Correspondent Donasion
Total 5 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 183 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
Earthquake 7.4 R in Simeulue Island >>
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mulai terlibat dengan pekerjaan kemanusiaan berawal setelah terjadinya gempa dahsyat dan tsunami di Propinsi Aceh tanggal 26 Desember 2004 yang lalu, bergabung dengan IFRC ( International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies) kemudian berlanjut kepada British Red Cross Societies.
Sejak saat itu keinginanan untuk menciptakan perubahan sangat kuat sekali, apalagi dengan posisi di British Red Cross pada saat itu dirasa sangat bagus untuk level staff nasional, hal ini berarti saya dinilai mampu/kompeten untuk menerima tanggungjawab yang yang lebih berat, dan telah dibuktikan bahwa saya bisa.
Maka selanjutnya diputuskan dalam hati untuk terus menggeluti bidang karir sebagai pekerja kemanusiaan, dimana akhirnya saya mengerti dan yakin bahwa disana (Bidang Kemanusiaan) juga ada karir, tentunya berguna juga demi menunjang masa depan keluarga.
Pada awal Agustus 2007, sebuah email dari kantor pusat UNV (United Nations volunteer) di Bonn, Jerman, menanyakan apakah saya bersedia untuk ditugaskan di UNMIL, Liberia, dan diberitakan bahwa harus sudah berada di Liberia pada awal September 2007.
Kegembiraan bercampur kebingungan mulai muncul dalam hati karena waktunya sangat sempit sekali, apalagi situasi saat itu masih terikat kontrak dengan British Red Cross, (sampai 31 Desember 2007). Sudah menjadi standard baku bahwa dalam peraturan kepegawaian mengatakan bahwa untuk mengundurkan diri harus dilakukan minimal 1 bulan pemberitahuan dini.
Didorong impian dan semangat menciptakan perubahan karir yang sangat kuat sekali, saya akhirnya memberanikan diri untuk menghadap atasan dan menceritakan semuanya. Dengan izinnya, ia menyetujuinya dengan syarat semua serah-terima (hand-over) pekerjaan dilaksanakan dengan baik.
Meski demikian, pikiran tetap tidak tenang karena merasa dikejar-kejar waktu. Apalagi sudah barang tentu diri ini harus pulang dulu ke Pekanbaru menemui keluarga. Beruntung cuti masih ada 4 hari lagi, jadi bisa meninggalkan Aceh tanggal 28 Agustus 2007. Rupanya keberuntungan tetap ditangan karena email terakhir mengabarkan bahwa keberangkatan dari Jakarta sudah disiapkan tanggal 3 September 2007.
Gundah di hati itu lagi datang, sejuta pertanyaan perihal apa-apa aja ya barang barang yang harus dibawa?. Komukasi dengan Jakarta kemudian mulailah dilakukan, dan berkat dukungan Grace dari UNV/UNDP Jakarta, membantu merncarikan informasi akan seperti apa sih Liberia itu, dan segudang pertanyaan awam ini kepada kawan-kawan staff Indonesia yang mungkin sudah berada/bertugas duluan di Liberia, salah satunya seperti Kang Luigi, Mas Ambar, Mas Hilman dan Bang Benny Nadeak.
Hati mulai tentram karena ada kawan2 yang sudah berada nyemplung di Liberia. Membaca email ucapan selamat datang dari Kang Luigi, hati keluarga pun senang.
Sekali lagi beruntung nich karena ternyata ada satu kawan lagi yang sama-sama mendapatkan penugasan ke UNMIL dan bisa berangkat terbang bersama, yaitu Sdr. Vonny Ferdinandus.
Eng-ing-eeng! – Berangkatlah kami tanggal 3 Sepotember 2007 dengan Thai Airways menuju Bangkok. Lepas mendarat di Bangkok dan berganti pesawat dengan Kenya Airways menuju Nairobi, Kenya.
Memasuki ruang tunggu di Bangkok, suasana Africa udah mulai terasa benar sebab para penumpang disana pada umunya berkulit hitam dengan pakaian berwana-warni gonjreng-tabrak-corak begitu dan ada yang berpakaian bak daster piyama, menurut pandangan saya sih!
Selain pakaian ala penyanyi Rama Aiphama itu, ciri khas afrika lainya adalah Bau-bau (baca: Bau Badan sengit!) tidak enakpun udah mulai tercium mengangkasa keseluruh penjuru ruang tunggu itu.
Keberuntungan selanjutnya lagi terjadi, karena kami harus nginap di Nairobi satu malam, sorenya kami bisa ikut city tour dan mengunjuni Safari Walk. Esok harinya kami melanjutkan penerbangan ke Monrovia, Liberia melalui Accra, Ghana, terbang dengan Kenya Airways hanya dengan pesawat yang lebih kecil.
Sorenya kami sampai di Roberts Internasional Airport, Monrovia. Mendengar namanya terbayanglah imajinasi bangunan airport-airport internasional lainnya, minimal sebandinglah dengan Polonia Airport Medan, kalau tidak MIA (Minang International Airport) Padang.
Terdengar diumumkan bahwa sebentar lagi kita akan mendarat di Roberts International Airport. “Wah akhirnya kita sampai juga di Liberia ya Mas”, kata Vonny.
Begitu melihat dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, saya hanya bias berguman keheranan – “ini Bandara Internasional atau Stasiun Kereta Api mirip di kampung saya di Solok, Sumbar tahun 1970 an?.”
Seperti komunikasi sebelumnya, kami dijemput oleh Kang Luigi dengan kata sambutan pertama “ Selamat datang di negeri bau Kelek”.
Sepanjang perjananan dari Bandara ke tempat tinggal Kang Luigi mulailah nampak sisa-sisa perang sipil, gedung gedung tanpa atap, tiang tiang listrik tanpa kabel,, bolong bolong karena peluru, kendaraan taxi-taxi kuning dengan muatan 6 orang, bagasi belakang penuh barang sampai keluar, jalan jalan berlubang.

Malamnya berkumpulah semua Staff asal Indonesia dirumah Kang Luigi kecuali Bang Beny berhalangan karena masih bertugas di Sector.

Sejak saat itu semakin banyaklah yang dialami di Liberia mulai dari bahasa Inggris ala Liberia yang kata mereka Special English yang kadang kadang beda sekali dengan bahasa Inggris standard, seperti Wa ye ni? (What’s your Name)?. Ha di badi (How’s your body? – How’re you). Awantu pipi (I want to pee). Yu-ea ma-fu (You eat my food).
Hambatan komunikasi setempat ini terlukiskan melalui kejadian, suatu hari – salah satu staff national kita di kantor hendak pergi meninggalkan ruangan, saya tanyakan “Where are you going?”. Dia jawab “Akaming”. Terus dia pergi meninggalkan saya, saya bingung dan bertanya dalam hati “apa maksudnya” Tak berapa lama dia kembali. Akhirnya saya tahu bahwa “I am coming” artinya “saya akan kembali”.
Sejak tanggal 10 Oktober 2007, saya ditugaskan ke Sector IVB – Harper, Maryland County, dekat perbatasan Liberia dengan Pantai Gading ( Ivory Coast). Disini suasana lebih sepi, hanya satu satu kendaraan roda empat disini. Yang nampak hanya kendaraan UN dan UN Agencies dan beberapa kendaraan NGO asing.


Dulu katanya Maryland County ini terpisah dari Liberia. Maryland County dianggap oleh American Liberian sebagai Maryland State in Africa (salah satu negara bagian Amerika di Africa.)
Akhirnya dengan tidak terasa saya sudah berada di Liberia selama 4 bulan, karena keinginan kuat untuk menciptakan perubahan diri demi masa depan keluarga, Demi Nanda, Nindy, Fadhly (Iboy) Iqbal dan Mamanya (Lili Suryani).

Keinginan untuk menemui mereka mulai mengebu-gebu. Syukurlah keberuntungan itu tetap ada dan para “kampret “ (istilah Kang Luigi) Liberia akan pulang basamo (istilah orang Padang untuk pulang mudik bersama, merupakan tradisi orang Padang di perantauan) pada tanggal 20 January 2008 yang baru lalu – kita bertiga, yaitu Kang Luigi dan Vonny.


Dear Mas Donasion,
Semoga pergerakan karirnya kedepan senantiasa memberi berkah buat semuanya. Kiprah dan sumbangsih kita sbg peacekeepers tentunya memberikan kontribusi positif terhadap proses perdamaian Liberia. Suatu saat kitabisa cerita pada anak-cucu kita bahwa, seiring Liberia maju pesat dan makmur – adalah juga merupakan sumbangan kita. :-)
Keep up the great work! Tetep semangat yah.. Liburan besok kapan terbang ke Monrovia? :D
Hi bang Donasion,
Mudah2an abang sukses dan tercapai akan cita2 abang, membahagiakan anak istri. Mencari rejeki itu ibadah. Mudah2an saya juga bisa mengejar cita2 u berkelana dan beribadah ke negeri orang seperti abang.
Walaupun bau ketek, kalo aku sih ga peduli. Sing penting iso mwujudkan impianku …. he.. he…
Bravo untuk semua para ‘peacekeeper!’
Mohon doa restu suatu saat aku juga bisa menyusul kalian … i wish !!
selamat bertugas mas, mengemban misi yang sangat mulia ya mas dan semoga selalu dilindungi oleh Nya,,,,,,,
well dulu juga pas tahun 2004 ikut jd volunteer pas ke ACEH, tp krn mesti sidang sarjana jdnya pulang, eh dah lulus dah lupa lagi,,,jd kebayang kerja d perusahaan asing
hebat….. selamat bertugas
« Akobo, Jonglei state Earthquake 7.4 R in Simeulue Island »