About This Post

Correspondent Luigi PRALANGGA

Total 5 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 331 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 5.0/10(1 vote cast)

Articles

Kayu Arang Liberia: Cerita riwayatmu...

Kita sering menggunakannya, meski enggan berurusan langsung dan
memegang-nya, yang jelas selain membuat badan dan baju ini keras berbau
asap saat memasaknya, ia pun sudah pasti membuat kedua tangan yang
memegangnya hitam belepotan. Namun demikian rasa sedap panganan panggang yang dimasak dengan-nya terasa lebih lezat ketimbang dimasak dengan bara atau panas dari dalam sebuah oven listrik atau gas.

Arang, atau istilah keren bahasa inggrisnya adalah charcoal.

Sejak pagi, sebutlah saja namanya; Isatu Tetenene, seorang ibu hampir
separuh baya, sedang merapikan barang dagangan-nya persis di tepi jalan.
Mentari fajar masih terasa malu-malu kucing untuk menunjukkan pancaran sinar keemasan-nya.

Tidak jauh dari sisi jalan, dimana foto diatas itu diambil, terdapat beberapa kelompok rumah adat kampung khas Liberia, yang didirikan dengan bahan lumpur dan beratapkan helai-dedaunan kering dari pohon palem atau kelapa. Beberapa terlihat sedang sibuk mundar-mandir, dan anak-anak kecil pun terlihat berlarian, diselingi beberapa ekor babi yang seliweran.

Satu, dua, tiga.. nampaknya empat karung penuh, terisi sesak oleh
kepingan kayu-arang yang dibalut-tutup dengan anyaman helai daun kelapa kering. Sembari menyandar, sikut tangan kanan-nya bertumpu pada salah satu karung itu sambil tangan kiri-nya melindungi kilauan sinar mentari yang sudah merambat hangat menghalagi pandangan-nya. Singkatnya, ia memang menunggu kedatangan sang pembeli yang biasanya datang menjemput karung-karung berisi kayu-arang milik Mbakyu Tetenene itu.

Dengan memproduksi kayu-arang yang didapatnya dari hutan semak-belukar tidak jauh dari daerah Marshall City, yaitu sebuah desa sekitar 6 km dari bandara internasional Roberts, Off-Monrovia, Mbakyu Tetenene dan beberapa kelompok keluarga di kampung kecil itu berhasil menghidupi keluarga mereka masing-masing.

Terlepas dari perhatian pemerintah yang mulai sadar lingkungan, yaitu
ancaman berkurangnya hutan ringan dibanyak pelosok di Liberia akibat
dari industri pembuatan kayu-arang ini, harga tabung gas LPG masih
dirasa amat mahal, yaitu U.S. $35.00 satu botol ukuran 20 Kgs.

Bagi kebanyakan masyarakat di Liberia, kayu arang adalah ibarat komoditi
dasar, dari segi komoditi penggerak ekonomi pasar tradisional dan
penunjang segala kegiatan masak-memasak rumah tangga hingga para dapur warung-warung makan umum yang banyak ditemui pada sisi jalan dan gang-gang sempit pemukiman kumuh itu.

Ia pun turut diperdagangkan baik untuk partai besar dan eceran, dimana
bagi para pengumpul kayu-arang yang menjemput dari kampung-kampung itu kemudian disetorkan atau dijual pada pedagang kayu-arang partai besar yang biasanya menampung karung-karung berisikan kayu-arang itu dalam sebuah kontainer di hampir setiap pasar tradisional. Dari harga beli sebesar L$ 100.00 (sekitar U.S. $ 1.50), untuk kayu arang penuh setinggi karung beras ukuran 50 kg, terisi arang hingga penuh, pada saat mencapai pasar becek seperti di Monrovia, harganya sudah hampir 2 hingga 2,5 kali lipat. Untuk tingkat eceran, sekantung plastik arang yang sudah sedikit hancur dalam remah-remahan, dijual pada tingkat warung di pemukiman kumuh dalam gang-gang sempit dan bau pesing itu, biasanya berada dalam kisaran L$ 20.00. Ukurannya kira-kira kurang dari se-per-sepuluhnya.

Asap itu mengepul, ada yang memanasi tungku-tungku perapian dapur warung makan, atau dipakai untuk menyetrika pakaian, dan atau berujung dipanggangan sate atau BBQ tray si Kampret ini. Yang mana seonggok tusuk sate ayam yang sudah dilumuri dengan kecap manis cap Bango dan campuran irisan bawang serta cengek [baca: cabe rawit] menanti pada piring disebelahnya siap untuk dipanggang.

Kayu-arang, itulah riwayatmu.. dari hutan semak-belukar dibelakang
kampung Mbakyu Tetenene, berjalan jauh menuju kota dan terus akhirnya
hinggap pada tungku pemanggang, memberi panas, menyedapkan aroma dan mencipta selera pada banyak meja makan di Liberia.

PS: Terlepas dari hitam legamnya warna kulit si Mbakyu Tetenene hampir
menyamai hitam kayu-arang yang dibuatnya, boleh jadi senyumnya lebih
putih berseri dari senyum gigi kuning si Kampret ini [Bagaimana dengan
senyum para pembaca? – Senyum gigi kuning juga?]

by h3rn4 at 26 September 2007, 16:17

Busyett daah.. Itu yang di atas truk, isinya arang smua Om..

Kalo di kampung saya mah, orang jualan arang sambil dipikul trus keliling-keliling buat mencari pembeli… Trus jualannya sembunyi-sembunyi, pada takut ketahuan dan disita “aparat”… Soalnya kebanyakan dari pedagang itu memang menggunakan kayu hasil tebangan dari hutan…

Terlepas dari itu kayu hasil tebangan atau bukan, saya selalu merasa kasian setiap kali menjumpai bapak-bapak separuh baya [atau kakek-kakek malahan] yang harus memikul beban berat 2 karung arang di sepanjang jalan __

Nice sharing, Om… Ternyata di ujung dunia bagian barat afrika juga banyak mbak-mbak pembuat arang…

__

by Si Kriting at 27 September 2007, 07:24

It’s always delighted to read your story lui..So much i could learn from your x’periences..Keep writing..darl..coz it’s give me some inspiration to write as well..

How’s thing going over there?? and Lebaran Pulang kampuang ga??

Wid

by momibawel at 29 September 2007, 17:57

jadi pengen bakar sate…denger ceritanya. itu orang di truk bisa nyangkut ya pantatnya? hebring….

by aprian at 1 October 2007, 19:12

Tapi masakan yg dimasak dengan arang itu matangnya lebih merata. Jadi inget tukang nasgor yg dibelakang BIP, yg masaknya pake arang. NAsgornya enak pisannn.. nendang bangett dahh !… ehehehhe

Aman bos disana?

by ambar at 4 October 2007, 17:50

Ngebaca ini jadi inget Zwedru … tempat nangkring 7 bulan pertama di perbatasan liberia-ivory coast … kita jg masak pake arang … yang kadang bikin kesel tuh … perut dah keroncongan tapi masaknya ndak mateng-mateng … trus dah dandan rapi tapi aromanya campuran Armani yg sangit-sangit dikit ..he he he