Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Kinshasa, Aku Datang!

10 March 2010, 12:55 , by Nurul Fitri Lubis

 

Selamat tinggal Indonesiaku…. Itulah sepotong kalimat yang kuingat saat Thai Airways yang membawaku menuju Bangkok tinggal landas meninggalkan bandar udara Soekarno Hatta. Tiba – tiba saja perasaan jadi campur aduk. Antara senang, sedih, ragu, takut. Pokoknya macam – macam, mirip gado – gado. Belum lagi rasa nasionalisme yang tiba – tiba muncul di detik – detik terakhir sebelum keberangkatan. Setelah menjalani interview yang dilakukan pada saat tengah malam, disaat orang – orang lebih memilih untuk berada di balik selimut, aku dengan peluh berjatuhan berusaha menjawab pertanyaan – pertanyaan yang diajukan sang penguji.

Si penguji pake acara nanya “Jam berapa sekarang disana?”, Serangkaian medical test, vaksinasi, penantian visa yang tak kunjung datang, akhirnya di Jumat pagi, dua hari sebelum keberangkatan, tibalah tiket yang sudah dinanti – nanti itu.

Tanggal 21 February 2010 Aku berangkat ke DR Congo sebagai volunteer untuk peacekeeping mission pertamaku di MONUC.

Terjadi sedikit masalah saat check-in di Bandara Soekarno Hatta. Bagasiku yang tidak sedikit dan sudah pasti overweight pastilah meminta tambahan biaya. Bagaimana mungkin untuk menuju perjalanan mengelilingi setengah bumi aku hanya membawa bagasi seberat 20 kg? Haloooo? Aku bukan pergi berlibur ke tempat yang dapat menyediakan apa asaja yang kubutuhkan. Setelah sedikit berhaha-hihi dengan petugas check-in, sedikit cuap–cuap tentang UN dan kegiatan volunteernya, mereka mengizinkanku untuk membawa barangku yang seabrek-abrek, mungkin dikarenakan pesawat tidak fully booked.

Menuju Kinshasa, DR Congo, aku menjalani dua kali transit dengan rute perjalanan Jakarta – Bangkok – Nairobi – Kinshasa. Thai Airways memang keren!. Dengan pesawat jenis Airbus yang nyaman, pramugari yang cantik, pramugara yang ganteng, makanan yang enak serta udara yang cerah membuat perjalanan menuju Bangkok menjadi super nyaman.

Thai Airways

Perjalanan selama tiga jam itu berlalu tanpa terasa.

Tiba di bandara Suvarnabhumi. Dibandingkan dengan Bandara Seokarno Hatta, maafkan aku Indonesia, bandara ini super keren. Dengan menggunakan konsep arsitektur modern. Seluruh gedung dipenuhi rangka baja melengkung untuk menyokong bangunan. Di bagian dalam, plafon dibiarkan terbuka, menunjukkan pipa – pipa dan sistem struktur gedung. Selain ruang tunggu yang begitu banyak, bandara juga dilengkapi dengan toko – toko untuk menjual berbagai barang mulai dari parfum, cendra mata, buku dan money changer. Juga tersedia Muslim Prayer Room, sebagai tempat istirahat bagiku sambil menghabiskan waktu 7 jam untuk penerbangan selanjutnya.

Suvarnabhumi Airport Bangkok

Bandara Baru Bangkok Thailand Airport

Pukul 11.00 malam aku kembali check in, untuk mengkonfirmasi -‘connecting ticket’ _ku dari Jakarta menuju Kinshasa. Dari Bangkok menuju Nairobi aku akan menggunakan pesawat Kenya Airways. Tidak ada masalah sama sekali saat melakukan check-in. Pukul 11.30 aku menuju ruang tunggu. Sebahagian besar penumpang adalah orang – orang berkulit hitam, ditambah segelintir penumpang kulit putih dan penumpang – penumpang berwajah Asia. Tepat pukul 12.00 malam aku memasuki pesawat.

Setelah pesawat Thai Airways yang super nyaman, harum, pramugari yang cantik menarik dan pramugara yang tampan rupawan, yang bisa kulakukan saat memasuki pesawat Kenya Airways hanyalah menarik nafas panjang. Saat tiba di pintu pesawat aku disambut dengan pramugari berdarah Asia dengan wajah super masam.

Mungkin karena saat itu waktu telah menunjukkan pukul 12 malam waktu setempat dimana semua orang telah tertidur dengan nyaman, sementara dia malah masih harus melewati 10 jam lagi untuk bertugas. Seperti layaknya pesawat Airbus, pesawat ini terdiri dari tiga baris untuk kursi pesawat. Ada masing – massing dua buah kursi di bagian sebelah jendela dan tiga buah kursi di bagian tengah. Yang kutemukan saat memasuki pintu pesawat adalah seorang berkulit hitam tertidur di baris tengah, seakan – akan dua kursi lainnya adalah miliknya sendiri. Lagu – lagu dengan irama Africa mulai berkumandang. Padahal masih di Bangkok, namun aku serasa sudah berada di Africa.

Syukurlah, kursi ku berada di sebelah jendela. Akan memudahkan untuk bisa tidur selama perjalanan. Seorang pramugara berwajah agak tua, mungkin usianya sudah empat puluhan, membantuku menyimpan barang di kabin pesawat. Aroma menyengat mulai menusuk hidungku begitu aku mendudukan diri ke kursi pesawat. Entah aroma apa ini, aku tak bisa menggambarkannya.

Kelak aku baru tahu kalau aroma ini adalah aroma bau ketek.

Kursi pesawat terlihat usang, bahkan lebih usang dari kursi bus Banda Aceh – Medan dengan tarif paling murah. Di ujung lorong tiga orang kulit hitam saling berteriak, entah dengan menggunakan bahasa apa dan entah apa pula yang diributkan. Padahal jarak mereka tak lebih dari setengah meter. Pramugari dan pramugara terlihat jelas mengalami kesulitan ketika mengatur penumpang.

Ada yang tidak duduk di kursinya masing – masing, ada yang memonopoli tempat duduk, memborong tiga kursi lainnya untuk dirinya sendiri padahal dia hanya membayar satu kursi, hingga sulitnya menyuruh penumpang untuk duduk dan memasang seat belt saat pesawat akan lepas landas.

Pukul 12.40 pesawat lepas landas. Saat lepas landas, lampu di bagian dalam pesawat otomatis mati. Tidak mengerti mengapa, sebagian penumpang itu berteriak histeris.

Diatas Bangkok

Pesawat meninggalkan Bangkok. Pramugari/a mulai membagikan selimut, headset serta makanan. Aku tak terlalu bernafsu untuk makan. Jam ini lebih cocok untuk tidur daripada makan. Belum lagi aroma Kenya Airways yang membuat nafsu makanku hilang. Minyak kayu putih yang selalu kubawa kemanapun aku pergi sangat membantu untuk menghalau bau – bauan tak jelas itu.

Cuaca agak buruk. Lampu yang menerangi tulisan ‘Fasten your Seat Bealt’ terus menyala. Pramugari/a sibuk mengingatkan penumpang untuk mengencangkan seat bealt. Dan sibuk membujuk penumpang yang tak mau duduk. Entah bagaimana tak ada sedikitpun kecemasan di wajah mereka, tertawa terkikik–kikik sambil berdiri di sebelah kursi – kursi teman mereka disaat pesawat tengah terguncang – guncang dikarenakan hujan dan turbulensi.

Pukul 6.00 pagi waktu Indonesia aku terbangun. Pramugari/a kembali menyajikan makanan untuk sarapan. Pukul 8.00 pagi sudah, namun di luar masih gelap. Entah sudah di dunia bagian mana aku saat ini. Saat ini, di Indonesia tentunya teman – teman dan saudara – saudaraku sudah duduk di mejanya masing – masing sibuk dengan komputer dan pekerjaan yang sudah menanti. Tepat pukul 6 pagi waktu Kenya bersamaan dengan pukul 10 pagi waktu Indonesia, pesawat mendarat dengan mulus di Nairobi.

Nairobi masih gelap. Udara dingin menyergap saat melangkah keluar dari pesawat. Di bandara, beberapa orang sudah mulai berkeliaran berasal dari penerbangan – penerbangan sebelumnya untuk menantikan penerbangan selanjutnya. Masih ada dua setengah jam lagi sebelum terbang menuju Kinshasa.

Sudah ada beberapa orang di ruang tunggu. Seorang lelaki kulit putih tengah duduk di sudut, sibuk dengan laptop di pangkuannya. Seorang wanita bertampang Asia duduk di sebelahku. Beberapa saat kemudian, serombongan lelaki dan perempuan kulit hitam memasuki ruang tunggu.

Suasana yang tadinya hening menjadi ribut tak terkira. Dari seragam yang mereka kenakan, kelihatannya mereka adalah atlit tim bola tangan DR Congo. Mereka berbicara dengan saling berteriak. Seperti orang Batak di Indonesia. Bedanya adalah satu orang Congo suaranya sepadan dengan sepuluh orang Batak. Ketika pengeras suara memberitahukan agar para penumpang pesawat menuju Kinshasa untuk bersiap – siap menaiki pesawat, para atlit bersorak gembira, seperti baru dapat undian saja.

Jika Kenya Airways dari Bangkok sudah parah, maka pesawat Boeing yang membawaku ke Kinshasa sudah tak dapat terlukiskan dengan kata-kata lagi suasananya. Semua orang berteriak satu sama lain. Sepasang suami istri tengah berdebat dengan pramugari mempertanyakan mengapa bagasi di kabin yang terletak tepat di atas kursi mereka telah terisi dengan barang penumpang lain.

Sang pramugari berusaha menenangkan dan membawa barang mereka ke bagasi lain yang masih kosong. Namun sang istri ngotot ingin barang – barang itu tak jauh – jauh dari mereka. Lelaki kulit putih yang kulihat di ruang tunggu duduk di sampingku. Akhirnya setelah hampir satu jam mengatur para penumpang beserta barang bawaannya, pesawat pun lepas landas.

Jangan berharap bisa tidur selama perjalanan. Aroma tak jelas sudah bukan masalah besar lagi. Perjalanan dari Bangkok menuju Nairobi membuat hidungku terbiasa dengan bau khas ini. Suara penumpang tak ada hentinya. Suami istri yang tadinya meributkan bagasi yang penuh kini tengah berdebat, entah memperdebatkan apa. Sang suami sibuk dengan kalkulator super gedenya sementara sang istri tak ada hentinya menjerit, meneriakkan instruksi kepada sang suami.

Jika suami-istri tersebut sudah bikin migrain ku mulai kambuh, tingkah para atlit benar – benar membuat migrain di kepalaku hadir dengan sukses. Seorang atlit, sepanjang perjalanan terus duduk menghadap ke belakang, sibuk mengobrol dengan temannya. Seorang perempuan dengan puluhan, mungkin ratusan kepangan rambut yang duduk tepat di depanku, terlibat pembicaraan yang sangat menyenangkan dengan seorang temannya yang duduk sejauh 7 baris dari si wanita seratus kepang.

Seorang atlit pria tampaknya kurang puas dengan pertandingan yang telah mereka ikuti, tengah memperagakan gerakan melempar bola tangan untuk temannya. Bahkan, salah seorang pria kulit hitam dengan rambut di plontos habis, mengenakan kaca mata hitam yang tak pernah dilepas sejak di ruang tunggu melompat – lompat tak jelas. Masya Allah. Berada dimana aku ini?

Setelah hampir tiga jam yang penuh keributan, akhirnya pilot mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat. Lagi – lagi tugas berat bagi para pramugari untuk menyuruh penumpang untuk duduk dan mengenakan seat belt. Bahkan saat pesawat sudah hampir landing, dimana aku bisa melihat mobil – mobil di jalanan, seorang penumpang dan pramugrari saling teriak dikarenakan si penumpang ngotot ingin menggunakan kamar kecil. Saat roda pesawat menyentuh daratan, seorang dari penumpang berteriak keras sekali, hampir membuat jantungku copot, diikuti dengan tepukan dan teriakan keras sekali dari para atlit.

Bandara Kinshasa

Bandara Kinshasa 1

Yang bisa kulakukan hanya menarik nafas. Keluar dari pesawat terjadi keanehan lagi. Para penumpang berlarian menuju bus yang akan membawa ke terminal kedatangan, seakan – akan takut ketinggalan. Padahal disana disediakan beberapa bus.

Hhh.. Akhirnya, aku berhasil masik ke gedung terminal kedatangan. Sesuai instruksi dari Sari seorang teman yang telah tiba lebih dulu di Kinshasa, aku langsung berbaris bersama orang – orang di jalur yang bertuliskan ‘Diplomat’.

Saat mengantri, seorang petugas meminta kartu vaksin milikku dan mengecek vaksinasi yang telah kulakukan. Syukurnya, aku datang dengan persiapan penuh. Semua vaksinasi telah kulakukan. Dari Tetanus, Hepatitis AB, Thypoid, Polio, Meningitis hingga Yellow Fever yang menjadi syarat mutlak untuk masuk Kinshasa.

Tiba giliranku untuk mengecap passport. Dengan tampang super masam, si petugas membolak balik passportku, mengecapnya dan dengan dengusan tak jelas mengembalikannya kepadaku.

Keluar dari imigrasi. Sekarang saatnya mencari orang yang menjemputku. Dari kejauhan aku melihat seorang wanita, berdiri seperti manekin memegang sebuah papan bertuliskan MONUC. Tak salah memang. Dia petugas yang bertugas untuk menjemput para staff baru. Segera aku mendatangi wanita tersebut, menunjukkan visa letter dan passportku. Si wanita mengambil passport milikku untuk diserahkan ke travel unit MONUC yang bisa diambil beberapa jam kemudian.

Bertemu orang MONUC bukan berarti perjuangan selesai. Saatnya mengambil bagasi. Hampir satu jam aku menunggu, namun koperku dengan berat 28 kg itu tak kunjung tiba. Aku pun mulai harap–harap cemas. Bisa saja koper itu masih tertinggal di Nairobi, atau di Bangkok. Kuharap aku tak perlu menggunakan pakaian cadangan yang ada dalam hand carry ku. Seorang teman, sebelum keberangkatanku memastikan aku membawa pakaian extra yang tidak disimpan di bagasi untuk menghindari masalah ketinggalan bagasi.

Dengan peluh becucuran, aku menunggu dengan jantung bedebar – debar. Bukan hanya karena rasa cemas koperku tidak muncul, akan tetapi dengan keadaan bandara dan orang – orang yang ada di dalamnya. Bandara international N’djili tak jauh berbeda fasilitasnya dengan bandara Binaka di Nias. Padahal ini bandara international.

Orang – orang masih saling menjerit. Beberapa malah memperebutkan satu buah koper. Bau – bauan tak jelas mulai kembali menyengat. Setelah satu jam berlalu, akhirnya koper seberat 28 kg itu tiba dengan sukses.

Seorang porter membantuku membawa barang. Sang porter direkomendasikan oleh si wanita MONUC. Aku sangat berhati–hati akan hal ini, karena banyak sekali orang yang mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Sebagai pendatang baru, aku harus melalui proses check in di UNV Office yang lokasinya berada di kantor MONUC, Congo Battiment, yang secara kebetulan satu gedung dengan section tempat Sari bekerja. Sebuah mobil UN, yang disebut dispatch, membawaku dari bandara menuju Congo Bat.

Memasuki Kinshasa rasanya seperti memasuki dunia lain. Meskipun sudah mendapatkan gambaran secara ringkas dari UNV Bonn, cerita seru dari John, seorang kolega yang pernah menghabiskan waktu selama dua tahun di Congo, serta kisah menarik dari Sari, aku masih shock saat melihat keadaan yang sesungguhnya. Jalanan penuh debu dan tidak rata. Orang berjalan lalu lalang, ramai sekali dengan pakaian beraneka warna. Memasuki pusat kota Kinshasa, lebih kelihatan nyata betapa tertinggalnya tempat ini. Rasanya, seperti mundur tiga puluh tahun yang lalu. Sebagian besar jalanan utama penuh debu, menghalangi pandangan. Beberapa gedung pencakar langit terlihat usang, rusak dimakan waktu. Berada disini, seperti berada di Jakarta, tetapi Jakarta pada saat empat puluh tahun yang lalu. Situasinya mirip dengan apa yang ditunjukkan di film – film Indonesia tempo dulu, yang dimainkan oleh Ateng, Benyamin S, dan para artis lawas.

Alhamdulillah, perjalananku sama sekali tidak terkendala. Berkat lindungan dari Allah SWT dan panduan lengkap dari Sari, aku tiba dengan selamat di UNV Office. Sari memperkenalkanku dengan volunteer – volunteer lain dari Indonesia. Ada Kak Arny dan Kak Luna.

Ternyata, aku dan Kak Luna pernah bertemu sebelumnya saat misi recovery Aceh – Nias di pulau Nias. Yah, dunia memang hanya selebar daun kelor. Selain para volunteer, banyak juga tentara Indonesia di Kinshasa untuk misi perdamaian. Bahkan, ada rumah yang disebut dengan Indo House tempat para tentara tinggal, dan orang – orang Indonesia lainnya yang berminat untuk tinggal disana.

Senangnya, bisa ketemu orang – orang sebangsa. Rasanya, segala beban, resah gelisah berkurang setengahnya begitu mengetahui ada saudara – saudara setanah air.

Usai pembuatan ID Card, aku, Sari dan Kak Luna pulang ke apartment kami (lebih cocok disebut rumah susun.. Maafkan). Apartment kami berada di lantai 22. Naik ke atas, harus menggunakan lift satu – satunya dengan ukuran 1 × 2 m. Benar – benar bukan ukuran standar, pikirku. Selain lift dengan ukuran tak standar, sebagian besar plafon juga telah hancur, menunjukkan berbagai instalasi yang ada di dalamnya. Mulai dari pipa untuk air kotor, air bersih, hingga instalasi listrik. Tidak jarang, listrik mati secara tiba – tiba. Jika sudah begini, sebaiknya berdoa semoga listrik segera menyala. Atau siap – siap turun naik tangga setinggi 22 lantai. Bukan main tempat ini.

pic 2
Kebayangkhan naik turun tangga dari ketinggian segini?

Begitupun, saat memasuki apartment, rasa khawatirku sedikit berkurang. Meskipun dari luar apartment ini terlihat ‘hancur’ tidak demikian dengan bagian dalamnya. Apartment ini cukup nyaman, meskipun tak bisa dibandingkan dengan apartment – apartment di Indonesia. Letaknya tepat di tengah kota Kinshasa (kalo di Jakarta ibaratnya aku tinggal di kawasan Bunderan HI) dengan view menghadap Congo River. Jika cuaca sedang bagus dan tak berawan, aku bisa menyaksikan indahnya sunset dan mengabadikannya bersama si Canoy, kameraku tersayang.

pic 3

pic 5

pic 4

pic 1

Satu – satunya cara yang bisa membuatku sedikit berdamai dengan segala kekurangan Kinshasa.

Catatan: Beberapa foto bandara di Bangkok diambil dari berbagai sumber. Hak Cipta masing-masing pemilik.

Nurul Fitri Lubis Working in humanitarian has been her endeavor since she conducted a lecture task to design a proper house in slum area for poor people. Nurul Fitri Lubis was born on August 19th 1980 in Medan, a city which is still...

Detail Profile »

9  Comments

by Arny at 10 March 2010, 13:41

Welcome to Kinshasa Nurul…don’t worry lot of surprise from DR Congo awaiting for you :D…don’t be shock…TIA (This is Africa) gitchuuuu loohhh..:D:D

by Ehabel at 10 March 2010, 14:19

Hik hik hik,…. siapa suruh datang Jakarta3X eh salah Kinshasa 3X. Wellcome to negeri antah berantah my sister. Masih banyak kejutan lain yg akan menyusul, sabar saja saatnya akan tiba.

BTW, very happy! akhirnya ada juga juru Kamera andalan utk PisKip Indo di Kongo. Kita bisa nyaingin LIBERIA nih nanti! Ngumpul yok foto2. Those Pics are keren!!!

by Septian Hermawan Saputra at 10 March 2010, 15:47

Welcome to mission area!!!

Salam kenal dari saya di Dungu, DRC
Selamat bergabung bersama UN…
Seneng banyak temen sebangsa di sini…
moga2 nanti kapan2 bisa ketemu dan berkumpul rame2…
pasti seru!!

Semangat ya mbak..Selamat bekerja..
salam bwat smua orang Indo yang di sana…

by Sari at 11 March 2010, 02:13

Welcome Nurulll!!!…
Harap bersabar selama di Kinshasa, kamera disimpen dulu.. hehehe.. Wait for the moment to take pictures alias pas RnR :-)

by Luigi Pralangga at 11 March 2010, 04:49

Sing sabar yah bertugas di ‘dunia lain’ itu, memang harus diakui bahwa orang disana ‘berbeda’ karakternya dengan kita para staff dari negara yang lebih maju peradaban dan kulturnya. Beruntung juga saat ini saya bertugas di Liberia, mereka tidak seagresif disana.. namun soal bau kelek mah masih sama —>Stadium akut!

Mungkin aroma si bau kelekini bisa dipakai sebagai pengganti ‘chlorofom’, siobat bius yang dipake buat ngebekep orang itu :D

by Nurul Fitri Lubis at 11 March 2010, 15:53

Kak Arny : Bener Kak.. Bakal banyak kejutan2 selanjutnya nih... Ngga papa deh.. Nambah pengalaman.. He he he Mas Ehabel: Iya Mas.. Berani datang, harusnya berani tanggung resiko.. ha ha ha…Setuju banget ketemuan.. Juru potret yang satu ini, selain hobi motret juga hobi dipotret.. Thanks to Mas Luigi.. Foto2 Thai Airways dan Bandara Suvarnabhumi nya kereeeenn abisss Mas..
Mas Septian: Salam kenal juga Mas.. Jangan lupa, kalo main ke Kinshasa bilang2 ya.. Sari: Yoii Sari.. Si Canoy banyakan tidurnya selama di kinshasa….
@Mas Luigi: Ha ha ha…. Bisa jadi obat bius untuk ngebekap orang?? Kalo ngebekap orangnya di Indonesia mah, mkn berhasil Mas.. Tapi kalo di Congo?? Semuanya dah pada kena stadium Akut.. Ngga ngaruh….

by Victor George at 13 March 2010, 09:04

Terus -terang ini baru lucu kali ya (bagi aku)…sebab ngingatin tahun 2004 waktu jadi milobs disana (mirip banget ceritanya). Anyway, good story mbak and congratulation for become one of the members of the UN familly….Asyik juga ya sekarang sudah banyak saudara sebangsa di DRC, dulunya cuma ada 1 org yg jadi staff UN disana. Berarti sang merah-putih tambah berkibar dong di sana. Selamat deh, dan be carefull dan be smart kayaknya deh…oya salam kenal, saya temannya kang Luigi juga.

Cheers,
Victor George

by Didut at 14 March 2010, 20:02

seru catatan perjalanannya …selamat bertugassss :)

by Nurul Fitri Lubis at 15 March 2010, 15:38

Mas Victor: Makasi Mas.. Dan Salam kenal juga...Iya nih, dah banyak saudara2 setanah air disini. Semoga di kemudian hari makin banyak lagi... Mas Didut: Makasi Mas…

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

797 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Muhammad Soleh Presently holding a first Lieutenant from Indonesia’s Air Force, Muhammad Soleh is now serving Garuda Contingent XXV-A, Indonesia’s Military Police Contingent (INDO-MP) under United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) since November 2008 as Contingent’s Public Information Officer. A traveling...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 7 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 10 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 10 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 11 days ago

TNI Bantu Clearing Landasan Helipad di Dungu
(Dungu-Kongo, 19/01). Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Kompi Zeni TNI Kontingen Garuda XX-I/MONUSCO dibawah pimpinan Letnan Kolonel Czi Sapto Widhi Nugroho selaku Komandan Satgas (Dansatgas) di samping tugas pokoknya memberi bantuan Zeni kepada Divisi Timur Brigade Ituri MONUSCO (Mission De L Organisation Des Nations Unies pour La Stabilization en Republique Demokratique du Congo) diantaranya mengerjakan jalan Dungu-Duru sepanjang 38 Km dan pemeliharaan Runway, juga melaksanakan clearing di sekitar landasan Helipad di Dungu agar tetap terjaga kebersihannya serta tidak mengganggu helly pada saat take off maupun landing, Rabu (18/1/2012).
Sulikan , 13 days ago

 

Recent Comments

frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Sameer commented on Makhluk Tuhan Paling Sexy di Nepal
a few seconds ago


sutiana commented on Tibet dan romantisme putus cinta
a few seconds ago