Lewat 9 bulan sudah sim kuring bertugas keluar masuk leweung (baca: Hutan) dan kampung di pedalaman Liberia. dari penugasan di wilayah Red Zone, yaitu wilayah dimana potensi bahaya dan berbagai resiko masih terasa tinggi, yaitu di Greenville, selama 6 bulan pertama dan kemudian pindah digeser ke Kakata, yang notabene adalah wilayah Green Zone dan dekat dengan Monrovia (Ibukota Liberia), ditempuh melalui jalan darat, meski masih ajrut-ajurtan, dalam 1,5 jam sudah berada di ibukota. Tidak terasa ya? (Meskipun sebenarnya terasa sekali karena jauh dengan sanak keluarga he he he) waktu berjalan sangat cepat tanpa kita benar-benar menyadarinya. Melalui tulisan santai ini, saya berusaha untuk kembali mengenang hari-hari yang telah saya lalui di penugasan ini, berbagai pengalaman seru, cerita sedih dan perasaan yang menggelora, ramai sudah campur aduk bak nasi rames yang kesemuanya memperkaya pengalaman selama bertugas di Liberia ini.
Menjalani tugas dan berperan sebagai UNMO (United Nations Military Observer), berkacamata dari sudut pandang seorang perwira TNI, melihat situasi di Liberia dan proses perdamaian yang telah dicapai oleh bangsa dan negara Liberia ini, sungguh sangat luar biasa perjuangannya. Baik dari sisi dukungan masyarakat internasional yang telah secara berkesinambungan mendukung dan menaruh kepercayaan serta harapan agar Liberia bisa keluar dari pertikaian bersenjata dan terus mengupayakan dialog guna keluar dari situasi pasca-konflik, memperbaiki berbagai lini keutuhan komponen pendukung bangsa dan bernegara.
Dari serangkaian kegiatan patroli ke pedalaman, sudah tidak terbilang selusin kampung dijelajahi tiap minggu-nya, tidak perduli panas-terik hingga bobolokot kesang, meninggalkan aroma bau badan yang bukan main keras-nya pada jok kursi kendaraan operasional patroli kami dan tentunya pada seragam PDL TNI yang menjadi kebanggaan ini, sampai kepada hujan deras yang benar-benar mengguyur dan tidak jarang memperosokkan kendaraan bukan hanya dalam kubangan tetapi pada jembatan-jembatan rapuh. Wah, sudahlah.. bisa 7 hari 7 malam suntuk kisah cerita suka duka berpatroli ini kalau mau disimak dan di ceritakan kembali.
Dalam setiap sesi patroli, kita, para Milobs UNMIL (Military Observer), berinteraksi dengan beberapa tetua atau tokoh masyarakat kampung yang kita kunjungi, berdialog, mencari informasi dan mendapat masukan akan banyak hal berkaitan dengan situasi masyarakat sekitar kampung saat itu, data-data statistik kependudukan, keamanan, pertanian, kegiatan ekonomi, informasi sarana dan prasarana umum yang terdapat disana, kantor sub-unit pemerintahan setempat, hingga perihal kondisi kesehatan, wah segala macem deh..!! dimana itu semua berujung pada peniliaian (pribadi) secara kasar, yaitu: memprihatinkan!.
Sejak operasi militer tahap awal dengan diterjunkannya pasukan ECOMOG pada awal 2003, hingga digelarnya misi dan pasukan pemeliharaan perdamaian PBB untuk Liberia yang berjudul UNMIL pada Oktober 2003, situasi berangsur-angsur pulih dan perbaikan terlihat jelas, namun untuk sebuah bangsa yang selama 14 tahun lamanya bertikai, derajat kerusakan/kehancuran di segala lini adalah tidak terbayangkan. Ini benar-benar butuh perjuangan dan kesabaran semua pihak agar nikmatnya perdamaian itu terasa nyata menyentuh ke segala lapisan masyarakat hingga terus pada mereka tinggal dipedalaman, dan kampung-kampung yang kita sering kunjungi ini.
Berjalan 8 bulan sudah saya patroli keluar masuk daerah yang nggak jelas juntrungannya, kadang terbaca dipeta, namun lebih banyak kita ini menggariskan jalur dan membubuhkan nama baru akan kampung dari hasil patroli minggu lalu, dan saat ini, pada peta operasi itu. Tidak sedikit anggota tetua kampung yang mengeluh pada rombongan UNMIL Milobs ini akan lamban-nya gerak perbaikan taraf hidup mereka, dan dalam beberapa kejadian, mereka cenderung menyalahkan pihak UNMIL mengapa tidak segera membangun jalan, rumah sakit, sekolah, fasilitas ini dan itu untuk kampung mereka, yang dalam pikiran kebanyakan dari masyarakat kampung itu bahwa ini adalah tanggung jawab pihak misi PBB/UNMIL.
Itu adalah sebuah anggapan yang tidak tepat, seperti dalam banyak kesempatan, baik saya dan beberapa rekan Milobs, kembali menjelaskan pada mereka bahwa tugas UNMIL, adalah memastikan proses perdamaian di Liberia berjalan sesuai kesepakatan damai (Accra Peace Accord) dan informasi yang kita ambil dari masyarakat ini diteruskan kepada pemerintah Liberia sebagai masukan untuk bahan kajian/rencana pembangunan nasional mereka. Bicara soal rencana permbangunan nasional sebuah negara, jangka waktu 4-5 tahun itu belumlah dapat dituntut sebuah hasil yang signifikan,karena banyak faktor yang berperan dan mempengaruhi laju pembangunan itu tadi..
Kadang saya sampai cape, harus menjelaskan kembali hal ini pada setiap kampung yang berbeda saat dikunjungi. fakta ini, jelas menggambarkan adanya ketimpangan expektansi antara masyarakat di pedalaman dengan kinerja unsur pemerintahan Liberia dalam memasyarakatkan hasil-hasil proses perdamaian dan rencana pembangunan nasionalnya kepada anggota masyarakatnya di pelosok seperti ini.
Sering saya katakan pada mereka, silahkan salurkan keprihatinanmu kepada para pemimpinmu melalui wadah yang ada. Namun fakta dilapangan yang ada malah masyarakat di kampung-kampung lebih sering bertatap muka dengan personil Civil Affairs dan Milobs UNMIL ketimbang kunjungan rutin pejabat negara mereka. Nampaknya mereka mesti harus lebih bersabar lagi..
Patroli hari itu telah usai, badan ini rasanya remuk nggak ketulungan, belum lagi harus melalui 1-2 jam terbang dengan heli yang getarannya persis seperti duduk disebelah genset raksasa.
Meski terkadang lelah menghadapi situasi yang seperti ini berulang-ulang , saya menyadari bahwa ini merupakan salah satu tantangan berat yang kami hadapi sebagai UNMO, sehingga tidak ada kata lain selain tetap semangat melaksanakan tugas hingga purna…….




cukup memprihatinkan kondisi disana yaa tapi tetap semangaaaaaaaattt…salam hangat dari bumi pertiwi Indonesia tercinta.
dengan membaca ulasan bapak,
rasanya masyarakat indonesia berada pada taraf kesejahteraan yang masih tergolong tinggi ya,
hanya mungkin kurang bersyukur saja. :)
*salam kenal ya pak
tuh di Liberia ada tim basket ya, dengan kostum warna hijau :D … mudah mudahan mereka memilih bertanding basket dari pada mengacungkan senjata pada saudara saudara yang berpendapat beda :)
Selamat bertugas T N I ku, do a kami dari kampung halaman :)
sepertinya kondisinya masih lebih baik negeri kita ya…
mungkin para anggota UNMIL bisa jadi penyambung lidah rakyat pedesaan liberia untuk menyampaikan kepada pemerintah yang berwenang soal pembangunan itu…
pemerintahnya jarang turba nih…
salam dari nusantara tercinta :)
perang memang tidak menyisakan satu pun warisan peradaban yang baik, semua dihancurkan.
saya tidak mengerti mengapa di tanah afrika ini masih selalu saja ada konflik. apa mereka tidak bisa berdamai begitu?!
syukur alhamdulilah kita tinggal dan dilahirkan di tanah air tercinta ini. walaupun memang banyak sekali rasa tidak puas thd pemerintah (memang dlm pemerintahan manapun akan selalu ada). saya setuju bhw pemerintah harus melindungi dan menolong warganya, namun kita sebagai warga negara juga harus menolong diri kita sendiri dengan menjaga kerukunan dan persatuan, mencintai tanah air sendiri baik itu dengan giat bekerja dan belajar dsb. melakukan sumbangsih positif, apapun itu.
untuk bapak selamat bertugas dan selamat berpuasa. punten komenna nyeepkeun :p
Bagaimanapun perang itu tidak enak. Meskipun saya belum pernah merasakannya. Kita harus bersukur punya negara Indonesia walaupun masih banyak kekurangannya. Pengalaman kang Deden Cs. bener2 bikin iri saya. Karena tidak semua orng diberi kesempatan untuk melakukan tugas yang penuh tantangan seperti ini. Salut buat Peace Keeper….!
Sing sabar bos … sing teteg … sabar sagalana …
semoga selalu dalam lindungan Allah SWT …
Major Deden, Sharing you from the D. R. Congo – General public of the areas , where MILOBs patrol to monitor the security situation and show UN presence in the area, some times expect too much from MONUC.
They dont know the mandate of MONUC. They say that they have complained about their misiries, lack of resourses, low salaries etc number of times to MILOBs who keep visiting them, but no improvement has been made (bytheir government).
Actually the government of DRC must take steps to improve the economy and living conditions of people. MILOBs are helpless to do anything except for reporting their plight. I feel you.. and really understand your challenges in the field.