Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Kartu isi-ulang pulsa di Liberia: Ai lapyu beibeh mai darling!

16 February 2009, 01:14 , by Deden Lukman

 

Mah, kumaha damang?..”
“Anak-anak sehat?.. trus Zahra (anak 1) gimana luka jaitannya dah dilepas belum?… Mirza gmana sehat n lancar makannya bun? mana anak-anakku pengen ngobrol neh…” – Lepas kelar tanya situasi di rumah dan mengetahui kalau semuanya aman terkendali dan kelar mendengarkan laporan balik dari sang istri akan perihal urusan dapur dan baru saja hendak berkata-kata manis rindu-madu tralala-trilili – gombal mode-on, eh langsung tiba-tiba diserobot oleh suara ketus notifikasi tanpa ba-bi-bu menyelak kemesraan ini dengan berkata:

you have just one minute remaining…” – dalam hati teh menjerit: “Setaaaan!”

Buyarlah sudah ungkapan rayu-madu ini, dan lain sebagainya – terpaksa deh kemudian percakapan telepon dengan istri tercinta ditutup dengan ungkapan standard-basi, yaitu: “Mah, ya udah yah – udah abis nih pulsa-nya.. nanti telepon lagi yah.. – Daagh!”

Memang ongkos komunikasi bukanlah barang yang murah, terutama bagi kita-kita yang nyengceling (Baca: terpental jauh dipelsok) di negeri pantai barat afrika ini. Buat kalangan peacekeepers yang berada di Liberia, bisa dikatakan setiap orang menghabiskan paling tidak US$ 100.00 untuk dibelanjakan kartu pulsa prabayar, yang sudah pasti cepat ludes-nya dipakai untuk SMS dan menelpon ke kampung halaman, apalagi kalau pakai acara ‘pasea’ (baca: Berantem) di telepon pula, wah bisa habis menguap cepat uang dikantong ini membeli si kartu isi ulang pulsa tadi. Memang ternyata kartu pulsa ini adalah salah satu zat adiktif dan berbahaya (buat kantong).

Bicara soal telekomunikasi dan infrastrukturnya, Liberia termasuk yang jauh ketinggalan dan terbilang cukup mahal. Tidak ada saluran telepon kabel yang tersisa semenjak perang berkecamuk 15 tahun lalu, walhasil semua orang di Liberia harus menggunakan ponsel untuk berkomunikasi, meski mutu jaringan dan kualitas suara selular berbasis GSM ini harus diakui masih buruk. Jempol ini rasanya sudah kapalan dan pegel menekan tombol nomor telepon di ponsel untuk menghubungi ke kampung dan tidak jarang nada sambung terdengar 2-3 kali kemudian langsung ‘jeprut’ (baca: putus sambungan). Jadi sayangku – mohon bersabar yah – bukan saya yang tidak ingin menelpon sering, tapi memang koneksinya yang rada-rada dogol. Apa mau di kata?.

Bicara soal kartu isi ulang, tentunya hal ini tidak lepas dengan mata rantai distribusi penjualan-nya, dimana kalau di tanah air, isi ulang kartu pulsa mudah dan nyaman. Dari mulai warung di pojok tikungaan, sampai di berbagai mesin ATM dan kasir saat berbelanja di pusat perkulakan macam Carrrefour dan/atau Giant di tanah air. Meski serupa namun tak sama disini.

Buat staff Military Observer macam sim kuring (baca: Saya) ini yang notabene hanya turun ke kota 2-3 bulan sekali, sering kali membekali diri dengan beberapa kartu isi ulang pulsa pecahan US$ 5.00 yang dijatah hanya boleh 5 dollar saja per minggu-nya, kalau tidak bisa boros dan habis pulsa ditengah pedalaman sana. Kalau sudah begitu persis dengan istilah mati-angin & mati-gaya!.

Kalau saja demikian itu terjadi, maka salah satunya jalan untuk menelpon ke kampung adalah dengan mengunjungi wartel-wartel (Warung Telekomunikasi) khas ala Liberia dengan gubug reyot seperti foto-foto dibawah ini. Selain menjual pulsa dengan harga diluar harga banderol, mereka juga menyediakan jasa recharging batere ponsel. Mengapa begitu sih? Memang tidak bisa recharging sendiri di rumah?. Heheheehe.. bagi yang belum faham, Listrik umum di Liberia itu masih belum ada, apalagi bagi penduduk di pedalaman semua diterangi dengan cahaya lilin dan bagi yang mampu mereka mengunakan generator listrik, termasuk itu untuk recharging batere ponsel..

Bun, besok kalau mau cerita panjang di telepon – coba dicatat aja deh yang penting-penting jadi lebih ringkas.. sayang rasanya kalau uang ini habis hanya untuk membahagiakan si tukang penjual pulsa disini… soal cinta mah nggak usah diragukan lagi deh !

Deden Lukman Wijaya
ai lapyu beibeh mai darling!!

Deden LUKMAN Graduated from the Air Force Academy in 1996. Initial service within the IAF begun Central Command Comms in Abdurrahman Sallah Air Force Base, Malang – Eastern Java. Following another assignment at Hassanudin Air Force Base, Makassar for 2,5 years. His...

Detail Profile »

9  Comments

by Luigi Pralangga at 16 February 2009, 16:58

hehehehe… baru tau dia kalau ‘ongkos komunikasi’ itu memang mahal disini – jadi bersyukurlah bagi mereka2 yang lancar dan murah teleponan dengan ‘yayang’nya :D

Kumaha si Beibeh, teh?

by Harri at 16 February 2009, 19:10

US$ 100.00. gile bener. tp jgn di kurs ke Rp yak kang, bs2 kliyeng2. hehe..

Salam dr tanah air

UNFAO-Representation in ID

by Donasion at 16 February 2009, 22:41

Kan gak mungkin nelpon “yayang” singkat dan padat yah. Pasti pengen lama lama. 5 USD hanya cukup untuk 1 kali nelpon.
Ya, bagaimanalah Kang Deden,, kita org pedalaman.

by falva at 18 February 2009, 03:12

assalamualikum…

waduuuuhhhhhh……..
syusah duonk……, kangan nya lom ilang ehhh pulsanya dah abisss, heheheheheheh………
truss gmn neh…???!!!!!!!

mungkin dulu sebelum terbiasa berat banget yahhhh.
akn tetapi mungkin sekarang sudah “HARAP MAKLUM”..hehehe
lucu ya, artikel nya…….

yah , kan ada wartelnya tuh , ya lwat situ aj komunikasi nya, lagian wartelnya ..keren bo..”

ya ya ya..namanya juga daerah konlik kli yah, jadi yah , untuk kita kita yang diindonesia , ngga boleh suka “NGGERUNDEL” sama sistem komuniksi di indonesia , dah cukup baik kan??!!!!, tapi ya kadang kadang……suka aneh aja dikit, iklan saMa kenyataan nya , iklan kartu pra bayar dengan kenyataan saat kita mengunakannya,,,

jangan banaK boong nya deh , ntar bintilan loh, hehehe

selamat bertugas yahhhhhhhhhh
semoga Selamat, komunikasi nyA lancar, bentar asal berkualitas(kualitas apaan..!!!).. weh marah..
jangan marah lo ntar niat nya jadi berubah,…,
dn cepet tua…

HIHIHI

SEMOGA SEHAT SELALU

SALAM MANIS

FALVA

INDONESIA

by Rieeta Widy at 18 February 2009, 09:57

Sebelum komentar aku mo bilang “Salam Kenal utk semuanya”
Pertama aku kenal ama bang Deden dari FB, sekedar iseng aku add temannya bang Deden yaitu Bang Luigi Pralangga. Bang Luigi yg kasih aku situs ini, gak tau nya Bang Deden juga salah satu member disini ya…
Setelah baca tulisan Bang Deden aku jadi terenyuh nih..selama ini aku hanya berpikir jadi tentara tuh keliatan keren dengan seragam mereka, gak berpikir seberapa sulit nya jadi tentara….
Setelah baca tulisan2 di situs ini, makin salut aku dengan abang2ku yg rela mengabdi bagi Nusa dan Bangsa….dan sedikit malu dengan pemikiran picik ku yg melihat tentara hanya dari uniform nya aja… Mohon maaf atas pemikiran rendah ku ya bang…

Komen ku utk tulisan abangku, coba aja bang klo bisa internet berarti bisa juga donk pake skype atw ym… lebih murah dan lebih enak buat komunikasi karena ada video call.. sama seperti yg aku lakukan dengan abang ku yang di DILI….
Semoga komenku bisa membantu ya bang….

by danie at 19 February 2009, 06:46

Alhamdulillah, pagi-pagi sudah ditegur Allah dengan tulisan akang, i lap yu beibeh, hmmm, mahal ya kang, memang harus realistis sih, tapi kangen gimana ya, jadi, lagi-lagi alarm syukur, gampang nelpon di negri dewek (sendiri) dari jaringan sampai harga pulsa.

Thank you for reminding me and see you in Jakarta.

by Rosmawaty at 19 February 2009, 09:27

Maaf..kulon nuwun…ikutan komentar ah…
Sebelumnya, salam kenal buat semuanya aja. Saya teman Luigi waktu SD…(ketemuan di FB lagi hehe)

Membaca artikel ini…hati tuh jadi nyesak juga ya heheheehe gimana nggak? Kangen tapi tidak bisa terlampiaskan dengan puas…Uh, inget itu pasti kesal banget hati ini hikshikshiks.
Tapi, terkadang memang itu tuntutan profesi dan konsekuensi dari sebuah tanggung jawab yang disandang di bahu.

Jika sikon emang demikian … ya buat nyeneng-nyenengin ati…diketawain aja kali ya?
HAbis..mo apa lagi coba?
Wah..kalau demikian, saya baru sadar kenapa tentara tuh senang banget jika ada hiburan di markas atau tempat bertugas meski artisnya gak jelas…(di TV). Bukan artisnya yang dilihat kayaknya….tapi hiburannya, spt oase di tengah padang gurun.

Oke deh…saya cuma bisa bilang SELAMAT BERTUGAS…dan TETAP SEMANGAT buat semua yang bertugas di sana.

ROSMA

by eriezz at 19 February 2009, 16:24

euleuh2 ampe segitunya yah…tp klo bwt yayang mah apa sih yg nggak…di jabanin dah..btw eta teh wartel???meuni siga pos ronda wae tuh aya nu jaga na keur sarare halah ..sabar mas cinta berat di ongkos hihihi..

by Neng Keke at 20 February 2009, 10:12

Mahal emang, kang… Tapi buat ‘si teteh di lembur’ kata ‘Halo’ bisa bikin hati berbunga-bunga paling engga 6 jam… Iiiiihhhhhhhhhhhhiiiiiiiiiyyyyyyyyy!!! :D

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

799 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Sanra Michiko Moningkey Captain Air Force Sanra Michiko Moningkey was born in 1976 in Manado, having been graduated from the Indonesia’s Air Force Academy in 2002 is presently serving the United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), as Indonesia’s Garuda Contingent – Military...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 6 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 13 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 16 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 16 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 17 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago