Kulihat jam tanganku pukul 00.30 dinihari, Kurang 30 menit lagi kendaraan tempur buatan Rusia yang kutumpangi ini akan meyelesaikan patroli rutin malam hari dan menduduki cek point. Memonitor daerah operasi dan mengawasi pergerakan elemen bersenjata, itulah yang menjadi penekanan tanggung jawab rutinitas ini. Sudah menjadi prosedur tetap untuk terus meng-update situasi kawasan yang dilewati dan melaporkan ke bagian piket dengan sandi yang sudah ditetapkan,
Fieldgrader : “Cheetah, Singa sebelas ambon!” (memanggil piket operator radio)
Operator : “Singa sebelas ambon cheetah”
Fieldgrader : ”Lombok pati pati ambon timur melewati blitar, solo irian timor ambon timor, halon-halong medan kendal, solo bandung garuda….!” (melaporkan situasi terakhir)
Operator :”Medan opak, Timor Kendal Solo Garuda….!”
Dinginnya cuaca malam ini, membuat ingatanku berputar kembali ketika berangkat patroli malam hari untuk pertama kalinya. Malam itu angin bertiup sekitar 10-15 knot. Alat Pengukur suhu menunjukkan angka 15 derajat. Tanpa memperdulikan anjuran senior untuk mengenakan baju berlapis sebagai penahan dingin,aku berangkat hanya dengan memakai seragam lapangan tanpa pelapis apa-apa. Alhasil sampai di cek point jemari tangan dan telapak kaki sudah kaku tidak terasa lagi. bukannya fokus terhadap tugas malah aku harus berkonsentrasi agar otakku masih tetap sadar terhadap tugas malam itu. malam itu terasa sangat panjang.
Seberapapun dinginnya suhu pada saat winter- negeri ini mengalami 4 musim- tetap indah untuk mengingat peristiwa ketika salju turun selama 3 hari. Maklum di indonesia tidak ada musim ini. Meskipun pelaksanaan tugas keseharian dihadapkan pada titik kulminasi suhu dingin yang amat sangat, tetap tak bisa lupa untuk mengabadikan moment-moment penting, berphoto ria. Bahkan patroli tetap berjalan, meski hampir seluruh rute tertutup salju, bergerak perlahan tapi pasti dengan kendaraan dan jalan kaki, aku yakinkan bahwa tidak ada hari libur untuk tugas yang satu itu.
Pernah satu ketika kendaraan patroli melewati pemukiman, masyarakat melempari kendaraan dengan bola-bola salju. Tidak akan kami balas Karena kami tau mereka semata-mata hanya ingin mengucapkan ‘hello’ dengan cara itu, kami balas dengan lambaian tangan Kami sangat senang dan menghargai sekali setiap mereka membalas lambaian tangan kami. Masyarakat cukup senang dengan kebiasaan kami yang selalu mengucapkan salam dan mengontrol kecepatan kendaran setiap melewati pemukiman..
Tak jarang selama kegiatan humaniter dan bantuan kesehatan gratis yang rutin dilaksanakan di desa binaan, masyarakat kadang-kadang memberi sedikit buah dari kebun mereka, seperti buah anggur,buah tin dan buah zaitun ,yang mana negeri ini juga terkenal sebagai salah satu produsen minyak zaitun (olive oil) yang terkenal itu.
Namun demikian dalam pergaulan masyarakat, Kami harus bias pintar-pintar membawa diri dan menjaga ucapan agar tidak sampai menyinggung perasaan mereka . Ingat, bagaimanapun daerah ini adalah Negara bekas konflik, bertahun-tahun lama sebelum 2 tahun yang lalu. Tentu membutuhkan perhatian dan penanganan khusus dibandingkan dengan masyarkat pada umumnya. Ada beberapa aturan tidak tertulis yang harus kami taati demi terjalinnya hubungan yang nyaman dgn masyarakat. Tidak di semua tempat kami bisa mengeluarkan kamera digital dan jepret sana jepret sini..
Di sisi lain, merupakan kepuasan tersendiri bila bisa merangkul dan bersahabat dengan anak-anak di daerah ini, yang sebelumnya selalu membuat kami mengelus dada karena perilaku yang agak ‘luar biasa’. Pada awalnya mungkin mereka berkata, “wah, ini ada pasukan Indonesia yang baru, mari kita kerjain….”
Pada akhirnya, kesimpulan kami mereka adalah tetap merupakan anak-anak yang manis.
Di luar tanggung jawab kami melaksanankan tugas utama sebagaimana yang dimandatkan oleh UN, ada tugas tak tertulis yang wajib kami junjung tinggi, duta Bangsa Indonesia. Terlalu idealis? Apapun itu sebutannya, yang jelas bagiku satu tahun di sini merupakan waktu yang singkat untuk tunjukkan jati diri Bangsa Indonesia sebenarnya. Dan betapa itu menjadi waktu yang lama ketika kami harus berhadapan dengan sesuatu yang dimana mau tidak mau kami harus tetap bisa menjaga ‘status’ jati diri bangsa Indonesia tadi.
Mengingat apa-apa yang telah terjadi merupakan pekerjaan yang menyenangkan, kujadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi untuk tugas ke depan. Tidak hanya melulu beberapa cerita-cerita aneh dan lucu, tetapi juga masalah disiplin pekerjaan dan tugas pokok. Aku bisa belajar banyak di lingkup penugasan yang banyak didambakan oleh semua Prajurit TNI ini, dua hal yang Aku pelajari adalah disiplin waktu dan perencanaan yag matang dalam pelaksanaan tugas.


Meskipun keinginan untuk pulang sedemikian kuat karena kerinduan bertemu keluarga, namun tetap saja aku bakal mengingat semua hal selama setahun tinggal di sini, pos tercinta di lereng bukit ‘Marinir’, kegiatan sehari-hari di compund, berpatroli ria, bertemu masyarakat dan lain sebagainya.



13 Nopember besok genap bagiku satu tahun di daerah penugasan ini, kurang seminggu lagi pasukan pengganti dari Indonesia akan tiba. Kulihat jam tanganku, barometer menunjukkan angka 13 derajat, pukul 04.20, masih tersisa waktu 5 jam lagi untuk bisa menikmati kucuran air panas di ablution…… buat rekan-rekan 23-B, tetap semangat……*Garuda*!


Semangat seperti inilah yang diperlukan oleh seluruh anggota Kontingen Garuda XXIII-C/UNIFIL yang akan meneruskan tugas dari rekan-rekan yang tergabung dalam KONGA XXIII-B/UNIFIL yang berakhir masa tugasnya di Lebanon ini. Keramahan, Kewaspadaan dan juga bahkan Disiplin yang tinggi selama menjalankan tugas yang diemban membuat dihargai baik oleh negara lain maupun masyarakat Lebanon itu sendiri. Berat memang tugas yang ada dan harus dilaksanakan setiap harinya, namun itupun tidak menurunkan semangat dari seluruh anggota pasukan. Semoga semangat ini tetap terjaga dan bagi anggota pasukan XXIII- B/UNIFIL selamat karena telah berhasil menjaga nama RI tetap harum di mata dunia…………….
Membaca artikel ini.. aku cuma bisa berucap.. “SALUT”. Tugas berat namun bangga menjadi bangsa Indonesia.
Aku pun yang melihat, mendengar dan sekarang membaca artikel ini sungguh-2 bangga dengan Prajurit TNI… HIDUP GARUDA
Semakin lama, semakin betah tinggal di Negeri Orang semakin lupa untuk pulang, Ini yang saya rasa sekarang ketika baru 11 bulan di Jambi. Tanggal 2 Desember baru setahun. Ya…meskipun memang dekat tapi lepas dari kampung halaman, lama2 tempat baru jadi seperti kampung sendiri.
Bang, Foto di Gallery keren euy!
Saya membayangkan fotonya bakalan bersalju, ternyata tetep gersang juga yah, hehehe… untuk suhu 13 derajat sih sepertinya emang belum ada salju yah, tapi kalo untuk ukuran kita org Indonesia, segitu memang pasti bikin hidung dan seluruh ujung jari pasti kedinginan.
Saya salut dengan cara membalas sapaan “hello” mereka. Sekali2 bagaimana kalau mas bales juga dengan melempari mereka, just to say “hello” in their way… hahaha… kali2 aja mereka akan menganggap mas ini biar bagaimanapun adalah… “tentara-tentara yang MANIS” (hahahaha, maap, becanda)
Selamat bertugas, selamat menjelang setahun ditempatkan disana, semoga tetap semangat sampai diakhir tugas.
Kalo butuh hiburan, jangan panggil badut ancol… jauhhh soalnya, hehehe… I think you should visit my web for your refreshment (pede banget sih :P )
Have a nice day.
Yakin, pasti pengalaman bertugas di Lebanon ini adalah merupakan pembuka mata wawasan setiap prsonil TNI, semoga kesemuanya itu, baik pengalaman suka dan dukanya (jauh dari keluarga dan masakan khas tanah air) bisa menjadikan pijakan kuat bagi peningkatan profesionalisme serta cinta tanah air.
For me, personally – having been all over the place to include Africa, is enough to learn and re-confirm to myself that our country is home and one of the most beautiful place on earth.
:-)
Itulah kenangan … yang pasti tdk akan pernah anda lupakan,pasti banyak hal yg sdh menjadi pembelajaran anda dlm meniti kehidupan ini khususnya selama pengabdian 1 thn di negeri yg semuanya berbeda sangat dgn Indonesia.
sukses selalu mas…….
salam
Pertama baca artikel ini, aku bingung ma bahasa radionya, mpe singa, cheetah, bandung, solo juga ikut tenar di artikel ini :)
Tapi makin dibaca ke bawah artikelnya,… Subhanallah… aku salut !
Salut sama bangsa ini, salut sama TNI-nya, salut sama semuanya.
Meski aku belum pernah menapakkan kaki di bumi pohon cedar, namun karena keahlian penulisnya yang mampu merangkai kata-kata sedemikian indahnya, aku bisa merasakan seolah-olah aku berada di sana.
Sekali lagi aku salut saudaraku, teruskan perjuanganmu, semoga Allah memberkati semua perjuangan yang sudah kalian lakukan tanpa mengenal pamrih.
Regards,
DeeAn
Semangat ini harus terus dipelihara oleh Kontingen Garuda.. Yang dapat mengharumkan nama INDONESIA dimata dunia……
I am very proud of your effort and I hope you get the best of what you deserve….GOOD LUCK!!!!
Regards, Angiee