bahwa untuk membeli bensin harus dibayar dengan kupon, tidak dipungkiri bahwa persediaan bensin di pasaran gelap banyak jumlahnya, apa daya harganya bisa 2 kali lipat…

Walhasil banyak pengusaha transportasi yang mengurangi armadanya, muncullah ‘taxi gelap’ atau omprengan gelap, atau banyak yang memilih jalan kaki karena tidak sanggup untuk bayar ongkos naik omprengan…
Melihat Harare, mungkin tidak terlalu kelihatan kalau Negara lagi dalam krisis ekonomi yang sangat berat! Sementara kendaraan BMW atau Mercedes banyak seliweran disana.
Saat beranjak keluar dari kota Harare, mana ini diperlihatkan dengan jelas betapa sulitnya kehidupan disini…tidak heran banyak yang hengkang ke perbatasan Afrika Selatan dimana ada lebih dari 2000 jiwa pengungsi gelap akhirnya hijrah dan menetap di Negara tetangga: South Africa.
Mereka umumnya berlindung dan mencari tempat pada beberapa gereja, ini semua akibat dari ketidak-mampuan diri untuk bertahan hidup di Zimbabwe.
Sebagai pekerja di lembaga medis, tak terbayangkan apa yang terjadi dengan populasi disini jika kami semua ikut hengkang… HIV/AIDS adalah ruang lingkup kami…banyak organisasi asing yang mau menyumbangkan dana dalam bentuk ‘Euro’ kepada Zimbabwe, namun santer terdegar gosipnya bahwa mereka menahan bantuan tersebut sampai perubahan rejim pemerintahan bisa berganti dan situasi berangsur membaik.
Masih banyak cerita menarik lainnya…. Saya akan banyak bercerita tentang situasi di lapangan di posting berikutnya…., sudilah kiranya kawan-kawan bias berbagi komentar dan sumbang saran-nya.
Kira-kira dari sisi apalagi yang perlu saya ceritakan berikutnya? Care to share?
* Photos are taken from various source on the Net and respective copyrights apply.
Dear Cathy,
Didoakan supaya selama penugasan di Harare terhindar dari bahaya dan bencana, saya monitor berita terkini disana kalau saat ini sudah diterbitkan uang pecahan 10 Juta Zim Dollar, boleh dong simpenin buat oleh2 saya yah! :D
Dapet salam hangat dari Mas Ambar, dan alumni UNMIL – katanya mereka kalau mudik ke Jkarta mesti kasih khabar biar bisa ngumpul, nostalgia ala Monrovia tempoe doeloe ;-)
Hugs and kisses from Monrovia – Liberia.
Dear Kathy,
Wah………………. lucu juga ceritanya………..
I can’t imagine kalau kita mau pesta minum2x bir……….. berapa buah truck yang harus angkut itu uangX2????
:) :) :-)
Take care there yeah….
XXX
Stenly
wah… banyak duit dong (secara harfiah…he..he…) Salam dari Sudan
« Kontingen Indonesia berjaya, kalahkan jawara menembak Spanyol Seingat saya tidak sampai remuk badan begini! »