Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Journey sans frontiers….finally: Zimbabwe!

25 February 2008, 11:01 , by Juanita Christina

 

Penempatan kerja yang bervariasi selama dua tahun belakangan membuatku berfikir bahwa sebenarnya Afrika tidak akan pernah bisa dirubah! Kenyataan yang sangat sedih… pilu jika melihat kondisi kehidupan mereka yang sangat-sangat dibawah standard.

Tapi fenomena pemikirian ini sedikit demi sedikit berubah, ketika saat itu saya mendarat pertama kali di Zimbabwe tahun lalu. Sedikit takjub melihat kota yang tertata dengan rapih, lumayan bagus tata kotanya untuk ukuran negara di benua afrika, bahkan gedung2nya dibangun dengan arsitektur yang oke. Standar pendidikan yang boleh dibilang highly-qualified, tata bahasa inggris yang jelas.

Tapi seperti pada umumnya, Harare, ibukota Zimbabwe hanya seperti sampul buku, tertata dengan baik dan cantik, tetapi isi didalamnya berantakan dan kacau-balau!

Saya belum sempat mengunjungi Afrika Selatan, yang kemungkinan besar sama dengan Zimbabwe, bahkan gosipnya lebih indah, apalagi Cape Town. Namun demikian, banyak orang juga berkisah kalah tingkat kejahatan di Afrika Selatan masih dirasa sangat tinggi, inilah yang membuat saya urung untuk berlibur kesana.

Banyak yang menyasarankan untuk amat berhati-hati jika berkunjung kesana, khususnya kota Johanesburg. Konon, banyak kejadian tanpa ba-bi-bu, langsung saja; “Dorr! – langsung main tembak!. Pengalaman naas saat transit di Bandara di Johannesburg saat menuju ke Harare, sudah 2 kali bagasi ini selalu tercecer!

Oke, kembali lagi ke laptop…..!

Zimbabwe, 10 tahun yang lalu kononnya salah satu negara yang teramat nyaman untuk hidup, terutama untuk para ‘Rhodesian’ (istilah untuk orang kulit putih yang beratus-ratus tahun mengkolonisasi zimbabwe ini). Meski, setelah zimbabwe merdeka banyak tanah-tanah orang kulit putih yang diambil alih oleh petani kulit hitam, tapi tetap saja masih banyak yang orang kulit putih yang menetap disini, dan mereka masih bersikap RASIS! Coba bayangkan!

Setelah 5 tahun belakangan ini, kondisi perekonomian menurun nasionalnya dengan drastis, tahun lalu saya melihat antrian nan panjang bak ular-naga di beberapa supermarket atau dijalan, itu berarti mereka mengantri untuk gula atau roti. Tahun lalu pemerintah mengontrol semua harga di pasaran, otomatis pengusaha ‘malas’ untuk berjualan dong, tapi pemerintah tetap saja ‘main-paksa’.

Akibatnya , tahun ini dihapusnya kontrol pemerintah atas harga sembako disana – dampaknya langsung terasa bahwa harga-harga melambung jauh. Namun demikian – antrian di banyak pinggir jalan tahun ini, bukan karena sembako, melainkan mengantri untuk ambil uang.

Pembatasan ketat moneter berlaku, dimana setiap orang dibatasi saat hendak mengambil uang di bank atau di ATM. Bahkan banyak orang yang sudah mengantri dari subuh, dan belum tentu mujur bisa mengakses dana/tabungan-nya di Bank tersebut.

Coba bayangkan, negara ini (Baca: Zimbabwe) memberlakukan 2 satuan harga untuk exchange rate/valuta asing.

Kurs resmi: US$ 1.0 = 30.000 Zim Dollar, namun untuk kurs di pasar gelap (Black Market) – saat ini, (Kurs bisa berubah-ubah dari hari-ke-hari): US$1.00 = 10.000.000 Zim Dollar.


Inilah uang Zim Dollar yang harus dibayar untuk segelas Bir!

Sudah pasti kita akan merugi dong, kalau menukar Dollar AS dengan menggunakan standard kurs resmi dari pemerintah, walhasil saat saya hendak menukar Dollar AS, mau tidak mau harus diam-diam dan sebaiknya perlu sekali untuk bisa kenal orang yang tepat.

Kalau hal ini diketahui pemerintah – resikonya bisa-bisa ditangkap dan masuk bui…entah untuk berapa lama! (Gawat!). Yakin bahwa, semua orang di Zimbabwe yang mempunyai cadangan dana dalam Dollar AS akan pasti melakukan hal yang sama, tak luput orang pemerintahan itu sendiri, bahkan sang Presiden sekalipun.

Bicara soal tingkat penghasilan disini, sangatlah rendah, semisal untuk gaji seorang anggota keamanan/satpam biasanya berpenghasilan 15 Juta Zim Dollar/bulan, itu berarti kurang dari US$ 2.00 perbulan, dan untuk pegawai pemerintahan mungkin kurang dari US$ 100.00.

Dengan hancurnya tatanan ekonomi dan hyper-inflasi stadium akut ini, coba pikirkan bagaimana caranya setiap indiviu di Zimbabwe bisa survive ??

Masalah tidak hanya seputar lack of money and basic commodity, tapi juga masalah langka BBM. Tidak semua pompa bensin ada bensinnya, lucu kan?. Sudah menjadi peraturan disini bahwa untuk membeli bensin harus dibayar dengan kupon, tidak dipungkiri bahwa persediaan bensin di pasaran gelap banyak jumlahnya, apa daya harganya bisa 2 kali lipat…

Walhasil banyak pengusaha transportasi yang mengurangi armadanya, muncullah ‘taxi gelap’ atau omprengan gelap, atau banyak yang memilih jalan kaki karena tidak sanggup untuk bayar ongkos naik omprengan…

Melihat Harare, mungkin tidak terlalu kelihatan kalau Negara lagi dalam krisis ekonomi yang sangat berat! Sementara kendaraan BMW atau Mercedes banyak seliweran disana.

Saat beranjak keluar dari kota Harare, mana ini diperlihatkan dengan jelas betapa sulitnya kehidupan disini…tidak heran banyak yang hengkang ke perbatasan Afrika Selatan dimana ada lebih dari 2000 jiwa pengungsi gelap akhirnya hijrah dan menetap di Negara tetangga: South Africa.

Mereka umumnya berlindung dan mencari tempat pada beberapa gereja, ini semua akibat dari ketidak-mampuan diri untuk bertahan hidup di Zimbabwe.

Sebagai pekerja di lembaga medis, tak terbayangkan apa yang terjadi dengan populasi disini jika kami semua ikut hengkang… HIV/AIDS adalah ruang lingkup kami…banyak organisasi asing yang mau menyumbangkan dana dalam bentuk ‘Euro’ kepada Zimbabwe, namun santer terdegar gosipnya bahwa mereka menahan bantuan tersebut sampai perubahan rejim pemerintahan bisa berganti dan situasi berangsur membaik.

Masih banyak cerita menarik lainnya…. Saya akan banyak bercerita tentang situasi di lapangan di posting berikutnya…., sudilah kiranya kawan-kawan bias berbagi komentar dan sumbang saran-nya.

Kira-kira dari sisi apalagi yang perlu saya ceritakan berikutnya? Care to share?

* Photos are taken from various source on the Net and respective copyrights apply.

Juanita CHRISTINA Juanita Christina, is nothing new to the hardship and challenges often faced by humanitarian workers. She has been involved with one of the leading international medical humanitarian organization and presently assigned in Harrare, Zimbabwe since March 2007. Previous assignment was assisting...

Detail Profile »

3  Comments

by Luigi Pralangga at 25 February 2008, 14:55

Dear Cathy,

Didoakan supaya selama penugasan di Harare terhindar dari bahaya dan bencana, saya monitor berita terkini disana kalau saat ini sudah diterbitkan uang pecahan 10 Juta Zim Dollar, boleh dong simpenin buat oleh2 saya yah! :D

Dapet salam hangat dari Mas Ambar, dan alumni UNMIL – katanya mereka kalau mudik ke Jkarta mesti kasih khabar biar bisa ngumpul, nostalgia ala Monrovia tempoe doeloe ;-)

Hugs and kisses from Monrovia – Liberia.

by Stenly Sajow at 4 March 2008, 22:15

Dear Kathy,
Wah………………. lucu juga ceritanya………..
I can’t imagine kalau kita mau pesta minum2x bir……….. berapa buah truck yang harus angkut itu uangX2????
:) :) :-)
Take care there yeah….

XXX
Stenly

by wijaya at 5 March 2008, 16:36

wah… banyak duit dong (secara harfiah…he..he…) Salam dari Sudan

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

796 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Sanra Michiko Moningkey Captain Air Force Sanra Michiko Moningkey was born in 1976 in Manado, having been graduated from the Indonesia’s Air Force Academy in 2002 is presently serving the United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), as Indonesia’s Garuda Contingent – Military...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 5 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 12 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 15 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 15 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 16 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago