Voinjama, Liberia — Wanita itu mendekati 6 bulan masa kehamilan, ditambah lagi dengan 2 anak kecil berusia 3 dan 5 tahun, sebut saja namanya Fatumata Warjineh. Bersama suaminya, mereka mencari nafkah dengan bertani, dan menjaga kelestarian hutan bukanlah menjadi prioritas utama bagi mereka saat ini. Waktu itu, kami dan rombongan dari staff UNMIL sedang berkunjung ke Voinjama dalam rangka kegiatan kebugaran pagi dan sekaligus juga kunjungan rutin ke sector pedalaman Liberia.
Terlihat jelas sekali kemanapun arah pandangan mata ini berputar, batang-batang pohon itu bergeletakan terbakar sudah dan tidak sedikit yang asapnya masih tersisa pada beberapa bagian batang yang tumbang itu. Akar-akar pohon yang tidak dapat dicabut, maka dibiarkannyalah terbakar menjadikannya sebagai arang yang masih membara dari hasil perambahan hutan dan dibakarnya lahan itu 3 hari lalu. Sementara Fatumata sibuk menebar benih jagung di daerah lahan yang sudah dibersihkannya. Itulah sebagian dari nasib lahan hutan hujan (Maksudnya: Rainforest) di Liberia.
Harus diakui bahwa bagi Fatumata dan kebanyakan penduduk di negeri ini, cara bercocok tanam yang mereka fahami benar adalah: Tebang-dan-bakar (Slash-and-burn). Sebuah metoda yang amat sangat merusak lingkungan. Saat ditanyakan pada Fatumata, dijawabnyalah dengan menghela nafas panjang:
“Andai saja saya punya pekerjaan lain untuk mencari nafkah, tentunya saya tidak akan membakar hutan macam begini – tahu bener sih ini (menebang dan membakar) memang merusak, dan hutan adalah penting buat kehidupan..”
Belum lama ia usai berbicara, ia menambahkannya lagi: “Sebenernya tanpa hutan ini, hidup kita bisa sengsara..”
Kita pasti faham benar dengan jargon yang diteriakkan oleh para pencinta lingkungan itu, bahwa hutan hujan sudah berada dalam ambang kondisi kritis dari kerusakan, dimana peranan hutan hujan sebagai paru-paru dunia adalah cara ampuh dalam menghadapi tantangan perubahan iklim (Climate change) ini, termasuk didalamnya kekayaan hayati yang terkandung didalamnya – sementara adalah sebuah fakta (di Liberia): Kemiskinan adalah factor utama yang memaksa Ibu dari 2 anak kecil ini dan mereka lainnya untuk malah menghancurkannya.
Selanjang perjalanan cross-country ini, saya dan rombongan Wellness Program ini banyak disapa oleh penduduk yang sedang menikmati hari akhir pekan-nya. Dari mulai anak-anak kecil yang kemudian ikut menemani berjalan, sampai ke para nene-nene yang melambaikan tangannya dengan sapaan ramah: “Hello, White man.. – how are you?“
Saat rombongan sudah mulai masuk daerah rawa dan berkurangnya pepohonan, anggota rombongan wanita mulai mendapatkan tantangan yang cukup berarti buat mereka: melewati parit/rawa melalui sebilah papan. Lihat saja bagaimana mereka mulai agak menari-nari saat melintas:
Hawa asap yang masih kentara benar itu meski langkah perjalanan kami sudah mendekati kaki bukit. Kaki ini sudah mulai letih dan bukan sedikit dari kita yang sudah mulai tercecer dari rombongan, duduk diatas bebatuan berusaha mengejar nafas yangtersengal karena letih. Sementara saya dan beberapa kawan bergeser urutannya dari berada di depan kini sudah ditengah seiring dengan medan yang mulai menanjak.
Namun, sepertinya teman-teman Military Peacekeepers dari Pakbatt-12 (Pakistan Battalion) ini selalu menyemangati kita yang sudha mulai beranjak sangat lambat. “Come-on.. one more step.. you can do it..” begitu terus dia berkata. Dalam hati berkata: “Sampeyan enak, sudah terbiasa tiap hari patroli keluar masuk hutan macam begini.. sementara kita orang dari Monrovia, seharian penuh berada dibelakang meja.. begitu disuruh cross-country macam begini jelaslah —-> mampus!“.
Beginilah tipikal orang yang biasa hidup di kota dan kurang olahraga, begitu dicoba untuk mendaki bukit yang saat dilihat dari jauh, sempat dalam hati berujar; “Ah, saya bisa kok.. bukit kecil sepertinya” namun saat dijalani, ampun deh! – kok nggak nyampe-nyampe sih? . Sebelnya lagi, karena terus ditempel sama mamang brewok personil dari Pakistani Army ini, kesempatan ngaso (Baca: Istirahat mengejar nafas) diberikan sangat sebentar sekali, malah ditopanglah kedua tangan ini oleh pundak-nya dan badan ini terasa didongkrak menaiki bukit. Nyampur deh itu bau kelek sangitnya..
Dari foto diatas kelihatan jelas memang mereka adalah personil peacekeepers yang fit dan piawai dalam mengenal medan penugasan mereka dan mampu mengarunginya dengan sigap. Kebayang saja, mereka patroli keluar-masuk berjalan kaki, naik-turun bukit ini —> Tiap hari!
Pada saat tiba di puncak bukit Voinjama, tur melintas hutan lindung Voinjama usai sudah. Usai melakukan rehat sejenak dari pendakian bukit yang cukupmembuat nafas ini ngos-ngosan, kita berfoto bersama sebelum menuruni bukit dan kembali ke camp.
Hutan Liberia menurut data dari situs Earthtrends hanya berkisar 42% saja, yang arealnya dimulai dari the Upper Guinean Rainforest – yaitu bagian terpisah yang dahulunya meliputi sebagian besar dari wilayah Afrika Barat, kini menyusut hingga tinggal 12 persen saja. Secara umum, penduduk Negara di bagian Afrika Barat ini, telah sebagian besar mengandalkan kelangsungan hidupnya pada hutan yang telah menjadi sumber pangan, obat-obatan bahkan menjadikan hutan sebagai daerah pengungsian mereka selama masa konflik bersenjata di tahun 1989 hingga 2003. Tidak sedikit pula masayarakat di pedalaman dan sekitar wilayah hutan lindung yang mengembangkan lahan pertanian kecil dan berburu satwa liar sebagai sumber pasokan protein hewani.
Merujuk data dari Badan Pengawasan Lingkungan Liberia (EPA – Environmental Protection Agency), dimana ancaraman pengrusakan hutan (Deforestation) ini sudah pada stadium akut, yaitu hamper 70% dari populasi di Liberia melakukanmetoda bercocok tanam dengan tebang-dan-bakar (Slash-and-burn). Hal ini dikatakan oleh Johansen Voker – the acting executive director of Liberia’s Environmental Protection Agency.
Metode sederhana dan sudah menjadi tradisi yang dipakai di berbagai tempat di dunia ini dalam merambah hutan adalah _ slash-and-burn _ dimana prosesnya menebang pohon dan membakar ranting-rantingnya agar abu yang kaya akan unsure hara bisa membantu meningkatkan untuk kemudian si lahan itu ditanami tanaman palawija dengan kurun waktu panen yang relative singkat: Jagung. Singkong dan Padi.
Meski memang badan PBB di bidang lingkungan; UNEP – United Nations Environmental Programme adalah badan khusus PBB yang berkepentingan mengurusi perihal ini, pihak misi pemulihan perdamaian PBB juga mendukukng kelestarian lingkungan melalui beberapa program bersama melibatkan masyarakat dan badan pemerintah setempat agar secara berkesinambungan mengembalikan fungsi hutan dan melestarikannya dengan pengarahan dan penyuluhan terpadu. Perjalanan ke pelosok voinjama tempo hari, juga sebagai rangkaian kunjungan kerja melihat kegiatan operasional misi di daerah. Perjalanan melewati hutan Voinjama tersebut juga didukung oleh personil pasukan khusus dari battalion Pakistan yang mendampingi rombongan dan faham akan medan hutan dan perbukitan disana.
Fakta di lapangan masih terasa benar bahwa pengerusakan hutan lindung di Liberia terus berjalan, termasuk itu kegiatan penebangan hutan dan penambangan emas secara liar, dan konsumsi kayu-kayu hutan itu sebagai bahan membuat kayu arang. Bahan bakar yang menghidupi mayoritas dapur penduduk di Liberia. Hal ini jelas menjadi sebuah ancaman nyata bagi punahnya hutan di Liberia.
Dari berbagai perbincangan saya selama lebih dari 6 tahun bertugas di Liberia, nampaknya ungkapan dibawah ini adalah benar:
“It is poverty that drives people into burning charcoal as a source of fuel and it is poverty that drives people into the kind of unsustainable farming.“
“What they think about is how they can cut down a tree to produce charcoal and that charcoal will put a bowl of rice on their table.“
Menurut data dari 2010 Report on Deforestation oleh badan pangan dan pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization), dimana benua Africa telah kehilangan sebanyak 3.4 juta hektar lahan hutan dalam kurun 1 dekade kebelakang , dimana angka ini adalah peringkat kedua setelah Amerika Selatan termasuk didalamnya wilayah hutan Amazon.
Wilayah hutan Afrika banyak dijumpai dan terkonsentrasi pada wilayah barat dan bagian pusat-nya dimana akibat konflik bersenjata yang terjadi pada banyak Negara di wilayah itu mengakibatkan kerusakan hutan yang parah melalui penyalahgunaan sumberdaya hutan dan tumpahnya populasi pengungsi yang mencari perlindungan dengan lari ke hutan.
Untuk wilayah West Africa, konflik bersenjata yangterjadi di Liberia dan Sierra Leone telah menciptakan lebih dari satu juta jiwa menjadi pengungsi yang tumpah-ruah dari daerah/wilayah perbatasan masing-masing dan masuk menghuni wilayah hutan Guinea dan wilayah hutan Ivory Coast, yaitu wilayah hutan dengan kekayaan hayati terbesar di dunia.
Konflik bersenjata, dan kemiskinan adalah salah satu musuh yang nyata bagi hutan lindung Liberia.


















Gak nyangka! Kalo diliat dari foto-fotonya kang Luigi, (6 foto pertama), hutan Liberia adalah termasuk hutan hujan (Rainforest) di Afrika Barat. Sementara pengertian harafiah dari hutan hujan adalah hutan tropis yang banyak menerima hujan dan biasanya memiliki banyak sekali pohon-pohon besar, tanaman & hewan :-( Duhh, sayang banget yaa… skarang sudah seperti di foto-foto itu, bukan kayak hutan lagi melainkan seperti perkebunan. Padahal, kalo hutan itu dilestarikan, tetap dipertahankan kerimbunannya, maka Insya Allah akan memberikan manfaat bagi penduduk disekitarnya. Saya setuju, dengan melihat kenyataan ini, maka perang & kemiskinan adalah musuh utama kita semua…demi kelangsungan umat manusia. Saya yakin & masih percaya akan manfaat Hutan (selain juga saya di doktrin dari buku pelajaran sekolah sedari saya SD) manfaat hutan adalah sebagai pengatur tata air & penghasil oksigen (untuk rainforest adalah penghasil 40% oksigen dunia), maka orang-orang yang suka perang & yang suka menghabisi sumber daya hutan harus dicuci otak dulu kali yaa… Biar bener otaknya sehingga bisa berpikir jernih dan paham akan bencana apa yang akan kita hadapi nantinya kalo tidak ada hutan samsek.